“Jenna,” sapanya hangat sambil mengangkat sebelah tangan. Wajahnya tidak terkejut sama sekali.
Jenna juga berusaha tidak menunjukkan rasa terkejutnya. Dia tidak ingin terlihat bodoh di depan semua orang karena ia satu-satunya yang tidak tahu tentang perjodohan itu. Siapa sangka Jenna akan bertemu kembali dengan Kaysan setelah sekian lama. Setelah Jenna lupa dengannya. Dan pertemuan itu bukanlah kebetulan.
Jenna memasang wajah datarnya nan dingin. Kini ia hanya berdua dengan Kaysan di ruang terpisah. Tuan Ali dan Tuan Brad sudah merencanakannya. Mereka bilang agar Jenna dan Kaysan dapat mengenal lebih jauh. Sepertinya mereka belum tahu jika putra-putri mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Lebih dari yang dibayangkan.
Kaysan asik memotong steak di hadapannya. Lalu mengganti piringnya dengan milik Jenna yang belum terpotong. Kaysan hanya tersenyum tipis lalu kembali memotong.
Jenna memasukkan sepotong daging kecil ke mulutnya. “Apa kau tipe yang biasa mempermainkan wanita?” tanya Jenna acuh seperti orang yang baru saja bertemu. Wajar saja Jenna bertanya seperti itu. Pria yang baru saja menghilang tanpa kabar setelah memberi harapan semu pada Jenna, tiba-tiba saja muncul sebagai calon jodohnya.
“Kenapa kau tiba-tiba bicara formal? Kau bisa santai denganku,” balas Kaysan menyadari gaya bicara Jenna yang tidak seperti biasanya. Lebih sopan. Dia sudah selesai memotong steak yang ada di piringnya.
“Aku ingin mempertahankan status kita sebagai orang asing yang tak saling mengenal,” ucap Jenna tegas.
“Bukankah sudah terlambat?” Kaysan berhenti sejenak, “lagi pula, kita sudah cukup saling kenal untuk menjadi orang asing,” lanjutnya memasukkan sapotong daging ke dalam mulut.
Jenna menghela nafas. “Biarkan aku bertanya satu hal,” pinta Jenna. Kaysan mengangguk mempersilakan Jenna.
“Apa kau sengaja mendekatiku karena tahu tentang perjodohan ini dari awal?” Kali ini Jenna bertanya serius. Ia meletakkan garpu dan pisau di samping piring. Mengusap mulutnya dengan sebuah tisu yang sudah disediakan. Dia menunggu jawaban Kaysan yang sedari tadi memperhatikan Jenna.
“Hmm, tidak juga, pertemuan kita murni kebetulan, termasuk kejadian ini,” jawab Kaysan santai. Ia meminum seteguk air putih sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia tampak sangat tenang, berbeda dengan Jenna yang sedang berusaha menahan amarahnya sedari tadi.
Jenna menyerngitkan kening. Ia memasang wajah paling dingin yang ia bisa. Ia tidak mengerti dengan pria yang masih bisa bercanda di situasi saat ini. Kaysan berusaha menjawab setiap petanyaan tajam Jenna dengan tenang dan itu memang jawaban jujur. Tapi sepertinya Jenna salah mengartikan jawaban Kaysan.
Sunyi sejenak. Jenna tidak lagi bertanya tetapi ia memilih untuk meninggalkan ruangan. Ia sudah bangkit dan mengemasi tasnya. Sontak Kaysan turut bangkit lalu mengitari meja. Ia menahan lengan Jenna. “Kau sudah mau pergi? Kita belum selesai makan,” katanya.
“Aku..” Jenna menurunkan tangan Kaysan dari tangannya. “Kuharap kita tidak akan bertemu lagi kedepannya, aku akan bilang pada ayahku untuk membatalkan perjodohan ini, semoga kau juga begitu,” tutup Jenna kemudian berjalan meninggalkan Kaysan. Jenna melirik wajah Kaysan yang datar tanpa senyuman manisnya.
****
Jenna memacu mobilnya di tengah-tengah gemerlap kota yang tak pernah tidur. Ia sangat bingung dengan posisinya saat ini. Bagaimana tidak? Tuan Ali tidak menepati janjinya pada Jenna. Apakah ini pertanda kalau ayahnya sudah menyerah pada putrinya yang tak kunjung membuktikan diri? Kini Jenna harus memikirkan cara agar perjodohan ini tidak terjadi. Ini bukan perkara ia tidak menyukai Kaysan atau siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya nanti, tetapi ini tentang harga diri, dan seluruh pengorbanan yang telah ia lakukan sampai saat ini.
Gadis berambut panjang itu membersihkan makeup tebal dan juga lipstick merah yang telah menghiasi bibirnya seharian. Jenna menatap wajahnya di cermin. Ia masih memikirkan apa yang harus dikatakannya besok pada Tuan Ali. Jenna menghembuskan nafas. Ia sedikit merasa bersalah. Tidak ada alasan bagi Jenna untuk marah pada Kaysan. Ia hanya butuh orang untuk disalahkan untuk menutupi rasa kalut di hatinya.
Jenna bersiap untuk tidur, menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya. Ia memejamkan mata, tapi sebuah rekaman seperti otomatis terputar di balik kelopak matanya. Jenna memutar badan ke kanan. Mencoba posisi ternyaman untuk bisa tidur. Tapi cara itu sama sekali tidak berhasil. Jenna kembali membelalakkan matanya. Ia tak bisa tidur.
Ia meraih ponsel. Wajahnya di terpa cahaya layar yang begitu terang. Ia memeriksa daftar panggilan. Jarinya menggeser pelan layar hingga terhenti pada salah satu nomor tak bernama. Jenna tahu betul siapa yang akan mengangkat panggilannya jika ia memanggil saat itu juga meskipun tanpa nama. Jenna tidak pernah menghubungi Kaysan lagi semenjak malam ketika ia ingin meminta Kaysan untuk menjadi model perusahaannya. Begitu pula sebaliknya. Kaysan juga tidak pernah menghubunginya. Mereka selalu bertemu secara langsung tanpa janji dan tanpa rencana. Entah itu kebetulan atau takdir. Seperti kejadian malam ini. Setelah sekian lama hingga Jenna lupa dengan Kaysan.
Jenna mendengus kesal sambil memutar bola matanya. Tangannya menekan tombol kecil mematikan layar. Ia tidak ingin memikirkan lebih jauh. Seharusnya ia memikirkan bagaimana cara ia menghadap ayahnya besok.
“Sungguh hari yang melelahkan,” desisnya pelan.
****
Jenna berangkat kerja seperti biasanya. Jenna lebih professional jika menyangkut pekerjaan. Ia bisa meninggalkan kehidupan pribadinya tanpa mencampurnya dengan pekerjaan. Jenna bekerja keras bukan karena gaji yang ingin di dapatkannya, melainkan industri pekerjaannya yang membuat ia betah. Sederhana, karena Jenna suka dengan fotografi. Tidak ada alasan lain.
Tapi hari itu berbeda. Jenna berhenti sejenak sebelum memasuki kantornya. Ia menatap gedung dengan nuansa hijau tua di seberang kantornya. Sebuah café yang ramai seperti biasa. Terselip dibenaknya wajah Kaysan yang tengah tersenyum padanya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Kaysan dan juga Tuan Ali.
Jenna memutar kenop pintu.
Dor! Suara tembakan confetti terdengar. Potongan confetti bertaburan seperti salju.
“Surprise!” Seluruh anggota timnya bersorak serentak hingga membuat Jenna sedikit terperanjat karena terkejut. Miss Lian, Lisa, Monic dan anggota timnya sudah menunggu kedatangan Jenna dari tadi. Bahkan Monic sudah siap dengan cheese cake di tangannya dan juga lilin yang menyala. Monic berlari menghampiri Jenna yang masih bingung dengan apa yang tengah terjadi.
“Selamat! Kau mendapatkan kontrak kerja ekslusif dengan Liar and Co,” teriaknya bangga. Diikuti dengan seruan tepuk tangan dari mereka.
Jenna masih belum mengerti. Seperti ada yang menekan tombol pause, ia masih terpaku di tempat. Monic menyuruh Jenna meniup lilin yang sudah tinggal setengah. “Cepat tiup! tanganku pegal,” teriak Monic lagi.
Jenna ikut bertepuk tangan. Barulah ia tersadar dan berteriak ragu. Jenna langsung memeluk Miss Lian yang berdiri tidak jauh darinya. “Benarkah aku? Kenapa bisa?” tanya Jenna basa-basi. Ia ingin mendengar kejelasan dari bosnya itu. Jenna berusaha menunjukkan ekpresi bahagia di wajahnya, meskipun hatinya merasakan yang lain.
“Mereka bilang kerja kau sangat rapi dan detail, mereka suka cara penyampaianmu melalui foto yang kau ambil,” terang Miss Lian.
Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Jenna kembali memeluk erat Miss Lian. Jenna merasa lega. Akhirnya ada orang lain selain Miss Lian yang percaya dengan kemampuannya.
“Kau bisa mulai bekerja besok,” lanjut Miss Lian.
“Besok?” ulangnya ragu bercampur tidak yakin.
Pelukan Jenna melonggar setelah mendengar kalimat yang baru saja diucapkan wanita yang dipeluknya itu. Entah kenapa Jenna merasa sedih, padahal ia baru saja di terima oleh tempat kerja impian semua orang. Tapi kenapa? Apakah karena ia akan jarang bertemu dengan pria di seberang sana?
***