Hari ini kami belajar sama bang Arsa lagi tapi kali ini bukan belajar kimia lagi. Pelajaran yang sangat amat ku benci. Karena ini lebih susah daripada kimia. Yapp fisika dan besok matematika. Gimana gak mau mati tuh.
Berhubung bang Arsa belum datang, kami berniat tidur siang dulu tapi sekali lagi niat hanya akan menjadi niat jika melihat apa yang terjadi sekarang.
Kami malah menonton drama barunya Opa kesayangan kami, mayankan nonton yang bening - bening dulu sebelum badai melanda. Fisika is badai hahahaha.
"Gila ya si Opa abis wamil bukannya iteman ini malah nambah gantengnya" puji Kalya saat melihat Opa comeback setelah melaksanakan wamil alias wajib militer.
"Makin kebentuk aja itu otot - ototnya" ujarku melihat Opa yang sekarang sangat berotot.
"Nikmat mana yang kau dustakan"
"Hahahaha" kami tertawa mendengar ucapan Oliv.
Terlalu asyik menonton membuat kami lupa jika kami siang ini ada janji belajar bersama bang Arsa. Mungkin bang Arsa masih latihan basket makanya ga datang - datang. Laki - laki itu kalau sudah bermain basket atau balapan pasti lupa segalanya.
Mataku lama - lama terasa berat dan rasanya aku sangat mengantuk. Akhirnya aku tertidur.
Aku tak tahu berapa lama aku terlelap. Saat bangun ternyata udah sore. Lebih tepatnya pukul 16.00 WIB.
Setelah bangun aku berdiam sebentar guna mengumpulkan seluruh nyawaku, rasanya nyawaku masih di awang - awang.
Sore itu kami baru memulai belajar, memang telat sih tapi tidak apa - apa daripada tidak belajar sama sekali.
"Bang kita belajar semua bab semester dua apa yang susah aja nih?" tanya Renara
"Yang gampang aja dulu biar kalian ga langsung pusing" jawab bang Arsa seraya membuka bab paling akhir yang isinya tulisan saja dan tidak ada rumus sama sekali
"Okay deh" kamipun mulai mendengarkan penjelasan bang Arsa sampai bener bener paham dan jika masih tidak paham maka kami akan bertanya.
"Materi pembahasan pertama kita adalah tentang global warning. Apa yang kalian tahu tentang global warning?" tanya bang Arsa pada kami satu per satu.
"Ava?" dia menunjukku dan membuat otakku berpikir keras padahal baru mulai.
"Pemanasan global karena adanya peningkatan suhu di atas rata - rata" jawabku sambil mengingat - ingat materi bab ini.
"Kalya?"
"efek rumah kaca" jawab Kalya singkat dan padat.
"Oliv?"
"Global warning adalah krisis iklim"
"Renata?"
"Dampak dari efek rumah kaca sih setahuku"
"Okay sekarang abang jelasin kalian dengerin. Jadi global warning atau biasa disebut juga pemanasan global itu merupakan proses peningkatan suhu rata - rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Nah global warning ini juga merupakan efek dampak dari rumah kaca.
Kemudian berlanjut ke efek rumah kaca. Bang Arsa bertanya lagi pada kami apa yang menyebabkan global warning ini. kami harus menjawabnya satu persatu lagi
"Efek rumah kaca"
"Penggundulan hutan"
"Penggunaan AC yang berlebihan"
"Polusi udara karena bahan bakar"
"Meningkatnya gas rumah kaca"
"Polusi metana karena pertanian, peternakan dan perkebunan"
"Okay kalian sampai sini udah paham ya,terakhir sebelum kita ganti bab selanjutnya. Bagaimana cara mengatasi global warning?" tanya bang Arsa lagi, iya lagi. Kali ini cara mengajarnya tidak seperti kemarin dan ini benar - benar membuat otak berpikir. Kalau tidak tahu menjawab dikira bodoh padahal kalau dipikir - pikir tidak sebodoh itu juga.
"Menurut buku yang aku baca Thomas Crowther (ahli ekologi) mengatakan bahwa menanam pohon adalah solusi termudah dan cara terefektif untuk mengatasi pemanasan global" jawabku sambil membaca buku.
"Menghemat listrik yaitu debgan mematikan lampu kalau udah tidak diperlukan lagi" jawab Renata.
"Mengurangi penggunaan kendaraan umum agar tidak banyak polusi udara" jawab Kalya
"Menggunakan produk yang ramah lingkungan seperti tidak menggunakan AC hehehe" jawab Olive dan itu adalah jawaban paling menyebalkan. Tidak menggunakan Ac katanya ckckck. Dia saja suka kepanasan kalau Ac tidak menyala, ini sok ga pake Ac.
"Abis ini lu ga pake Ac ya Liv. Awas kalau Ac di kamar lu ga di copot" ancam Renata. Sedabgkan kami yang lain malah menertawakan Olive yang menekuk wajahnya hahahaha.
"Kita ganti bab selanjutnya ya. Coba kalian buka bab alat optik" pinta bang Arsa.
"Ih ga suka gue bab mata kaya gini. Susah gagal paham mulu" keluh Olive
"Iya ribet rumusnya bang terus ya suka kebalik gitu. Harusnya pake rumus A eh malah pake rumus B kita ahahaha" ucao Kalya mengingat saat mereka dulu mengerjakan soal bab ini dan salah memakai rumusnya.
"Nyerah gue kalau bab mata mah" Renatapun memilih angkat tangan.
"Aku juga" Aku bukannya ikut - ikutan tapi ini beneran susah banget.
"Apaan deh kalian ini belum juga belajar udah nyerah aja. Kaya gini yang mau ikutan liburan ke Bali?" ledek bang Arsa.
"Liburan ya tinggal liburan kali bang" jawab Kalya.
"Ga enak aja. Kalau nilai kalian sampai remed kalian berempat ga boleh ikut ke Bali. Liburan sendiri aja kalian" jawab bang Arsa menyebelkan sekali.
"Ih ga mau ya. Pokoknya kita ikut liburan. Ga mau tahu. Titik" ucapku final dan tidak mau di debat sama sekali. Udah titik ya jadi fix ga boleh di jawab lagi.
"Makanya ayo semangat belajarnya biar besok kalian bisa lancar ngerjain soal ujiannya"
"Yaudah ayo lanjut lagi belajarnya"
"Apa yang kalian tahu tentang alat optik?
"Mata"
"Lensa"
"Kaca mata"
"Kamera"
"Okay bener semua kok. Itu kalian tahu, kenaoa tadi udah pada nyerah"
"Ya kalau kaya gini masih tau bang ntar kalau udah pakai rumus nih kepala rasanya mau pecah" ucap Olive membuat kami tertawa.
"Abang ga akan jelasin tentang mata karena kalian udah pada tahu kegunaan mata untuk apa. Disini Abang akan lebih banyak jelasin ke alat optik buatan seperti yang kalian sebutkan tadi ada kaca mata, lensa, kamera, lup, mikropkop dan periskop"
Kaca mata berfungsi dengan cara mengatur bayangan agar jatuh tepat di retina, dengan cara menjauhkan titik jatuh bayangan pada penderita rabun jauh dan mendekatkan titik jatuh bayangan pada penderita rabun dekat.
Nah disini daya lensa dirumuskan dengan:
P=1/f
Keterangan:
P = kekuatan atau daya lensa (dioptri)
f = jarak fokus lensa (meter)
Selanjutnya kamera berfungsi dengan cara mengatur cahaya masuk difokuskan oleh lensa dan kemudian ditangkap oleh retina yang merupakan film pada kamera. Rumus untuk mencari titik fokus pada lensa kamera sama seperti lensa kaca mata.
Lup
Ada 2 cara dalam menggunakan lup, yaitu dengan mata berakomodasi (benda diletakkan diantara f dan o atau jarak benda (So) selalu lebih kecil dari pada jarak titik api (f)) dan dengan mata tak berakomodasi (benda diletakkan tepat di titik api (f) atau jarak benda (So) sama dengan jarak titik api lup (f)).
Untuk perbesaran bayangan pada lup mata berakomodasi maksimum dapat dituliskan dengan rumus seperti ini:
M= Sn/S=Sn/f+1
Keterangan:
M = perbesaran bayangan (kali)
f = jarak fokus lup (meter)
sn = jarak baca normal (25 cm)
Sedangkan untuk perbesaran bayangan pada lup mata tak berakomodasi maksimum dapat dituliskan dengan rumus seperti ini:
M= Sn/S = Sn/f+1
Keterangan:
M = perbesaran bayangan (kali)
f = jarak fokus lup (meter)
sn = jarak baca normal (25 cm)
Mikroskop
Mikroskop terdiri dari 2 lensa. Lensa pertama dinamakan lensa obyektif yang diletakkan sekat dengan benda yang akan diamati. Sedangkan lensa kedua yang diletakkan dekat dengan mata pengamat dinamakan lensa okuler. Lensa okuler bertindak sebagai lup.
L = s’ob + sok
Keterangan:
L = panjang mikrokop (meter)
s’ob = jarak bayangan lensa objektif
sok = jarak benda lensa okuler
Perbesaran lensa obyektif merupakan perbesaran lensa positif:
Mob = h'ob/hob = | -s'ob/sob |
Keterangan:
Mob = perbesaran lensa objektif
s’ob = jarak bayangan bagi lensa objektif
sob = jarak benda bagi lensa objektif
h’ob = tinggi bayangan
hob = tinggi benda
Mata berakomodasi maksimum:
Mok = sn/fok+1
Keterangan:
sn = jarak titik dekat mata normal
fok = jarak fokus lensa okuler
Perbesaran total mikroskop:
Mtot = Mob x Mok
Keterangan:
M = perbesaran total mikroskop
mob = perbesaran lensa objektif
mok = perbesaran lensa okuler
Periskop merupakan teropong pada kapal selam yang digunakan untuk mengamati benda-benda di permukaan laut.
"Sampai disini udah paham atau ada yang belum paham? Tanya sekarang daripada besok nyesel karena ga bisa jawab" ucao bang Arsa enteng sekali. Dia tidak tau apa kami dari tadi pusing dengerin penjelasannya yang panjang kali lebar ga ada titiknya.
"Paham ga paham bang. Udah kita nyerah pokoknya. Pusing"
"Kalian coba kerjain latihan soal ini dulu. Sekarang kalian masih boleh liat rumus di buku tapi besok saat ujian tentu saja tidak bisa. Hafalkan saja rumus - rumusnya kalian tidak akan rugi juga"
"Abang mah enak ngomong kaya gitu karena abang pinter, lah kita apa kabar"
"Kalian harus percaya usaha kalian tidak akan menghianati hasil ujian kalian. Jadi jangan belajar setengah hati kaya gini"
"Iya bang iya"
Akhirnya kami menyerah berdebat dengan bang Arsa yang tidak ada abisnya kalau diladeni terus. Pelajaran ini benar - benar menguras otakku, dan kini malah harus uji coba mengerjakan soal yang susahnya setengah mati.