°° "Abang nggak mau kalau dedeknya pelempuan bunda," Aku tersenyum kala mendengar penuturannya, "Kenapa Abang nggak mau?" tanyaku sambil menyiapkan sarapan untuknya. "Nggak bisa di ajak main sepak bola nanti," jawabnya sambil mencebikkan bibirnya. Dia adalah anak pertamaku, Agam Syahdan Muhammad anugrah terindah dari pernikahanku dan Mas Jiddan, ternyata semua yang Mas Jiddan omongkan dulu benar-benar terjadi. Setelah kami memutuskan untuk berbulan madu satu bulan kemudian aku mengandung Agam. Saat-saat dimana aku benar-benar mengalami depresi berat aku takut kehamilanku kali ini akan seperti yang sebelumnya, kami sering bolak-balik ke rumah sakit untuk sekedar konsultasi. Mas Jiddan juga harus izin tidak pergi ke kantor hanya untuk menemaniku di rumah, aku sungguh menyusahkannya. Keha

