Ketahuan Selingkuh

1369 Kata
*** Disebuah club malam Eldrian serta teman-temannya tengah menikmati kebersamaan mereka dikelilingi wanita-wanita berpakaian minim kurang bahan menutup tubuh sintal mereka. Eldrian duduk menegak beberapa gelas minuman berwarna merah wanitanya disebelah menyandar pada bahu kekar Eldrian Ternyata walaupun sudah dua berpacaran dengan Adelia kebiasaan buruk Eldrian sedikitpun tidak berubah malah semakin menjadi. Hampir setiap malam gadis yang dikencaninya dibawa pulang ke apartement demi menikmati kehangatan sesaat. Eldrian tahunya berfoya-foya dengan segala fasilitas yang dibebaskan untuknya. Hari-harinya terus berulang seperti itu. "Ikutlah denganku" Eldrian membopong salah satu wanita kemobilnya berjalan sempoyongan mengendarai mobil menuju apartement. Pagi harinya Eldrian terbangun memijat tengkuknya kepalanya terasa pusing karena banyak meneguk minuman. Melihat disebelahnya wanita tertutup selimut lantas mengguncang tubuh wanita itu. "Aahhh si*l" "Heh! Bangunlah!!" "Hehhh!!!" Sangking banyaknya wanita pernah tidur dengannya Eldrian tak pernah mengingat nama mereka. Wanita itu membuka matanya memicing silau karena sinar matahari yang masuk lewat jendela kamar. "Kau sudah bangun tampan" Suara lembut merayu "Pakai bajumu segera pergi dari sini atau kuseret" "Ok, Ok aku pergi jangan lupa transfer ke rekeningku" Wanita itu mengenakan pakaiannya lalu keluar dari apartement Eldrian *** Hari rabu pukul delapan pagi Dikampus cuaca pagi ini kurang bersahabat rintik-rintik air turun dari langit berselimutkan awan kehitaman. Terlihat Airin tengah mengobrol dengan seorang yang memakai hoddie. Tangannya terkepal menunjukkan kekesalan. Melihat mobil Eldrian lalu dia menyuruh orang itu pergi dan mendekati mobil Eldrian. "Selamat pagi, Eldrian" sapa manja Airin mengetuk kaca mobil El "Selamat pagi" Eldrian memandang gadis cantik didepan dengan rok sepan ketat dan kaus merah muda gantung memperlihatkan perut rampingnya. Jiwa mes*m mendarah daging lewat seringai tatapan. "Apa kau mau menemani minum kopi Eldrian, Tidak jauh dari sini ada kedai kopi cukup terkenal namun tidak terlalu ramai" Rayu Airin manja dibuat-buat "Oke naiklah, Aku bersedia" Airin masuk kemobil duduk disamping Eldrian. Sengaja posisi menunduk agar belahan putih semakin terbentuk dan tampak jelas menggembung mengundang perhatian. Tepat sasaran mata Eldrian kini tertuju paha sepasang paha putih bersih tanpa noda dan belahan menggembung naik turun arah matanya membuat meneguk saliva. Melupakan alasan utama ke kedai kopi. Ternyata didalam mobil lebih panas dari secangkir cappuccino. Airin yang menyadari itu berpura-pura kesulitan memasang seatbelt. Kaca mobil yang tadi terbuka belum sempat ditutup kembali. Eldrian peka gelagat gadis se*y disampingnya. Dia pun mendekat mensejajarkan hidung. Suara kecipak pertemuan daging lembut saling membelit sama kuatnya membalas satu sama lain hingga salah satunya turun menyentuh pucuk sen****f Eldrian. "Ssshhhh Aahhh" Benda tumpul setegak menara tiang mercusuar itu memenuhi mulut kecil Airin. Diwaktu yang sama Adelia melihat mobil Eldrian lalu berniat menghampirinya. Namun langkahnya terhenti saat melihat aktivitas tak biasa tenggorokan tercekat rasa panas menyelimuti seluruh dadanya. Bulir-bulir cairan hangat mengalir dari manik abu-abunya. Apa yang dilihatnya sangatlah tidak pantas dilakukan ditempat tidak memestinya, Matanya ternodai sesak sekali rasanya kedua lututnya seakan tak sanggup bergerak kakinya seolah dipaku mati. Lalu mencoba beranjak dari sana dengan sisa tenaga berlari tanpa arah terus saja berlari dalam derasnya hujan yang berlomba-lomba mencapai tanah. Namun tenaganya tak cukup kuat rasa sakit lebih dahulu menyerang seluruh raganya. Adelia terjatuh di trotoar lutut mulusnya mengalir cairan merah, Tapi rasa sakit didadanya menutupi rasa sakit luka kakinya yang kini cairan merah itu mengalir terbawa air hujan. Adelia mencoba untuk berdiri namun malah terjatuh lagi. diseberang sana Dante melihat Adelia yang dia yakin itu Adelia. apa yang terjadi dengan gadis itu, seribu pertanyaan dibenak. Tak mempedulikan derasnya hujan Dante berlari kearah Adelia. "Adelia!!" Adelia mendongak kepalanya pandangannya mulai samar "Dante" Lirih Adelia nyaris tak terdengar ditengah guyuran hujan Dante meraih tangan Adelia membantu untuk berdiri namun siapa sangka tubuh ringkih itu terkulai lemah hampir terpelanting ketanah. Seketika tubuh tak berdaya terangkat keudara kini dalam dekapan Dante. Dante berjalan cepat kembali kemobilnya meletakkan Adelia perlahan lalu mengemudikan mobilnya kencang merebos ribuan rintik air langit. *** Di lobi Axan Hotel Dante membopong Adelia seluruh pakaian mereka basah kuyup. Garret yang baru saja tiba terperanjat memegang dadanya melihat CEO mereka berlari panik dengan baju basah dan seorang gadis dalam dekapannya belum lagi sepenuhnya sadar perintah tegas kini menyentak. "Garret cepat!!" "Iya tuan muda" Gugup menyelimuti mendapat perintah itu Lalu membantu membukakan pintu lift menuju ruang pribadi tuan mudanya. Sesampai dilantai atas Dante meletakkan Adelia perlahan seperti gelas kaca yang rapuh diranjangnya. Garret yang merasa canggung menunggu di ruang tamu. "Pergilah nanti akan kupanggil jika membutuhkan bantuanmu" "Baik tuan muda" Garret segera keluar tak ingin mengetahui lebih lanjut urusan tuan mudanya Dante mengeluarkan ponsel menghubungi seseorang. "Sean datanglah ke hotel sekarang" "Apa ini sepupu kenapa mendadak sekali" "Datang sekarang atau rumah sakit dan warung kopimu berakhir hari ini" "Tenanglah sepupu tak perlu mengancamku" Tingtong Dante membuka pintu menyuruh Sean masuk lalu mengajak ke kamarnya. Sean terkegut setengah mati melihat sosok gadis terkulai diatas ranjang pria dingin yang tak lain adalah sepupunya sendiri. "Periksalah dia" "Siapa ini Dante, Kau sudah sembuh ternyata sepupu, Tunggu bukankah dia bidadari kecilku? Astaga apa yang terjadi" "Kau!!!" Dante mencengkram kerah baju Sean "Selama ini kupikir kau tidak tertarik pada wanita, Tapi mengapa harus bidadari kecilku dari sekian banyak wanita diluar sana" Rengek Sean iri sedari kecil Dante lebih unggul Adelia selalu menempel padanya. "Tutup mulutmu periksa obati lukanya" Kesal Dante "Haa, Apa yang terjadi padanya? Kau mendorong hingga terjatuh, Meninggalkan kehujanan dijalan, Atau kau___" Sean menelisik Dante dari atas ke bawah. Apa yang telah diperbuat Dante pada bidadari kecilnya. "Diam! Kau! aku tidak mes*m sepertimu" Wajah Dante memerah seketika Sean menarik selimut dari tubuh Adelia namun tangan kekar Dante menahannya. "Heii bagaimana aku memeriksa jika tertutup seperti ini, Aku seorang dokter dan dia juga sahabatku" "Tutup matamu jangan melihatnya" "Kau gila Dante, Kita bertiga sering mandi bersama dulu" "Itu sebelum kau jadi manusia mes*m" Sean kembali membuka selimut membersih luka Adelia mengoleskan krim agar tak meninggalkan bekas. sesekali memandang wajah gadis yang tergeletak itu seperti produk yang diciptakan disurga sungguh Tuhan bermurah hati membentuk ciptaannya sesempurna ini apa dia bidadari yang menjelma jadi manusia biasa. Siapa sangka Adelia kecil berwajah bulat kini menjelma menjadi peri bunga musim semi. "Jaga matamu fokus pada luka saja" "Hei! Tuhan memberiku sepasang mata yang sehat mengapa tak kugunakan dengan baik" Protes Sean menaikkan sebelah alisnya "Setelah dia bangun minumkan obat ini, tetapi aku masih penasaran, Apa kau menyukai bidadari kecil?" "Bukan urusanmu, Pergilah jika sudah selesai" "Yay!!! Oohh God jelas ini urusanku bidadari kecil sakit dan tertidur didalam kamarmu. Aku akan menunggu sampai dia sadar menjaganya darimu" "Aku yang harus mewaspadai kau" "Aku? Ini kamar siapa?" "Kamarku, Kau tamu" "Intinya aku tetap disini, Atau aku akan membawanya Ke rumah sakit biar aku yang merawatnya." "Bodoh! Keluar!" Sean akhirnya mengalah lalu pulang dan kembali ke rumah sakit.. **** Dante dengan jantung yang hampir terlepas mau tak mau harus mengganti pakaian Adelia yang basah memakaikan kemeja miliknya. Lalu membuatkan semangkuk bubur menunggu Adelia terbangun. Adelia menyadari dirinya berada ditempat asing lalu melihat pakaiannya telah terganti dan merasakan sakit pada kakinya. "Kau sudah bangun" Suara bariton tak asing ditelinga dari arah pintu "Dante... Apa yang terjadi?" "Harusnya aku yang bertanya apa yang terjadi padamu" "Aku___Aahhhh" Kakinya sulit digerakkan karena sakit "Duduklah perlahan lukamu baru diobati" Dante membawa semangkuk bubur dan air madu meletakkan dinakas. "Makanlah setelah itu minum obatmu" "Terima kasih" Adel mengambil mangkuk bubur dari tangan Dante lalu melahapnya sedikit demi sedikit "Siapa yang mengganti bajuku?" "aku" Terang Dante datar tanpa beban mulutnya berucap enteng padahal degub dadanya meronta-ronta Deg "Da___ Ke___ Kau___" Adelia sulit mengeluarkan kata dari bibirnya, Pria dewasa menggantikan bajunya artinya sesaat tadi tubuh terekspos tanpa sehelai benangpun "Sudahlah, aku tak melihatnya" "Bagaimana bisa!!!" Pekik Adelia "Aku gak tertarik badan kurus begitu" "Huhhh!!!" (Mana mungkin dia tidak melihatku sedang aku hanya terbalut kemeja miliknya, Astaga malunya... Awas saja kalau dia berbuat tidak senonoh, Ya Tuhan.... Bodohnya aku...) Adelia merutuki kebodohan mengapa sampai pingsan. "Cepat habiskan buburmu minum obat lalu istirahat lah sebentar tenangkan dirimu" Adelia bergedik ngeri membayangkan Dante yang menanggalkan seluruh pakaiannya. Lalu ingatannya kembali pada kejadian dikampus. Eldrian dan Airin berhasil membuat Adelia terkulai tak berdaya. Airmata kembali menetes sangat jelas dimatanya peristiwa itu. Dan menghentikan menyendoki bubur kemulutnya lalu meminum obatnya berbaring kembali. Diseberang sana dalam sebuah mobil yang terparkir dibalik pohon agak tertutup dari lalu lalang orang Eldrian dan Airin masih terlarut dalam panas yang tercipta setelah pelepasan gerak terbatas. Senyum terpuaskan bibir Airin saat tujuannya tercapai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN