***
Dante baru selesai mandi menetralkan imajinya saat mengganti pakaian Adel. naluri sebagai pria tergoyahkan membayangkannya saja suhu tubuhnya kembali panas. desir-desir mulai kembali menggetik mengingat momen itu.
Adelia menunda tidurnya hendak kekamar mandi tapi langkah tertatih menahan perih lukanya. meminta bantuan Dante sangat tidak etis rasanya. terus saja dia berusaha berdiri kemudian diurung kembali.
"eemmm Dante...."
panggil Adelia malu-malu menahan kantung kemih telah penuh meminta dikeluarkan
"hhhmmm"
"Dante..."
"apa?" menghendus kasar nafasnya
"bantu aku berdiri mau kekamar mandi"
saat tangan Dante menjadi tumpuan Adel hampir saja tergelincir luka dilututnya sangat mengganggu pergerakannya.
Dante refleks meletakkan satu tangan dibahu dan tangan lainnya dibawah paha tubuh Adel terangkat tepat tersandar didada bidang pria bermanik biru.
"aawww"
"Diam!!"
Dante menurunkan Adel mendudukan dipinggir bathup.
"keluar" perintah Adel
"hhmm, panggil kalau sudah selesai"
pipi Adelia memerah maksimal menahan malu. bajunya dibuka saat dia tidak sadarkan diri sekarang digendong hanya untuk kekamar mandi. Adelia memijat dahinya berulang kali.
"Adel" Dante mengetuk pintu sudah dua puluh menit gadis didalam
"Adel!!!" ketukan lebih keras
"iya___ iya sudah selesai kok"
"ketiduran disini?"
"seenaknya biasa perempuan memang lama dikamar mandi"
Dante kembali membawa Adel keranjang mendudukan ditepi.
"terima kasih"
"hhmmm"
Dante melirik ponselnya mengetik pesan pada seseorang mengabarkan tidak masuk kuliah. gak mungkin dia tinggalkan Adelia dengan kondisi seperti sendirian.
kecanggungan tergambar jelas dalam kamar ini, Dante lalu duduk di sofa memandang kota dari ketinggian hujan masih belum berenti kabut-kabut menyelimuti kota.
Segelas kopi diseduhnya menghangat setelah berhujan-hujanan. tak terasa waktu makan siang tiba.
Dante memeriksa isi lemari es mencari sesuatu untuk diolah sebagai makan siang mereka. ternyata hanya ada telur dan tomat juga beberapa lembar roti gandum dimeja. dirinya sangat jarang memasak.
"Adelia apa kau keberatan makan siang hanya dengan roti dan telur?"
teriak Dante
"apapun itu bukan masalah, bantu aku kedapur agar bisa memasak"
Dante langsung menggendong Adel menaruh dikursi.
"biar aku saja"
"kau bisa?" selidik Adel
"kau meremehkanku"
"tidak!!" Adel mencibik bibirnya
"oke chef Adelia duduklah disana akan kubuatkan sesuatu"
Kepercayaan diri Dante meningkat setelah secara tidak langsung mendapat tanggapan remeh.
Dante mulai memecahkan telur kemangkuk menuangkan sedikit garam. lalu mencincang bawang mengiris tomat. kemudian mengambil selembar roti menekan dengan sendok membentuk lekukan ditengahnya dituang telur perlahan kemudian menaburkan bawang dan tomat serta potongan kecil keju memberi sedikit taburan parsley.
diulang proses sama pada tiga lembar roti lainnya dan memasukan ke oven.
"Done"
"semoga saja itu bisa dimakan" seru Adel
"memangnya saat ini apa yang bisa kau perbuat dengan kaki pincang itu?" cibir Dante
"memesan makan dari aplikasi online"
jawab adel tak mau kalah tiba-tiba ponsel Adel berdering, melihat nama yang tertera dipanggilan masuk Adel meletakkan kembali ponselnya.
panggilan itu berulang sampai 20 kali.
akhirnya sebuah pesan masuk.
prak!!!
ponsel Adel dibanting kemeja. Dante yang baru mengeluarkan roti dari oven terkaget.
"makanlah marah butuh energi"
Dante menyodorkan sepotong roti dan segelas orange juice kehadapan Adel
"lumayan untuk seorang amatiran"
"siapa amatiran!!" protes Dante
"tuan muda Dante Alexander"
"ya___ya" Dante menggeleng
Selesai makan Dante membereskan piring dan gelas yang nanti akan dibersihkan oleh pelayan.
***
ting!! ting!!
Beib angkat telpon
Beib dimana?
Adel!!!
dibaca tapi gak dibalas!!!
kamu dimana sekarang?
kamu bolos?
30 menit kemudian....
ting! ting!
kata viona kamu belum ke restoran siang ini, kamu dimana?
Adelia jangan main-main!!!
aku obrak abrik resto kalau kamu gak angkat telpon sekarang!!!
Eldrian memukul stir berkali kali menumpahkan kekesalannya.
Kring...
"ada apa El? jawab malas Adel
"dimana!!"
"aku dirumah kurang enak badan"
"aku kesana!!"
"jangan Daddy ada dirumah"
"aku pacar kamu!!"
"Daddy gak tau aku punya pacar, udah aku mau istirahat"
"Adel tung___"
panggilan terputus
"s**t!!! Bre****k!!! bisa-bisanya Adelia gak bilang sama orang tuanya kami berpacaran selama 2 tahun lebih"
Eldrian kembali menghubungi namun ditolak lalu nomor Adel tidak aktif. kesal dengan Adelia lalu El menghubungi wanita mengundang ke apartementnya. semua emosinya diluapkan dalam pergulatan panas seluruh energi terkuras namun pikirannya kepada Adelia tak terbayarkan.
***
Adelia mematikan ponselnya dengan jalan tertatih duduk disebelah Dante. airmata yang sekuat tenaga ditahan akhirnya tumpah sederas air hujan diluar.
"menangis sepuasnya mungkin bisa meredakan hatimu"
Dante menepuk nepuk pundak Adelia
setelah lelah menangis Adelia tertidur disandaran sofa. Dante merebahkan Adel agar nyaman.
"gadis ini walaupun terlihat tegar tetapi hatinya sangat rapuh"
gumam Dante iba dengan kondisi sahabatnya. kemudian Dante turun meminta koki Resto hotelnya membuatkan makan malam untuk dua orang, beberapa orang disana bingung.
"maaf tuan muda apa anda sedang menerima tamu?"
tanya koki penasaran kejadian langka tak pernah sekalipun tuan muda Alexander kedatangan tamu.
"hhhmm dia temanku"
"baik tuan muda akan saya siapkan hidangan spesial"
"buatkan sup herbal" sebelum turun secara tidak sengaja dia menyentuh Adelia demam.
"apa tamu anda sedang kurang sehat?"
koki menanyakan agar salah membuat sup nanti
"dia sedikit demam"
"oohhh saya mengerti tuan muda, setelah semua siap saya akan mengantarkan ke kamar anda"
lalu Dante menelpon Yoga memintanya membeli satu set pakaian wanita dan obat penurun panas.
makanan diantar pelayan keatas lalu diletakan dimeja makan, pelayan melihat sekilas ada seorang wanita mengenakan kemeja kebesaran tertidur di sofa. baru kali tuannya membawa wanita menginap setaunya hanya nona Adelia Wintama yang sesekali berkunjung. siapa wanita itu batinnya namun bukan menjadi urusan seorang pelayan sebuah kelancangan mengurusi masalah tuannya.
Yoga yang diperintahkan sudah kembali membawa dua kantung belanja. pandangannya pun terarahkan pada sofa. sama bingungnya dengan pelayan tadi. Dante mengikuti arah pandangan Yoga.
"Dia Adelia" tak ingin orang kepercayaan menaruh curiga dia berbuat asusila
"maaf tuan muda Alexander saya sudah lancang"
Selepas kepergian Yoga, Dante membangunkan Adel.
"Adelia" panggilnya pelan
"eehhmm" leguhan Adelia dibangunkan dari tidurnya.
"cuci mukamu kita makan malam" Dante menyentuh dahi Adel ternyata panasnya makin tinggi
"aku tak berselera makan boleh aku tidur saja Dante"
"kau harus minum obat setidaknya isi perutmu"
Dante mengambil mangkuk sup dan sendok menyuapi Adel.
"makanlah sedikit, buka mulutmu"
Adelia kikuk lalu mengambil paksa sendok dari tangan Dante.
"aku bisa makan sendiri"
"bagus habiskan"
Dante kemeja makan menyantap makanannya sesekali memastikan Adelia menghabiskan supnya.
"Dante antarkan aku pulang"
"menginap saja disini, apa kau mau tuan Wintama khawatir melihat kondisi sekarang"
Adel menggeleng cepat tertunduk ragu
"akan kukabari nyonya Sovia kau menginap di hotelku"
tanpa jawaban Adelia hanya menggangguk kepala pusing.
"berbaring dikamarku"
"apa??" Adelia kaget membayangkan pria dan wanita tidur dalam satu ranjang
"heii apa aku berpikir m***m?"
Adelia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"aku tidur disofa"
"boleh aku tidur disalah satu kamar hotel saja?" nego Adelia
"kau demam jangan bertingkah"
"sana masuk kamarku kunci bila perlu" tegas Dante
"bisa ajak salah satu pegawai wanita menemani kita disini"
"aku gak terbiasa dengan orang asing" desis malas Dante
"ak___aku___"
"aku tidak berminat dengan tubuh kurus"
"apa!!"
"sana pastikan pintunya terkunci atau aku khilaf"
"YAY!!!!"
"tidurlah simpan tenagamu agar lekas pulih"
Adelia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali lalu masuk kekamar Dante. memastikan pintu terkunci rapat mengingat dia saja saat tidak sadarkan diri ditelanjangi mengerikan...