Hari Sabtu pukul sepuluh.
Haru bukanlah tipikal orang yang akan datang terlambat—atau bahkan mengingkari janji. Walau dengan terpaksa ia menyetujui ajakan Kyla Dawson, bukan berarti Haru akan sengaja melupakan janji sepihak mereka dan memilih tenggelam dalam lukisan Monalisanya. Haru sadar ketika dirinya sudah sampai di halte bus seberang Calvin’s Table Kyla, sebenarnya dia tidak berkewajiban menyetujui permintaan paksa Kyla. Mereka tidak sedekat itu, dan pertemuan mereka bukanlah pertemuan yang menyenangkan. Kesan pertama Haru terhadap Kyla amat buruk, begitu juga sebaliknya. Namun anehnya, Kyla bertingkah seakan kesalahpahaman di antara mereka tidak pernah terjadi. Entah karena sifat positifnya atau Haru saja yang terlalu menuruti ucapan keras kepala Steve, Haru tidak tahu.
Jika seperti ini, Steve dan Hongbin akan menganggapnya mulai membuka hati, mengusik hari-harinya dengan sederet tips dan trik pendekatan terhadap wanita, dan mulai ikut campur dalam kehidupan percintaan Haru yang minim pengalaman. Lelaki itu mendesah membayangkan betapa menyebalkannya gangguan kedua makhluk itu. Ia duduk di bangku panjang halte bus yang sepi. Hanya ada dua tiga orang yang duduk dan berdiri di sekitarnya. Hari ini matahari bersinar tidak begitu terik. Awan-awan mendung bergumul di angkasa biru, menciptakan kumpulan kapas abu-abu yang menghalangi cahaya mentari pagi. Udara pun menjadi semakin dingin di penghujung bulan September. Oleh karena itu, Haru harus memakai mantel abu-abu gelap yang jarang dia pakai dan melapisi bagian dalamnya dengan sweater hitam tebal. Celana jeans longgar, sepatu kulit hitam menjadi pilihannya hari ini. Haru rasa orang-orang di sekitar diam-diam berpikir bahwa dirinya akan menghadiri upacara pemakaman kerabat jauh.
Haru mengaitkan kancing mantel teratas yang terbuka lalu mengedarkan pandang. Aktivitas manusia-manusia di sana tidak berbeda jauh dengan di Jepang; Kendaraan berlalu-lalang di jalan raya, pegawai kantor yang mendapat tambahan pekerjaan di akhir pekan berjalan tergesa-gesa, serta halte bus berdinding kaca dengan sentuhan papan-papan iklan makanan, artis terkenal, hingga tren fashion musim gugur berdiri di samping kanan-kirinya. Pemuda itu mengecek ponsel, merasa heran lantaran dirinya menunggu pesan dan telepon Kyla. Dua menit lagi jam di ponsel akan menyentuh pukul sepuluh tepat, sementara Kyla tak kunjung menampakkan diri bersama suara-suara berisik yang menyertai—
“Haru!”
Saat itu juga Haru menoleh. Kyla berlari kecil melintasi trotoar saat lampu berubah merah. Gadis itu tersenyum lebar dengan napas terengah, di tangannya menggantung sebuah kantung kertas mencurigakan yang Haru sangka sebagai camilan buatan gadis itu. Kyla membungkuk dan menyentuh lutut untuk menetralkan napas. Haru segera mengambil tas dan kantung kertas dari genggaman gadis itu, menyeretnya agar duduk di sebelahnya.
“Hah—ah-pakah ah-ku terlam—hah?”
“Tenangkan dulu dirimu, baru bicara, Bodoh,” ucap Haru seraya meletakkan kedua benda itu di pangkuan Kyla.
Susah payah Kyla menelan ludah, menghela napas dalam satu tarikan panjang. “Hah, aku baik-baik saja sekarang.” Ia terkikik mendapati suaranya yang sedikit bergetar. Ia menatap jam yang bertengger di pergelangan tangannya, tersenyum senang melihat jarum jam yang menunjukkan pukul sepuluh tepat. “Well, setidaknya aku tidak terlambat hehe. Apa kau sudah lama di sini, Haru?”
Haru mengangkat bahu, tatapannya tertuju pada kantung kertas tadi. “Apa yang kaubawa?” tanyanya penasaran, alih-alih membalas pertanyaan Kyla.
Kyla memutar mata. Sudah kuduga, benaknya berkata. Ia hendak mengeluarkan sesuatu dalam kantung kertas cokelat itu bila bus tidak berhenti dan membuat mereka bergegas bangkit. Bersemangat Kyla menggapai jemari Haru lalu menariknya masuk. Kebetulan bangku penumpang masih lenggang sehingga Kyla dapat mengambil tempat duduk di kursi paling depan. Ia ingin supaya Haru menghapal jalan menuju tempat pertama yang mereka kunjungi, karena mungkin suatu saat pemuda itu akan mengajak teman-temannya berjalan-jalan—eh, apa Haru punya teman?
Kyla tersentak ketika Haru mendorongnya duduk di dekat jendela. Mereka terdiam beberapa saat sampai roda bus perlahan bergerak. “Ah ya, kau menanyakan isi kantung ini, ‘kan?” kata Kyla, mengangkat kantung kertas ke udara. Diamnya Haru Kyla anggap sebagai jawaban ya. “Sebelum itu, bolehkah aku bertanya sudah berapa lama kau tinggal di London, Haru?”
“Empat bulan, dua minggu, dan dua hari.”
Kyla berkedip tak percaya mendengarnya. Apa Haru menghitung hari demi hari dirinya terbangun di kota ini? Bertepuk tangan, Kyla pun melanjutkan, “Apa saja camilan—eum, makanan manis khas Inggris yang pernah kaurasakan?”
“Steve asal membeli kue di toko langganannya tanpa memberitahuku nama makanannya.”
“Oh, baiklah.” Begitu Kyla membuka segel kantung kertas itu, aroma kering, minyak, dan manis—serta aroma buah samar-samar tercium Haru rasa?—menguar dari dalamnya. Haru mengernyit menatap Kyla. Aroma itu sungguh unik dan asing. Lidahnya sudah meronta-ronta untuk mencicipi rasa ajaib yang selalu didapatkannya setiap memakan makanan manis.
Dengan telunjuk dan jari tengahnya, Kyla menjepit sekeping roti berdiameter sekitar sepuluh senti kemudian menjejalkannya ke mulut Haru. Haru memberengut karena tindakan kurang ajar Kyla, namun akhirnya ia memasukkan roti itu lebih dalam dan mengunyahnya, mengenali satu-persatu rasa yang menggelitik lidah. “Apa ini?” Haru menggigit sesuatu yang terasa kering dan sedikit kenyal, tetapi asam.
Kyla tertawa puas sambil menggigit ujung roti itu. “Ini namanya Welsh Cake, sekadar informasi,” ujar Kyla ringkas, “ini makanan tradisional Wales dan bisa dibilang cukup bersahabat untuk dibawa bepergian. Kau pasti merasakan rasa asam ‘kan? Aku menggunakan jeruk dan buah peach kering untuk mengimbangi rasa manisnya.”
“Dan digoreng?”
“Ya. Apa kau tidak suka roti yang digoreng? Apa kau sedang menjalani program diet atau semacamnya?”
“Jangan bercanda.”
Kyla memperhatikan lengan Haru dari balik mantelnya yang tersingkap. Putih dan ramping. Lelaki lain mungkin akan salah sangka tengah menggandeng seorang gadis dengan perawakan Haru yang kurus. Tiba-tiba Kyla merasa khawatir pada kesehatan Haru. “Kau harus makan lebih banyak, Haru,” gumam Kyla. Ia menyerahkan semua welsh cake kepada Haru lantas mengusap jarinya yang berminyak dengan tisu.
Haru menerima kantung kertas itu dengan senang hati. “Terserah apa katamu.”
“Tapi, kau tidak menampik kelezatan welsh cake-nya, ‘kan?” goda Kyla sembari menyenggol-nyenggol siku Haru jahil.
---
“Maisie, Hun, tolong dengarkan a—”
Tut
Sambungan telepon terputus begitu saja, bahkan sebelum Calvin sempat menyelesaikan kalimatnya. Lelaki itu mendesah frustasi, melempar ponsel ke sudut sofa lalu merebahkan tubuh seolah dirinya seringan bulu. Ia menutupi wajah dengan lengan, tidak tahu bahwa kekasihnya kali ini, Maisie West adalah seseorang yang pendendam. Dalam daftar riwayat mantan kekasih Calvin, di antara kelima belas gadis-gadis itu, Maisie West merupakan gadis yang paling susah ditaklukan. Butuh dua bulan baginya melakukan pendekatan, dan proyek kerja sama antar jurusan membantu Calvin dalam misi meluluhkan hati gadis itu.
Maisie pantas marah. Setelah apa yang Calvin lakukan pada Maisie, membela Carla dan Kyla secara terang-terangan di depannya, Calvin terdengar seperti b******n busuk yang lebih mencintai wanita simpanannya. Oh, jangan tanya darimana Calvin mempelajari kata-kata itu. Sejak kecil ia telah melihat berbagai macam bentuk pengkhianatan yang Ayahnya lakukan terhadap sang Ibu; membawa selingkuhan ke rumah, menyatakan tidak puas atas pelayanan istrinya lebih menyukai b****g indah sekretaris pribadinya, hingga menelepon kenalan-kenalan wanita saat makan malam keluarga berlangsung. Calvin memandang Ayahnya sebagai manusia yang menjijikkan. Ibunya sangat mencintai pria itu, namun yang didapatkannya justru ketidakadilan sampai-sampai Calvin harus memprovokasi sang Ibu agar mau bercerai dengan sang Ayah.
Belajar dari kebodohan Ayahnya, Calvin bertekad tidak akan mendalami hubungan yang tengah ia jalani dengan gadis-gadis manapun. Ia akan mengatakan suka bila memang suka, berkata bosan jika bosan, dan memutuskan mereka sesuai dengan kesepakatan awal sebelum berkencan; seandainya kau dan aku tidak memiliki perasaan satu sama lain, sebaiknya kita akhiri saja hubungannya. Aku tidak ingin kau maupun aku merasa saling tidak nyaman nanti. Itu persetujuan dariku, bagaimana? Gadis-gadis itu selalu mengatakan ya dan tak pernah menuntut hal lain setelah putus. Calvin pun bisa dengan mudah menggaet gadis-gadis baru yang menarik perhatiannya dan bereksperimen tentang perbedaan rasa suka dan cinta. Ia tidak peduli pada reputasinya sebagai playboy tersohor CIOA. Perjalanannya mengarungi cinta belum selesai dan Maisie West, Calvin menemukan gadis itu sangat menarik sekaligus rumit.
Berkat Maisie, Calvin menyadari bahwa tak semua wanita setuju dengan persyaratan konyol itu. Calvin benar-benar menyukainya, tapi tidak sampai dalam tahap di mana dia menyatakan aku mencintaimu sementara Calvin masih meragukan dirinya sendiri. Bisakah suatu hari nanti ia dapat mencintai seseorang seperti sang Ibu mencintai Ayahnya? Dan bisakah Calvin menjamin dirinya tidak berubah menjadi predator yang gila wanita seperti Ayahnya?
Embusan napas berat Calvin mengakhiri lamunannya siang itu. Jam menunjukkan pukul sebelas siang dan perutnya yang keroncongan membutuhkan asupan energi untuk menghadapi Maisie. Calvin tidak ingin hubungannya dengan Maisie kandas secepat ini. Belum dua minggu mereka berkencan dan Maisie sudah membuat Calvin kerepotan akan tempramen dan kecemburuannya yang tinggi.
Lelaki itu pun bangun, berjalan menuruni tangga lantai dua, dan menyandarkan sisi kiri tubuhnya pada birai balkon. Ia tersenyum puas mendapati Calvin’s Table penuh sesak oleh lautan maanusia. Iris cokelatnya berguling seperti radar mencari gadis yang biasanya berlari membawa dua nampan besar di antara manusia-manusia itu.
Calvin berbalik saat mendengar derap kaki seseorang yang menggema di sepanjang lorong sempit tangga. Stephannie, dengan celemek putih yang kotor dan kuncir kudanya yang kusut, muncul di hadapan Calvin sambil mengucek mata. Calvin memutuskan menghadang jalan gadis itu, mengamati penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, lantas mencibir, “Kenapa kau begini? Apa aku menyuruhmu bermain-main dengan tanah di dalam resto? Astaga Stephannie Green, haruskah kupotong gajimu karena ketidaklayakan ini?”
Stephannie menatap Calvin enggan. Mereka seumuran dan bagi Stephannie, Calvin bukanlah seorang atasan yang patut ditakuti. Daripada menanggapina serius, Stephannie hanya memutar mata dan menunjuk bercak-bercak kotor di celemeknya. “Ya, aku bermain tanah. Berterima kasihlah pada pelanggan yang menggiring dua anaknya yang berusia lima dan tiga tahun, serta seorang bayi nakal ke lantai dua. Mereka memintaku menyediakan tanah agar anak-anaknya makan dengan lahap, atau mereka mengancam akan memberi ulasan buruk di situs resmi resto.”
Sebelah alis Calvin terangkat. “Tapi, Calvin’s Table bukan playground! Mereka datang untuk makan siang, bukan untuk menitipkan anak.”
“Aku lelah, ada baiknya kau menangani mereka sendiri. Aku akan kembali ke pekerjaan—”
“Tunggu, di mana Kyla? Tumben sekali dia tidak bersamamu?”
Omong-omong soal Kyla, sejak pertengkaran Calvin dan Maisie kemarin, gadis itu tidak terlihat melayani para pelanggan di lantai dua. Ia menjadi aneh setelah mengantar Maisie ke ruang kerja Calvin, dan sepertinya Kyla tidak mengirim pesan kepada sahabatnya bahwa hari ini ia mengambil cuti setengah hari. Semua pegawai Calvin’s Table di akhir pekan diwajibkan masuk sehari penuh bila ingin mendapatkan bonus tambahan. Bukan berarti mereka tidak bisa menikmati akhir pekan untuk bersantai di rumah; me time, quality time bersama keluarga, pacar, atau teman. Mereka diperbolehkan mengajukan libur akhir pekan atau bekerja sesuai shift biasa dengan risiko tidak mendapat bonus tambahan. Stephannie tidak mengerti kenapa Kyla yang berambisi mengejar bonus tambahan dan mengumpulkan uang untuk membeli flat baru merelakan kesempatan ini demi korban insiden limun.
Tak sabar menunggu jawaban Stephannie, Calvin pun mendengus. “Di mana Kyla?” tanyanya dengan intonasi meninggi.
Stephannie mengetukkan jari di dagu, berpura-pura berpikir. “Dia pergi dengan setelan hitam putih yang manis, menyeberangi zebra cross setengah berlari, dan naik bus menuju Trafalgar Square bersama seorang lelaki jangkung. Menurutmu, sedang apa mereka sekarang?”
“What? Dia meminta izin padamu, tetapi tidak mengabari sahabatnya?” Calvin mendelik tak percaya, merasa gelisah tanpa sebab. “Apa kau tahu siapa lelaki jangkung ini? Apa Kyla memiliki seorang kekasih yang dia sembunyikan dariku?”
“Of course, i know,” sahut Maisie enteng. Sedetik kemudian, keningnya berkerut dalam, seolah dapat membaca isi kepala Calvin. “Aku akan memberitahumu dengan siapa dia pergi, asal kau berjanji tidak menyusul mereka karena keegosian pribadimu.”
“Egois apa—baiklah, baiklah, aku berjanji. Demi nama Calvin’s Table yang bisa bangkrut kalau aku melakukannya—”
“—bersama Haru Tanaka, teman barunya. Sudah cukup bukan? Jadi, menyingkir dan jangan halangi aku, Bos.”
To be continued