HADIAH KECIL

1139 Kata
*** Hampir setahun Adelia dan Eldrian berpacaran keduanya mulai jarang menghabiskan waktu bersama Adelia mulai magang di sebuah restoran. Kesibukan mereka bahkan tak jarang sampai akhir pekan. Hanya komunikasi via telpon saling memberikan perhatian. Malam ini tepat setahun Eldrian menyiapkan kejutan spesial demi merayakan anniversary. Alih-alih menelpon seperti biasanya kali ini El mendatangi langsung ke Restoran menemui Adel. "Bisa saya bertemu Adelia?" tanya Eldrian pada salah satu staf pelayan yang berdiri tak jauh dari meja kasir "Ohh nona Adelia, Sebentar saya panggilkan tuan" Jawab seorang wanita muda "Permisi nona Adelia, diujung sana ada seseorang yang ingin bertemu" "Siapa?" Adelia bergumam menebak nebak tamu yang datang mencarinya. "Viona tolong bantu aku memilah ikan dan kerang-kerang ini. bagian yang itu dipotong kecil-kecil, sisanya segera masukan kelemari pendingin agar tetap segar" Pinta Adelia pada Asisten koki kedekatannya lebih atasan dan bawahan melainkan seperti sahabat. Viona adalah adik kelas Adelia saat sekolah menengah atas, meski bukan berasal dari keluarga bangsawan ayah Viona Gibson dulunya adalah seorang pengrajin tembikar terkenal yang menghasilkan pundi-pundi tidak sedikit. namun suatu hari kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju kampung halaman mereka. menyisakan Viona dan adiknya menjadi yatim piatu seluruh harta disita akibat banyaknya hutang yang entah dari mana sumber masalahnya mau tidak mau Viona menjadi tulang punggung harus bekerja keras demi menghidupi dirinya dan adik yang terkadang sakit-sakitan tinggal disebuah rumah petak kecil. Adelia membersihkan tangannya lalu keluar dari dapur menemui tamu yang mencari dirinya. didapatinya Eldrian duduk sedang menikmati secangkir espresso. Eldrian memesan secangkir Americano demi menghilangkan rasa lelahnya. "El apa kau menyukai kopinya?" "Hai baby, Aku merindukanmu" Eldrian memeluk Adelia mengusap rambut gadis bermata indah dan mengecup pucuk surainya. "Aku juga merindukanmu El" "Kopi disini ternyata cukup enak" "Benarkah, Aku senang kalau kau menyukainya, Sebentar aku ambil kudapan kecil yang baru saja kubuat" Adelia meminta pelayan mengambil Butter Cake dengan isian buah kering dan kacang kenari yang baru saja matang. "Cobalah El ini sangat cocok dengan kopimu" Adelia menyodorkan potongan cake dipiring kecil "Manis, Manis sekali seperti kamu" Adelia tersipu pujian gombalan receh kekasihnya. "Tak biasa kau datang ke restoran apa ada hal penting?" "Itu__aku gak sabaran ingin memberi tahu langsung padamu, Tentu kamu tidak lupakan hari ini?" "Tentu saja mana mungkin aku lupa, hari ini aku pulang lebih awal" "Nah itu tujuanku kesini aku mau kita merayakan anniversary kita, Aku jemput sepulang kerja nanti" "Iya El" "Kembali lah bekerja cantik sore aku menjemputmu" "Hmmmppp" *** Eldrian sudah bersiap-siap menjemput Adelia di Restoran. Adel pun sudah berganti pakaian menunggu El. Lagi-lagi kesekian kalinya El terkesima penampilan kekasihnya. Tempat makan malam mereka berada di roof top sebuah gedung, El memakaikan jasnya pada Adelia. "Aku gak mau masuk angin" Eldrian merapatkan jasnya dibahu Adel hingga tertutup semua bagian atas Adel. padahal ada alasan lain dia cemburu dengan menutupi punggung mulus Adel terlihat sexy dengan gaun malam berwarna hitam. "Baby___" Sebelum makanan terhidang El mengeluarkan kotak pipih dari kantung celananya lalu membuka meletakkan diatas meja menggeser mendekati Adel. "Cantik sekali El" "Kamu suka?" Eldrian mengambil liontin emas dengan bandul berlian berbentuk tetesan air berwarna biru memakaikan pada leher Adelia "Terima kasih El" Adelia tersenyum malu "Tentu jika kau menyukai hadiahku aku sangat senang, boleh aku meminta hadiah padamu?" "Aku tak menyiapkan hadiah apapun malam ini El, maaf, hadiah untukmu tertinggal rencana besok akan aku serahkan" "Ohhh bukan itu baby aku menginginkan hadiah spesial yang tak terlupakan darimu" Alis Adelia terangkat keatas pada lipatan dahinya. hadiah apa yang diinginkan Eldrian, hadiah tak terlupakan benda apa itu. Dimana dia bisa mendapatkan hadiah itu. Haruskah Adelia mencarinya setelah ini. Dia tak ingin kekasihnya kecewa jika benar-benar memang ada yang menjual barang seperti itu. Adelia tersenyum kaku setelah mendengar permintaan El tentang hadiah tersebut. "Berbentuk apa hadiah itu El?" "Kau akan mengetahuinya setelah kita habiskan makanan ini" "Baiklah aku penasaran seperti apa" *** Selesai makan malam Eldrian mengandeng tangan Adel masuk kemobilnya. Semerbak aroma gardenia yang menyegarkan dari tubuh Adelia seketika menyebar keseluruh bagian mobil. Kini jarak keduanya sangat dekat. Eldrian mencondongkan badannya membungkuk meraih tangan Adelia. Menarik dagu gadis itu agar lebih condong mendekat padanya Jarak antara mereka perlahan terkikis Adelia bisa merasakan hembusan nafas hangat dihidungnya, Eldrian mengecup pelan tepat pelupuk mata Adelia lalu turun kebawah menyatukan bibirnya pada bibir Adelia sejenak menikmati lembutnya bibir merona Adelia. sudah lama dia sangat ingin melakukan itu.Selama ini mereka tak pernah kontak fisik berlebihan. Keint***n ini membuat El ingin melakukan lebih lagi, deru nafas selaras detak jantungnya keheningan di dalam mobil yang terdengar kini hanya degub jantung yang berpacu. Eldrian mulai membuka mulut Adelia dengan dorongan lidahnya, namun Adelia kaget tidak merespon pergerakan Eldrian terus mencicipi kelembutan bibir Adelia. mengabsen setiap gigi putih dan akhirnya Adelia mulai mengikuti arahan yang dikendalikan Eldrian keduanya saling memagut mengigit bertukar saliva. Tangan El yang tadinya didagu Adel berpindah pada tengkuk Adel menarik lebih rapat lagi, Adelia yang pertama kali kewalahan mengikuti Eldrian tak memberi jeda berkali-kali mencoba mengambil nafas. semakin lama semakin panas Adelia mulai kesusahan menghirup oksigen.saat tangannya El yang lainnya mulai meraba menyentuh d**a Adelia menurunkan kain yang kain membungkus bongkahan putih meremas memutar jemarinya disana hingga Adelia melenguh tertahan spontan mendorong lalu sekuat tenaga melepaskan tautan yang sudah basah. "Maaf Eldrian aku tak mau kita terlalu jauh" Eldrian menyeka sudut bibir Adelia yang basah akibat pertukaran saliva dengan ibu jarinya. Eldrian yang terbiasa berhubungan in**m dengan wanita merasa kecewa Adel menghentikannya. nafasnya terengah-engah rasa panas menjalar seperti aliran listrik. Namun dia tahu persis ini adalah yang pertama kali bagi Adelia dia harus lakukan secara bertahap. Eeehhmmppp... "Terima kasih hadiah kecilnya I love You" El mengecup pucuk surai Adelia. Kemudian El memasangkan seatbelt Adel lalu dirinya. Adelia selepas aktivitas tadi jantungnya masih belum tenang bahkan rona wajahnya pun semakin memerah. El melirik sekilas tersenyum tipis melihat ekspresi malu-malu pada wajah kekasihnya. Sejujurnya reaksi tubuh Eldrian sudah sangat siap untuk berolah raga dalam arti lain terbukti kini bagian bawahnya mulai sempit semakin tak nyaman. "Bisa kita pulang sekarang" Adelia memecah kecanggungan nafasnya perlahan kembali teratur. "Ya kita pulang" Eldrian menghidupkan mesin mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang sesekali melirik Adelia. hormon panasnya belum turun pendingin udara didalam mobil sudah maksimal. dia mengendurkan dasi pengikat leher membuka dua kancing teratas kemejanya. "Adelia" "Ya.." Adelia menoleh kiri pada Eldrian yang tengah menyetir. "Aku mencintaimu" Eldrian menarik jemari Adelia menautkan dengan jemari. kecilnya tangan Adelia tenggelam didalam telapak tangan lebarnya dan meletakkan dipaha kanannya. Adelia melepaskan tautan jemari mereka. "Ini berbahaya kau sedang mengemudi" "Besok aku akan menjemputmu" Adelia hanya mengangguk mobil yang dikendarai Eldrian sampai di gerbang puri. Eldrian turun mengitari mobil membukakan pintu mengulurkan lengan pada Adelia. "Aku harus berpamitan pada orangtuamu" "Tidak mengapa, mungkin mereka sudah tidur" Adelia masih enggan mengenalkan Eldrian sebagai pacarnya pada orang tuanya. nyonya Sovia pernah sekali memperingati Adelia agar tidak dulu berhubungan dengan pria manapun sebelum kuliah selesai. Bagi tuan Wintama bukan tidak mengetahui hubungan anaknya dengan pria itu. namun dia memberi ruang privasi pada anaknya. dia selalu mengawasi setiap pergerakan anak kesayangannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN