11: Kisah 'Monalisa' Prof. Caymen

1883 Kata
Bunyi krauk krauk renyah dari keripik kentang yang Hongbin bawa sungguh mengganggu. Saat ini mereka sedang ada di common room asrama, menguasai ruang belajar lantai dua, dan melarang orang lain masuk. Haru tidak bisa menghentikan Hongbin yang tiba-tiba menyuap petugas common room dan meminta kunci ruang belajar sebagai gantinya. Berkat aksi Hongbin, kini mereka berleha-leha di ruang belajar yang dipenuhi rak buku, bantal-bantal dan karpet empuk, serta kursi dan meja yang dicat warna-warni. Oh! Dan jangan lupa AC serta akses internet yang memadai. Haru jadi mengerti kenapa Hongbin selalu ingin memiliki tempat yang menyerupai perpustakaan fakultas ini untuk dirinya sendiri. Hongbin menselonjorkan kaki kanannya yang bau ke meja, punggungnya bersandar pada bantal empuk, sementara tangannya sibuk menyuapi mulutnya dengan keripik kentang. Haru mengalihkan pandang dari ponsel kepada Hongbin. Alisnya bertaut sebal. “Tidak bisakah kau makan dengan tenang?” “Tidak,” jawab Hongbin keras kepala. Ia mengacungkan bungkus keripik lalu menawarkannya pada Haru. “Kau mau?” Haru abai. Ia kembali fokus pada layar ponselnya yang menyala, seperti sedang menunggu sesuatu. Hongbin cekikikan, menendang-nendang easel Haru yang berdiri tegak di meja rendah itu. “Aww—menunggu sms pacar. Betapa tersentuhnya hati Hyung melihat perkembangan emosi Adik Kesayanganku. Haru-ya, ceritakan soal Gadis Limun ini. Apa dia gadis yang menyenangkan?” “Tepatnya, dia berisik sepertimu.” “Oh, ayolah, kau tidak seru, Dongsaengie.” Hongbin memutar mata. “Well, tapi setidaknya kalian akan berkencan Sabtu besok. Dan bahkan kau membawa toples kosong kukis buatan si Gadis Limun kemarin. Jantungku menjadi doki-doki karenamu. Adik Haru menggemaskan sekali.” TAK Sebuah kotak pensil plastik mendarat telak di kepala Hongbin. Haru menatap datar roommate-nya yang mengaduh kesakitan; kening lelaki iu memerah dan berangsur-angsur benjol. Demi apapun di dunia ini, Haru berani bersumpah bahwa jejak merah di kulit putih Hongbin merupakan karya terbaiknya selama dua puluh tahun dia hidup. Hongbin memelotot, menggeram marah. “Hei! Ini tindakan kriminal! Kenapa kau suka sekali sih melempar barang sembarangan? Kau pikir aku tong sampah?” “Tong kosong nyaring bunyinya,” balas Haru yang membuat Hongbin makin mendelik. Sebenarnya Haru ini berasal dari Jurusan Seni Rupa atau Sastra? Kenapa dia begitu menyebalkan mengucapkan kalimat pepatah itu? Haru menunduk saat ponsel di genggamannya bergetar. Kedua alisnya terangkat, dan Hongbin yang memperhatikannya mendecih pelan. “Sudah kuduga sikapmu mencurigakan. Kau semakin kasar dari hari ke hari dan sering keluar tanpa pamit, padahal kutahu kalau kau diam-diam bertemu dengan Gadis Limun, ‘kan? Ayo, mengaku!” Hongbin jelas mengada-ngada. Sejak kali pertema mereka bertemu, Haru memang sudah seperti itu. “Terserah,” sahut Haru malas. Setelah membaca balasan Kyla yang berkata tak perlu mengembalikan toples kukis, Haru meletakkan ponsel pada stand holder lalu membuka foto Monalisa-nya. Ia mengernyit tak puas tatkala efek silver yang ia buat pada rambut Monalisa tidak sesuai ekspektasi. Haru kemudian berjalan menuju jendela ruang