PACAR POSESIF

949 Kata
*** Sehari setelah kencan romantis Adelia setiap pagi menerima bunga dari Eldrian. Berbagai jenis bunga dikirimkan padanya. berbagai jenis karangan bunga dibawakan Eldrian. Adelia sampai salah tingkah mendapatkan perhatian yang luar biasa. Siapa sangka pria yang kaku sebelumnya kini menjadi sangat romantis. Pantas saja gadis-gadis dikampus menaruh rasa iri yang cukup tinggi pada calon koki cantik bermata indah itu. Dari kejauhan sepasang sorot mata dari gadis yang lumayan cantik jalan mendekati Adelia "Kau kira kampus ini taman bunga, Dasar norak" Mencibir sinis menoleh buket mawar merah muda didekapan Adelia. "Apa itu mengganggu atau merepotkanmu Airin?" "Hanya bunga mengapa aku harus merasa terganggu, sejak kapan kau mulai mengolah bunga-bunga itu. apa koki sepertimu mulai kehabisan ide mengolah masakan" Cicih Airin yang jengah dia yang lebih dulu berbagi ranjang dengan Eldrian mengapa tak sekalipun mendapatkan perlakuan manis dan romantis. "Ide bagus, Airin apa kau mau mencoba setelah aku masak bunga-bunga ini?" "Kau saja yang memakannya nona Adelia genit" Kesal Airin Adelia tertawa kecil. Gadis itu berubah membenci Adelia semenjak mengetahui Eldrian terang-terangan mengumumkannya sebagai pacar. "Permisi Airin aku hal mendesak yang harus aku selesaikan" "Heh!! aku kan tidak menghalangi jalanmu Adelia..." "Hah! Gadis bre****k, apa kau menyerahkan tubuhmu itu membuat Eldrian bertekuk lutut bahkan tubuhku jauh lebih menggoda" "Aku tidak memakai tubuhku demi memikat pria" "Kau pikir Eldrian serigala ompong tak tergiur dengan daging segar" "Aku bisa memasak daging lezat mengapa memberinya makan daging mentah" Jawaban Adelia ternyata cukup ampuh menghentikan perdebatan mereka. Airin semakin jengah dan jengkel dibenaknya mulai memikirkan seribu cara menyingkirkan gadis tak tahu malu dari Eldrian. tak rela jika Eldrian lebih memihak pada gadis itu. Sementara dia mulai diabaikan posisinya tergeser karena keberadaan Adelia. Dulu mati-matian menolak Eldrian sekarang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi manis membuat seisi kampus menjadikan mereka pasangan paling serasi. *** Ting! "Baby aku didepan" "Ya, Aku sebentar lagi selesai Eldrian" Kehadiran Eldrian didepan ruang fakultas Adelia menjadi sorotan mahasiswa dan mahasiswi disana mereka bergedik saat bersitatap dengan pria arogan tersebut. Adelia menghampiri Eldrian yang berdiri tepay di depan pintu menghalangi orang keluar masuk. "Ayo kekantin" Eldrian melingkarlan tangannya dibahu Adelia Adelia mencoba melepaskan rangkulan kekasihnya itu namun diurungkan karena Eldrian mempereratnya. "Kamu malu?" bisik Eldrian "Ini sedikit berlebihan El" Adelia risih mata semua orang menatap mereka dengan berbagai ekspresi "Kau pacarku kenapa harus malu, aku tampan dan kaya, pintar dalam segala hal terutama___" Eldrian membisik ditelinga Adelia tanpa melanjutkan kalimatnya. "Simpan pujian untuk dirimu sendiri" Adelia menepis tangan Eldrian dari bahu yang terbungkus kemeja kuning gading. "Aku tak peduli!!" terus mempererat tangannya dibahu Adelia. Dikantin Berkali-kali Eldrian memasang sorot tajam bukan hanya pada pria tapi juga wanita yang melihat pada dirinya dan Adelia. itu membuat Adelia kurang nyaman. "Cepat habiskan makananmu beib sebelum aku patahkan tangan mereka" "Kamu yang ngajak aku makan disini sekarang ingin mematahkan tangan mereka" "Aku tidak suka! mereka melihatmu!!" "Aku sebesar ini mana mungkin mereka tak melihatku Eldrian" Adelia terkikik kecil alhasil Eldrian semakin jengkel. "Bisakah kau percepat makanmu!!" Eldrian berdiri menutupi Adelia yang sedang makan dengan tubuh tingginya, bahkan makanan miliknya hanya disentuh beberapa suapan. Adelia hanya menggeleng pelan. *** Di danau belakang kampus Dante duduk seorang diri dengan buku ditangannya. Sejak Adelia dan Eldrian berpacaran mereka jarang bersama. "Dante..... " teriak Adelia mengayunkan tangan keudara Dante berbalik mencari sumber suara, mendapati Adelia berjalan kearahnya. "Hmm Adelia" Adelia duduk disebelahnya mencoret-coret kertas bertumpuk dipangkuannya. "Apa itu resep terbarumu?" tanya Dante melihat buku yang pegang Adelia "Yupp aku menuliskan beberapa resep hari akhir pekan aku mencoba membuatnya, mungkin kau bisa mencicipinya nanti" "Hmm, aku tak keberatan sama sekali" "Aku akan mengabarimu nanti kau bisa datang kerumah" "hmm," "Apa luka itu baru kau dapatkan?" Dante melihat ada darah mengering diujung dari Adelia. "Ini tergores duri mawar aku kurang berhati-hati, sudah lupakan tidak sakit" "Baiknya dibersihkan" Dante meraih tangan adelia membahasi sapu tangannya dengan air botol mineral. "Mungkin akan sedikit perih" "Aawwww__" Dante meniup pelan pada luka dijari telunjuk Adelia. Dari kejauhan Eldrian melihat kekasihnya duduk bersama Dante. "Baby, kekasih yang cantik apa dia mengganggumu?" Tunjuk Eldrian pada Dante Dante seketika berdiri. "Adelia segera obati lukamu" titah dingin Dante "Luka,, luka apa hei mengapa kau tidak memberitahu kau terluka baby" tanya Eldrian panik "Hanya luka kecil El sudah jangan dipermasalahkan" mengangkat jarinya "Dante mau kemana?" tanya Adelia pada Dante "Ada keperluan penting" "Demi apa cantik, bisakah kau usah menanyakan kemana dia mau pergi!! Itu urusannya mau kemanapun kau pacarku harusnya memperhatikan aku bukan dia" "Apa salahnya Eldrian?" "Salah!" "Jelaskan aku hanya bertanya tanpa maksud lain" "Aku tidak suka!!" Eldrian mempertegas ucapannya. "Aku permisi adelia" pamit Dante tak ingin berada ditengah sepasang kekasih yang saling adu mulut. "Pergi saja tidak perlu berlama-lama" cicih Eldrian "Aku tak berminat berlama disini kasihan nanti angsa-angsa itu jadi korban sasaranmu" "kau___" Dante sudah menjauh dari Adelia dan Eldrian. "Adelia bisa kau katakan pada sahabatmu itu untuk sedikit rileks jangan kaku begitu, Mungkin dengan dia melunak gadis-gadis akan mendekatinya. dengan itu dia takkan lagi menempel padamu dan mengganggu kita" "Dia tidak mengganggu kau yang datang kesini" "Heh! Jadi kau menuduhku?" "Sudah Eldrian aku tak bermasud begitu" "Heh! Apa itu barusan!" "Kenapa tidak kau saja yang mengatakan pada Dante" "Aku tak berbicara pada balok es" Ketus Eldrian "Aku pun pernah berbicara pada balok es didapurku" "Kalau kau sebut Dante balok es, Kau Batu!" Imbuh Adelia memancing kekesalan Eldrian "Hei...Apa batu setampan aku, Seenaknya menyamakan pacarmu dengan batu. Mana bisa batu menciummu" "Kau menyebalkan El" "Mana lukamu kenapa balok es itu lebih tahu dari aku, Beraninya menyentuh jemarimu" "Luka kecil El tergores duri mawar" "Mawar dariku tadi pagi?" "Heempp" Adelia anggukan kepalanya "Mulai besok aku pastikan semua mawar yang sampai ditanganmu tidak ada durinya, atau kebun mereka aku ratakan tak bersisa" *** Mawar mana yang tidak ada durinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN