Maya merasa dilema dengan genggaman tangan Ryan. Ia mencoba melepaskan tangannya, tapi Ryan tidak melepas. Pria itu semakin erat menggenggam telapak tangan Maya juga mempercepat langkah kakinya.
Mendengar Mia terjatuh membuat Ryan khawatir. Padahal, ia hanya sekali berjumpa dengan anak itu. Aksi keduanya yang berjalan dengan bergandengan tangan tentu saja menjadi pusat perhatian karyawan yang tengah melakukan pekerjaan mereka.
"Kita harus cepat, May," kata Ryan, matanya menatap khawatir.
Maya mengangguk, merasa campur aduk. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Ryan. Perasaannya kembali dilanda rasa dilema, apa rasa cinta itu benar-benar masih utuh dihatinya? Batin Maya mulai bertanya-tanya.
***
Saat tiba di sekolah Taman Kanak-kanak, Maya melihat Mia menangis dengan luka di lututnya ditemani seorang Guru. Mia berlari ke pelukan Maya.
"Ibu, lututku sakit," rengek Mia.
Maya memeluk Mia erat. "Ibu ada di sini, sayang."
"Tadi Mia jatuh, Mbak," jelas Guru yang mendampingi Mia. "Tapi lukanya gak terlalu parah. Cuma lecet biasa."
"Iya, Bu. Terima kasih udah menjaga Mia," jawab Maya ramah dan sopan seraya mengurai pelukan.
"Baiklah, saya permisi, Mbak."
Maya menganggukkan kepala.
Sementara Ryan berjongkok tepat di depan Mia seraya menatap luka di lututnya dengan khawatir. "Kamu baik-baik aja?"
Mia bergeming seraya mematap wajah Ryan.
"Katakan bagian mana yang sakit? Kita ke Rumah Sakit aja, ya?"
Maya berdiri tegak, mengatakan, "Gak usah ke Rumah Sakit segala, Pak Ryan. Mia gak apa-apa, ko. Cuma lecet biasa."
"Ayah," celetuk Mia membuat Maya dan Ryan seketika merasa terkejut. "Aku seneng karena Ayah ada di sini."
"Ayah?" tanya Ryan dan Maya secara bersamaan seraya menatap wajah satu sama lain.
"Mia, kenapa kamu manggil Pak Ryan Ayah?" tanya Maya merasa bingung.
"Aku pengen aja, Bu," jawab Mia polos lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Ryan. "Gak apa-apa 'kan aku manggil Pak Ryan Ayah?"
Ryan terlihat bingung, namun mencoba untuk menyembunyikan perasaannya. "Gak apa-apa, Mia. Saya senang ko dipanggil Ayah."
Mia tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangannya. "Ayah, gendong! Kakiku sakit!"
Ryan tersenyum seraya menggendong Mia. "Ayah antar kamu pulang, ya."
"Pake mobil bagus?" tanya Mia.
"Tentu saja," jawab Ryan.
Mia bersorak senang. "Yeeey!"
Ryan merasa bahagia, merasakan ikatan batin yang kuat dengan Mia. Padahal, mereka baru dua kali berjumpa. Melihat wajah Mia membuat perasaannya gembira, apalagi ketika anak itu memanggilnya ayah. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ryan mulai dihinggapi pertanyaan, siapa ayah biologis Mia sebenarnya? Apakah Mia adalah buah cinta terlarangnya bersama Maya?
Sementara Maya menatap wajah Ryan dan sang putri secara bergantian. "Ikatan darah memang gak bisa bohong, Mia bisa merasakan kalau Ryan Ayahnya," batinnya.
***
Mereka akhirnya tiba di depan rumah Maya, sebuah rumah sederhana dengan cat putih dan pintu kayu coklat. Taman kecil di depan rumah terlihat rapi dengan bunga-bunga warna-warni.
Maya membuka pintu rumah. "Silahkan masuk, Pak. Eu ... maaf, rumahnya masih berantakan."
Ryan melangkah memasuki rumah bersama Mia di dalam gendongannya. "Kita gak lagi di kantor, May. Gak bisakah kita bicara santai seperti dulu."
Maya tersenyum hambar mencoba untuk mengindari percakapan. "Mia, Ibu obati luka kamu dulu, ya."
"Gak usah, Bu. Ibu Guru udah mengobati lukaku di sekolah," jawab Mia lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Ryan. "Ayah, aku mau duduk di sofa!"
Ryan menganggukkan kepala lalu membawanya duduk di sofa. "Lukanya masih sakit nggak?"
Mia tersenyum lebar. "Nggak ko, Yah. Gak sakit sama sekali."
"Hmm! Syukurlah." Ryan mengelus kepala Mia lembut dan penuh kasih sayang.
"Ayah, aku lapar," rengek Mia.
Maya merasa tidak enak. "Mia, gak boleh gitu akh!"
"Gak apa-apa, May," jawab Ryan santai. "Kamu mau makan apa, Mia? Ayah beliin, ya."
"Ayam goreng."
"Hmm, baiklah. Ayah beliin sekarang." Ryan hendak melangkah.
"Tunggu, Pak. Anda pasti sibuk," pinta Maya membuat Ryan seketika menghentikan langkah kakinya. "Biar aku aja yang beliin Mia makan. Anda kembali aja ke kantor."
"Gak apa-apa, May. Saya gak sibuk-sibuk amat ko." Ryan tersenyum lebar.
Ponsel Maya seketika bergetar, ia segera merogoh saku celana lalu mengangkat sambungan telpon.
"Halo, Pak," sapa Maya seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Kamu di mana, Maya? Saya cari-cari di kantor kamu gak ada? Mau saya pecat, hah?" Doni, kepala Office Boy berteriak.
"Maaf, Pak. Putri saya jatuh di sekolah, makannya saya pulang. Maaf karena saya gak izin dulu sama Bapak."
"Saya gak mau tau, kamu balik ke kantor sekarang juga. Kalau nggak, saya pecat kamu!"
"Ba-baik, Pak." Ucapan terakhir Maya sebelum menutup sambungan telpon.
"Siapa, May?" tanya Ryan.
"Pak Doni, Pak. Atasanku di kantor."
"Dia mau mecat kamu?" Ryan merasa kesal. "Emangnya dia siapa berani pecat kamu? Yang punya perusahaan itu saya, bukan dia!"
"Gak apa-apa, Pak. Aku emang salah karena gak izin dulu sama Pak Doni," ujar Maya.
"Ibu mau balik ke kantor?" tanya Mia seraya mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa. "Kalau Ibu ke kantor, aku sama siapa dong?"
Maya bergeming dengan perasaan bingung. Hal yang sama pun dirasakan oleh Ryan. Rasanya tidak mungkin meninggalkan Mia sendirian di rumah, sementara dirinya pun masih banyak perkejaan yang harus diselesaikan.
Ryan tiba-tiba tersenyum lebar. "Gimana kalau Mia ikut Ayah ke kantor."
Maya terkejut. "Hah? Eu ... kalau Mia ikut ke kantor, siapa yang akan jagain dia di sana, Pak? Mia pasti rewel. Belum lagi Pak Doni yang pasti marah-marah karena aku kerja bawa anak kecil."
"Mia biar saya yang jaga, Maya. Kamu fokus kerja aja."
"Gak usah, Pak. Biar aku izin aja sama Pak Doni." Maya tidak ingin merepotkan.
"Gak apa-apa, May. Saya seneng ko kerja sambil ditemani sama anak secantik Mia."
Mia tersenyum lebar. "Beneran aku boleh nemenin Ayah kerja?"
"Tentu saja, Mia."
Maya hanya menghela napas panjang tanpa mampu berbuat apapun.
***
Dua jam kemudian di kantor, Mia terlelap di sofa, kedua matanya pun terpejam dengan damai. Anak itu terlelap tidak lama setelah mereka tiba di sana. Ryan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya sesekali menatap wajah Mia dengan senyuman.
Pintu ruangan terbuka, Sofia Ibunda Ryan memasuki ruangan seraya menenteng tas bermerk Hermes berwarna merah terang.
"Mommy!" Ryan terkejut seraya berdiri tegak.
"Mommy udah denger dari Astrid, ada apa sama kamu, Ryan? Kenapa kamu bersikap kasar sama dia?" tanya Sofia tanpa basa-basi. "Dia itu calon istri kamu, Ryan. Astaga!"
Ryan merasa gugup seraya melirik Mia yang tengah terlelap di sofa. Apa yang akan ia katakan kepada sang ibu prihal Mia? Seperti diketahui, ibunya memiliki lemah jantung. Sofia bisa saja terkena serangan jantung mendadak jika tahu siapa Mia sebenarnya. Sofia mengikuti arah pandang Ryan dengan kening yang dikerutkan.
"Astaga, anak siapa itu?" teriaknya merasa terkejut saat melihat Mia.
Bersambung ....