belajar yang besar, menggeser tirai lebih lebar, dan mengamati lukisannya dari sudut itu. Ia bernapas lega. Ternyata efek silver yang menurutnya tadi terlalu gelap disebabkan kurangnya pencahayaan dalam ruangan itu. Haru selalu melukis perpaduan warna yang memiliki kesan terang di tempat terang, walau terkadang ia juga melukis di dalam kamar asrama yang pencahayaannya tidak pas. Haru pun kembali duduk. Tinggal langit malam dan detail-detailnya yang harus ia lukis. Haru rasa waktu tiga hari cukup untuk menyelesaikannya sampai hari Senin esok. Ia membiarkan cat di kanvas mengering sambil memikirkan ulang kombinasi warna langit pada kertas sampel. Hongbin meregangkan badan. Kekosongan atmosfer di antara dirinya dan Haru cukup untuk menulis kelanjutan adegan novel dewasanya hingga ke bab berikutnya. Pemuda itu melipat bungkus keripiknya yang sudah habis, menimbulkan bunyi kresek kresek yang lagi-lagi menarik perhatian Haru. “Apa? Aku sudah diam selama lima belas menit dan kau mau protes? Kuadukan kau pada Mummy,” ancam Hongbin. Haru menggeleng-geleng heran. Sekali saja, apa Hongbin tidak mau berhenti mencari gara-gara dengannya? Haru mungkin yang termuda di antara mereka bertiga, namun dia adalah anak sulung dengan seorang adik laki-laki yang jauh lebih berisik, menyebalkan, merepotkan, dan amat-sangat kekanakan. Mengingat Hiroshita, sudah lama juga Haru maupun anak itu tidak bertukar kabar. Bagaimana kabar Neneknya di Osaka? Apa Hiro menjaganya dengan baik? Haru akan menelepon anak itu nanti. Hongbin menendang easel Haru lagi. Dengan cekatan Haru menangkap kanvasnya yang nyaris jatuh lalu memukul kaki Hongbin. “Kau tidak akan kapok sebelum aku menghapus semua bab cerita erotismu,” ucap Haru jengkel. Terbahak, Hongbin menegakkan posisi duduk lantas bersidekap. Ia bersiul sekali, tatapannya tertuju pada kanvas lukis Haru yang membelakanginya. “Omong-omong, ada rumor yang kudengar tentang Profesor Caymen dari jurusanmu,” kata Hongbin, memulai sesi gosipnya. “Sejak dulu, beliau sangat hobi memberikan tugas melukis Monalisa versi sendiri kepada mahasiswa baru. Seorang teman yang Kakaknya berkuliah di Jurusan Seni Rupa delapan tahun silam juga mengalami hal yang sama sepertimu. Menurut temanku itu, Profesor Caymen memiliki seorang istri yang telah meninggal saat anak pertama mereka lahir. Istrinya bernama Lisa dan berasal dari Italia. Karena istrinya meninggal setelah mereka mengunjungi Museum Louvre di Paris, Profesor Caymen akhirnya mengabadikan Madame Lisa ini dalam bentuk lukisan. Sayangnya, tak lama kemudian putrinya yang ia namai Lisa meninggal ketika berusia dua tahun. Oleh sebab itu, Profesor Caymen menyuruh para mahasiswa angkatan baru melukis Monalisa mereka, yang sesungguhnya bermakna orang atau gadis yang mereka kasihi.” Haru terpaku mendengar cerita Hongbin. Selama ini banyak mahasiswa angkatan baru yang mengeluh betapa susahnya menyelesaikan tugas menyebalkan itu. Banyak yang bertanya-tanya bagaimana mereka harus mencari inspirasi lukis. Tetapi, setelah tahu cerita kelam di balik permintaan menuntut Profesor Caymen, Haru mendadak mengasihani dosen nyentriknya itu, juga diri sendiri. Haru memandang lukisannya yang tiga perempat jadi dengan hampa. Orang atau gadis yang mereka kasihi? Haru tidak punya sosok seperti itu dalam hidupnya. Haru pun tidak punya penggambaran pas tentang sosok Monalisa yang sering dibicarakan Profesor Caymen. Apakah sosok itu bisa laki-laki atau perempuan, tua-muda, seorang ibu, istri, anak, atau hanyalah kekasih? Tidak ada jawaban spesifik kendati Yuan—salah satu teman seangkatannya menanyakan hal itu kepada Profecor Caymen. Sekarang Haru menyimpulkan bahwa sosok Monalisa bagi masing-masing individu berbeda, tergantung apakah orang itu menganggapnya penting atau tidak. Namun lucunya, siapa gadis dalam gambarnya ini? Sosok Monalisa-nya ini? Haru hanya melukisnya demi kepuasan pribadi. Ia tidak pernah tahu siapa dia; nama, umur, alamat—dan apa-apa tentangnya. Haru tidak merasakan hal-hal yang dikatakan orang sebagai cinta atau menganggap gadis ini istimewa. Ia tersenyum muram dan menyesal telah m*****i makna di balik tugas yang diberikan Profesor Caymen. Benar kata Kyla, tiada yang bisa menyangka bahwa di balik sebuah lukisan ada cerita pilu yang tersembunyi di dalamnya. Haru hanya memahami seni, dan ia sadar selama ini dirinya sama sekali tidak menuangkan perasaannya ke dalam karya-karyanya. Lukisan-lukisan yang selama bertahun-tahun ia ciptakan tak lebih dari sekadar omong kosong belaka. Semuanya sam— “Haru?” Jentikan jari Hongbin menyadarkan Haru kembali ke dunia nyata. Pemuda itu mencondongkan tubuh ke arah Haru dengan raut cemas. “Kau baik-baik saja? Kenapa kau diam saja, huh?” “Menjauhlah dariku.” Haru mendorong bahu Hongbin menjauh, namun ia termenung lagi. Satu pertanyaan bernada penasaran pun meluncur dari mulut Hongbin. “Jadi, siapa Monalisamu, Haru?” tanya pria itu, serius. Haru tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dalam ekspresinya. Benar, bagaimanapun dia harus mempresentasikan lukisan ini di depan kelas. Haru tidak memiliki ide untuk berdalih maupun beralasan tentang si Monalisa ini. “Hei! Jangan bilang orang ini adalah inspirasi lukis random yang kautemukan saat kebingungan di jalan?” Tepat. “Oh Ya Tuhan.” Hongbin menepuk dahi lebarnya seakan-akan dia adalah seorang ibu yang lelah melihat tingkah anaknya yang nakal. “Apa sih yang kuharapkan darimu? Awalnya, aku senang karena akhirnya kau mau berteman dengan Gadis Limun dan Si Pemilik Calvin’s Table. Lalu sekarang, kupikir kau punya seorang kekasih. Tapi, kau menghancurkan harapan Hyung. Ah! Kapan aku memiliki keponakan darimu—” TAK Kotak pensil tadi mendarat di kening Hongbin untuk yang kedua kalinya. Haru memberengut. “Pikiranmu terlalu jauh dan aku tidak berteman dengan orang-orang itu, Baka.” --- Pakaian bewarna pastel, abu-abu, hitam-putih, dan warna-warna terang; semuanya tertumpuk di atas kasur seperti tumpukan pakaian kotor. Kyla mondar-mandir di antara lemari dan kasurnya, gelisah memilih pakaian mana yang akan ia pakai Sabtu besok. Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam, namun ia sama sekali tidak bisa menunggu matanya terpejam dan menemukan matahari bersinar cerah di langit Kota London. Kyla masih belum memutuskan dan ia tidak menyadari eksitensi Sohphie, si wanita tua yang sebagian besar rambutnya sudah beruban, berdiri di samping lemari seperti hantu. Hingga wanita tua itu mengetuk-ngetukkan tongkat kayunya ke lantai, Kyla pun terkesiap. Sophie pun menghampiri Kyla, mendudukkannya di tepi kasur, lantas menyandarkan tongkatnya di samping gadis yang dia anggap sebagai cucu itu. Dengan punggung yang sedikit bungkuk, telaten Sophie melipat baju-baju Kyla yang berserakan di mana-mana. Kyla merona malu lantaran tertangkap basah oleh Shopie yang ia sangka sudah tertidur. Shopie pasti berpikiran aneh-aneh lagi tentang dirinya yang akan berkencan dengan Calvin. Ah, mengingat Calvin, bagaimana perasaan lelaki itu setelah pertengkarannya dengan Maisie siang tadi? Gelengan Kyla menghapus seluruh bayang-bayang Calvin dalam benaknya. Gadis itu menyunggingkan seulas senyum manis pada Shopie yang menatapnya gemas. “Sungguh, Shopie. Kami hanya berteman. Aku dan Calvin tidak berkencan atau menjalin hubungan asmara. Tolong, jangan goda aku.” “But Dear, siapapun yang melihatmu kebingungan memilih pakaian pasti memikirkan hal yang sama. Kau tampak senang menanti hari esok.” “Aku membenarkan kalimat yang terakhir.” Kyla tergelak. “Well, bukankah kau tahu soal teman baruku yang dari Asia itu? Jadi Shopie, besok aku berencana mengajaknya jalan-jalan. Aku ingin dia memiliki waktu yang menyenangkan selama dia di London.” “Hm, otak tuaku sulit mengingat namanya. Bisakah kau memberitahuku lagi, Sayang?” “Haru, Haru Tanaka.” Sophie mengusap puncak kepala Kyla sayang. Sudah lama dia tidak mendapati Kyla sesemangat ini. “Ke mana kalian akan berjalan-jalan?” Kyla memiringkan kepala, menghitung tempat-tempat yang mereka kunjungi besok. “Alun-alun Trafalgar, Galeri Nasional London, dan terakhir London Eye. Bagaimana menurutmu? Apa itu pilihan yang bagus, Shopie?” “Pilihan Kyla-ku adalah yang terbaik.” “Tapi, aku ragu dia akan bersenang-senang.” “Kenapa tidak?” Bahu Kyla merosot sedih. “Haru bukanlah seseorang yang jujur dengan perasaannya sendiri, Shopie. Ekspresi, suara, dan sorot matanya begitu datar sampai-sampai aku harus menerjemahkan setiap kata-kata yang ia lontarkan. Dia bahkan hanya menjawab lumayan ketika aku menanyakan pendapatnya tentang kue-kue buatanku. Aku jadi takut dengan komentarnya tentang jalan-jalan kami.” “Tiada yang perlu ditakutkan, Sayangku,” ucap Shopie yang selesai melipat dua tumpuk pakaian Kyla. Ia menggenggam tangan gadis itu, mengelus punggung tangannya lembut. “Kurasa kau cukup melakukan apa yang kaubisa untuk membuatnya senang. Dia mungkin bukan orang yang jujur dan butuh waktu bagimu untuk benar-benar memahaminya. Tapi, kuyakin anak bernama Haru ini tidak keberatan pergi bersamamu. Buktinya, dia menyetujui ajakanmu, bukan?” “Yah, setelah kuteror dan kupaksa,” gumam Kyla masam. Mata Shopie berkilat-kilat geli. “Itu bukan masalah besar. Intinya, meskipun enggan, dia bersedia ikut bersamamu. Nah, sekarang, mari kubantu memilih pakaian. Kira-kira sejauh ini, warna apa yang sering Haru pakai setiap kalian bertemu? Warna celah? Gelap? Monokrom? Usiaku boleh setua kursi ayun peninggalan Ibuku di ruang tamu, tapi kau bisa menyerahkan hal sesimpel ini kepadaku, Kyla My Dear. Shopie akan membantumu mengatasi kegundahan hatimu.” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN