DINDING

1256 Kata
Mendapatkan pekerjaan di Liar and Co menjadi tidak seindah yang selama ini dibayangkannya. Lokasi kantor Liar and Co memang tidak jauh dari kantor Jenna yang sekarang karena bisa ditempuh dalam waktu dua puluh menit dengan mobil. Namun kenyataan ini justru tidak memberi kejelasan pada rasa ragu di hatinya. Jenna bermenung di balik meja kerjanya. Layar komputernya sudah mati sedari tadi. Ia sudah duduk di kursi hidroliknya itu selama dua jam semenjak tadi pagi. Salah satu tangannya masih kokoh menopang kepalanya yang bertumpu pada tatakan tangan di kursi. Ponsel Jenna yang bergetar membuatnya tersadar dan membuka mata. Sebuah pesan teks dari nomor tak dikenal. Jenna menggeser layar membaca isi pesan. [Aku sedang di depan kantormu, bisa bertemu sebentar?] Jenna mengusap pelipisnya. Ia mematikan ponsel mengabaikan pesan dari Kaysan. Jenna justru mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Gadis yang mengenakan baret berwarna mint itu juga mengemasi beberapa barang pentingnya untuk dibawa ke kantor barunya. Miss Lian mengizinkan Jenna untuk pulang lebih awal. Sudah waktunya istirahat makan siang. Tetapi Jenna memilih untuk pulang, tidak ikut makan siang bersama tim. Jenna masih merapikan beberapa file yang masih terbengkalai dan membuat back up data agar memudahkan anggota timnya nanti jikalau dirinya tidak ada. Jenna membawa satu buah paper bag berisi perkakas kantornya. Bersiap pulang. Jenna menangkap seseorang ketika ia membuka pintu. Untuk kedua kedua kalinya. Jenna kembali melihat Kaysan tengah berdiri di depan pintu masuk kantornya. Kali ini Jenna tidak melihat punggungnya, melainkan tampak depan Kaysan yang sedang menatap ke arahnya. Menunggu dirinya. Langkah Jenna melambat yang kini sudah berhenti. “Kupikir kau bekerja di luar, jadi aku memutuskan untuk menunggu sampai kau datang,” ungkap Kaysan. Jenna berjalan dua langkah mendekati Kaysan. Sekarang jarak mereka dekat. Hanya berjarak lima langkah. “Bagaimana kalau misalkan aku tidak kembali, kau akan tetap di sini?” Jenna balik bertanya. Kaysan kembali tersenyum. Ia berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku. “Aku akan menunggu sampai kau datang,” jawabnya mantap. Kaysan mengatakan yang sebenarnya. Ia ingin meluruskan sesuatu dengan Jenna kalau sebenarnya ia memang tidak tahu soal perjodohan itu. Sama halnya dengan Jenna yang baru tahu ketika malam pertemuan keluarga mereka. Kaysan ingin bilang kalau itu murni kebetulan. Tapi ia takut Jenna tidak percaya padanya. “Rasanya aku sudah pernah bilang, kalau aku tidak ingin bertemu denganmu lagi,” tegas Jenna kembali mengingatkan Kaysan. Semisal ia lupa. Kali ini Jenna berusaha membangun sebuah dinding di antara mereka. Berbanding terbalik dengan Kaysan yang ingin memulai dengan Jenna, justru gadis dihadapannya itu ingin mengakhiri bahkan sebelum mereka memulainya. “Aku mendapatkan pekerjaan baru, aku akan mulai sibuk dengan pekerjaan yang menjadi dambaanku sejak lama, jadi tidak ada alasan bagi kita untuk bertemu secara kebetulan lagi,” lanjut Jenna sambil berbalik mendongak menatap gedung di belakangnya. Sedih rasanya untuk mengucapkan selamat tinggal. “Kabar bagus, selamat untukmu.” Kaysan memberi selamat dengan tulus. Ia ikut senang mendengar pengakuan Jenna. Entahlah. Apa dia sengaja tidak mengerti dengan arah pembicaraan Jenna. “Harus kuakui kalau aku mendapatkan pekerjaan ini karena bantuanmu waktu itu, jadi aku ingin berterima kasih padamu.” Dengan berat hati Jenna mengatakannya. Memang benar Jenna mendapatkan pekerjaan barunya karena kerja sama yang bagus dan juga professional dari Kaysan. Meskipun dari lubuk hatinya paling dalam. Ia ingin memutar waktu agar ia tidak meminta bantuan Kaysan waktu itu, maka Kaysan tidak akan melihat sisi lemahnya pada malam itu dan juga besoknya ketika dirinya dipermalukan di Phos Café. “Tapi apa yang harus kulakukan? Sepertinya kita akan terus bertemu,” ujar Kaysan. Jenna menyerngitkan kening tidak mengerti maksud Kaysan. “Aku merasa akan memanfaatkan rasa terima kasihmu sebagai alasan agar aku bisa terus bertemu denganmu,” terang Kaysan sambil tersenyum. Waktu terasa sangat lambat siang itu. Matahari yang tidak terlalu panas dan angin yang menyapu pelan rambut Jenna kesana-kemari. Hingga akhirnya waktu terasa seperti berhenti sejenak. **** Uap sup hangat sudah membumbung memenuhi langit-langit. Jenna mengajak Kaysan makan siang. Ia tidak ingin adanya hutang budi diantaranya dan pria yang sedang memotong sayuran ke dalam wajan kecil yang terjarang di hadapan mereka. Jenna menarik nafas. “Baiklah, kau belum makan kan? Kita bisa makan sekarang,” ajak Jenna memecah suasana canggung sebelumnya. Ia berjalan menuju Phos Café di seberang. “Tapi aku mau makan sup ayam,” permintaan Kaysan menghentikan Jenna yang hendak menyebrang. Tidak ada restoran yang menyajikan sup ayam dekat sana. Mereka harus menuju pusat kota ataukan china town yang menjajalkan banyak makanan serupa di sana. Jenna menggigit bibir bawahnya. Menarik nafas panjang lalu berbalik. Jenna tahu Kaysan sengaja melakukannya. “Kau parkir mobil dimana? Kita ketemu di tempat saja, aku akan mengirimkan alamatnya.” Jenna mengusulkan kalau mereka akan pergi secara terpisah. “Aku tidak bawa mobil,” celetuk Kaysan polos. Ia jelas punya maksud lain di balik wajah polosnya itu. Padahal sebenarnya ia membawa mobil hari itu, tapi Kaysan sengaja agar bisa pergi bersama Jenna, di bawah satu atap mobil yang sama. Jenna tidak menggubris. Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di samping kantornya. Kaysan mengikuti di belakang. Kaysan mengartikan kalau gadis yang sedang menjinjing paper bag itu mengizinkannya menumpang di mobilnya. Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit. Mereka sampai di sebuah restoran klasik yang sepertinya sudah berdiri sejak lama. Bangunannya masih mempertahankan nuansa tradisional dengan dinding bambu yang dicat pernis coklat. Terdapat beberapa tanaman hijau yang berjejer di depan pintu. Restoran itu terkenal dengan cita rasa sup ayam paling enak. Katanya mereka menggunakan resep turunan yang tidak berubah setiap generasi. Karena itulah restoran itu tetap bisa bersaing dengan restoran modern yang banyak bermunculan di zaman sekarang. Jenna melipat tangan di meja. Menatap pria yang tengah memotong sayuran di depannya. Setiap pengunjung bebas menambahkan sayuran pada sup ayam yang terjarang di atas meja. Kaysan tampak terampil dalam urusan dapur. Jenna memperhatikan lengan Kaysan yang menonjolkan nadinya ketika memegang gunting dan mengaduk sup di dalam panci. Pria itu menggulung lengan baju agar tidak terkena noda kari. Jenna memindai Kaysan dari atas kepala. Matanya yang fokus, hidungnya, hingga bibir tipisnya yang sering melengkung mengukir senyum di wajahnya. “Kenapa menatapku seperti itu? Membuatku tak nyaman,” kata Kaysan. “Hm? A-apa?” balas Jenna terbata-bata. Dia ketahuan karena sedang memperhatikan Kaysan. “Sedari tadi kau tak berhenti menatapku, membuatku tak nyaman,” ulang Kaysan. Nada suaranya terdengar seperti menggoda Jenna. Jenna meraih sendoknya, memindahkan paha ayam yang di panci ke dalam mangkuknya. Ia juga mengambil sedikit kuah dan juga sayuran. Kaysan bahkan menambahkan sepotong d**a ayam ke dalam mangkuk Jenna. “Hei,” seru Jenna melihat perhatian Kaysan. “Aku tidak suka d**a, untukmu saja,” balas Kaysan dengan menyerngitkan hidungnya manja dan lucu. Jenna hampir terjatuh ke dalam perangkap Kaysan. Sedangkan ia masih harus bersikap dingin hingga akhir. “Ya sudah kalau begitu,” balas Jenna datar sambil menyuap potongan daging ayam ke dalam mulutnya. Pada dasarnya, Jenna sudah mulai terbiasa dengan sikap Kaysan yang menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan bahkan semenjak pertemuan pertama mereka. Hanya saja Jenna masih menolak untuk merasakan ketulusan pada semua itu. Jenna berhenti menyuap. Mengosongkan mulutnya yang dipenuhi kunyahan daging dan menelannya. Ia menatap Kaysan yang tak kalah lahap darinya. “Aku tak ingin bersandiwara, kalau kau hanya pura-pura baik padaku, lebih baik berhenti, aku akan menerima dengan lapang hati, tidak akan menyimpan dendam,” celetuk Jenna tiba-tiba. Ia tidak mau meneruskan kesalahpahaman yang terus di tangkapnya dari sikap Kaysan padanya. “Kenapa kau terus meragukanku,” balas Kaysan yang masih bercanda ringan menatap mangkuknya. Kaysan mengangkat pandangannya menatap lurus pada Jenna. “Apa kau tidak melihat usahaku yang berusaha meruntuhkan dinding yang kau bangun?” ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN