Kyla melambai dari kejauhan, menyuarakan nama Calvin yang tengah memotret seorang gadis berambut gelap di taman Fakultas Seni Media Rekam. Ia melihat Calvin memusatkan fokus kameranya pada tubuh bagian atas sang gadis yang di balut oleh blus off shoulder bewarna plum. Gadis itu berulang kali menunjukkan pose-pose terbaiknya sambil sesekali berargumen dengan Calvin tentang tempat berikutnya yang akan dijadikan spot foto. Kyla yang takjub akan kecantikan gadis berkaki jenjang itu melongo di belakang Calvin. Mungkin gadis itu memiliki tinggi berkisar seratus tujuh puluh tiga sentimeter, sangat jauh dibandingkan Kyla yang mungil.
Mengeratkan pelukannya pada toples kukis yang ia bawa, Kyla tersenyum saat si gadis model Calvin menangkap eksitensinya di sana. Gadis itu langsung menyuruh Calvin memutar tubuh, ikut menghampirinya dengan senyum akrab sebagai balasan. “Darling, siapa Teman Kecil ini?” tanya gadis itu seraya menggaet lengan Calvin, menempel padanya seperti perangko.
“Ah.” Calvin membelalak menyadari tatapan bingung Kyla. “Kyla, dia Maisie West, temanku dari jurusan Fashion Design.” Tangan Calvin mengarah pada sosok Maisie yang menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Kyla menggigit bagian dalam bibirnya tanpa sadar. Astaga, apa ini? Kenapa dadanya sakit sekali? Kyla merasakan jantungnya seakan diremas-remas. Kenapa di depan Maisie Calvin tidak memanggilnya sweety seperti biasa? Dan apa hubungan mereka?
Maisie mengibaskan tangan di depan Kyla, membuat gadis itu berjengit kaget. “Maaf, siapa namamu tadi? Kyla, benar bukan, Cal? Kyla, biar kukoreksi perkataan Calvin. Aku ini bukan sekadar teman baginya, tetapi kekasihnya. Kami sudah berpacaran lebih dari satu minggu yang lalu.”
Kyla bergeming, bingung. Pertanyaan-pertanyaan tadi muncul dan menghilang dari otaknya, berputar-putar menciptakan gelombang rasa sakit yang sulit dipercaya. Calvin mengamati ekspresi Kyla yang sulit dibaca. Gadis itu pasti sangat terkejut atas pernyataan Maisie. “Aku tidak sempat memberitahumu,” ucap Calvin, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Kau ingat tentang acara berkemah dan tugasku minggu lalu? Jadi, jurusanku mengadakan proyek dengan jurusan Maisie. Sulit menjelaskannya, tapi kami memang mulai menjalin hubungan saat acara kemah itu.”
Kepala Kyla mengangguk kaku. Sekarang, bagaimana dia harus bereaksi? “Aku mengerti,” balasnya, menelan ludah gugup. Ia beralih pada Maisie yang tampak memperhatikan penampilannya dari ujung bawah hingga ujung kaki. Kyla pikir mungkin saja gadis itu tengah mengomentari penampilannya di dalam hati. Bagaimanapun juga, Maisie adalah calon seorang fashion desainer. Memecah kecanggungan di antara mereka, Calvin pun menambahkan, “Hari ini aku membantu Maisie melakukan latihan pemotretan dengan busana yang dia rancang. Apa kau bersedia menunggu, Kyla?”
Maisie menautkan alis memandang mereka bergantian. “Tunggu, kenapa Kyla harus menunggumu, Babe? Apa yang akan kalian lakukan tanpaku?”
“Itu—”
“Tidak ada, Maisie,” sela Kyla cepat. Ia memelotot ke arah Calvin. Jangan sampai Maisie menaruh cemburu padanya. Seandainya Kyla tahu bahwa Calvin sudah memiliki kekasih, dia pasti akan menolak hukuman ini. Sungguh. Kenapa Calvin menyembunyikan hal sepenting ini dari Kyla? Bukankah mereka sahabat?
Tepatnya sahabat Carla, batinnya berkata. Kyla menghela napas panjang. Benar, sahabat Carla. Kenapa kau bisa melupakannya? Bagi Calvin, kau bukanlah siapa-siapa selain adik sahabatnya.
Kyla mengangguk, memahami perkataan batinnya. Ia memasukkan toples yang ditutupi kertas putih dan benang emas itu ke dalam tas kecilnya kemudian tertawa renyah. “Tidak. Aku di sini karena ingin bertanya di mana gedung Fakultas Seni Rupa pada Calvin. Dia bilang akan menunjukkannya padaku karena Fakultasnya ada di dekat sini.”
Maisie memiringkan kepala menemukan kejanggalan dalam ucapan Kyla. “Kau bisa sampai ke fakultas ini dan tidak memperhatikan apapun di sekitarmu? Kyla My Dear, kau telah melewatinya tadi. Fakultas Seni Rupa terletak tepat di sebelah timur fakultas ini. Apa kau seorang sleepwarker?”
Kyla gelagapan. “Ka-kau benar, Maisie. Seharusnya aku tidak usah menanyakan letak fakultas itu bila sering mengunjungi fakultas ini. Terima kasih.”
“Kau gadis yang aneh, Kyla.” Tawa Maisie mengundang senyum kecut di bibir Kyla. Sementara itu, Calvin sama sekali tidak mendengarkan. Lelaki itu sibuk mengecek hasil jepretannya sambil berdecak membanggakan diri. “By the way, ada urusan apa kau pergi ke Fakultas Seni Rupa? Awalnya, kupikir kau adalah teman sejurusan Calvin karena kau familier sekali dengan lingkungan di sini.”
Calvin mendongak, melempar tatapan ‘kenapa kau berbohong? Tak masalah jika kau menjawab ingin mengantarkan kukis untukku’ kepada Kyla yang justru menghindari kontak mata dengannya. Gadis itu diam saja ketika sosok Haru tiba-tiba melintas dalam benaknya. Benar, Haru. Kyla menggumamkan kata maaf lantaran menyeret nama lelaki itu demi menghindarkannya dari masalah. “Haru,” bisik Kyla ragu. Calvin dan Maisie sama-sama menajamkan pendengaran. Kyla ketakutan seolah dirinya sedang berhadapan dengan seorang dosen galak. “Aku mempunyai urusan dengan seorang teman bernama Haru. Kami berencana bertemu hari ini.”
“Haru?” tanya Calvin heran, berharap ia salah mendengar nama itu. “Sejak kapan kalian menjadi akrab? Oh, aku juga tidak pernah bertemu dengannya setelah malam itu.”
Maisie memutar mata jengah. Demi Tuhan, apa dan siapa yang tengah mereka bicarakan? “Terserahlah. Cal, segera selesaikan urusanmu dengan Kyla. Pokoknya, spot foto selanjutnya adalah taman bunga di dekat Fakultas Sastra. Tiada penolakan.”
Gadis bertubuh indah itu berjalan menjauhi mereka, duduk di atas bangku taman sambil bersilang kaki. Kyla pun hendak meninggalkan Calvin bila lelaki itu tidak lebih dulu mencekal pergelangan tangannya. Cukup sudah dengan semua omong kosong ini. Kyla mulai lelah. “Sweety, aku akan menjelaskannya pada Maisie. Kuyakin dia akan mengerti. Kita bertiga bisa bertemu setiap siang atau aku akan meluangkan waktu untukmu.”
“Apa kau tidak mengkhawatirkan orang-orang yang melihat? Calvin, pekalah! Kau hampir menjeremuskanku ke dalam lubang bahaya. Maisie adalah kekasihmu. Kau tidak takut hubungan kalian kandas hanya karenaku?”
“Apa maksudmu, Kyla? Kenapa kau semarah ini? Ini hanya masalah sepele. Kita bisa membicarakannya baik-baik.”
Embusan napas berat Kyla membuat Calvin melepaskan genggamannya. Gadis itu mundur selangkah, menggeleng lemah. Ia melirik Maisie yang melekatkan mata pada mereka melalui bahu Calvin. “Betul. Kita bisa membicarakannya lain waktu,” katanya, mencengkeram selempang tas erat. “Tapi, tidak sekarang. Maisie mengawasimu, Cal.”
“Kyla—”
Kyla pun berbalik. Selangkah demi selangkah menciptakan jarak antara dirinya dan Calvin. “Aku pergi. Sampai bertemu di restoran sore nanti, Calvin.”
---
Sambil menunggu sambungan telepon berubah menjadi suara Haru, Kyla bertanya-tanya darimana dirinya mendapatkan gagasan untuk menemui Haru hari ini, detik ini juga. Dia tidak pernah mengirim pesan lagi semenjak balasan terakhir Haru, dan menurut penuturan Stephannie, umumnya, orang-orang Jepang—dan Asia tak mudah akrab dengan orang yang baru ditemuinya, apalagi melalui sebuah kesalahpahaman. Namun, Kyla tak mau kukis yang susah-payah dibuatnya terbuang percuma. Ia marah pada Calvin. Marah pada dirinya sendiri.
Bisa-bisanya Calvin tidak mengabarinya tentang jadwal pemotretan hari ini. Kyla dapat menerima kenyataan bahwa Calvin telah memiliki seseorang di sisinya, yang artinya, kapanpun Calvin membutuhkan Maisie, Kyla tak ‘kan lagi berada di daftar orang-orang terdekatnya. Kyla sedih mengetahui hal itu, tetapi dia tak berhak melarang Calvin untuk berhubungan dengan siapapun. Ikatan mereka terhubung melalui Carla. Tanpa adanya Carla, Kyla dan Calvin tidak akan bertemu dan sedekat ini.
Nada sambung telepon berakhir. Kyla mengerjap. Apakah Haru mengangkat teleponnya? “Haru?” ucap Kyla penuh kehati-hatian. Gadis itu menelan ludah, menunggu sahutan Haru.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan hingga suara tenang Haru menerpa gendang telinga Kyla. “Kenapa kau menelepon?”
Kyla bernapas lega. Tawa kecil keluar dari mulutnya. Jiwanya yang melayang bebas seperti kembali pada raganya. Gadis itu melanjutkan langkahnya berjalan di jalan beraspal yang menghubungkan kedua fakultas. Ia melihat ke dalam pagar besi, terdapat lapangan luas dan barisan pohon hawthorn yang rindang daunnya. Kyla mengingat kejadian memalukan di hari di mana ia mengacaukan permintaan maafnya pada Haru. Rasanya sudah lama sekali sejak hari itu.
Kyla pun berdeham untuk menetralisir suaranya yang serasa tertelan. “Di mana kau? Aku berada di CIOA hari ini. Bisakah aku menemuimu?”
Alih-alih mengatakan bertemu, Kyla justru mengatakan menemuimu yang terkesan memaksa. Di seberang telepon, Haru mendesah. Paksaan Kyla bukanlah hal yang baru baginya.“Untuk apa kau menemuiku? Temui saja Calvin Smith. Kau tidak ada urusannya denganku.”
"Tapi, dia sangat sibuk. Apa kau benar-benar tidak bisa, Haru?"
"Tidak."
"Ayolah."
Tut
Telepon itu Haru akhiri secara sepihak. Kyla tak menyerah. Ia kembali menekan tombol hijau dan menempelkan benda kotak itu ke pipinya. Haru mematikannya, lagi dan lagi, sementara Kyla tak putus asa. Hingga pada percobaan ke sepuluh dan Kyla nyaris menganggap bahwa ini adalah usaha terakhirnya, sebuah keajaiban terjadi.
Haru muncul di hadapannya, memunggungi Kyla yang berdiri sekitar dua meter dari lelaki itu. Haru tampak menggendong sebuah tas berbeda ukuran di punggungnya. Satu yang lebih besar terlihat kempes, dan satu yang lebih kecil terlihat penuh. Kyla berinisiatif mengejutkan Haru. Ia berjalan mengendap-endap seperti maling, lalu mendaratkan sebuah tepukan di punggung, dan merasakan lompatan kecil lelaki itu. Kyla tergelak, mata kucing Haru menatapnya kesal sekaligus kaget. Mereka berdiri saling berhadapan di jalan lenggang itu.
“Kenapa kau di sini, Haru?”
Seharusnya aku yang bertanya, batin Haru. Ia menatap Kyla datar, kemudian mengayunkan kaki memasuki area Fakultas Seni Rupa tanpa menghiraukan Kyla yang berjalan mengekorinya. “Kenapa kau mengikutiku?” tanya Haru. Siang ini ia ingin menyendiri di danau belakang kampus, menikmati jeda istirahat sambil melanjutkan tugasnya yang sudah sampai dua puluh lima persen. Haru yakin setidaknya ia bisa melanjutkannya sampai 15%, namun dengan adanya Kyla yang keras kepala membuntutinya, kemungkinan itu berkurang menjadi 5%.
Kyla memperhatikan langkah lebar Haru yang berhasil ia susul. Sepatu tanpa hak miliknya yang bewarna krem melangkah beriringan dengan Haru yang menggunakan sepatu warna hitam. Sekeliling mereka dipenuhi warna merah. Sisi jalan setapak di gerbang utama Fakultas Seni Rupa ditumbuhi bunga aster dan krisan putih, dan pohon maple yang daunnya berguguran tumbuh di balik bunga-bunga itu. Kyla mengagumi patung-patung yang mereka lewati. Di satu sisi merupakan deretan patung Yunani, dan di sisi lain merupakan patung-patung berbentuk hewan dan ada satu yang berbentuk manusia tanpa busana. Kyla menunduk ketika matanya menangkap patung pria tanpa busana itu. Patung itu amat tinggi, nyaris menyentuh lantai dua gedung di sampingnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat hingga hampir tersandung batu.
"Kau sudah gila rupanya," cemooh Haru, menarik lengan Kyla yang berjalan dengan mata tertutup. Kyla menoleh dan tersenyum meminta maaf.
"Tadi itu patung yang membuatku malu, Haru," ungkap Kyla.
Haru menghela napas panjang. Sudah jelas bukan? Patung-patung tadi merupakan karya mahasiswa yang mengambil konsentrasi Seni Pahat. Tak heran bila patung-patung seperti itu dipajang di mana-mana.
Detik berikutnya, Kyla terdiam. Gadis itu lebih memilih menuruti ke mana Haru akan membawanya pergi, melupakan Calvin dan kekasihnya, Maisie West, lalu kembali ke Calvin's Table dua jam kemudian. Kyla yakin Calvin pasti di sana, menunggunya untuk mengatakan bahwa dirinya amat menyesal tentang apa yang terjadi hari ini.
To be continued