4: They Meet Again (1)

2140 Kata
Hongbin mengeluhkan perutnya yang lapar. Sejak dua jam yang lalu pemuda Korea itu terus-menerus menghubungi Steve yang seharian ini berada di laundry; ingin bertanya kapan Mummynya itu pulang dan—paling tidak—membawakan makan malam dari kedai langganan mereka. Namun alih-alih membalas pesan atau mengangkat telepon, Steve justru sengaja mematikan ponsel karena tahu Hongbin tidak akan berhenti mengganggunya. Nyanyian merdu Ariana Grande tak lagi menjadi pelipur lara dan otak Hongbin telah berhenti membayangkan kelanjutan adegan cerita yang ia tulis. Hongbin harus tertahan selama belasan jam di kamar terkutuk ini bersama Haru yang sama sekali tidak memedulikannya. Oh, sungguh keterlaluan lelaki itu. Bagaimana bisa dia mengabaikan semua rengekan yang keluar dari mulut Hongbin? Sejak pagi Haru hanya berkutat pada ponsel dan koleksi catnya, menekuri tugas yang harus ia kumpulkan—lebih dari—satu minggu lagi. Haru tampak fokus menentukan perpaduan warna setiap detail foto. Namun sesekali mata dan tangannya berhenti pada satu titik, menandakan bahwa Haru butuh waktu untuk memutuskan. Ada banyak cara memadu-padankan warna, dan terkadang Hongbin merasa takjub akan kemampuan Haru. Dia mungkin memiliki bakat yang luar biasa sejak lahir. “Aish, aku lupa memisahkan pakaian di keranjang,” gerutu Hongbin, teringat salah satu tugas to do list yang Steve tempel di pintu kulkas. Segera ia bangkit dan berlari menuju kamar mandi, menumpahkan keranjang pakaian kotor di depan pintu, kemudian mulai memisahkan pakaian putih dan bewarna. Dalam bayangannya, ia melihat Steve tengah duduk di atas kasur, bersiap menceramahinya. Mimpi buruk itu akan menjadi kenyataan seandainya Hongbin maupun Haru lupa mengerjakan to do list yang telah mereka sepakati tiap akhir pekan. Ketika Hongbin salah menyahut celana jeans Haru yang berada di tumpukan keranjang pakaian bersih, tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah kartu nama ke lantai. Hongbin pun memungutnya, bertanya-tanya mengapa bisa Haru teledor membiarkan barang sepenting ini ikut tercuci dan rusak. Pria itu mendesah lega mendapati kartu nama tersebut masih kelihatan baik. Tapi— “Calvin Smith?” Hongbin membaca tulisan kartu nama tersebut. Ia membolak-balik kartu, mengibaskannya di udara, lalu membacanya sekali lagi. Nama dalam kartu nama itu tidak berubah. Imajinasi liar Hongbin langsung merangkai adegan aksi yang diperankan oleh Haru sebagai ketua Yakuza. Apakah Haru mencuri identitas seseorang supaya ia dapat lolos dari kejaran musuh bebuyutannya di Jepang? Hongbin hampir berteriak histeris karena ide gilanya bila derit kayu yang nyaring tidak tertangkap indra perungunya. Ia menoleh ke sumber suara. Haru menuruni tangga kasur bertingkat dan berjalan ke arah dispenser untuk mengambil air. Wajah dan rambut berantakan lelaki itu menyadarkan Hongbin bahwa imajinasinya tadi terlalu berlebihan. Haru adalah adik jadi-jadiannya yang sederhana, tidak banyak bicara walau sedikit misterius. Anak seintrover ini mustahil bergabung ke dalam komplotan mafia, apalagi menjadi ketuanya. Hongbin mendekati Haru lantas menyodorkan kartu nama di tangannya. “Haru-ya, apa akhirnya kau punya teman? Kemajuanmu cukup mengejutkan,” ujar Hongbin ketika ia berdiri di samping Haru. Haru meneguk airnya sampai habis lalu menjauhkan kartu nama itu. “Aku tidak mengenalnya.” “Oh ya? Coba jelaskan kenapa kartu ini sampai ada di dalam saku jeansmu.” Haru tahu jawabannya tidak memuaskan Hongbin, dan lelaki itu jelas akan mengejarnya dengan berbagai macam pertanyaan. Persis seperti yang Steve lakukan dua hari lalu di tempat kerjanya. “Kau tidak mencuri identitas seseorang untuk menyembunyikan jati dirimu ‘kan?” “Apa yang kaubicarakan?” Lelaki itu benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Hongbin. “Aku tidak mengerti apa yang kaukatakan, jadi menyingkirlah.” “Kau dilarang masuk kamar mandi sebelum menjawab pertanyaan Hyung,” larang Hongbin sambil merentangkan kedua tangan, menghadang langkah Haru seolah ia adalah petugas keamanan asrama. Ia menempelkan kartu tadi di d**a Haru dan bersidekap, menatap ‘adik’nya penuh selidik. “Aku belum pernah mendengar nama itu berseliweran di telingaku— tidak, kau bahkan tidak bercerita apapun mengenai kehidupan kampusmu. Aku penasaran siapa dia. Jika kau berbuat tindakan kriminal, maka aku akan menelpon Mummy dan—” “Urusai.” “Ah, baiklah.” Hongbin menurunkan tangan dan membiarkan lelaki itu lewat. “Tapi, aku serius, Haru. Dari mana kau mendapatkan ini?” “Seseorang memberikannya padaku.” “Secara cuma-cuma? Really?” Sebelah alis Hongbin terangkat. Ia memperhatikan Haru yang sedang merendam kuas dalam gelas berisi air hangat dan mencuci pisau palet di wastafel. “But—wait. Haru, ini bukan kartu nama biasa! Di sini tertera alamat restoran dan nama resto—Calvin’s Table?” “Bagus kau bisa membacanya,” sahut Haru datar. Ia mematikan keran dan menata alat lukis di rak kecil di atas wastafel untuk mengeringkannya. “Aku tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi.” “Arraseo. Aku tidak akan bertanya lebih jauh,” kata Hongbin, telunjuknya mengarah pada jam yang menunjukkan pukul tujuh malam. “Tapi, aku lapar. Firasatku berkata, dia berutang sesuatu padamu lantaran merasa bersalah. Haru-ya, ini ada sangkut-pautnya dengan alat lukismu yang tenggelam, bukan?” Berbalik, Haru mengedikkan bahu tak peduli. “Aku benar.” Tawa puas meledak beberapa saat kemudian. Hongbin seolah menemukan secercah kebahagiaan di saat cacing-cacing dalam perutnya meronta kelaparan. “Kau paham betul apa yang harus kaulakukan, Haru-ya. Pergilah dan bawakan aku sekotak kimbab. Kudengar mereka menambahkan masakan Asia dalam daftar menu. Bukankah menyenangkan mendapat makanan gratis di akhir pekan?” “Kau sudah gila rupanya,” kata Haru, melewati Hongbin dan kembali ke peraduannya. Namun, Hongbin memegang pergelangan tangan Haru lantas menariknya ke bawah. “Tidak boleh! Pokoknya kau harus ke sana!” paksa Hongbin. Haru menendangnya tulang keringnya kesal. “Aku tidak akan menginjakkan kakiku di tempat itu lagi.” “Oh, aku tidak lupa tentang mimpi burukmu di restoran itu.” Tampang memelas Hongbin membuat Haru ingin menamparnya keras-keras. “Setidaknya sekali ini saja, Haru. Kita sedang terpojok dan aku yakin kau juga lapar. Jadi, tunjukkan kartu ini dan dapatkan makanan gratis.” Mata Haru menyipit tak suka tatkala mendengar ucapan Hongbin. Bukannya itu sama saja mengingkari kata-kata yang telah ia lontarkan kepada Calvin Smith? Haru menolak. Ia melanjutkan perjalanannya menaiki tangga. Akan tetapi, bunyi keroncongan dan perut yang bergetar seketika menahan pergerakannya di tempat. Seringai jahat bak karakter antagonis merekah di kedua sudut bibir Hongbin. “Apa kau punya pilihan lain, Mr. Tanaka?” tanya lelaki itu setengah mendesak. “Pergilah. Hyung akan menunggu dan melaksanakan tugas terakhir to do list Mummy untukmu.” --- Haru menaikkan masker dan membenarkan letak kacamata hitamnya. Pakaian serba gelap yang ia kenakan berbaur dengan kegelapan malam. Pemuda itu tak menyangka kaki-kakinya yang bimbang akhirnya sampai di tempat ini. Walau enggan mengakui, satu-satunya restoran terdekat dari asrama memang hanya Calvin’s Table. Sebenarnya Haru mau-mau saja berjalan lebih jauh dan membeli kimbab di tempat lain. Restoran Korea di daerah sini pun menjual menu-menu dengan harga terjangkau. Namun, Haru tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dirinya merasa lapar. Ia tidak bisa menunda santapan malamnya lebih lama dari ini. “Masa bodoh dengan makanan gratis. Aku akan membayar.” Setelah sepuluh menit menerima tatapan aneh pejalan kaki karena pakaian gelapnya, Haru akhirnya mengambil langkah. Seorang pramusaji menyambut Haru ketika masuk dan mengarahkannya ke konter pemesanan masakan Asia. Agaknya Haru merasa senang mendapati betapa antusiasnya orang-orang Asia yang berkumpul di sini. Mereka membentuk sebuah barisan panjang yang rapi. Tak mau ketinggalan, Haru pun lekas mengantre di belakang seorang pria tua yang mengenakan tongkat. Persetan dengan aroma sedap yang menguar dari dapur resto, Haru sangat berharap ia tidak bertemu—atau bahkan melihat—Gadis Limun itu lagi. Lelaki itu menduga si Gadis Limun bekerja di shift pagi, mengingat selama Haru membeli makan malam di Calvin's Table—sebelum insiden menyebalkan itu, Haru tidak pernah melihat sosok Gadis Limun. Haru mudah sekali menghapal wajah orang-orang yang pernah bepapasan dengannya. Jadi, tidak mungkin dugaannya salah. “Selanjutnya!” seru pelayan di balik konter. Satu-persatu manusia di depan Haru mulai meninggalkan posisi masing-masing. Sebagian ada yang duduk di kursi tunggu, sebagian lain mengambil nomor dan meletakkannya di meja. Malam ini restoran sangat ramai, seperti yang diharapkan dari Calvin’s Table. Membangun restoran di area kampus, memperbarui dan membuat variasi menu lama setiap bulan, dan sering memberikan potongan harga di akhir pekan. Ternyata Calvin Smith, si pemilik anjing nakal itu cukup pandai memainkan strategi pemasaran. Haru dapat membaca tulisan diskon di papan kecil konter pemesanan masakan Asia. “Next!” Tiga orang lagi, batin Haru. Pemuda itu harap waktu berputar lebih cepat agar ia bisa menyumpal mulut cerewet Hongbin dengan kimbab pesanannya. --- Keluhan Stephannie tidak ada habisnya. Memang semenjak Calvin berencana menambahkan masakan Asia ke dalam daftar menu, wanita itu jadi sering pulang terlambat. Kyla yang tak tega pun membantu Stephannie menyiapkan segala kebutuhan terkait penambahan menu. Entah itu konter mini untuk bagian pemesanan menu Asia, pengenalan restoran terhadap koki-koki baru, maupun merancang desain untuk papan menu dan diskon. Kyla sendiri tidak memberikan bantuan yang berarti pada Stephannie. Gadis itu hanya menemani si manajer resto sampai malam dan membuatkannya kopi untuk begadang. Bukankah Stephannie sangat hebat? Pantas saja Calvin memilihnya sebagai manajer resto menggantikan Ellen yang kejam dan tak bersahabat. Selain itu, meski Calvin sedang absen mengunjungi restoran, Stephannie selalu melaporkan setiap kendala dan membereskannya dengan cekatan; kecuali insiden limun itu. Dengan kata lain, Calvin bisa seenaknya kabur dari tugas dan bersenang-senang bersama teman-temannya tanpa khawatir resto kacau-balau. “Kyla!” panggil Franda yang berlari kecil menghampirinya. Gadis bersurai merah yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu baru saja selesai membereskan piring-piring kotor di meja nomor enam. Tangan kanannya sibuk dengan baki berisi piring, sementara tangan kirinya menunjuk ke arah antrean konter pemesanan masakan Asia. “Ada apa, Dear?” tanya Kyla, menepuk-nepuk pundak Franda untuk menenangkannya. “Kau terlihat cemas. Apa semuanya baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa.” Franda menghela napas panjang. Gadis itu selalu seperti ini saat menemukan sesuatu yang janggal di restoran. Ia menjadi trauma setelah insiden limun itu. Jika ada orang mencurigakan yang tertangkap pengelihatannya, Franda akan langsung menjauh dan mencari seseorang yang lebih tua untuk mendampinginya. Begitu Kyla mengikuti arah tunjuk Franda, ia bisa melihat seorang lelaki jangkung yang memakai pakaian serba hitam berdiri di antara barisan itu. Kyla trrsenyum kecil, sudah terbiasa dengan penampilan para pengunjung yang beragam. Sikap paranoid Franda ini terkadang menghambat beberapa pekerjaannya. Kyla mengasihani gadis muda ini. Dia harus belajar banyak untuk bersikap tenang. “Dia bukan penjahat, Dear. Tapi jika diperhatikan dengan saksama, kau benar. Dia tampak mencurigakan.” “Tiada alasan untuk memakai pakaian seperti itu di restoran seramai ini, Kyla. Aku takut,” gumam Franda sambil bergidik ngeri. Kyla berpikir dua kali. Haruskah ia memanggil Calvin yang kebetulan masih di ruangannya? Ataukah ia urus saja masalah ini sendiri? Kyla menyadari ‘ketenarannya’ di situs resmi restoran. Berkat insiden itu, seorang anonim di kolom komentar menyebutnya sebagai Gadis Limun. “Aku akan berhati-hati,” tegas Kyla pada diri sendiri. Bertekad tidak akan mengulangi kesalahannya yang sama. Kyla pun menyuruh Franda kembali bekerja kemudian menatap lelaki berpakaian serba hitam tadi. Sambil berjalan mendekat, gadis itu memikirkan cara untuk menegur lelaki itu. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penampilan lelaki jangkung itu. Tetapi, Kyla tidak bisa mengambil risiko yang dapat memperburuk citra restoran dengan membiarkan orang aneh masuk. “Excuse me,” ucap Kyla sopan. Ia menarik sedikit lengan jaket hitam sang lelaki, membuatnya menoleh dan menurunkan pandang. Ada sentakan halus yang samar-samar Kyla rasakan dari tubuh lelaki itu. Apa ia terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba? Kyla melepaskan tangannya kemudian menyunggingkan seulas senyum ramah. “Maafkan saya mengejutkan Anda, Sir. Apa Anda tidak keberatan menunjukkan tanda pengenal Anda? Ini merupakan prosedur baru untuk menjamin keamanan pengunjung dan restoran,” bohong Kyla. Kenyataannya tidak ada prosedur keamanan semacam itu di Calvin's Table. Lelaki yang hampir mencapai konter pemesanan itu membeku. Seakan ia adalah patung yang marmer yang dipamerkan sebagai pajangan resto. Matanya yang tertutupi kacamata hitam berdiam di name tag yang terpasang di d**a Kyla. Hingga tanpa sengaja ia menyuarakan nama gadis itu, “Kyla Dawson,” dan mengundang tatapan pengunjung lain yang diam-diam memperhatikannya. Ini adalah ketiga kalinya ia mengalami hal sama dengan gadis yang sama pula. “Ya, Sir? Anda memanggil saya?” Kyla bertanya bingung. Ia mengenali suara lelaki ini. Bukan suara yang akrab, tapi juga tidak asing di telinganya. Tak sabar menunggu respons sang lelaki, Kyla akhirnya menarik lengan lelaki itu keluar dari antrean. Ia berjinjit untuk menyingkirkan kacamata dan masker hitam yang menyembunyikan rupanya. Dengan sedikit paksaan dan perlawanan si lelaki, Kyla akhirnya berhasil menguak siapa gerangan pemuda di balik pakaian serba hitam ini. Mata runcing bak seekor kucing, pipi tirus, dan bibir tipis yang selalu meluncurkan kata-kata pedas—juga ekspresi datar itu... Tuhan... bagaimana pun Kyla mengamatinya, dia adalah korban insiden limun sekaligus pemuda yang hoodienya Kyla nodai dengan krim rainbow cake! Haru membuang muka. Ia abaikan Kyla Dawson yang tak mampu mengontrol keterkejutan di wajahnya. Sungguh. Menuruti keinginan Shim Hongbin adalah malapetaka besar bagi Haru. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN