Berat.
Kepalanya terasa berputar-putar dan sesuatu serasa membebani perutnya yang mual. Haru membuka sebelah mata. Cahaya matahari dari jendela yang terbuka lebar amat menyilaukan. Ia menggigil karena dinginnya angin pagi, berusaha bangkit ketika melihat sepotong kaki besar dan berbulu menindih perutnya. Haru mengenali kaki itu sebagai milik Steve. Ia menyingkirkannya dengan kasar dan membuat Steve melenguh dalam tidur.
"Kalian telah meracuniku," gumam Haru serak. Semalaman tidur di kasur Steve adalah hal yang menyiksa. Kepalanya mendongak untuk memeriksa kasurnya yang terletak di tingkat dua; Hongbin tidur di sana dan Haru yakin lelaki itu sudah menggambar peta di bantal putihnya.
Dengan setengah hati, Haru membiarkan Hongbin kali ini. Ia bersandar pada tiang kayu kasur, menengok ke arah tumpukan sampah di depan pintu. Setelah mengadakan barbeque party dari sore hingga tengah malam, Steve dan Hongbin justru mengeluarkan berkaleng-kaleng bir dari dalam kulkas. Haru tidak tahu kapan mereka membelinya. Namun yang jelas, mereka telah mencekoki Haru dengan tiga kaleng bir hingga Haru tak sadarkan diri.
Haru mengernyit kala merasakan denyut nyeri kembali menghantam kepalanya. Steve yang lebih dulu terbangun. Dengan keadaan yang sama-sama buruknya, lelaki itu beranjak duduk dengan bantuan Haru lalu memegangi dahinya, pusing. "Ugh, aku mual." Lelaki itu menutup mulutnya yang pucat dan kering. Haru memutar mata. Berapa banyak bir kaleng yang pria itu minum semalam?
Steve tertawa serak. Ia ikut menyandarkan punggung di samping Haru dan menidurkan kepala di kasur Hongbin. "Delapan kaleng dan aku menyesal mengajak kalian minun-minum semalam," katanya ragu, "kepala dan tubuhku rasanya melayang."
"Dan kau yang membuatku begini," sahut Haru kesal. Ia mencoba bangkit, hendak berjalan ke arah dispenser untuk menggapai segelas air hangat. Saat ini ia hanya membutuhkan sesuatu untuk meredakan rasa mual dan sensasi berputarnya. Akan tetapi, berterima kasihlah pada Steve dan Hongbin. Kedua kakinya tak sanggup menahan bobot tubuhnya walau sedetik, dan hal itu membuat Haru kembali terduduk di posisinya semula.
Steve tertawa dengan cara yang menyebalkan. Ia menyugar rambut ikal pirangnya ke belakang sambil masih menertawakan Haru. "Kau peminum yang buruk, Boy," komentar, "kudengar orang-orang Jepang memiliki kebiasaan minum bersama selepas kerja. Seandainya kelak kau sudah dewasa dan mendapatkan pekerjaan, Mummy jadi khawatir seseorang memanfaatkanmu."
"Kau berkata seolah aku ini seorang remaja SMA," balas Haru singkat, walau ia harus mengakui bahwa pernyataan Steve tentang dirinya benar. Haru tidak pandai minum-minum. Sejak kali pertama usianya legal untuk menyentuh minuman beralkohol, hanya sekali Haru mencicipi rasa panas bercampur manis itu di lidahnya. Sake yang diminumnya dua tahun lalu merupakan yang pertama dan terakhir bagi Haru. Setelah pulang dalam keadaan mabuk akibat dua gelas kecil sake dan menjadi bahan ejekan adik laki-lakinya, Haru memutuskan tidak mau lagi merasakan minuman keras itu.
"Sepertinya aku akan bolos kelas hari ini," gumam Steve pada dirinya sendiri. Ia tidak mungkin bisa menghadapi Mrs. Lee dalam keadaan seperti ini. Terlebih dosen walinya itu terus-menerus menagih revisi tugas akhirya yang sama sekali belum ia sentuh. Steve sudah hampir kenyang memakan semua desakan Mrs. Lee. Menjadi mahasiswa semester tua ternyata sungguh melelahkan. Apalagi Steve merasa belum cukup menjaga Haru karena mereka baru bertemu empat bulan yang lalu.
"Yah, tak masalah. Aku bisa menunda kelulusanku satu tahun lagi." Haru menoleh, mengernyit tak mengerti. "Ini perasaan seorang ibu yang tak mau meninggalkan anak-anaknya, Haru. Mengertilah. Mummy sangat peduli padamu, Boy," kata Steve. Demi Tuhan, apa lelaki itu berniat menunda kelulusannya demi Haru dan Hongbin?
Detik berikutnya, Haru tak menjawab. Dengan tenaga yang belum terkumpul sempurna, ia bergerak menaiki tangga ke kasur atas dengan hati-hati. Berulang kali kakinya hampir tergelincir anak tangga karena salah pijak, hingga akhirnya ia dapat meraih celana pendek Hongbin, dan mengguncang badan sebesar beruang itu agar enyah dari kasurnya. Hongbin menguap lebar lantas duduk sambil mengucek mata. Kondisi lelaki itu jauh lebih baik ketimbang kedua roommate-nya. Ia bahkan terlihat segar dan hidup.
Haru beringsut ke ujung kasur, mengancam Hongbin melalui sorot matanya yang tegas. "Turun," titahnya.
Hongbin menguap dan mengibaskan tangan di udara. "Ah, ternyata kau, Haru. Kupikir penjaga asrama yang mendatangiku. Semalam aku memimpikannya. Dia memergoki kita tengah minum-minum di kamar dan menyita seluruh kaleng bir yang kita selundupkan."
"Apa katamu?" Nada suara Haru meninggi. Kita? Menyelundupkan? Lelaki itu benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan roommate-nya.
"Yah, aku bisa membaca apa yang kaupikirkan tentang kami saat ini." Hongbin mengedikkan bahu dan merangkak ke sudut kasur untuk menjangkau tangga, sebelum Haru menendangnya seperti yang sudah-sudah. " Adikku Sayang, kita tidak bisa melewatkan acara minum-minum sesudah pesta barbeque. Jika kita melakukannya di atap, maka tamatlah riwayat kita. Bill James si Jenggot Tebal akan menemukan kita pingsan di sana dan mengubur kita bersama kaleng-kaleng bir itu di halaman belakang asrama."
"Kau menggali kuburan sendiri," ucap Haru lalu membaringkan tubuh. Pertanyaannya mengenai eksitensi kaleng-kaleng bir itu terjawab sudah. Steve dan Hongbin pastilah menyuap salah seorang petugas keamanan sehingga mereka tidak ketahuan saat menyelundupkan barang-barang itu.
Tiba-tiba Hongbin menjentikkan jari, teringat sesuatu. "Haru-ya, aku ingat aku sempat terbangun untuk membuka jendela kamar satu jam yang lalu. Sebaiknya kau periksa ponselmu. Seseorang bernama Kyla Dawson sepertinya mengirimimu pesan," katanya dengan mata memicing curiga. Haru menatpnya sekilas, terkesan menyilidik. Kedunya saling bertukar pandang untuk waktu yang lama. Haru yakin Hongbin telah mengintip isi pesannya.
"Siapa dia?"
"Dasar lancang."
Mereka berujar bersamaan. Merasa kesal, Haru pun mengambil bantal yang Hongbin gunakan semalaman, melemparnya ke bawah, tepat di mana wajah Steve tengah menengadah ke atas. Hongbin membelalak tak percaya mendengar rintihan Steve. Setiap Hongbin tidur di kasur Haru dan menciptakan karya seni dengan air liurnya yang mengering di bantal lelaki itu, Steve-lah yang selalu terkena imbasnya.
Hongbin pun buru-buru merambat menuruni tangga, takut seandainya Haru benar-benar mendorongnya dari tangga. Ia berseru menghampiri Steve dengan suara cemas yang dibuat-buat. "Oh My Mummy, kau baik-baik saja? Di mana Adik Haru melukaimu? Perlukah aku memanggilkan ambulans?"
---
Haru, bagaimana dengan minggu ini? Apa kau punya waktu luang?
Sambil menggosok-gosok rambutnya yang setengah kering, Haru membaca pesan Kyla. Ia baru bangun setelah melanjutkan tidur dua jam yang lalu, segera beranjak ke kamar mandi begitu membuka mata, kemudian menyantap semangkuk sereal bersama Steve. Ia duduk bersila di atas kasur Hongbin dengan kening berkerut, tidak tahu mengapa Kyla tidak menyerah mengirim pesan sekalipun Haru tidak membalas.
Steve yang memperhatikan raut muka Haru meletakkan sendok, membiarkannya separuh tenggelam di dalam s**u dan sereal bintang bewarna-warni yang mengambang. "Pesan dari rumah?" tanya Steve penasaran.
Haru meletakkan ponsel di pangkuan, mulai mengunyah serealnya. "Bukan urusanmu."
"Oh? Apa ini teman baru yang Hongbin ceritakan? Coba katakan, siapa bocah beruntung ini, Boy."
"Sudah kubilang ini bukan urusanmu."
"Ah, sebelum kau mengatakan urusai. Ada baiknya aku diam." Steve menggapai kamera, mengarahkan lensa pada Haru yang cemberut. "Ceritakan atau aku akan memotretmu, Anakku."
Haru mendengus jengkel. Ia mengambil toples sereal di atas nakas kemudian menuangkannya lebih banyak. Setelah mabuk, sebenarnya Haru ingin memakan sup miso atau apapun yang dapat menghangatkan perutnya. Namun, ini adalah London. Tiada nenek yang akan membuatkan makanan secara cuma-cuma atau Hiroshita—adik laki-lakinya yang akan langsung berlari ke resto seberang rumah untuk membelikanya sesuatu. Pemuda itu menyendokkan sereal ke mulut lantas menurunkan kamera Steve. "Bukan dari siapapun," jawabnya singkat. Steve bersiap memotretnya—lagi. Dan Haru pun melanjutkan dengan nada sebal, "Gadis Limun.”
Saking kagetnya, Steve nyaris menjatuhkan kamera mahalnya. Haru menautkan alis mendapati reaksi teman sekamarnya itu. "Berhenti menatapku begitu. Aku tidak akan menjawab jika kau bertanya lagi."
Steve mengerjapkan mata cepat. "Maksudku—apa? Bagaimana bisa? Dan sejak kapan?"
Haru membalikkan badan memunggungi Steve, menyalakan televisi mini di dekat lemari.
"Haru! Jawab, Mummy!" seru Steve frustasi. Hongbin dan Steve memang selalu mengejar Haru dengan berbagai pertanyaan tentang kehidupan kampusnya, terlebih setelah lelaki itu terlibat dalam berbagai insiden—kesialan. Dua orang itu semakin berlagak seperti orang tua yang overprotektif. Hanya saja, tak seperti Hongbin yang pemaksa, Steve jauh lebih santai ketika menuntut Haru. Mungkin itulah sebabnya Haru merasa sedikit tak keberatan berbagi cerita pada manusia yang mengaku sebagai 'ibu'nya itu.
"Kami bertukar nomor saat kau kerja lembur di akhir pekan," jelas Haru tanpa mengubah posisi duduknya. Sepasang bola hitamnya fokus pada tayangan dokumenter yang menampilkan sejarah perkembangan seni lukis di masa Yunani Kuno. "Dia mengirim pesan agar aku meluangkan waktu untuk bersenang-senang—atau apapun istilahnya, minggu ini."
"Oh, apa ini sebuah ajakan kencan?"
Haru terus mengunyah sereal di mulutnya. "Jangan bodoh. Dia berisik dan menyebalkan, sama seperti bosnya."
"Bos?"
"Calvin Smith, pemilik Calvin's Table. Dia juga pemilik anjing yang menenggelamkan alat-alat lukisku."
"Astaga, permainan takdir macam apa ini?"
Jika ditanya, Haru akan balik bertanya. Benar, permainan macam apa ini? Haru telah memikirkan berbagai kemungkinan betapa hidup sering mempermainkannya. Namun, hanya satu jawaban yang Haru yakini adalah alasan di balik semua kesialannya, dan ia sudah mengatakan hal ini berkali-kali pada dirinya sendiri; bahwa Dewi Fortuna amat-sangat membencinya. Steve berdiri, menyahut mangkuk Haru yang sudah kosong, mencucinya bersama mangkuknya dan Hongbin di wastafel. "Tidak ada salahnya menambah teman baru, Haru. Hampir lima bulan kau di sini tapi, aku tidak pernah meihatmu membawa seorang pun teman ke asrama," ucap Steve, tahu betul sifat introver Haru.
Diam-diam Haru tersenyum miris. Tampaknya ia sudah terlalu banyak bicara pagi ini. "Kau sama merepotkannya seperti manusia di luar sana."
"Apa Si Gadis Limun ini juga merepotkan, hmm?" Haru mematikan televisi, memanjat ke kasur tingkat atas. "Cobalah bergaul dengannnya. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi, Boy. Percayalah. Bukalah sedikit hatimu pada kami. Apa ada sesuatu yang membuatmu menjadi pribadi yang tertutup?"
"Itu bukan masalahmu."
"Haru, sampai kau akan bersikap keras pada kami, dan dirimu sendiri? Jadi—”
"Urusai," potong Haru, menatap Steve tajam.
Ya.
Kemudian ibu jarinya mengetikkan pesan balasan untuk Kyla Dawson, demi mendapatkan ketenangan di asrama tanpa ceramahan Steve. Ditunjukkannya balasan tersebut pada Steve, membuang muka begitu segaris senyum lega tersampir di kedua sudut lelaki pirang itu.
"Terima kasih telah mempertimbangkan ucapanku, Haru. Aku akan mentraktirmu makanan Jepang makan malam nanti."
---
"Sist, apa kau punya teman Asia yang berasal dari Jepang?" tanya Kyla pada Stephannie yang sedang menulis laporan harian kunjungan pelanggan. Laporan tersebut nantinya akan dihitung dengan laporan-laporan harian sebelumnya dan dijadikan data statistik saat akhir bulan. Calvin yang sangat berambisi dengan jumlah pelanggan resto selalu memperhatikan data statistik tersebut. Ia menempelkannya di papan pengingat bersama catatan penting resto lainnya.
Stephannie menoleh ke arah Kyla, mengerutkan kening. Aneh sekali rasanya Kyla tiba-tiba menanyakan ini. Sepanjang sepengetahuan Stephannnie, Kyla tak punya banyak teman selain dirinya, Calvin, pegawai Calvin's Table, serta beberapa pelanggan tetap. Tunggu! Apa jangan-jangan—
"Yup. Dugaanmu benar. Dia korban insiden limun waktu itu. Kau melihat kami makan malam bersama 'kan? Well, aku mendapatkan nomorya, Sist," kata Kyla masam. Stephannie menganguk-angguk sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. "Dan aku berencana mengajaknya berjalan-jalan akhir pekan ini. Yah, meski dia sedikit enggan."
Ujung pensil yang Stephannie gunakan patah, rahangnya terbuka mendengar pernyataan Kyla. "What? Setelah semua yang terjadi, kau ingin menyogoknya agar mau memaafkanmu dengan jalan-jalan di akhir pekan?"
Pipi Kyla menggembung lucu. Gadis itu menggoyangkan lengan Stephannie dengan tampang merajuk, "Apa yang harus kulakukan, Sist? Aku begitu senang sampai-sampai tidak terpikirkan hal lain. Dia teman Asia pertamaku. Enam tahun bersekolah di sekolah umum, aku tidak mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan mereka."
"Oh ya? Kenapa tidak?"
Lengan Stephannie berhenti bergoyang saat Kyla melepaskan peggangannya dan duduk merosot di kursi. "Saat SMP, orang tuaku mengawasiku dengan ketat. Tidak seperti Carla yang bebas menentukan dengan siapa dia berteman, aku dianggap akan terlibat masalah seandainya terlalu lama berbaur dengan orang banyak." Stephannie mengalihkan pandang dari tumpukan kertas. Penjelasan Kyla jauh lebih menarik daripada deretan angka itu. "Keika masuk SMA, kupikir aku bisa lebih leluasa memilih teman. Tetapi, saat aku naik kelas dua, kedua orang tuaku meninggal dan Carla pergi entah ke mana. Aku tidak punya waktu untuk sekadar menyapa hai—halo pada teman-temanku."
"Aku menyesal mendengarnya. Kau pasti dikenal sebagai siswi yang pemurung."
Kyla mengangguk menyetujui. Awan mendung yang menutupi sinar wajahnya mendadak hilang tatkala senyum yang menyiratkan bahwa dirinya sudah baik-bik saja sekarang terpancar. "Itu bukan hal yang besar. Lagipula, aku sudah berubah sekarang. Aku bisa mengenal kau dan Calvin, juga Haru."
"Haru?"
"Korban insiden limun itu, Sist! Kita sedang membicarakannya!"
Stephannie tergelak melihat ekspresi kekanakan Kyla. "IYa, aku tahu. Aku mendengarkanmu, Sayang. Jadi, bagaimana dia? Sejauh mana kau mengetahui dirinya?"
Kyla menyebutkan hal-ha mendasar yang diketahuinya tentang Haru; seperti Haru yang berasal dari Jepang, suka makanan manis dan tidak suka kopi, satu kampus dengan Calvin dan menempuh Jurusan Seni Rupa, serta kebiasaannya yang berbicara pedas dan tak mau jujur dengan pendapatnya. Stephannie mendengus jenaka. Ia membuka galeri ponselnya, memamerkan foto dirinya bersama seorang pria bertato dan berambut hitam legam. Kendati pria itu memiliki tato naga yang menjalar di sepanjang lengan kirinya, dia sama sekali tak terlihat seperti seorang preman. Tubuh pria itu jangkung dan agak kekar, kulitnya putih bersih, dan Kyla menduga foto itu diambil ketika Stephannie dan pria itu tengah makan malam romantis.
Rona merah perlahan menghiasi wajah Kyla. Dia kekasih baru Stephannie?
"Tepat sekali," ujar Stephannie ceria, "namanya Yoshida Yohan. Dia berdarah setengah Amerika, tetapi gen Jepang ayahnya yang paling mendominasi. Kau bertanya kepada orang yang tepat, Sist."
Kyla membungkam mulut tak percaya. Wajahnya berseri-seri tertarik. "Sejak kapan kalian berkencan?"
Stephannie mengedikkan bahu, "Enam bulan. Dan agaknya aku mengetahui kebiasaan orang-orang Jepang melalui Yohan dan keluarganya. Kau mau mendengarnya? Ini akan menjadi perbincangan yang seru, Sist."
To be continued