Malam ini ada pesta ulang tahun sahabatnya Ava. Tadinya aku tak ingin repot - repot datang tapi batal gara - gara Ava merengek agar aku menemaninya datang ke pesta sahabatnya itu.
Ava tahu kalau aku tak akan pernah mampu smenolak keinginan gadis itu. Heran deh gini amat kalau soal Ava. Di bilang cinta juga tidak tapi sayang.
Aku masih berada di basecamp bersama yabg lain. Kami sedang berdiskusi untuk liburan semester besok.
"Mending ke Bali apa naik gunung aja kita ntar?" tanya Gio
"Lebih menantang kalau kita naik gunung sih"
"Repot kalau cewek - cewek pada ikut" jawab Arsa mengingat jika Ava tahu mereka akan liburan pasti ngekor.
"Ya kita ga usah bilang sama para ceweklah. Gitu aja repot Ar Ar" Leo bener - bener lupa kalau Ava sama Olive ratunya drama.
"Gi, dia lupa kalau adek lu sukanya ngekor kemanapun gue pergi"
"Yoi parah emang adek gue. Gue yang abangnya aja ga pernah - pernah di ekorin kemanapun ckckck" ucap Gio mengingat adeknya
"Yaudah ajakin aja Ava naik gunung sekalian biar itu bocah tahu gimana rasanya tracking" saran Satria
"Gak gak, gue gak mau kalau Ava harus naik gunung. Kita ke Bali aja ajak temen - temennya Ava juga" aku memutuskan Bali yang lebih aman untuk Ava.
"Ngaco lu Sat, Bokap juga gak bakalan ngasih izin kali" ucap Gio sebal karena saran Satria.
Mana mungkin aku membiarkan Ava harus naik gunung. Tidak akan pernah. Si princess tidak cocok untuk naik gunung.
"Fine. Bali juga gak apa - apa. Banyak bule disana mayanlah buat cuci mata" ucap Leo membayangkan bule - bule cantik yang pakai bikini beeeeeh seksi hahaha
"Huuuuu Leo pikirannya kotor tuh" ledek Gio
"Hati - hati lu Leo, ntar kecantol sama bule malah repot hahaha"
Sedang asyik meledek Leo tiba - tiba ponselku berbunyi. Bisa di tebakkan siapa yang menghubungi. Siapa lagi kalau bukan Ava si bawel yang gak bisa diem barang sebentar.
Ava si princess
Bang jangan lupa nanti jemput aku ya.
Arsa
Iya gak lupa kok.
Kamu lagi dimana?
Ava si princess
Aku masih di butik tante Della.
Abis itu mau ke salon.
Arsa
Jangan aneh - aneh ya gaunnya.
Rambutnya juga gak usah di potong.
Ava si princess
Gak aneh - aneh kok.
Nanti malam bang Arsa bisa lihat secara langsung.
Aku pasti cantik??
Arsa
Jadi gak sabar nunggu malam.
Ava si princess
Hahaha sabar ya Abang sebentar lagi kok.
Udah dulu ya bang, aku mau ke salon.
Bye Abang ganteng.
Arsa
Bye princess
Aku tersenyum sendiri saat berbalas pesan dengan Ava. Aku membayangkan secantik apa gadis itu nanti malam. Aku yakin dia pasti totalitas memilih gaun dan tatanan rambut yang sesuai dengan dirinya.
"Woi Ar ngapain lu senyam senyum gitu. Gila ya lu hahahaha" ledek Leo membalas ledekan mereka padanya tadi.
"Bukan gila tapi lagi ngebucinin adek gue wakakaka"
"Jadian kagak tapi berasa pacar di gandeng kesana kesini".
Puas sekali mereka meledekku. Aku hanya merotasikan mataku, sudah biasa dengan kelakuan mereka.
"Gue balik duluan" ucapku lalu melangkah ke luar basecamp.
*****
Tepat pukul 19.00 aku sudah sampai di mansion Atmaja. Aku langsung masuk ke dalam dan bertemu dengan Papa dan Mama Ava.
Aku menyalami orang tua Ava dan kami sedikit berbincang bertanya kabar dan lain - lain.
"Arsa tunggu sebentar ya, si princess masih ribut nyari sepatu katanya"ucap tuan rumah
"Iya om tidak apa - apa" jawabku sambil tersenyum
Tak lama Ava turun. Aku sempat terpaku saat melihatnya menuruni tangga. Cantik, ucapku dalam hati.
Tapi aku juga sebal melihat gaun yang dipilihnya itu begitu terbuka.
"Ava, gaun apa itu? Sejak kapan Papa ngasih izin kamu pakai gaun kekurangan bahan seperti itu hmmm" tadinya aku udah mau marah tapi sudah terwakilkan oleh Papanya.
"Cantik kok. Lagian Mama udah ngasih izin aku buat pakai gaun ini. Iya kan Ma?" tabya Ava pada Mamanya untuk memberikan kepastian pada Papanya bahwa dia sudah mendapatkan izin dari sang Mama.
"Mama kenapa kasih izin sih" tegur Tuan Atmaja
"Ih Papa jangan norak ya. Ini namanya fashion tahu. Anak gadisnya cantik kaya gini kok protes sih. Papa aneh deh"
Daripada berada disini mendengar pertengkaran orang tua Ava lebih baik aku segera pamit untuk membawa anak gadis mereka.
Aku membukakan pintu penumpang untuk Ava. Malam ini aku tidak memakai sopir. Aku sedang ingin mencoba mobil baruku dari Papa hahaha.
Malam ini aku memakai Ferari superfast terbaru yang hanya ada beberapa unit di dunia.
Aku lebih suka membawa motor dibandingkan mobil. Tapi pengecualian jika membawa Ava seperti malam ini. Aku tak mungkin tega membiarkan Ava terkena angin malam dan berakhir sakit.
"Kenapa pakai gaun terbuka seperti itu? Mau pamer sama siapa sih" tanyaku kesal sambil terus melihatnya tajam biar dia tahu kalau aku marah dia pakai gaun kekurangan bahan seperti itu. Dari banyaknya model gaun kenapa harus yang kekurangan bahan yang dia pilih.
Okay ingatkan aku agar lain kali ketika Ava ingin membeli gaun aku harus menemaninya biar gak aneh - aneh seperti sekarang ini.
"Ini itu model off shoulder bang Arsa. Lagian aku cantik pakai gaun ini" jawab Ava masih membela diri.
"Awas ya setelah pulang dari pesta kalau kamu masuk angin gara - gara gaun terbuka itu"
"Ih bang Arsa kok malah doain aku kaya gitu sih" ucapnya sambil cemberut.
"Salah sendiri pakai gaun kaya gitu. Bikin sakit mata tahu" ucapku ketus.
"Abang ngeselin ih" Ava memalingkan wajahnya ke jendela. Sepertinya pemandangan di luar lebih menarik dibandingkan menatapku.
Biarlah dia ngambek. Nanti juga baikan lagj kalau sudah sampai. Aku hanya geleng kepala melihat Ava merajuk. Lucu.
Sesampainya di gedung, aku langsung memberikan kunci mobilku pada letugas valet. Lalu memutar ke arah pintu penumpang membukakan pintu untuk princess yang sedang merajuk ini.
"Udah dong jangan ngambek terus. Harusnya Abang tau yang marah sama kamu"
"Aku gak ngambek kok cuma kesel aja sama Abang" bilangnya gak ngambek tapi mukanya masih ditekuk.
Aku menarik tangannya dan menyampirkan di lenganku.
"Aku merasa seperti tuan putri digandeng pangerannya deh haha" Ava sudah bisa tertawa sekarang. Mudah sekali moodnya berubah baik.
"Kan memang lagi digandeng pangeran"ucapku sambil tersenyum
Kami melangkah masuk menuju tempat dimana Kalya berada. Di tengah ruang pesta itu Kalya berdiri didampingi oleh kekasihnya.
"Happy birthday Kal. Cantik banget yang ulang tahun" ucap Ava
"Iya cewek paling cantik deh malam ini. Ava aja kalah cantik sama lu malam ini Kal wakakaka" ucap Olive menggoda Ava sedangkan yang di goda malah membalasnya.
"Gak apa - apa kan malam ini Kalya ratunya pesta. Daripada lu sok cantik mulu depan bang Gio tapi ga di notice - notice hahaha" puas sekali Ava bisa menbalas godaan Olive.
"Hahaha sabar aja Liv, batu aja bisa retak lama - lama kena air apalagi ini hati bisalah" ucap Renata memberi semangat.
"Kayaknya emang cuma Renata deh temen gue" ucap Olive mulai drama lagi.
Acarapun dimulai dengan menyanyikan lagu ulang tahun dan dilanjutkan Kalya tiup lilin. Kemudian potong kue, dimana potongan pertama diberikan untuk kekasihnya.
Aku melihat gadis di sampingku.
"Pengen di cium juga" ucapku pada Ava dan dia langsung merah gitu pipinya. Hahaha mudah sekali menggodanya.
"Mau kalau Abang yang cium" godanya sambil mengedipkan mata padaku.
"Nakal" ku tarik pelan hitungnya.
"Mau dansa?" ajaknya pada Ava sambil mengulurkan tanganku.
"Tentu" jawabnya membalas uluran tanganku.
Aku dan Ava berdansa mengikuti alunan musik yanv menenangkan ini. Tanganku melingkar di pinggang Ava, aku tidak rela mata - mata lelaki lain menikmati tubuh gadis dalam pelukanku ini.
Setelah acara dansa usai, aku dan Ava duduk di meja yang sudah ada teman - temanku berkumpul disana.
"Ava makin cantik aja kamu" ucap Leo sambil terus memperhatikan Ava.
"Hmmm" aku sengaja batuk agar Leo sadar atas peringatan yang ku berikan.
"Pawangnya ngamuk tuh"
"Santai aja kali Ar, gue cuma lihatin doang lho"
"Ava bukan barang jadi ga perlu diliat - liat" ucapku ketus.
"Serah lu dah"
Aku masih kesal pada Leo tapi Ava yang duduk disampingku malah tertawa cekikikan melihatku berdebat dengan Leo.
Tidak ingin Ava menjadi menjadi pusat perhatian aku melepaskan jas milikku dan mengenakannya pada bahu Ava. Awalnya dia kaget dengan apa yang kulakukan taoi kemudian malah senyum senyum.
"Lain kali aku gak mau liat kamu pakai gaun kaya gini lagi" peringatku pada Ava
"Iya iya gak lagi" jawabnya masih dengan senyumnya yang belum luntur itu.