Satu pesan diterima.
Haru membuka pesan yang diterimanya di penghujung kelas itu, tepat saat bel tanda istirahat berbunyi nyaring. Orang-orang mulai berjalan keluar kelas sementara para mahasiswa tahun kedua mengisi tempat-tempat kosong. Profesor Caymen yang hari ini berhalangan hadir dan digantikan oleh asisten dosen lagi-lagi mengingatkan tentang tugas Monalisa-nya. Pak Tua setengah beruban itu bahkan menitipkan sebuah layar presentasi pada asdos dan menuliskan pengingat dengan huruf kapital. Karena itu, Haru menyadari betapa santai dirinya akhir-akhir ini. Seharusnya Haru sudah mulai mencoba menggambar sketsa di buku sketsa sebelum menuangkannya ke permukaan kanvas.
Pemuda itu memasukkan buku dan penanya ke dalam tas, beranjak sambil menggenggam ponsel di tangan. Dalam perjalanannya menuju perpustakaan, ia menangkap nama Kyla Dawson mengambang di layar ponselnya. Haru mendesah lelah. Aksi pencurian kecil Kyla malam itu berhasil membuat Haru puluhan menerima pesan singkat dalam waktu empat hari.
“Aku selesai dengan ini,” ucap Haru sambil membebaskan tangannya dari Kyla. Ia menegakkan punggung, bersiap pulang. “Dan katakan pada temanmu, alat-alat lukisku tidak akan menghantui mimpinya lagi mulai sekarang.”
Kyla meniup poni tipis yang menutupi keningnya, menengadahkan telapak tangan. “Berikan ponselmu!”
Haru mengernyit kesal. “Tidak.”
“Berikan ponselmu!” pinta gadis itu keras kepala. Ia mencondongkan badan untuk menggapai tali jaket Haru yang tidak diikat kemudian menarik Haru mendekat. Napas mereka saling bersahutan dalam jarak lima belas senti. Aroma manis krim dan stroberi beradu dengan wangi vanila dari tubuh Kyla. Haru mendesak menjauh, tapi Kyla justru makin mendekatkan diri. “Aku tidak akan membiarkanmu pulang sebelum melihatmu menyimpan nomorku dengan mata kepalaku sendiri, Haru.”
Haru tidak tahu kenapa Kyla selalu bertindak impulsif dan seenaknya. Selama dua puluh tahun ia hidup, Haru tak pernah suka membangun maupun melibatkan diri dalam sebuah hubungan yang merepotkan. Tembok besi membatasi interaksinya dengan dunia luar, seakan-akan ia tinggal di dalam tempurung keras yang sulit dihancurkan.
Begitu Haru hendak membuka mulut, tiba-tiba Kyla sudah mendorong bahunya dan tersenyum sumringah. Benda kotak hitam yang beberapa detik lalu masih berada di saku jaketnya kini terampas oleh makhluk mungil di seberang meja. Haru menatapnya dongkol. “Apa yang akan kaulakukan dengan ponselku?”
Kyla tak menjawab. Alisnya bertaut membaca huruf yang membuat matanya pusing. “Di mana menu kontaknya?” Jarinya menggeser-geser layar ponsel dengan telaten, mencari menu kontak berdasarkan ikon di layar. Setelah menemukannya, Kyla pun menghitung berapa banyak kontak yang Haru simpan. Walau tak bisa membaca huruf-huruf itu, Kyla dapat menebak bahwa Haru tidak akan menyimpan nomor seseorang bila orang itu tidak mempunyai kepentingan dengannya.
Ia mengetikkan nomor ponselnya di sana, mengirim pesan dalam huruf Jepang yang tidak diketahuinya, lantasa melambaikan ponsel oranyenya ketika nada pesan terdengar. “Aku tidak mengerti bahasa Jepang, jadi aku tidak bisa mengetikkan namaku sendiri di ponselmu,” kata Kyla murung. Sedetik kemudian, wajahnya berubah cerah dan ia mengedipkan sebelah mata jenaka. “Tapi, setidaknya sekarang aku sudah mengamankan nomormu di ponselku. Tenanglah, Haru. Aku tidak akan mengganggumu di saat-saat penting. Ah ya, apa yang akan kau pesan tadi di konter masakan Asia? Biarkan aku yang mentraktirmu menu terbaru kami. Bawalah pulang dan kurasa seseorang menunggumu di rumah. Benar ‘kan?”
Setibanya di perpustakaan dan mengisi buku pengunjung, Haru berjalan menelusuri rak kategori seni. Ia mematikan ponselnya yang tidak berhenti bergetar; Kyla dan Hongbin sama-sama mengirim pesan di waktu yang bersamaan, menjadikannya deretan spam di kotak masuk.
Halo, Haru! Apa yang kaulakukan sekarang? Kapan-kapan aku ingin mengajakmu berkeliling tempat wisata yang terkenal di London. Anggap saja sebagai perayaan pertemanan kita hehe. Kali ini kau tidak boleh menolak, ‘kay?
---
“Hm? Sweety, sepertinya kau tidak berkonsentrasi padaku,” kata Calvin, menyuapkan muffin cokelat ke mulut Kyla.
Kyla menghindar, menutup ponsel, lalu merebut muffin itu dari Calvin. “Hei! Aku bisa makan sendiri! Lagipula aku sudah kenyang, Cal. Cobalah muffin itu. Kuyakin kau akan ketagihan memakannya.”
Calvin menurut dan menggigit sedikit muffin beserta krim kocok di atasnya. Matanya berkilat-kilat karena muffin itu tak semanis dugaannya. “Waw! Peanut butter cream? Cokelat black forest? Kyla, darimana kau tahu rasa favoritku?”
“Sejujurnya, aku tidak tahu,” balas Kyla, “aku tidak begitu pandai dalam bidang pastry. Carla-lah yang mengajariku cara membuatnya. Dulu kami terpisah saat SD. Dia bersekolah di sekolah khusus perempuan, sedangkan aku melakukan home schooling. Orang tua kami tidak mempercayaiku yang tidak bisa menjaga diri. Itu sebabnya Carla memiliki catatan resep yang dia pelajari di sekolah. Di halaman pertengahan, tertulis ‘Muffin Favorit Cal, Sahabatku’. Mungkin rasanya tidak seenak buatan Carla, tapi syukurlah jika kau tidak memuntahkannya.”
“Mana mungkin aku memuntahkan muffin seenak ini, Sweety?” pekik Calvin tak terima.
Saat ini mereka sedang ada di danau belakang kampus. Di jam makan siang, tempat ini merupakan tempat yang paling cocok untuk menghabiskan waktu di jeda istirahat yang lamanya tak seberapa. Danau ini terletak belakang di gedung-gedung Fakultas Seni Rupa dan Fakultas Seni Media Rekam, terpisah oleh rimbunnya pohon ek merah. Musim gugur semakin menambah sensasi hangat di sekeliling mereka. Spot-spot indah di setiap sudut lapangan rumput yang luas membuat tempat ini menjadi incaran para pasangan kekasih di waktu senggang.
Kyla mengedarkan pandang. Pipinya bersemu merah melihat belasan pasangan menggelar kain piknik dan bersenda gurau. Ah, kenapa juga Calvin mengajaknya ke mari?
Calvin memandang Kyla tanpa berkedip. Surai cokelat sebahu gadis itu diterpa angin sepoi yang sejuk. Sudut-sudut bibir gadis itu terangkat, membentuk senyuman tipis yang mendorong Calvin untuk memotret figur Kyla dalam lensa kamera kunonya. Kyla tersentak mendengar suara jepretan kamera Calvin. Ia memiringkan kepala, bertanya-tanya foto apa yang Calvin ambil kali ini.
“Pemandangannya bagus ‘kan?” jawab Calvin terbata, segera menyembunyikan kamera di balik punggung, “Eum—well, Sweety, tahukah kau di mana Lux menghancurkan peralatan lukis, Haru?” Ia menunjuk sebuah tempat di dekat batu besar dan lampu tiang. “Ibu menelponku ketika aku dan Lux berjalan-jalan di sini. Aku terhanyut oleh perbincangan bersama Ibu hingga tanpa sadar aku telah melepas tali Lux.”
Manik hijau Kyla berguling mengikuti telunjuk Calvin yang bergerak memutari sisi lain danau, bercerita bagaimana Lux berlari kencang sembari menjulurkan lidah kepada Haru yang terdiam dengan alat-alat lukisnya. Gadis itu terbahak kala Calvin memeragakan Haru yang berguling menghindari serangan Lux dan menatap Calvin sinis saat lelaki itu berniat membantunya berdiri.
"Dia memang begitu," tawa Kyla meledak-ledak. Calvin kembali memosisikan diri di sampingnya, ikut tertawa.
"Itu bukan pengalaman yang baik, Sweety. Lain kali aku harus mengajari Lux bertingkah manis di depan orang asing. Aku berterima kasih karena itu Haru. Jika preman bertato, wajah tampanku ini akan rusak."
Menggigit muffin, Kyla menggeleng maklum. Kadar kepercayaan diri Calvin sepertinya semakin meningkat dari hari ke hari. Dengan mulut penuh, gadis itu berkata, "Berbicara soal Haru, kami telah bertukar nomor ponsel malam itu. Tapi, sekalipun aku mengiriminya pesan, dia sama sekali tidak membalas."
Calvin menjilati telunjuk dan ibu jarinya yang ternodai sisa krim kocok, meraih satu muffin lagi. "Kudengar mahasiswa baru jurusan Seni Rupa disibukkan oleh tugas dari Profesor Caymen yang aneh. Aku tidak lebih tahu jelasnya, tapi menurut seorang teman, mereka kesulitan mencari sosok inspirasi Monalisa."
"Haru dari jurusan Seni Rupa?" Kyla bertanya seakan-akan Calvin tengah melontarkan sebuah kebohongan. Mata gadis itu membulat sempurna lalu Calvin pun memencet hidung Kyla agar ia berkedip.
"Wah, lihat ini. Kau langsung bersemangat saat kita membicarakan Haru," omel Calvin seraya mengerutkan kening, "sesenang itukah kau mempunyai seorang teman Asia? Ugh, Sweety, dari semua orang Asia yang pernah kautemui kenapa harus Haru?"
Decakan sebal Kyla menambah jumlah kerutan di dahi Calvin. "Memangnya aku punya waktu untuk itu? Tidak, Cal. Jika aku tidak fokus bekerja dan membeli flat sendiri, aku pasti memiliki banyak waktu luang untuk bersenang-senang. Dasar."
Calvin membalas muram. "Apa kau tidak nyaman dengan Shopie? Sweety, Shopie sudah tua dan dia tidak punya keluarga untuk merawatnya. Aku membawamu padanya supaya kau bisa menemaninya."
"Aku sangat menyayangi Shopie seperti keluargaku sendiri, Cal." Kyla meletakkan muffinnya yang tinggal separuh dalam kotak plastik, menumpuk tangan di pangkuan. Mata hijaunya menerawang permukaan danau yang tenang, memantulkan pemandangan pohon-pohon dan berbagai objek yang mengitarinya; bagaikan cermin ajaib. Kyla melanjutkan dengan napas berat, "Seandainya suatu saat Carla kembali, apakah kami harus bergantung padanya—dan kau? Tidak. Aku tidak bisa, Calvin. Carla pun pasti berpendapat demikian."
"Kau masih menunggunya?"
"Tentu saja. Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa! Orang tua kami telah tiada dan jika aku tidak menunggunya, di mana Carla akan pulang? Bagaimana bisa kau tega mengatakan—"
"Maaf. Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Jangan menangis, Sweety. Maafkan aku.”
Mendapati genangan air di pelupuk mata Kyla dan isakan yang sayup-sayup terdengar, Calvin pun melingkarkan lengan besarnya memutari punggung gadis itu. Tubuh bergetar dalam rengkuhannya. Cairan bening membasahi pipinya dan rasanya sudah lama Calvin tidak melihat Kyla menangis seperti bayi.
Tiga tahun berlalu begitu cepat. Musim semi yang seharusnya bernuansa merah muda justru menjadi kelabu bagi Kyla yang kebahagiaannya terampas. Sebuah kecelakaan maut merenggut hidup orang tuanya dan di waktu yang bersamaan, Carla menghilang tanpa kabar. Calvin menemukan Kyla duduk di pintu gerbang kantor polisi di hari hujan setelah mendapatkan puluhan panggilan dari Carla. Gadis itu tidak menjelaskan apa yang telah terjadi pada mereka, tetapi ia meminta Calvin untuk menemani adiknya di kantor polisi selagi dirinya tiada. Namun di hari-hari berikutnya, sosok Carla tidak pernah kembali. Sejak itulah Calvin merasa bertanggung jawab atas hidup Kyla. Ia memohon pada ayahnya yang memiliki koneksi dengan kantor polisi untuk mencari Carla dan membawa Kyla pada Shopie, teman lama mendiang neneknya yang tinggal sendirian di sebuah flat kecil. Hingga hari ini tiba, musim gugur ketiga tanpa adanya Carla, Kyla masih menantikan kepulangan kakaknya.
“Maafkan aku, Kyla. Berhentilah menangis. Tolong.” Calvin menepuk punggung gadis itu lembut. Dadanya didera rasa sakit yang sama ketika Kyla berbisik bahwa ia merindukan Carla. Ia pun mengeratkan pelukannya, mencengkeram lengan kaus Kyla, dan membenamkan kepala di lekukan leher gadis itu, menciumi helaian rambutnya.
Carla, di manapun gadis itu berada, Calvin bersumpah akan benar-benar memarahinya bila suatu hari mereka bertemu.
---
“Haru, comeback home, now!”
Suara Steve di seberang telepon nyaris menulikan telinga Haru. Baru saja lelaki itu menghidupkan ponselnya, ratusan telepon dan pesan tak terbaca dari Hongbin dan Steve langsung membanjiri notifikasi ponsel. Awalnya Haru ingin kembali mematikan ponselnya, namun sayang seribu sayang. Steve lebih dulu menelpon dan sebelum masalah datang, hendaknya Haru mengangkat panggilan ibu gilanya itu.
“Aku masih di kampus,” jawab Haru sekenanya, menjepit ponsel dengan bahu dan kepala yang dimiringkan. Tangannya menjajar alat-alat gambar di atas rerumputan, mengeluarkan buku sketsa, kotak yang berisi berbagai jenis pensil berbeda ukuran dan ketebalan, serta beberapa penghapus. Rencananya hari ini Haru akan membuat sketsa kasar di buku sebagai latihan.
Ia melemaskan jemarinya yang kaku, memindah ponsel ke sisi kanan kepala. “Berisik. Aku akan pulang sebelum jam empat sore. Jadi, diamlah.”
“No, no! Jam tiga sore. Mummy sudah membeli perlengkapan dan bahan-bahan untuk barbeque party. My Boy. Kita akan mengambil tempat di rooftop sebelum Johnny dan Caesar merebutnya. Kau dengar ‘kan, Haru?”
“Tidak.”
“Haru! Anak badung ini!”
“Sekali tidak tetap tidak. Aku tidak mau ada negosiasi lain.”
“TAK APA, STEVE! BIAR AKU YANG MENJEMPUTNYA! RIGHT NOW!”
Haru menghela napas mendengar sahutan Hongbin di sebelah Steve. Pemuda itu menjauhkan ponsel dari telinga. Hongbin dan teriakan menyebalkannya adalah kombinasi yang buruk bagi Haru yang selalu mencari kedamaian di kamar asrama mereka. Setiap pagi, setiap siang, setiap sore, dan setiap malam Hongbin dan Steve tidak pernah bisa diam. Mereka selalu mendapatkan kesempatan untuk mengusili Haru. Entah itu Hongbin dengan suara ketikan keyboardnya yang sengaja dikeraskan, atau senandung Steve yang menyanyikan lagu bernada tinggi dengan suara fals di kamar mandi.
Lelaki itu berniat menutup telepon dan membuka buku sketsanya jika pandangannya tidak mengarah pada dua orang manusia yang berpelukan di bawah naungan pohon beringin. Pemuda bersurai kemerahan dengan kemeja biru dan seorang gadis berambut cokelat sebahu yang sepertinya sedang menangis dalam pelukan pemuda itu. Sejenak Haru tak dapat mengalihkan atensi dari adegan drama romansa tersebut. Ia memandang datar Calvin Smith dan Kyla Dawson nun jauh di sana, mengasihani diri karena mendadak ia kehilangan selera untuk menggambar.
Jadi, Haru pun memutuskan mengemasi barang-barangnya ke dalam tas, menjawab ocehan Steve yang senantiasa menunggunya berubah pikiran tanpa minat.
“Aku pulang sekarang.”
To be continued