NEW FACE

1397 Kata
Pagi itu, matahari muncul lebih awal. Jenna mengoleskan bedak tipis pada wajahnya. Tangannya juga terampil memasangkan anting-anting di kedua telinganya. Jenna membiarkan rambutnya terurai dan menyelipkan kedua sisinya di belakang telinga. Dia sengaja agar dirinya tampak lebih percaya diri. Jenna paham betul apa yang terlihat bagus pada dirinya. Jenna menarik nafas lalu menghembuskannya. “Oke, kau luar biasa hari ini,” ucapnya pada gadis yang tersenyum di balik cermin di hadapannya. Hari itu adalah hari pertama Jenna bekerja di Liar and Co. Dia bahkan sudah mendapatkan email dari mereka terkait perihal kontrak dan juga fasilitas. Jenna mulai yakin dengan kemampuannya. Setidaknya ia tidak akan terlalu malu untuk berada di depan ayahnya lagi nanti. Hingga hari ini, rencana Jenna yang hendak menemui ayahnya hanya menjadi wacana. Gadis yang tengah mengenakan kacamata hitam di balik stir kemudi itu mempunyai banyak alasan di kepalanya yang menghalangi langkahnya. Dan pada akhirnya ia masih belum meminta kejelasan terkait perjodohan malam itu pada ayahnya. Jenna seketika lupa kalau ia punya masalah lain selain dirinya yang di terima di tempat kerja baru. Jenna dapat melihat papan merek dagang yang terpampang besar tidak jauh di depannya. Ia membelokkan mobilnya ke kanan langsung menuju parkir bawah tanah gedung. Jenna keluar dari mobil tanpa melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya nan mungil. Ia berjalan tegak dengan mengangkat sedikit dagu ketika memasuki ruangan. “Pendatang baru?” Jenna menoleh ketika mendengar suara seorang gadis di sampingnya. Berusaha menyamakan langkahnya dengan Jenna. “Maaf, tapi siapa?” tanya Jenna ragu. Gadis itu masih berjalan lurus tanpa menatap Jenna. Sama dengan Jenna, dia juga mengenakan kacamata. Postur tubuhnya lebih tinggi dibandingkan Jenna. Riasan wajahnya terlihat berani dengan lipstick berwarna merah maroon dan di keningnya terpampang jelas seolah menunjukkan “Akulah yang terbaik di sini.” Gadis itu berjalan lebih cepat dua langkah yang kemudian berbalik menghadang langkah Jenna. Dia mengulurkan tangan. “Mari bekerja sama dengan baik!” katanya dengan satu tangan lainnya menurunkan sedikit kacamata hitamnya. Jenna tidak menerima uluran tangan gadis itu, tetapi Jenna ikut menurunkan sedikit kacamatanya seperti mengintip dari baliknya. Jenna merasa seolah gadis itu mengucapkan “Jangan main-main denganku”. “Baiklah, senang bertemu denganmu,” balas Jenna berpura-pura merasa akrab lalu membetulkan posisi kacamata. Jenna berjalan melewati gadis yang masih mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Sepertinya ia terkejut dengan sikap Jenna yang dingin. Jenna selalu merasa aneh ketika bertemu orang baru apalagi seseorang dengan kelakuan seperti gadis yang mencoba untuk pura-pura dekat dengannya. Padahal jelas sekali gadis tadi mempunyai sifat kompetitif yang keras kepala. Jenna bisa melihat dari gaya berpakaiannya. Kantor yang cukup besar sehingga Jenna sedikit kewalahan untuk menuju ruangannya. Sebenarnya tidak terlihat seperti kantor, tetapi lebih tampak seperti tempat bermain dan berkumpul. Sepertinya kantor barunya menerapkan gaya kerja modern yang bebas terhadap karyawannya. Jenna suka suasana kantornya. Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit melengkung ketika melihat sekumpulan anak muda tengah tertawa bersama. “Selamat datang, Jenna,” sambut seorang pria paruh baya berambut putih ketika Jenna sampai pada sebuah ruangan yang memang ingin ditujunya. Wajah itu tidak asing bagi Jenna karena mereka pernah bertemu waktu itu di studio kantor Miss Lian. Jenna balas tersenyum sambil membungkukkan sedikit badan memberi hormat. “Terima kasih Tuan Fredison,” Pria paruh baya yang dipanggil Tuan Fredison itu tampak cemberut ketika Jenna menyebut namanya. “Tidak, tidak. Jangan panggil aku begitu, panggil saja Fred,” katanya. “Disini kami hanya menggunakan nama tanpa embel-embel lainnya seperti tuan, nona, atau lainnya. Meskipun kita memiliki jabatan berbeda, tetapi tidak ada batasan ketika bekerja. Jadi, kau bisa memanggilku dengan Fred saja,” lanjutnya panjang. Jenna tidak menyangka kantor sebesar itu sangat santai. Tidak ketat seperti kantor-kantor besar lainnya. “Baiklah, Fred,” Jenna menurut. Ia mulai suka dengan cara kerja di kantor barunya. Artinya setiap orang memiliki jabatan yang sama ketika bekerja. Lebih tepatnya jabatan hanya sebagai formalitas. **** Jenna mendapatkan ruang kerja sendiri. Tidak besar. Fred menugaskan Jenna sebagai kepala Tim Konsep dan Kreatif. Suatu kebanggaan bagi Jenna untuk mendapatkan posisi itu sehingga ia bisa mempunyai ruang kerja sendiri. Ruangannya memiliki nuansa hijau karena terdapat beberapa tanaman asli di balik kaca besar di salah satu sisi ruangan, Lebih tepatnya taman mini untuk bersantai barang kali jenuh dengan pekerjaan. Jenna takjub dengan kantor barunya yang sepertinya menghabisnya banyak uang untuk dekorasi kantor demi kenyamanan karyawan. Jenna menata beberapa barang yang dibawanya di atas meja. Termasuk sebuah foto hamparan padang rumput hijau New Zeeland yang dibingkainya dengan figura kecil berwarna hitam. Jenna sangat menyukai foto itu. Setiap kali Jenna merasa buntu ia akan menatap foto itu untuk waktu yang cukup lama. Anehnya, setelah Jenna menatap foto itu, ia merasa lega sama halnya dengan padang rumput yang terhampar luas sejauh mata memandang. Jenna bersandar pada kursi hidroliknya. Menatap sekeliling isi kantornya. Seorang pria yang tampak lebih muda mengetuk pintu. Ia berjalan masuk dengan sebuah berkas di tangan. Dia tidak sendiri. Tidak lama setelahnya, masuk pula dua orang gadis yang juga tampak sepantaran dengan pria yang masuk pertama. “Hallo Jenna, namaku Alen, semoga kita bisa bekerja dengan senang hati,” sapanya hangat memperkenalkan diri. “Hallo Jenna, namaku Tami,” lanjut gadis di sampingnya. “Hallo Jenna. Aku Nada, senang bisa bekerja sama denganmu,” tutup gadis yang berdiri paling ujung. Mereka tersenyum ramah ke arah Jenna. Ia bisa merasakan aura jiwa muda dari tiga orang yang baru saja memperkenalkan diri. Mereka akan bekerja satu divisi dengan Jenna. Jenna mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan satu per satu. Ia tersenyum ramah menyambut ketiga anggota timnya. “Semoga kita bisa menjalin hubungan yang bagus kedepannya,” kata Jenna bertekad. Dia suka kombinasi timnya. Alen, Tami dan Nada meninggalkan ruangan setelah sedikit berbincang dengan Jenna. Waktu berjalan dengan cepat sampai-sampai Jenna tidak tahu kalau di luar sana sudah mulai gelap. Bergantikan dengan lampu gedung yang berpacu ria. Saatnya ia pulang. Jenna menekan tombol panggil melalui stir kemudinya. “Hallo,” sapa Argan dari seberang sana. “Tolong bilang pada ayah kalau aku akan datang.” Jenna langsung menutup panggilan begitu Argan mengangkat panggilannya. Ia harus meminta kejelasan tentang perjodohan yang di atur ayahnya. Kantor baru Jenna tidak jauh dari rumah ayahnya. Tidak membutuhkan waktu lama ia sudah sampai. Tidak seperti terakhir kali ia pulang, kali ini Jenna menyapa ramah setiap pelayan dan penjaga yang dilewatinya. Siapa sangka Jenna akan berpapasan dengan pria yang sudah menjadi buah pikirannya selama beberapa hari terakhir. Bukan di jalan ataukan tempat umum, melainkan di rumahnya sendiri. Perlahan Jenna berjalan mengahampiri Tuan Ali dan Kaysan dengan tatapan penuh tanda tanya. Tuan Ali berjalan sejajar dengan Kaysan yang hendak pulang. Apa yang dilakukannya di rumah Jenna? Apakah ini bukti keseriusannya dengan Jenna? “Oh, kebetulan sekali,” Tuan Ali melihat kedatangan Jenna. “Kau tidak bawa mobilkan? Kalau begitu, Jenna bisa mengantarmu pulang,” tukas Tuan Ali sambil terkekeh bangga dengan ide yang baru saja diucapkannya. Jenna membelalak. Bukan itu tujuannya datang ke rumah ayahnya malam itu. Dan sudah lama sekali Jenna tak melihat wajah ayahnya secerah itu. “Wah, aku sangat beruntung berkunjung malam ini,” balas Kaysan setuju dengan ide Tuan Ali. Ia tampak senang malu-malu. Sesekali melirik raut wajah Jenna yang bingung dan juga tak satuju untuk mengantarnya pulang. “Segeralah! Sebelum terlalu malam,” perintah Tuan Ali menyuruh mereka bergegas pulang. Kaysan berpamitan lalu melingkarkan tangannya pada lengan Jenna. Menarik pelan agar Jenna segera berjalan keluar untuk mengantarnya. Jenna menepis tangan Kaysan, tetapi dengan cepat tangan Kaysan kembali menarik lengan Jenna hingga kakinya ikut melangkah keluar. Tuan Ali tampak sangat bahagia melihat kelakuan putrinya. Ia merasa menjadi ayah paling berguna karena berhasil menemukan pasangan yang cocok dengan putrinya. Kaysan dan Jenna sudah duduk di dalam mobil. Tapi Jenna bahkan belum menghidupkan mobilnya. “Aih, dasar Argan,” gerutu Jenna lambat yang sebenarnya bisa didengar Kaysan. Seharusnya ia tidak langsung menutup panggilannya begitu saja tadi. Jenna menyesali tindakannya tadi. Jenna merubah raut wajahnya kembali dingin. “Kenapa kau datang ke rumah ayahku?” tanya Jenna memulai percakapan. “Ayahmu mengundangku,” jawabnya. “Kau kan bisa menolaknya, tidak harus datang.” “Tidak sopan menolak undangan orang tua,” jawab Kaysan beralasan. Sejujurnya, sangat sulit bagi Kaysan untuk memahami Jenna. Gadis yang memiliki berbagai pesona tak terduga dimatanya. Terkadang lucu, terkadang manis, tapi satu hal yang selalu di pertahankan Jenna, aura dingin dan sorot matanya yang tajam. Semenjak pertemuan pertama mereka di Phos Clinic malam itu, Kaysan memutuskan kalau ia ingin menjadi penghangat bagi Jenna. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN