9: Cerita di Danau Belakang Kampus

2000 Kata
Melewati hutan ek, pintu kecil di tembok pembatas kampus yang berlumut, Kyla dan Haru akhirnya menginjak lapangan berumput danau belakang kampus. Kyla tidak pernah tahu danau itu akan terlihat seindah ini ketika dilihat melalui sudut lain. Pohon beringin terletak di sisi lain danau, batu besar, lampu-lampu tiang yang mengelilingi danau, serta beberapa patung dewa berukuran kecil dan bangku-bangku taman yang dicat putih memenuhi pandangannya. Kyla hanya sekali datang ke tempat ini saat Calvin mengajaknya waktu itu. Bayangan dirinya yang menangis dalam pelukan Calvin menimbulkan sensasi tak nyaman di dadanya. Kyla terdiam sementara kakinya terus mengikuti bayang-bayang Haru yang mendaratkan b****g ke rerumputan yang basah. Gerimis menghujani London tiga jam yang lalu dan Haru merutuki celananya yang akan meninggalkan noda lumpur setelah duduk di rumput-rumput itu. Begitu tak merasakan adanya gerakan Kyla, Haru pun mendongak. Gadis itu termenung menerawang permukaan danau yang berkilauan di siang hari ini. Haru tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jadi, dia hanya mengangkat bahu dan mengeluarkan alat-alat lukisnya dari dalam tas. Kyla bergumam, "Tenang sekali di sini." Haru menelisik suasana sekitar danau. Yah. Tenang. Orang-orang lebih suka menghabiskan jam makan siang di kantin fakultas daripada di danau yang tidak ada apa-apanya. Pemandangan ini walaupun indah tidak akan mampu mengenyangkan perut lapar mereka. Kyla menempati tempat kosong di sebelah Haru, menselonjorkan kaki santai. Ia memanjangkan leher memperhatikan Haru menjajar peralatan lukisnya di atas sehelai kain putih. “Bagaimana tugasmu?” tanya Kyla riang. Haru menoleh sebentar untuk menemukan senyum antusias di bibir gadis itu. “Tugas apa yang kaumaksud?” “Monalisa. Kudengar mahasiswa baru Jurusan Seni Rupa dibukkan mencari inspirasi untuk tugas lukis seorang profesor nyentrik. Apa itu benar?” Kyla berbicara seakan dirinya merupakan bagian dari mahasiswa Caronline Institute of Arts dan mengetahui banyak tentang jurusan dan dosen-dosen Haru. Tiba-tiba pemuda itu termenung. Darimana Kyla tahu jika ia berkuliah di Jurusan Seni Rupa dan tugas Monalisa-nya? Haru tidak pernah mengatakan apapun maupun memberitahu Kyla apa-apa soal dirinya. Bahkan tidak saat tiga pertemuan menyebalkan mereka dan ratusan pesan singkat Kyla yang hanya ia balas sekali. Haru menautkan alis, merasa malas untuk berbalik dan menanyakan pada gadis itu secara langsung. Satu-satunya orang yang kemungkinan memberitahu Kyla adalah Calvin Smith. Haru dengar dari perbincangan gadis-gadis di jurusannya—tanpa bermaksud mencuri dengar, Calvin Smith memiliki banyak kenalan, setidaknya dua puluh lima orang di setiap jurusan kampus ini. Rantai pertemanannya yang luas itu dipengaruhi oleh citranya sebagai pemilik Calvin’s Table dan kebiasaannya mengoleksi mantan pacar. Sekarang, Haru tidak bertanya-tanya lagi darimana Kyla mendapatkan informasi itu. Ia bersyukur otaknya lebih cepat mencerna sesuatu sehingga ia tak perlu repot-repot melontarkan tanya. Haru memasang easel dan kanvas mininya. Ia menatap ponsel yang menampilkan foto Monalisa-nya. Namun ketika Kyla mencoba mengintip, Haru urung melakukannya. “Apa yang kaumau?” “Aku penasaran dengan tugas lukismu.” Agaknya selain keras kepala dan berisik, Kyla Dawson adalah gadis yang selalu diselimuti rasa penasaran yang tinggi; suka mencampuri urusan orang lain. “Calvin Smith pasti sudah memberitahumu.” “Tapi, aku ingin mendengarnya langsung darimu, Haru.” Haru memejamkan mata rapat-rapat. Ya Tuhan, Kami-sama, tolong enyahkanlah gadis menyebalkan ini. “Kau—apa setertarik itu pada urusan orang lain? Aku sudah membiarkanmu mengikutiku seperti penguntit dan sebaiknya kau diam dan jangan menggangguku, Nona Dawson.” Jika itu gadis lain, mungkin Kyla akan menangis histeris dan mengata-ngatai Haru tentang betapa kejamnya perkataannya. Tetapi, dia Kyla Dawson. Alih-alih merengut atau meneriaki Haru balik, gadis itu justru memasang ekspresi gembira. Matanya berkilat-kilat lucu dan tawa khasnya menyembur, seolah Haru adalah badut pelawak yang melakukan aksi pertunjukan mengendarai sepeda roda satu. “Aku menyukai Vincent Van Gogh. Sejak dulu dan sudah lama, Haru,” kata Kyla, membuka toples biskuit yang kini berpindah ke pangkuannya. Ia menyodorkannya pada Haru yang ragu memandangi tumpukan kue kering itu, memastikannya tiada racun yang Kyla campur ke dalamnya. “Aku ini gadis yang tidak mempunyai mimpi, tidak tahu bagaimana akan menjalani hidupku kelak, dan tidak memahami kemampuan diri. Ada banyak hal yang kusukai; membuat kue, bekerja di restoran Calvin, dan mencari teman Asia. Tapi, satu hal yang harus kusembunyikan, Haru; bahwa aku sangat ingin melukis seperti lukisan yang dipajang di sepanjang koridor fakultasmu. Mereka indah. Sayangnya aku tidak punya kemampuan spesial.” “Kau tak perlu memiliki tangan ajaib atau kemampuan spesial untuk melukis.” “Ya?” Tubuh Kyla menegang tatkala Haru mencomot sekeping biskuit, tak menyangka lelaki itu akan membalas ocehannya. “Well, aku tidak bisa menyetujui sepenuhnya ucapanmu, Haru. Bagaimanapun juga, semua orang memiliki porsi masing-masing. Sekeras apapun aku mencoba dan berusaha, aku tidak akan pernah bisa melukis.” “Kalau begitu, nikmati saja.” “Yeah, itu yang sedang kulakukan.” Kyla tertawa masam. Dengan lancang membuka sebuah map cokelat yang menjadi kotak harta karun bagi lukisan-lukisan Haru. Sambil mencermati satu-persatu kertas bergambar itu, Kyla memulai ocehannya lagi. “Starry Night—malam berbintang. Van Gogh melukis pemandangan yang dilihatnya dari jendela rumah sakit jiwa di malam hari. Aku berkata ‘Lukisan yang menawan. Perpaduan warna yang menakjubkan, gelombang biru di langit—rumah-rumah—pohon cemara, semuanya dilukis dengan cara yang memukau. Aku terpikat olehnya’ saat pertama kali melihat duplikat lukisan itu di salah satu pameran lukisan yang pernah kukunjungi. Dan setelah seorang pemandu menceritakan kisah kelam di balik lukisan itu, hatiku seolah ikut tersayat. Tanpa sadar aku menangis. Selanjutnya, aku berpikir ‘Ah, bagaimana bisa Van Gogh menorehkan lukisan seindah ini ketika dirinya sedang menderita? Hebat sekali orang-orang yang bisa menuangkan perasaan mereka melalui lukisan. Siapa sangka ada cerita pilu di balik lukisan cantik ini.’ Kemudian aku meminta orang tuaku membelikanku alat-alat lukis dan memulai les privat dengan seorang kenalan Ayah. Tapi, orang itu bilang aku tidak memiliki bakat dalam hal ini dan berhenti mengajariku. Jadi, aku tidak dapat meneruskan mimpiku dan hanya menjadi seorang pengagum.” Haru melirik Kyla melalui ekor matanya. Suasana hati gadis itu berubah dalam sekejap. Ada cairan bening di pelupuk matanya dan Haru terdorong untuk memberinya sehelai tisu. “Ah, maaf, kau harus mendengarkan cerita membosankan ini. Maafkan aku.” “Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik.” Kyla tersenyum. Haru lebih tertarik pada biskuit-biskuit yang tinggal separuh toples. Lahap sekali dia mengunyah biskuit-biskuit rasa kopi itu. Ia terkikik geli dan kembali memasukkan lembaran lukisan tadi ke dalam map. “Ya, dan maaf juga karena tiba-tiba menghubungimu. Aku menyayangkan biskuit-biskuit ini jika kumakan sendirian. Dan kebetulan, aku teringat padamu.” “Hm.” “Bagaimana rasanya?” Haru memicingkan mata membalas tatapan serius Kyla. Ia menggigit ujung biskuit, merasakan aroma kopi yang harum mewangi di rongga mulutnya, dan manisnya chocochips yang beradu dengan rasa renyah khas biskuit. “Lumayan,” komentarnya singkat tanpa ingin memperpanjang percakapan. Kyla menyeka sudut matanya yang berair kemudian memukul lengan Haru sok sebal. Detik berikutnya, gadis itu terdiam teringat sesuatu. Dibukanya catatan kecil yang selalu dikantonginya ke manapun dirinya pergi, dan membaca daftar pengingat kegiatan yang dijadwalkannya minggu ini. “Mumpung aku di sini, aku harus memastikan kesediaanmu meluangkan waktu untuk bersenang-senang denganku. Hari Sabtu, jam sepuluh pagi. Kutunggu kau di halte bus seberang Calvin’s Table. Ada kompensasi yang mesti kau bayar kalau kau mengingkari perkataanmu sendiri, Tanaka Haru. Oh—jangan khawatir! Aku akan membawamu ke tempat-tempat yang menakjubkan di kota ini!” --- Haru menatap datar toples biskuit yang isinya tinggal seperempat itu. Kyla telah pergi dan membiarkan toples berukuran sedang itu tertinggal di sini bersamanya, menyuruh Haru menghabiskan sisa biskuit itu. Haru tak mau bertanya kepada siapa sesungguhnya biskuit ini harus diberikan. Ia tak punya waktu—tidak setelah mendengarkan curhatan hati seorang Kyla Dawson mengenai hal yang disembunyikannya. Mereka seperti dua anak kecil yang sedang berbagi permen dan rahasia sepulang sekolah. Danau itu masih sepi dan semilir angin musim gugur menerpa helai hitam Haru yang tumbuh melewati daun telinga. Pemuda itu menyisir rambutnya ke belakang, mengingat ekspresi Kyla yang begitu hampa dan terluka. Ocehan tentang lukisan Van Gogh Haru anggap sebagai realita yang berusaha Kyla ungkapkan mengenai dirinya. Haru cukup pandai merasakan emosi yang tertanam dalam diri seseorang. Walaupun banyak orang yang memandangnya masa bodoh, tak acuh, dan anti sosial, namun kenyataannya, Haru adalah seorang pemikir dan pengamat aktif. Ia memang tak banyak bicara dan tak pandai mengutarakan perasaan maupun pemikirannya. Sebagian besar kata yang keluar dari mulutnya hanyalah rangkaian kalimat yang menyesakkan. Dan Haru bisa dengan bangga mengatakan bahwa Kyla telah mengalami masa-masa yang sulit untuk waktu yang lama. Lelah berpikir panjang, akhirnya Haru memutuskan melanjutkan kegiatannya yang tak kunjung dimulai. Ia melemaskan pergelangan tangan dan jari, meraih salah satu pensil, lalu dengan telaten menghiasi kanvas polos itu dengan goresan-goresan halus nan lembut. Pemandangan oranye kemerahan dan langit biru menemani kegiatan Haru di danau buatan itu. --- Ketika baru saja keluar dari ruang ganti, Kyla dihadang oleh tubuh tinggi Calvin. Lelaki itu tiba-tiba muncul di hadapannya; di pintu ruang ganti pekerja dengan tangan bersidekap dan wajah memelas menyesal. Kyla menyeret lelaki itu minggir agar tidak menghalangi jalan. Senyum Calvin kembangkan saat Kyla mencengkeram lengan bajunya kuat, mengantisipasi kemarahan gadis itu. “Jangan marah, Sweety.” Panggilan itu membuat Kyla mendesah, jantungnya berdebar tanpa alasan, tetapi ia tidak bisa menyingkirkan amarahnya mengingat bagaimana Calvin memperlakukannya hari ini. “Aku tidak mungkin marah karena hal sepele, Cal. Berkatmu, aku terlihat seperti bocah yang tersesat saat bermain petak umpet di depan kekasihmu sendiri.” Calvin mengerang mendengar kata kekasih yang Kyla tekankan. “Maksudmu, Maisie? Well, kami memang sepasang kekasih, tapi kau yang lebih penting bagiku, Sweety.” “Dan jangan panggil aku dengan sebutan itu untuk sekarang maupun seterusnya.” Oops. Kyla marah besar rupanya. Sedikit menggelikan karena Calvin menganggap hal itu adalah hal yang lucu. Mata gadis itu menyipit saking dalamnya kerutan di keningnya, bibirnya memerah lantaran terlalu lama di gigit, dan Calvin tak bisa menahan diri untuk mengusak rambut Kyla yang selembut sutera. Gadis itu menampik tangannya kasar, memberengut kesal. “Pergi dari sini. Aku akan segera bekerja dan membantu Mitchel mengantarkan makanan. Kau kembalilah ke singasanamu dan perhatikan setiap tugas—” “Aku tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Calvin, setenang air laut di sore hari. Kyla mengangkat sebelah alis, memicing curiga. “Calvin Smith yang tampan ini tidak akan mengulanginya lagi. Kyla Dawson adalah prioritas Calvin dan selamanya akan tetap begitu.” “Aku tidak memintamu untuk memprioritaskanku, Cal,” lirih Kyla. Saat itu hatinya mencelos sakit. Ada keanehan yang menghujami dirinya hari ini. Dan entah kenapa, semua itu disebabkan oleh Calvin dan kekasih barunya, Maisie West. Kyla tak menyukai sensasi terbakar yang hampir memerahkan seluruh tempat di wajahnya. “Lalu, apa yang kaumau?” Kali ini, Calvin merendahkan suaranya. Ia tersenyum penuh arti, menatap Kyla dengan manik birunya yang dalam. Kyla menunduk menghindari tatapan lelaki itu. Ia merasa kakinya melemas puding dan getaran-getaran aneh yang dialaminya seakan menyengat jantung Kyla untuk memompa darahnya lebih cepat. Gadis itu menahan napas kala tangan Calvin terangkat dan membingkat kedua sisi wajahnya dengan sentuhan rapuh. “Aku minta maaf, okay?” Kyla membenci dirinya yang menjadi lemah hanya karena sebuah belaian sayang. “Sweety, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku telah berjanji pada Carla untuk menjagamu. Kau sangat berarti bagiku.” Hah. Kyla mendesah masam. Janji pada Carla. Itulah yang selalu Calvin katakan. Ia menertawakan dirinya yang bisa-bisanya menginginkan hal lebih. Calvin jelas memandangnya sebagai adik seorang sahabat yang sebatang kara, membawanya ke dalam kehidupannya yang luas dengan rasa tanggung jawab untuk melindungi. Kyla segera menghapus jejak-jejak rasa marah dalam dirinya, menepis tangan Calvin, mengangguk mengerti. Benar juga, untuk apa dia marah? Kyla tak memiliki hak apapun atas Calvin dan hidupnya. Dan hari ini, kehadiran Maisie West di antara mereka telah membuktikan segalanya. Calvin terkikik geli, menengadahkan telapak tangan, menagih sesuatu yang seharusnya menjadi camilan siangnya hari ini. “Di mana kueku? Kau tidak menghabiskannya sendirian karena terlalu marah padaku, ‘kan?” Kyla memutar mata jengah. “Aku memberikannya pada Haru.” “Kau bertemu dengan Haru?” “Ya.” Gadis itu mengangguk mantap. “Dan dia nyaris menghabiskan setoples penuh biskuit dalam waktu kurang dari dua jam.” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN