Hari berganti minggu. Sudah hampir satu bulan Jenna tidak bertemu Kaysan. Tidak mendapatkan panggilan ataupun sekedar bertukar pesan teks. Jenna bahkan sudah lupa kalau ia pernah kenal dengan seorang pria bernama Kaysan Hillel.
Jenna melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jarum panjangnya menunjuk pukul lima sore. Ia terjebak di tengah padatnya jalan raya. Jalan raya seketika berubah menjadi lahan parkir bagi ratusan mobil yang melintas. Tidak jauh di depan posisi Jenna saat ini, terjadi kecelakaan mobil. Tidak heran jalanan sore itu menjadi macet.
Hari itu Jenna mengunjungi rumah orang tuanya. Semenjak ia mendatangi Dokter Agnes, Jenna terpaksa harus makan malam bersama dengan keluarganya setiap hari sabtu malam.
“Kau sudah datang nona,” sambut salah satu pelayan yang menunggunya di pintu depan. “Tuan Ali sudah menunggumu di ruang kerjanya,” kata pelayannya sambil memimpin jalan. Jenna mengangguk lalu mengikuti pelayan itu.
Jenna tidak dapat menebak apa lagi yang akan di sampaikan ayahnya kali ini. Bukankah kita akan makan malam bersama? Kenapa di ruang kerja? Jenna menebak kalau itu sesuatu yang penting hingga harus membicarakannya di ruang kerja ayahnya.
Tuan Ali, Nyonya Alina dan kakak laki-lakinya, Argan sudah menunggu kedatangan Jenna di dalam ruangan. Jenna menghembuskan nafas pasrah. Sekarang apa lagi?
“Kau sudah datang nak,” sapa ibunya menyambut Jenna dengan ceria yang tampak di paksakan. Jenna menebak kalau itu bukan hal baik baginya.
Begitu pula dengan Argan dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti olehnya. Tuan Ali yang duduk di bangku tengah juga tampak serius. “Duduklah” katanya.
Jenna menurut. Ia menduduki sofa empuk berwarna hitam di tengah ruangan. Ia duduk di samping Argan. Mata Jenna sekejap bertemu dengan mata Argan yang meliriknya.
“Sekarang kau bisa berhenti mengunjungi Dokter Agnes,” ucap Tuan Ali sambil menyesap kopi di cangkir kecilnya.
Mata Jenna beralih menatap Tuan Ali tidak percaya. “Sebagai gantinya, ikutlah pada pertemuan keluarga besok sore,” lanjut Tuan Ali.
Sedari awal Jenna sudah curiga. Ayahnya tak mungkin menyuruhnya berhenti menemui dokter Agnes begitu saja. Ia tahu betul sifat ayahnya. Jenna tidak menjawab. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa membantah ayahnya. Kondisinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membantah.
“Kau akan tahu besok, jadi jangan sampai terlambat,” tambah Tuan Ali. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia sedang senang.
“Baiklah,” jawab Jenna menurut.
****
Jenna bersiap-siap lebih awal. Dia mengenakan make up yang lebih berani dengan lipstick warna merah tua. Dia juga mengenakan jaket kulit yang sangat jarang dipakainya. Di lengkapi dengan skirt sebatis dan sepatu kets hitam. Ia kembali bercermin untuk terakhir kalinya sebelum berangkat.
Kali ini bukan di kediaman rumah keluarganya, melainkan di sebuah hotel bintang lima. Jenna sudah dikirimi alamat lengkap oleh ibunya tadi pagi.
[Jangan terlambat ya sayang.]
Tidak lupa ibunya juga mengingatkan agar ia tidak datang terlambat.
“Kenapa repot-repot makan di sini,” Jenna bersungut-sungut ketika memarkirkan mobilnya di basement. Sekilas dia teringat kejadian dengan Kaysan saat mobil mereka bertukar.
Langkahnya terhenti, lalu ia berbalik. Jenna sekilas melihat mobil lain yang mirip dengan mobilnya tidak jauh dari tempat ia parkir. Hanya berjarak dua mobil dari mobilnya. Ia memiringkan kepala mencoba berpikir jerniah. Tidak mungkin Kaysan bukan? Toh yang punya mobil tipe itu tidak hanya mereka berdua saja.
Tuan Ali sudah membuat reservasi ruangan VIP dilantai tujuh belas dari tiga puluh lantai. Dia harus berganti lift ketika berada di lantai sepuluh. Hotel yang didatanginya memiliki lift tabung transparan yang dapat terlihat dari luar. Hal ini mengharuskan pengunjung untuk berganti lift pada setiap lantai sepuluh dan kelipatannya.
Jenna sampai di lantai sepuluh. Ketika ia akan menaiki lift berikutnya. Ia melihat seorang nenek yang juga akan menaiki lift, tetapi lift sudah penuh dan hampir menutup. Dengan cepat tangan Jenna kembali menekan tombol open. Ia keluar dari lift dan mempersilakan nenek tersebut masuk terlebih dahulu. Ia bisa menunggu lift berikutnya datang. Lagi pula ia masih mempunyai waktu dari yang sudah dijanjikan.
Sepuluh menit kemudian barulah Jenna sampai di lantai tujuh belas. Salah satu petugas hotel mengantarnya menuju ruangan. Jenna bisa mendengar tawa ayahnya ketika sudah berada di depan pintu. Ia mengetuk tiga kali lalu mendorong kenop pintu.
Matanya membesar ketika melihat seisi ruangan. Bergantian ia memandangi setiap orang yang berada di dalam. Bukan hanya keluarganya, tetapi beberapa wajah asing yang sama sekali tidak dikenalnya.
“Oh, kau sudah sampai sayang, duduklah,” sapa Tuan Ali ramah. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
“Putri kau sangat cantik, tidak salah aku menjodohkannya dengan putraku,” ungkap pria paruh baya yang duduk bersebrangan dengan Tuan Ali.
Tangan Jenna yang hendak menarik kursi terhenti. Kini matanya beralih menatap Nyonya Alina. Berharap mendapatkan penjelasan dari semua yang tengah terjadi saat ini. Nyonya Alina memberi insyarat lewat gerakan mulutnya. Menyuruh Jenna duduk.
Jenna hanya bisa tersenyum simpul membalas gurauan pria paruh baya itu. Ia sebenarnya sudah menangkap apa yang sedang terjadi. Ini sangat berbeda dengan apa yang dikatakan Tuan Ali beberapa hari lalu. Sia-sia ia mengunjungi Dokter Agnes jika ia tetap akan dijodohkan.
“Kenalkan, ini teman ayah semenjak SMP, Brad.” Tuan Ali memperkenalkan Tuan Brad pada Jenna, “dan ini putriku, Jennaira,” lanjut Tuan Ali mempekenalkan Jenna pada Tuan Brad dan keluarganya.
Tuan Brad datang bersama istrinya, Nyonya Brad dan seorang anak perempuan yang jauh lebih muda dari Jenna. Sedari tadi gadis itu hanya sibuk memainkan ponselnya tanpa menghiraukan orang di sekitarnya. Posisinya sama dengan Jenna. Sama-sama tidak suka menghadiri pertemuan itu.
“Oh ya, kita masih harus menunggu pemeran utama lainnya hari ini, dia akan terlambat,” tambah Tuan Ali sambil terkekeh.
Jenna hanya tersenyum paksa. Mencoba menerima situasi saat itu. Ia tidak mungkin langsung berbalik meninggalkan ruangan. Bisa-bisa ayahnya tidak akan menganggapnya sebagai putrinya lagi.
Jenna menyikut Argan yang duduk di sampingnya. “Kenapa kau tidak memberitahuku?” bisik Jenna. Seharusnya Argan memberitahunya agar ia bisa menyiapkan alasan agar tak bisa datang.
“Aku takut kau tak akan datang jika kuberi tahu,” balasnya.
“Tapi setidaknya kau tetap harus memberitahuku,” balas Jenna tidak terima dengan alasan Argan.
Sesekali Tuan Ali dan Tuan Brad menyebut namanya yang dibalas Jenna dengan senyum simpul yang dipaksakan. Ia merasa tidak nyaman berada di sana, ingin sekali rasanya ia keluar dari ruangan.
“Maaf, sepertinya aku harus ke kamar mandi sebentar,” sela Jenna. Ia mencari alasan agar bisa keluar dari sana. Ia bangkit dari kursi berjalan menuju kamar mandi yang berada di luar ruangan.
Jenna melihat cerminan dirinya di cermin besar. Menambahkan lipstick di bibirnya yang sudah merah. Seharusnya ia membantah ayahnya waktu itu, maka ia tidak akan berada di sini sekarang. Jenna masih menyesali dirinya yang langsung berubah menjadi pengecut ketika di hadapan ayahnya. Sama halnya dengan yang ia lakukan hari ini.
Jenna kembali ke dalam ruangan. Tawa ayahnya dan Tuan Brad masih terdengar dari luar. Ia menyayangkan hotel bagus seperti itu tidak dilengkapi dengan peredam suara. Ia mendorong pintu.
Jenna terkesiap. Ia seperti mematung ketika melihat pria yang sedang berbincang dengan ayahnya saat itu. Sadar dengan kedatangan Jenna, kini pria itu menoleh padanya sambil menunjukkan senyuman khasnya.
“Jenna,” sapanya hangat sambil mengangkat sebelah tangan.
****