“That’s it? Daripada menceritakan semuanya padaku kau lebih memilih lari ke lelaki sialan itu?” Hana terlonjak dari pijakannya berdiri ketika mendengar suara baritone itu berucap dengan tajam. Ia, yang baru saja menutup pintu, langsung berbalik, menatap Justin terkejut yang tengah berdiri saling menyilangkan tangan di d**a. Tatapannya tajam dan penuh amarah. Hana menggigit bibir. Tiba-tiba menjadi panik. “A-assalamu’alaikum,” katanya kemudian. Namun lelaki di hadapannya tidak menjawab. Malah membiarkan hening menelusup di antara mereka. Hening yang bagaikan bom waktu, yang cepat atau lambat akan meledakkan dirinya sendiri. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” tukas pria itu dingin. “Justin…” Hana memelas. Dia masih dilingkupi oleh berita yang baru saja ia dengar, dan sekarang ia harus be

