10: Kunjungan Maisie

2207 Kata
Sebuah mobil mewah mengkilap bewarna merah berhenti di parkiran Calvin’s Table. Ketika pintu mobil terbuka, sepasang sepatu beludru berhak tinggi menapak di permukaan aspal yang kasar. Si pemilik sepatu kemudian menutup pintu mobil, memasang kacamata hitam karena sinar matahari yang menyilaukan, lalu merapikan rok pendek selututnya yang terbuat dari bahan jeans. Di jam makan siang seperti ini Calvin’s Table ramai oleh pelanggan. Gadis itu, Maisie West, sebisa mungkin menjauhkan diri menghindari sentuhan yang tak diinginkannya begitu menginjak pintu masuk. Ia mengedarkan pandang ke sekeliling, mata gelapnya menelusuri setiap jengkal restoran itu melalui kacamata hitam yang ia pakai. Ini mungkin bukan kali pertamanya Maisie mengunjungi Calvin’s Table sebagai pelanggan biasa, namun, sekarang dia adalah kekasih Calvin. Sang pemilik. Seharusnya pramusaji-pramusaji itu menyambutnya seperti seorang tuan putri alih-alih mengabaikannya begini. Sambil mendengus dongkol, Maisie melanjutkan langkahnya, mendekati konter, menyerobot barisan, dan menumpukan kedua lengannya di atas meja besi itu. “Di mana Calvin?” tanyanya pada salah seorang pramusaji konter yang baru saja datang mengantar catatan order. Gil, si pramusaji konter menatap Maisie bingung. Keningnya bertaut heran mendapati wajah-wajah tak senang di belakang Maisie. “Ada yang bisa saya bantu, Miss?” tanyanya sesopan mungkin, “seandainya Anda ingin memesan, harap mengantre lebih dulu. Hari ini kami melayani hampir empat puluh pelanggan sekaligus.” “Oh, aku mengerti kesibukanmu, Sir.” Maisie menurunkan kacamata hitamnya. Bola gelapnya yang keabu-abuan menghinoptis Gil yang sontak menelan ludah. Mata gadis itu sebulat kacang almond dan bulu matanya yang panjang amat lentik. “Tapi, tak bisakah kau setidaknya memberitahu seseorang bahwa kekasihnya di sini? Aku ingin menemui Calvin, sejak semalam dia tidak mengangkat panggilanku.” “Oh, Anda kekasih Bos?” Gil tergagap, tak heran Calvin yang tampan memacari gadis secantik ini. “Semalam Bos memang melembur bersama kami akibat kerusakan alat giling di dapur, Miss. Bos baru pulang subuh hari dan langsung pergi ke kampus untuk kuliah pagi.” Bibir Maisie membentuk huruf O sempurna. “Apa dia di resto sekarang?” Gil mengerling ke arah Mitchel yang mengambil pesanan meja lima dan Mitchel mengarahkan dagunya pada seseorang yang sibuk membantu Stephannie membersihkan meja kotor. Maisie tersenyum kecil. Oh, bukankah itu Kyla? Apakah dia seorang pegawai di sini? Melihat orang yang dikenalnya, Maisie pun berjalan menghampiri Kyla. “Siang, Kyla,” sapa Maisie akrab. Merasa terpanggil, Kyla menoleh. Ia membola menemukan Maisie West berdiri tepat di hadapannya. “Ah—” Hanya itu yang bisa diucapkannya, sebelum Stephannie menyikut lengannya, dan menatap Kyla dengan pandangan menuntut. “Apa kau mencari Calvin, Maisie?” Terdengar dengusan Stephannie yang terabaikan, Kyla melempar senyum menyesal. “Kau tak mungkin kemari tanpa alasan, bukan?” “Ya, seperti yang kauduga, Teman Kecil,” jawabnya, meniupi kuku panjangnya yang dipoles dengan cat oranye. “Jika kau tak keberatan, ayo, antarkan aku ke ruangannya. Kudengar semalaman Calvin direpotkan oleh mesin gilingyang rusak. Pantas dia tidak mengangkat teleponku.” Stephannie menimpali. “Maaf, Nona, tapi apa hubunganmu dengan Bos kami? Saat ini bos sedang istirahat di ruangannya dan biasanya dia tidak mau diganggu.” “Oh, dengan pacarnya sendiri? Kuyakin Calvin tidak akan tidak menyukai kunjunganku ini.” Memberengut, diam-diam Stepahnnie merutuki sikap arogan pacar Bosnya. Apa dia tidak bisa bersabar sampai Calvin balik menghubunginya? Resto sedang ramai dan apa yang dia harapkan? Kyla mengantarnya? Jangan mengada-ngada! Kyla mencubit pinggang ramping Stephannie, meminta agar mereka diberi ruang. Sepeninggal Stephannie yang melenggang pergi sambil mengentak-entakkan kaki, Kyla mengajak Maisie untuk mengobrol berdua di meja privat, namun Maisie menolak. “Aku tidak ingin membuang-buang waktuku dengan berbasa-basi, Kyla. Dengar, aku mau Calvin. Ada hal yang harus kubicarakan dengannya. Aku kesal dia tidak menjawab teleponku semalam.” “Yeah, yeah, i know, Maisie.” Kyla memijat kening. Penampilan Maisie yang mencolok membuat mereka terlihat seperti majikan dan babu. “Tapi, seperti yang Stephannie bilang, Calvin tidak suka istirahatnya diganggu. Dia sudah cukup kesulitan semalaman, jadi kumohon kau memakluminya, Maisie.” “Hah, kenapa kau menjadi protektif pada pacarku?” Kyla tidak tahu, tapi entah mengapa ia merasa Maisie selalu menekankan kata pacar—kekasih, seolah-olah menjalin hubungan dengan Calvin merupakan sebuah prestasi yang membanggakan. “Aku butuh Calvin, sangat. Jadi, antarkan aku, Kyla. Jangan keras kepala.” Tiba-tiba mata bulat Maisie menyipit, mengamati wajah mungil Kyla lekat-lekat. “Hei! Jika kuperhatikan lagi, bukankah kau Gadis Limun itu? Gadis yang viral di internet karena menampar pemuda Asia lebih lebih dari satu minggu yang lalu? Oh astaga, seharusnya aku menyadarinya sejak awal. Pantas saja wajahmu sama sekali tidak asing. Ternyata oh ternyata.” Semburat merah yang tidak menyenangkan merayapi pipi Kyla. Gadis itu buru-buru menyahut. “Yah, kau benar, Maisie. Aku tidak menyangka kau akan mengingatku sebagai Gadis Limun.” Maisie mengedikkan bahu, sebelah alisnya terangkat ketika Kyla gelisah memandang sekeliling. “So? Apa kau akan menciptakan keributan lantaran aku tidak mendengarkan ucapanmu, Kyla? Oh c’mon! Biar kutekankan, he’s ma babe. Jangan halangi aku untuk bertemu dengannya.” Baiklah, baiklah. Kyla tersenyum simpul. Terserahlah. Dia tidak akan ikut campur seandainya kemungkinan terburuk—pertengkaran terjadi. Ia pun mengangguk sekali, memberi kode kode pada Maisie untuk mengikutinya, dan mengerling ke arah Stephannie yang melongo akan tindakan nekad Kyla. Mereka berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Ketukan heels Maisie dan sepatu kets Kyla bersahutan di lorong sempit bertangga itu. Maisie memandangi satu-persatu potret yang menggantung di dinding. Potret peternakan domba, anak-anak kecil menari-nari di antara gelembung, hewan, hingga beberapa monumen nasional dan pemandangan Kota London di langit malam melalui jendela London Eye yang paling menarik perhatiannya. Kebetulan saat Maisie berhenti untuk mengapresiasi foto berbingkai kayu berukir itu, Kyla menengok ke belakang. Ia menuruni tiga tangga mendekati Maisie yang menganga takjub. “Indah, bukan?” gumam Kyla lirih. Manik hijau terangnya membaca tulisan di sudut kanan bawah potret tersebut, to my dearest friend: Carla Dawson. Ia ingat dulu Carla pernah bercerita tentang jalan-jalannya bersama Calvin ketika SMA. Kala itu Calvin membawa kamera baru yang ia beli dengan tabungan bulanannya sendiri, memotret semua hal yang mereka lewati saking senangnya. Satu yang paling berkesan di antara foto-foto itu adalah foto pemandangan kota dari kapsul London Eye. Lampu kota yang bewarna-warni terlihat di seberang sungai Thames yang mengalir tenang di bawah bayang-bayang roda besar itu. Karena gambar diambil saat malam hari, London Eye mengeluarkan warna ungu terang yang beradu dengan lampu-lampu kota yang berkedip indah. Sinar rembulan yang terang dan tetesan hujan di kaca jendela kapsul London Eye menambah efek dramatis potret tersebut. Kyla kembali berucap sementara Maisie tidak sedikitpun bersuara. “Calvin sengaja meletakkan foto ini di tangga menuju lantai dua dan undakan kelima dari atas. Foto ini memiliki banyak kenangan bagi Calvin.” Kali ini Maisie menoleh, kernyitan di keningnya memancing Kyla untuk menambahkan, “Baca tulisan kecil di sudut kanan bawah foto. Tertulis nama Carla, saudari kembarku. Foto ini merupakan kenangan terakhir mereka sebelum Carla menghilang tiga tahun silam, tepatnya diambil pada tanggal 2 Mei. Bagi Calvin, Carla adalah sahabat yang berharga. Tiada seorangpun yang dapat menggantikan posisinya dalam hidup Calvin.” Termasuk aku. Tawa renyah Maisie mengudara, tampak tertarik dengan gadis bernama Carla ini. “Apa dia memperlakukanmu sebaik itu lantaran kau mengingatkannya pada Carla?” Kyla terdiam mendengar kata-kata menusuk itu. “Yah, aku bisa memahami perasaan Calvin yang tidak sanggup melihat adik sahabatnya menderita. Ah, aku sungguh menyesal atas apa yang terjadi, Kyla. Namun bagaimanapun juga, Carla hanyalah bagian dari masa lalu Calvin.” Kyla menghela napas panjang. Hah. Benar-benar Maisie. Ia memilih tak berkomentar dan tidak mendebat Maisie walau dalam hati, Kyla merasa sakit hati terhadap pernyataannya mengenai Carla. Tetapi, sudahlah. Toh, Kyla sendiri yang memulai. Akhirnya, tanpa berkata apapun lagi, Kyla pun kembali mengayunkan kaki membimbing Maisie ke ruang kerja kekasihnya. --- Calvin setengah mengantuk ketika Maisie muncul di pintu ruang kerjanya. Sambil berlari manja ke arahnya, gadis itu meninggalkan sebuah bayangan hitam yang mematung di ambang pintu. Calvin mengenalinya sebagai Kyla. Ia hendak menyapa gadis itu dan menyuruhnya masuk apabila Maisie tidak merangkul dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir. Kyla tampak menunduk lalu keluar setelah berpamitan. “Darling, miss you so much. Aku menanti panggilanmu tapi yang kaulakukan justru bersantai-santai di sini,” kata Maisie kala tautan bibir mereka terlepas. Kelopak Calvin mengerjap cepat, kantuknya mendadak sirna berkat kehadiran Maisie. “Aku tidak sedang bermain-main, Hun. Sekujur tubuhku sakit dan aku tidak punya kesempatan untuk memegang ponsel.” “Okay. Untuk itulah Maisie-mu ke mari. Aku akan mengisi ulang energimu dengan pelukan.” Maisie memeluknya lebih erat, dan Calvin tertawa menyisir helaian Maisie yang beraroma cokelat. “Dan Babe, tahukah kau? Orang-orang resto tidak menyambutku dengan baik. Mereka bilang kau tidak suka diganggu saat istirahat. Apa kau marah padaku? Aku tidak bermaksud mengusikmu.” Calvin menyeret Maisie dan mendudukkannya di sofa dekat lemari arsip. Pemuda itu duduk di sebalahnya, memasang ekspresi sebal yang dibuat-buat. “Mereka benar. Sesungguhnya aku begadang sepanjang malam berkat mesin giling sialan itu. Kurasa ia sudah terlalu tua untuk bekerja. Jadi, aku memutari London mencari toko furnitur yang masih buka di tengah malam. Tiga jam aku menyetir perlahan mobilku, memperhatikan semua toko yang kulewati. Dan yeah, aku menemukannya.” “Itukah yang membuatmu tak mengindahkan puluhan panggilanku?” Calvin mengeluarkan ponsel dari saku jaket dan mendapati layar ponselnya dipenuhi nama Maisie. “Yup. Maafkan aku.” “Oh, baiklah.” Maisie melinting ujung rambutnya yang keriting. Pandangannya berpaling pada barisan potret yang disusun secara zig-zag. Otaknya memutar ucapan Kyla beberapa menit lalu. “Ada cerita yang kudengar dari Kyla tentang Carla, saudari kembarnya yang hilang.” Ekspresi Calvin langsung berubah serius dan datar. Ia memandang kekasihnya tanpa minat. Apa saja yang Maisie dan Kyla perbincangkan selama perjalanan ke mari? Dan kenapa harus membawa-bawa nama Carla? Menyadari perubahan air muka Calvin, Maisie menyingkirkan sehelai anak rambut yang menjuntai di dahi. Ia tersenyum sinis, lantas berkata dingin, “Apa Carla ini secantik diriku, Cal? Nah, apa dia cinta pertama yang tak terlupakan? Katakan padaku, sejauh mana kalian berhubungan. Terkadang sepasang remaja melakukan—” “Jaga ucapanmu, Maisie,” hardik Calvin tajam. Kilatan marah samar-samar melintasi manik cokelatnya yang redup. “Carla bukan gadis seperti yang kaupikirkan. Dia tidak peduli pada kisah-kisah asmara dan lebih suka memanjat pohon daripada repot-repot menyerahkan hatinya padaku—” “Lalu, bagaimana dengan Kyla?” “Maisie!” bentak Calvin kasar. Maisie tergelak menangkap amarah Calvin. “Kau tidak marah ketika aku mengganggu waktu istirahatmu, tapi kau malah marah ketika aku membahas soal kakak-beradik itu, Dear.” Ia menangkup pipi Calvin yang memerah dengan telapak tangannya yang halus. Dapat dirasakannya rahang Calvin yang mengeras dan giginya yang bergeretak. Urat-urat nadi di leher lelaki itu menyembul, sedangkan Maisie yang mencegah Calvin menepis tangannya menempelkan dahi mereka. Ia mencium bibir itu, melahapnya seolah-olah bibir tebal Calvin adalah santapan yang lezat. Selama beberapa saat Calvin terbuai dan nyaris tenggelam dalam ciuman memabukkan itu. Ia segera mendorong bahu Maisie dengan napas terengah, sadar gadis itu menginginkan lebih. “Pulanglah, Maisie,” desah Calvin, menghapus lipstik merah Maisie yang belepotan di bibirnya. Ia beranjak dan membuka pintu, memerlukan waktu untuk berpikir jernih. Maisie tersentak, menolak dengan tegas. “Tidak!” “Ayolah, Maisie. Aku akan menemuimu begitu suasana hatiku membaik.” “Oh, apakah kehadiranku merusak suasana hatimu? Kau benar-benar keterlaluan, Calvin.” “Maisie, Sayang—” “Baiklah, aku pergi.” Maisie mengepalkan kedua tangan kemudian menuding Calvin dengan amarah yang meluap-luap. “Dan jangan menemui maupun menyentuh namaku di daftar kontakmu. Aku membencimu, Calvin Smith.” --- “Sudah kuperingatkan dia sebelumnya, tapi inilah akibatnya jika kau tidak mendengarkan. Emosi Bos Calvin mudah tersulut ketika lelah,” bisik Gil pada Kyla, Mitchel, dan Stephannie yang berkumpul di konter pemesanan. Mereka melihat Maisie menuruni tangga dan berjalan cepat keluar restoran, menabrak beberapa pelanggan yang refleks mengumpatinya, dan mengendarai mobilnya dengan kencang. Diam-diam Kyla melirik ke arah tangga. Tiada Calvin yang menyusul. Mereka pasti bertengkar selayaknya pasangan suami-istri. Stephannie terkikik mendengar lelucon kurang ajar Gil, sedangkan Kyla berdeham menegur. “Sebaiknya, kita segera kembali bekerja. Apapun yang terjadi di antara mereka, itu bukan urusan kita.” Seringaian Mitchel membuat Kyla bergidik ngeri. “Kyla My Friend, sebenarnya kau juga penasaran, bukan? Kau ‘kan sangat dekat dengan Bos, kenapa tidak ke sana dan menghibur Bos? Kami harap kau mau melakukannya demi pertemanan kita.” “Pertemanan omong kosong,” sergah Kyla, mencibir Mitchel yang berusaha memanfaatkannya. “Bila kau segitu inginnya mengetahui keributan di antara mereka, kenapa bukan dirimu saja yang pergi? Aku akan melanjutkan pekerjaanku dan mendoakan keselamatanmu. Semoga Tuhan masih berbaik hati menyelamatkanmu dari cengkeraman Calvin.” Stephannie dan Gil tertawa mengejek. Dengusan Mitchel mengakhiri percakapan mereka. Dasar manusia-manusia ini. Mereka senang sekali memperdebatkan masalah orang lain. Kyla meraih serbet dan semprotan pembersih, berniat membersihkan meja nomor dua puluh yang baru saja ditinggalkan pelanggan. Langkahnya kemudian terhenti merasakan getaran di kantong celemek. Ia mengecek siapa gerangan yang tumben-tumbennya mengiriminya pesan di siang bolong. Kyla hampir tersedak ludahnya sendiri, tak mengira nama Haru Tanaka akan singgah di daftar teratas kotak masuk pesannya. Ini adalah peristiwa bersejarah yang harus Kyla abadikan karena kali pertamanya Haru mengirimkan pesan. Cepat-cepat Kyla membuka pesan itu, membacanya dengan rasa antusiasme yang tinggi. Toplesmu kukismu, Nona Dawson. Aku harus mengembalikannya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN