5: They Meet Again (2)

2019 Kata
“Miss Dawson, darimana saja kau? Aku mencarimu ke mana-mana—” Napas Haru tercekat. Satu lagi manusia berisik muncul di hadapannya. Ia menoleh ke sumber suara dan menatap tanpa minat sepasang manik cokelat di belakang Gadis Limun. Sang pemilik suara, Calvin Smith, tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mulut pria itu terbuka lebar, menampilkan senyum yang perlahan-lahan berubah kaku. Tangannya yang hendak menepuk pundak Gadis Limun membeku di udara. Haru tidak mau dikelilingi oleh makhluk-makhluk merpotkan seperti dua manusia ini. Akan lebih baik baginya memilih berjalan lebih jauh ke restoran Korea daripada menemui kesialannya. Shim Hongbin, awas saja kau! Kyla, si Gadis Limun, akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Ia mengangkat pandang dan terkesiap mengetahui sosok lain di balik tubuhnya. Ia berbalik dan mundur selangkah, berdiri di antara dua pria tinggi yang saling bertatapan. “Tunggu, ada apa ini?” Kyla memegangi kepalanya yang pusing, sulit mencerna ledakan kejutan ini. Ia dan Tanaka Haru memang memiliki masalah—kesalahpahaman yang harus diselesaikan. Tapi, bagaimana dengan Calvin? Apa hubungan mereka? Mata Kyla terasa berputar-putar ketika Calvin tiba-tiba berteriak dan menuding Tanaka Haru. “Hei! Sudah kuduga itu kau!” serunya, membuat Kyla dan Haru tersentak. Calvin tak memberi Haru kesempatan untuk kabur—tidak kali ini dan membawanya menuju kursi terdekat. Bangun dengan rasa bersalah setelah sepanjang malam bermimpi buruk bukanlah hal yang menyenangkan. Calvin bertekad membayar kesalahannya pada Tanaka Haru, bagaimanapun caranya. Kyla mengikuti mereka, linglung. Ia tercengang lantaran Calvin justru duduk dan melipat tangan di atas meja. Ia pun menghampiri mereka. “Kalian saling mengenal?” tanya Kyla, memandang Haru dan Calvin bergantian. Calvin meringis, menarik kursi di sebelahnya dan menyuruh Kyla duduk. “Bergabunglah bersama kami, Sweety,” kata Calvin, “sebenarnya ada beberapa hal yang harus kauketahui. Tapi, waktu itu aku tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskannya. Jadi—” “Biarkan aku pergi.” Haru menginterupsi dengan dingin. Ia hendak beranjak saat Calvin melanjutkan, “Dia menjadi korban kecerobohan kita.” Kerlingan Calvin membuatnya bergidik ngeri. “Kau ingat tentang korban kenakalan Lux yang kuceritakan? Yah, Tanaka Haru ini orangnya. Aku baru menyadari ada bekas tamparan yang hinggap di pipinya seperti perona—” “Apa?” “Ekhem, namanya yang seperti orang Jepang—” “Aku memang orang Jepang.” Calvin mengerucutkan bibir karena Haru dan Kyla tidak membiarkannya menyelesaikan kalimatnya. Ia mendengus sebal sambil mengetuk-ngetuk permukaan meja. “Dengarkan aku dulu. Tidak bisakah kalian tenang? Jika kalian terus memotong ucapanku, bagaimana bisa aku menjelaskannya?” “Tak perlu kau jelaskan,” sahut Haru muak. Ia menyahut kacamata dan maskernya yang Kyla letakkan di meja, bergegas pergi. “Lagipula aku tidak berniat berlama-lama di sini.” “Hei! Jangan begitu! Alat-alat lukismu yang rusak menghantui mimpiku tahu!” seru Calvin, sengaja mengeraskan suara demi menahan kepergian Haru. Kyla yang sejak tadi bungkam akhirnya bergerak. Ia menyikut lengan Calvin, meminta pemuda itu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang lain. Kyla cukup peka bila Haru tidak suka saat dirinya menjadi bahan omongan maupun pusat perhatian. Dia sudah sangat berpengalaman menghadapi lelaki itu. Calvin berdeham kecil, bangkit dan menyeret Haru kembali ke kursinya. “Kau tidak tahu betapa menakutkannya mimpi-mimpi itu, Kawan. Paletmu berbicara padaku, kuas-kuasku berubah seukuran lobak raksasa dan memukuliku, kanvas dan buku sketsamu menunjukkan lukisan-lukisan seram! Oh astaga, rasanya aku ingin cepat bangun dari tidur! Mereka memintaku menebus kesalahanku!” ungkap Calvin. Lelaki itu berulang kali menggosok tengkuknya yang meremang, menggigil ketakutan. Haru tidak mau mendengar omong kosong lebih dari ini. Ia melirik Kyla dengan ekor matanya yang tajam. Sebenarnya Haru ingin setidaknya mereka melepaskannya dan mengantre di konter pemesanan. Padahal sedikit lagi—padahal tinggal satu orang lagi Haru dapat menyebutkan pesanannya pada pelayan konter dan menunggunya selesai. Padahal tinggal beberapa menit lagi ia bisa keluar dari restoran ini dan makan malam bersama Hongbin di kamar asrama. Namun, London tak memberi Haru jeda untuk mengalami kesialan lainnya. Bagus sekali sekarang Dewi Fortuna yang—entah mengapa—menaruh dendam kesumat pada Haru mempertemukannya dengan orang-orang ini. Tampaknya Dewi Fortuna dan Hongbin sedang bekerja sama untuk mempermainkan Haru. Calvin menggaruk dagunya dengan alis bertaut. Apakah Haru dan Kyla tidak berniat meluruskan kesalahpahaman mereka? Ia pun memanggil Mitchel dan menyuruh Haru memilih makanan di daftar menu. “Aku sudah berjanji akan mentraktirmu makan karena kau menolak ganti ruginya,” kata Calvin sesampainya Mitchel. Ia menyodorkan daftar menu itu pada Haru, mengusap papan berkilau itu dengan telunjuk. “Dan well, aku memaksa kali ini. Mimpi itu mengangguku dan aku bukan tipikal orang yang suka menanggung rasa bersalah seumur hidup. Jadi, aku minta maaf.” Kyla memainkan ujung celemeknya gelisah. Diam-diam ia menatap Haru yang tidak menganggapnya ada. Mata hitam lelaki itu terus mengarah pada Calvin lalu beralih ke daftar menu. Kyla tidak memiliki cukup keberanian seperti Calvin. Pertama, ia telah berlaku kasar. Kedua, m*****i hoodienya dan tidak meminta maaf dengan benar. Kyla memutar otaknya untuk mencari secuil nyali yang menguap entah ke mana, tak mendengarkan perbincangan searah Calvin dan Haru. Ia terjebak dalam situasi yang membuatnya berdiri di antara banyak pilihan. Calvin merangkul bahu Kyla, seolah dapat membaca isi kepala gadis itu. Dengan senyum riangnya, pemuda itu mengajaknya memperkenalkan diri. “Dia Kyla, Kyla Dawson—sahabatku yang berharga sekaligus pegawai favoritku di Calvin’s Table.” Calvin mengeratkan rangkulannya, mencengkeram lengan atas Kyla. Ia terkikik merasakan tubuh Kyla yang menegang. “Aku mendengar insiden limun itu dari manajer resto dan aku sungguh minta maaf atas kejadian itu. Aku tidak sadar kau adalah orang yang sama dengan korban insiden limun karena wajahmu tidak terekam jelas di CCTV. Well, sampai Kyla menceritakan tentang pertemuan kedua kalian dan aku mengingat ada bekas tamparan di pipimu waktu itu. Aku bertanya-tanya apakah ini hanya sebuah kebetulan atau tidak. Oh, dan untuk namamu, Kyla juga yang memberitahuku! Apakah aku harus memanggilmu Tanaka atau Haru?” Kini Haru berpaling ke arah Kyla. Gadis itu segan untuk sekadar menatapnya. Hal yang wajar, mengingat bagaimana pertemuan mereka yang meninggalkan kesan tidak menyenangkan. Ia membaca satu-persatu daftar menu lantas menggeleng dan mengembalikannya pada Mitchel. “Aku tidak akan menarik kata-kataku. Aku sudah membeli peralatan lukis baru dan jangan membuatku menyimpan lebih banyak,” ucap Haru, “Nona Dawson, aku bukan arwah gentayangan. Kau bisa angkat kepalamu.” Kyla menurut seperti anak kucing yang takut dimarahi induknya. “Ah ya.” Ia membasahi bibirnya yang kering. “Calvin benar. Selain itu, aku sangat menyesal atas perkataanku. Haru, maukah kau menerima maafku?” Sudah cukup dengan kata maaf itu. Telinga Haru perlahan dirayapi warna kemerahan samar tatkala perutnya berbunyi. Kyla tersenyum kecil melihat reaksi Haru yang memalingkan wajah, berpura-pura tidak tahu-menahu soal bunyi barusan. Ia meminta persetujuan Calvin apakah mereka bisa menghidangkan sesuatu seperti sponge cake atau semacamnya. Calvin tertawa geli, memeriksa jam di pergelangan tangan sebelum mengangguk mengiyakan permintaan Kyla. Malam ini dia harus pulang lebih awal untuk menghadiri rapat komunitas fotografer. “Kuserahkan Haru kepadamu, Sweety. Beri dia pelayanan ekstra dan ingat, jangan biarkan Haru membayar makanannya. Aku tidak mau alat-alat lukis itu berbicara padaku lewat mimpi.” --- Kyla kembali sepuluh menit kemudian dengan nampan plastik elegan bermotif mawar di tangannya. Ia berdiri canggung di samping Haru, meletakkan sepiring mungil strawberry sponge cake dan segelas espresso panas di depannya. Mereka tidak berbicara apapun sejak Calvin berlari keluar resto. Kyla pun tidak menanyakan makanan yang Haru inginkan lantaran tahu lelaki itu tidak akan menjawab. Oleh sebab itu, Kyla hanya membuat Haru menunggu di tempat sementara dirinya bergelut dengan beraneka macam krim dan stroberi di dapur pastry. Ia mengamati ekspresi Haru saat memandang espressonya. “Kupikir gigimu akan terasa ngilu jika minum minuman manis setelah memakan kue ini. Apa kau bisa minum kopi?” tanya Kyla ragu. Ia tidak mengerti apa yang harus dia katakan untuk mencairkan kecanggungan di antara mereka. “Eum, Haru—?” Kyla menjentikkan jari, membuat Haru menolehkan kepala. “Ada apa?” “Ini kue buatanku,” lirih Kyla sambil tersenyum malu, “aku membuatnya sebagai camilan saat senggang. Aku sedikit memperbaiki tampilannya untuk disajikan padamu.” “Ya.” Kyla mendesah pasrah. “Jika kau tidak menyukai makanan manis, aku bisa menggantinya. Sebutkan apa makanan kesukaanmu. Calvin memperbolehkanku menghidangkan apapun yang kauingin—” Kalimatnya terhenti ketika menangkap binar-binar yang tak pernah Kyla sangka akan bersemayam di kedua manik kelam Haru. Wajah lelaki itu tetap tenang dan datar, namun mata sipitnya melebar kegirangan. Kyla memutuskan tidak menginterupsi kebahagiaan kekanakan itu dan duduk di kursinya semula. Ia memperhatikan bagaimana Haru meraih garpu tanpa berkata-kata dan menyuapkan potongan kecil sponge cake ke mulutnya. Rasa asam, manis, dan lembut menggelitik lidah Haru. Tangannya bergerak terus menyuapkan potongan demi potongan sponge cake, sesekali melahap buah stoberi secara terpisah hingga kue itu habis tak bersisa. Haru mengelap sudut bibirnya menggunakan tisu yang disodorkan Kyla, mengunyah potongan terakhir dengan santai. Kyla tersenyum simpul dibuatnya. “Bagaimana menurutmu? Apa rasanya enak?” Haru membasahi tenggorokannya yang dibanjiri rasa manis yang memikat dengan air lalu mengedikkan bahu. “Lumayan.” “Oh ya? Tapi, kelihatannya kau menyukainya. Kau makan lahap sekali.” “Terserah.” Raut Kyla tiba-tiba berubah serius. Gadis itu memainkan jemari lentiknya yang bertautan, menggigit bibir bawah gugup. “Jadi, Haru, aku ingin membahas insiden limun dan hoodiemu itu. Kau tidak keberatan ‘kan?” Haru menggeleng. Meski enggan, ia tidak sejahat itu untuk membiarkan Kyla didera rasa bersalah setiap waktu. Lelaki itu menerawang pintu resto yang bergerak terbuka dan tertutup. Lonceng kecil di atasnya berdenting tiap kali seseorang mendorongnya. “Lupakan saja,” tutur Haru akhirnya. Sekilas ia dapat melihat putaran memori tentang insiden limun dalam bentuk bayang-bayang di antrean konter pemesanan. Lonjakan emosi yang kerap menguasainya tiap mengingat kejadian itu lenyap sudah. Haru pun melanjutkan, “Dan sebaiknya kau tidak usah meminta maaf lagi. Seperti kata temanmu, ini semua hanya kesalahpahaman.” “Ya, kesalahpahaman.” Kyla menghitung kesalahpahaman yang dimaksud dengan jari. “Menyiram limun, menampar dan mengusir seseorang, lalu m*****i pakaiannya. Astaga, aku tidak sadar betapa bodohnya diriku waktu itu. Kumohon maafkan a—” “Kau tidak akan mendapatkan apapun dengan mengingat kejadian itu, Nona Dawson,” sela Haru. Kyla memutar mata bosan. “Sebelum itu, panggil aku Kyla. Kyla. Bukan Nona Dawson. Aku merasa tidak nyaman ketika orang lain memanggilku dengan nama belakang. Kita tidak sedang berada dalam pertemuan formal.” “Aku dan kau tidak seakrab itu.” “Hm, kau benar.” Berpikir sejenak, Kyla mengeluarkan sebuah pena dari saku celemek dan membalik tangan Haru. Ia menuliskan beberapa digit angka, mencoretnya kala menulis angka 0 alih-alih 8, dan tersenyum puas mendapati nomor ponselnya terlukis sempurna di telapak tangan Haru yang halus. Kyla tergelak karena Haru memberengut karena ulahnya. “Ini nomor ponselku. Kau boleh berpikir kalau aku ini gadis yang aneh, tapi sejak lama aku sangat ingin menambah daftar teman Asiaku. Ah, ya, aku tidak punya satupun teman Asia. Mungkin kau yang pertama.” “Sejak kapan kita berteman?” Haru menepis tangan Kyla dan menarik kembali tangannya. Ia berusaha menghapus tinta itu bila Kyla tidak mencegahnya. “Sekarang, dan jangan hapus nomorku!” seru Kyla yang mencondongkan tubuh. Ia menggeleng kuat sembari memasang tampang memelas. “Apa kau membenciku? Aku akan melakukan segala cara agar aku bisa berteman denganmu, Haru. Kumohon.” “Kau berisik dan menyebalkan.” Kyla tersenyum miring. “Kuanggap itu sebagai ya. Terima kasih.” Haru menatap angka-angka di telapak tangannya saksama. Dalam daftar kontaknya, tak banyak nomor yang Haru simpan. Sebagian besar adalah nomor telepon keluarga di Jepang; adik laki-laki, telepon rumah, paman dan bibi, teman masa kecilnya, beberapa orang teman SMA, sedangkan sebagian lagi adalah Steve, Hongbin, dan dua orang dari jurusan. Setelah ini, Haru harus menambah satu tempat untuk Kyla Dawson dalam daftar kontaknya. Dia tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan melalui sambungan telepon nanti. Hidup Haru benar-benar dipenuhi oleh orang-orang berisik. Kyla berpindah ke tangan kanan Haru yang tak kunjung menggapai cangkir espresso. Ia menyimpulkan bahwa Haru adalah lelaki dingin penggila makanan manis, tapi tidak dengan kopi. Bukankah hal itu sangat bertolak belakang dengan sifatnya? Kyla tersenyum, menjabat tangan Haru dan mengayunkannya penuh semangat. “Senang berteman denganmu, Tanaka Haru.” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN