Malam Sebelumnya (Pov Eldrian)

1033 Kata
Malam itu langit bertabur bintang sedikit angin bertiup pelan di sebuah rumah mewah beraksitektur klasik Eldrian mondar mandir dalam kamarnya. Tak henti melihat ke layar ponsel yang tak berdering, sekali2 mengusap keras rambut gondrongnya. Pria berkulit kecoklatan itu uring-uringan sejak pagi tadi. Semakin hari semakin sulit mengontrol perasaan pada gadis yang pernah terang-terangan menolak cintanya. Akhirnya matanya menatap ponsel mencari nama seseorang menekan tombol hijau. **** Diseberang sana sebuah club malam hingar bingar musik bersautan lenggak lenggok larut suasana aroma alkohol dan asap rokok sangat kental. "Hai boss...!!" Jawab malas seorang laki-laki "Dimana? Ketemu ditempat biasa dua puluh menit lagi" Jawab Eldrian lalu memutus sambung telpon segera berganti baju dan meraih kunci mobil menuruni anak tangga sedikit berlari "Buka" Penjaga bergegas membuka pintu gerbang tanpa perintah dua kali Eldrian mengemudikan mobilnya kencang menuju sebuah club malam tempat biasa dia bersantai menghilangkan penat bersama teman-temannya. "Nah itu dia" Berkata pria kurus yang melihat kearah Eldrian Dua teman yang lainpun ikut menoleh. Eldrian menghempaskan dirinya di sofa panjang lalu mengusap wajahnya Berkali-kali. "Kenapa boss berantakan sekali?" Tanya Dion pria berkaca mata "Arrggghh pusing gimana caranya nembak Adelia" Gumam Eldrian "Hahahaa..." Dion, Rafa dan Sandy serempak tertawa "Seorang Eldrian Wijaya galau karena seorang gadis" Ejek Sandi "Apa masih kurang boss jalang-jalang se*y yang bisa memuaskanmu sampai mati-matian mengejar nona Adelia, Memang sih gadis itu menawan memiliki daya magnet tersendiri, oohh lebih tepatnya menggair**kan" Timpal Dion sambil menjilat ujung bibirnya. "F**k!!! jaga ucapanmu" Maki Eldrian menarik kerah baju Dion "Eeeiiiittsss santai boss" Sandy melerai "Sekali lagi aku dengar kau membayangkan Adelia kupastikan kau impoten seumur hidup" Eldrian melirik sinis pada bagian bawah sensitif Dion. Jleb Dion langsung menangkup kedua telapak tangan menutupi "Adiknya" "Adelia berbeda dengan mereka" tunjuk Eldrian pada gadis-gadis yang sedang bergojet mengikuti dentuman musik Setiap Eldrian bertemu tatap melihat jauh kedalam mata indah Adelia timbul rasa menggelitik yang lama kelamaan terasa menghangatkan. "Sepertinya Boss kita sudah jatuh cinta pada nona muda" Tebak Sandy "Jomblo tau apa soal cinta" Ejek Eldrian diiringi tawa teman-temannya "Boss pakai cara romantis" Rafael mencoba memberi masukan "Maksudnya?" "Wanita itu bakal luluh diberikan kejutan.perhatian, dirayu kata-kata romantis, diperlakukan lemah lembut trus ajak makan kasi bunga mungkin..." Rafa menjelaskan lagi "Halah Klasik banget!!" Eldrian mengibaskan tangannya keudara tanda tak setuju. "Justru cara klasik itu bikin cewek klepek-klepek, Secara kamu lihat Adelia cewek polos pasti masih bersegel" Dion menaikkan satu alisnya "Bre****k!!!" Eldrian mengambil botol diarahkan kepala Dion "Sor__sorry gak usah emosian gitu" Suasana tegang antara keempat didalam ruangan itu. Huft Niat mencari solusi malah memperunyam pikiran Eldrian d**a bidangnya naik turun akibat kepancing mulut m***m sahabatnya "Tapi seriusan kau yakin cara itu?" Tanya Eldrian yang ragu dengan saran Rafael "Yahhh dicoba saja, Adelia langsung klepek-klepek" "Kalau ditolak kalian semua siap ditelanjangin jalan keliling kampus" ancam Eldrian "Haaa!!!!" Rafael, Dion dan Sandy memekik serempak bergedik ngeri membayangkan bila itu terjadi. Tak ada yang berani berurusan dengan Eldrian sama saja cari mati. Eldrian diam berpikir sejenak lalu tiba-tiba langsung pergi meninggalkan teman-temannya. dan memberi perintah intimidasi pada salah satu body guard "Pastikan mereka bertiga tidak lari besok pagi" Boma sang body guard mengangguk cepat lalu melangkah dibelakang Eldrian "Woiii!!!" Pekik protes Dion , Sandy dan Rafael serentak Eldrian melongos melambaikan tangan pada mereka. Dimobil mulai mencari referensi cafe dan memesan bunga, menyusun rencana dengan matang agar sempurna untuk besok siang. Jantung berdetak kencang saat membayangkan Adelia, semua wanita yang pernah dekat mereka hanya dijadikan mainan semata-mata penghangat ranjang oleh Eldrian. Tentunya hal itu dilakukan diam-diam tanpa sepengatahuan orang tuanya. Beberapa body guard pribadinya patuh perintah Eldrian merahasiakan kebiasaan buruknya. Salah sedikit nyawa mereka terancam. *** Keesokan hari Eldrian melihat Adelia datang bersama Dante si Kaku mencoba menahan gejolak emosi sesak tercekat didalam relung hati melihat gadis yang diincar selalu dekat dengan pria lain. Memang mereka bersahabat tapi kedekatan keduanya tak memungkinkan akan timbul benih-benih cinta. Tidak Eldrian tak menginginkan mimpi buruk itu harus dihempas sejauh mungkin. Adelia hanya menjadi miliknya. tak seorangpun boleh menghalangi. entah cinta seutuhnya atau obsesi yang pasti Eldrian membiarkan malam-malamnya terus mendambakan gadis bermata indah pipi kemerahan. "Ikut aku!! Ada yang mau aku omongin" "Mau ngomong apa?" Tanya Adelia "Nanti aku mau ajak kamu ke sesuatu tempat" Eldrian menangkap ekspresi bingung diwajah Adel, sebenarnya dia sendiri juga lebih bingung dan aneh harus berlemah lembut. tapi demi mengejar cinta Adelia tak ada salahnya menurunkan ego. Ohhh tidak... Tidak!!!! Sedikit memaksa kali ini harus dipastikan Adelia menerima cintanya. Pria berambut gondrong itu bukan pria romantis yang pandai merangkai kata-kata puitis bak seorang pemuja cinta, menurutnya tanpa rayuanpun gadis-gadis akan takluk hingga berakhir diranjang hangat. Adelia istimewa bukan perkara mudah menguasai hatinya. *** Di Restorant "Cepat!!!" Perintah pria bertubuh tegas setelan hitam "Pastikan semua selesai lima menit lagi" Imbuhnya Kring.... Lelaki bertubuh tegap merogoh ponsel dikantong celananya, gugup tapi cekatan menggeser tombol hijau. "15 menit lagi aku tiba" Nada mengintimidasi siapa lagi kalau bukan Eldrian Wijaya. "Sesuai perintah anda tuan semua sudah siapkan" Sambungan telpon diputuskan sepihak setelah mendengar jawaban body guard kepercayaannya. *** Fakustas Adelia Eldrian mengeluarkan ponsel mengirim pesan singkat "Aku didepan" Sekejab pesan balasan masuk dia membaca kemudian menyimpan kembali ponselnya. Mengatur nafas yang mulai saling memburu dengan detas jantungnya. Sungguh gadis itu sudah mengusai emosi dan pikirannya. Mendengar langkah kaki berjalan kearahnya El membalikkan badan. Sorotnya elangnya berganti manik-manik kebahagiaan. Gadis tinggi semampai berbalut kemeja lengan panjang berwarna langit dipadukan celana jeans dan sneakers putih rambut panjang diikat mirip ekor kuda. Apa bidadari bisa nyasar dikampus aaarrgghhh calon chef mudanya nyaris tanpa cela. masih belum bergeming pandangannya tiba-tiba dikagetkan suara lembut tapi tegas. "Kita mau kemana?" "Ehhmp" sedikit berdeham demi menetralkan jantung semakin kencang melompat-lompat ditempatnya. "Ke suatu tempat" Menuntun Adelia ke mobil lalu aku duduk dibelakang stir mulai melajukan ketempat yang sudah kusiapkan. Setiba di resto ku minta Adelia jalan duluan aku pura-pura ijin ke toilet padahal mengambil bukket mawar yang senada dengan pipi Adelia. melangkahkan kaki perlahan dibelakang Adelia yang terkaget melihat kejutan spesial ini. Saat Adelia berbalik kearahku segera kumajukan bukket bunga indah dihadapannya. "Adelia maukah kamu menjadi kekasihku?" Degdeg Si*l jantung ini semakin tak bekerja sama sesukanya saja. Ragu-ragu bibir mungil itu perlahan mengeluarkan suara. "Iy__iya ma___mau" Huft!!! Seketika beban berat tadi terangkat menghilang, Sebahagia itu kah tanpa penolakan. (ciiieeee ada yang jadian nih)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN