Keesokan harinya pukul 10.00 pagi, Maya masih bekerja seperti biasa mengenakan seragam biru muda dengan rambut yang diikat diujung kepala, wanita itu tengah menyapu lantai yang berdebu di depan pintu masuk kantor. Pelipis wajahnya nampak berkeringat dan matanya terlihat kelelahan.
"Akhirnya beres juga," gumam Maya seraya berdiri tegak. "Sekarang tinggal dipel aja deh."
Maya hendak melangkah seraya membawa sapu dan pengki. Namun, Ia seketika menahan kedua kakinya saat melihat mobil Pajero berwarna hitam berhenti tepat di depan pintu kantor. Seorang laki-laki berjas hitam keluar dari dalam sana, siapa lagi kalau bukan Ryan Wijaya sang Direktur Utama. Wajah Ryan terlihat tampan dengan stelan jas berwarna hitam dilengkapi dasi dengan warna yang sama.
Maya terpaku, ketampanan pria itu membuatnya terpana, kenangan masa lalu pun melintas di otaknya. Namun, ia memejamkan kedua mata mencoba menyingkirkan kenangan indah tersebut, dan menyadari bahwa Ryan hanyalah atasan dan mantan yang pernah melukainya.
"Ya Tuhan, jangan sampai aku tergoda lagi sama ketampanan Ryan," gumam Maya segera berbalik dan berjalan saat Ryan hendak menghampirinya.
Namun, hal yang ditakutkan terjadi. Ryan bersama assiten pribadinya melintasinya dengan wajah dingin bahkan seolah tidak mengenalnya sama sekali. Maya terhenti, langkahnya terbeku. Perasaanya berkecamuk, sikap dingin Ryan menyakitinya, padahal ia sendiri yang memintanya menjaga jarak.
Maya menghela napas panjang, lalu mengambil jalan lain untuk menghindari Ryan. Namun, pria itu tiba-tiba memanggil namanya, membuat Maya terhenti.
"Tunggu, Maya!" seru Ryan dengan nada lantang.
Maya berbalik dengan kepala menunduk. "I-iya, Pak?"
"Tolong bawakan dua gelas kopi ke ruangan saya," perintah Ryan singkat, tanpa menunggu jawaban, ia melanjutkan langkahnya.
Maya merasa kecewa dengan sikap Ryan yang dingin. Meskipun sebagai Direktur Utama, namun perubahan sikapnya terlalu mencolok membuat Maya merasa kecewa.
"Dih, Ryan benar-benar dingin," batin Maya, lalu melanjutkan langkahnya.
***
20 menit kemudian
Maya berdiri di depan ruangan Direktur Utama, membawa dua cangkir kopi. Ia merasa gugup dan ragu-ragu sebelum mengetuk pintu.
"Kenapa kamu gak masuk, May? Pak Ryan udah nungguin kamu lho," ajak Desi, sekretaris Ryan.
"Baik, Mbak," jawab Maya tergagap, memaksakan tersenyum.
Maya mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan. Ryan dan asisten pribadinya sontak menoleh dan menatap wajah Maya. Ryan tersenyum singkat sebelum kembali terlihat dingin.
"Selamat pagi, Pak," sapa Maya gugup. "Saya membawa pesanan Bapak."
"Simpan di meja," jawab Ryan singkat.
Asisten pribadi Ryan, Joni, menatap Maya yang tengah berjalan mendekati mereka dengan senyum. "Hmmm, cantik juga," batinya.
Ryan merasa tidak nyaman dengan tatapan Joni dan menegurnya ketus. "Liat apa kamu, Joni? Mau ta colok mata kamu itu, hah?"
Joni terkejut. Maya juga terkejut membuat cangkir kopi yang hendak ia letakan di atas meja terlepas dari genggamannya. Air kopi panas mengenai telapak tangannya.
Maya memekik kesakitan. "Aduh!" teriaknya.
Ryan segera berdiri, mendekati Maya. "Kopinya panas, Maya. hati-hati!" serunya, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
Joni berdiri, menatap Maya dengan khawatir. "Mbak Maya, Anda baik-baik aja?"
Maya mengangguk, mencoba menenangkan diri. "Alhamdulillah, tak apa-apa, Pak."
Ryan mengambil tisu yang berada di atas meja lalu mengusap telapak tangan Maya. "Sakit?" tanyanya, matanya menatap dalam.
Maya mengangguk seraya menahan rasa panas
Ryan meniup telapak tangan Maya dengan lembut. "Tahan sakitnya, ya. Dari dulu sampe sekarang kamu gak pernah berubah, May. Ceroboh!" katanya.
Maya merasa terharu dengan kekhawatiran Ryan. "Maaf, Pak. Aku nggak sengaja."
Ryan menganggukkan kepala seraya melayangkan senyuman. Ia bahkan tidak henti-hentinya meniup telapak tangan Maya yang sedikit melepuh.
"Tolong ambilkan kotak P3K, Jon," printah Ryan kepada Jodi.
"Akan lebih baik kalau lukanya dibasuh dulu sama air dingin, Pak," saran Joni menatap Ryan dengan tatapan heran.
"Sebenarnya siapa wanita ini? Kenapa Pak Ryan perhatian banget sama dia?" batin Joni.
"Cepat, Joni. Malah bengong lagi," bentak Ryan.
"Ba-baik, Pak," jawab Joni segera berbalik dan keluar dari dalam ruangan.
Ryan terus memandang Maya dengan khawatir. "Kamu baik-baik aja?"
Maya mengangguk, merasa hangat dengan perhatian Ryan. "Iya, Pak. Terima kasih."
"Kenapa kita harus ketemu lagi, Ryan? Bersusah payah aku ngelupain kamu, sekarang kamu kembali dan menjadi atasan aku? Takdir macam apa ini?" batin Maya, menatap wajah Ryan dalam.
"Kenapa liatin saya kayak gitu, May? Udah gak sakit?" tanya Ryan tersenyum cengengesan.
Maya terperanjat seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. "Masih ko, masih sakit," jawabnya merasa gugup. "Eu ... boleh aku ke kamar mandi dulu, Pak. Aku mau cuci tangan dulu, rasanya panas banget."
"Tangan kamu apa hati kamu yang panas?"
Maya menahan diri agar tidak tersenyum. "Tangan aku, Pak," jawab Maya seraya berdiri tegak.
"Kamar mandinya ada di sana." Ryan menunjuk pintu kamar mandi yang berada di sisi kanan. "Mau saya antar?"
"Hah? Ng-nggak usah, Pak. Aku bisa sendiri ko," jawab Maya lagi-lagi mencoba menahan diri agar tidak tersenyum.
Maya melangkah menuju kamar mandi dengan perasaan ringan dan bahagia. Jiwanya seakan kembali muda. Dahaganya akan kasih sayang dan perhatian seakan terobati. Untuk beberapa saat, Maya melupakan rasa sakit di hatinya. Wanita itu membuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalamnya.
Maya berdiri di belakang pintu seraya tersenyum merasa bahagia. "Sebenarnya apa yang aku inginkan? Aku meminta Ryan buat menjaga jarak, tapi kenapa aku ngerasa bahagia berada di dekat dia?" batin Maya merasa dilema.
Ia pun berjalan menuju wastafel untuk membasuh telapak tangannya menggunakan air mengalir. Saat tengah membasuh tangan, suara dering ponsel menghentikan gerakan tangannya. Maya merogoh saku celana yang ia kenakan lalu mengangkat sambungan telpon.
"Halo," sapa Maya meletakan ponsel di telinga.
"Halo, Mbak Maya. Saya Gurunya Mia di sekolah," samar-samar terdengar suara seorang wanita di dalam sambungan telpon.
"Iya, Bu. Ada apa, ya?"
"Mia jatuh di sekolah, Mbak. Lututnya berdarah, tapi gak terlalu parah. Katanya Mia pengen dijemput sama Mbak."
Maya terkejut. "Apa? Mia jatuh di sekolah?"
Suara Maya terdengar oleh Ryan. Ia bergegas melangkah mendekati pintu lalu mengetuknya pelan.
"May, kamu kenapa? Eu ... maksud saya, kamu bilang apa tadi? Mia jatuh di sekolah?" tanya Ryan tergagap.
Maya membuka pintu. "Mia jatuh di sekolah, Ryan. Eu ... maksud aku, Pak Ryan."
"Apa?" Ryan terkejut. "Mia gak kenapa-napa, 'kan? Kita ke sekolah Mia sekarang juga, tapi tangan kamu gimana?"
"Tanganku gak apa-apa ko, aku baik-baik aja."
"Ya udah, kita ke sekolah Mia sekarang juga."
Ryan meraih lalu menggenggam telapak tangan Maya dan membawanya berjalan. Maya menatap genggaman tangan mereka dengan perasaan dilema.
"Mia anak kamu, Ryan. Kalau aku mengatakan kejujuran itu, apa kamu akan mengakui dia sebagai darah daging kamu?" batin Maya.
Bersambung ....