°° Makanan sudah tersaji di meja makan. Tapi belum ada tanda tanda Mas Jiddan untuk turun. Ini bukan lagi Mas Jiddan yang dulu. Sebenarnya dia baik hanya saja saat ini hatinya tertutup oleh rasa cinta yang begitu besar. "Sampai sejatuh cinta itukah kamu Mas?" ucapku parau. Apa tidak pernah hatimu tergetar karenaku? Karenaku bukan karena dia. Apa kamu tidak ingin belajar mencintaiku? Mencintaiku bukan mencintainya. Apa kamu tidak menginginkanku mas? Tidak bisakah untuk mencintaiku walau setitik saja? Sepertinya memang aku tidak bisa menggapaimu mas. Ceklek. Pintu kamar terbuka cepat cepat aku menghapus air mataku dan kembali memasang topeng baik baik saja. "Mas ini kopinya sudah aku siapkan," Mas Jiddan tidak menjawab. Dia melewatiku begitu saja. "Mas-" Blam! Pintu tertutu

