"Eu ... itu, Mom. Dia anak salah satu karyawan saya," jawab Ryan terbata. "Di rumahnya gak dan yang jagain, makannya dititipin di sini."
Sofia mendengus kesal. "Sejak kapan kantor Direktur merangkap jadi kantor penitipan anak, hah?" teriak Sofia kesal. "Mommy gak mau tau, bawa anak ini ke Ibunya. Kalau Ibunya punya anak yang harus dia jaga, ya gak usah kerja dong."
Tubuh Mia seketika menggeliat mendengar teriakan Sofia. Kedua matanya terbuka lalu menatap wajah wanita paruh baya itu. Sofia yang semula merasa kesal seketika terdiam seraya menatap anak perempuan berusia enam tahun. Mia memiliki mata coklat dan alis yang sama seperti Ryan. Sofia mengerutkan kening lalu melangkah menghampiri Mia.
"Nama kamu siapa, Nak?" tanya Sofia, rasa kesal yang semula ia rasakan seketika sirna.
"Namaku Mia. Nenek siapa?" jawab Mia polos.
Ryan panik dan segera mendekati Mia dengan tergesa-gesa. "Mia, mau Om anterin ke Ibu kamu?"
"Gak mau Ayah, aku maunya di sini. Aku gak mau ganggu kerjaan Ibu."
"Ayah?" decak Sofia dengan kedua mata membulat. "Dia anak kamu, Ryan?"
"Hah? Bu-bukan, Mom. Mana mungkin saya punya anak diam-diam," jawab Ryan seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Terus, kenapa anak ini manggil kamu Ayah?" Sofia merasa penasaran. "Jangan macam-macam di belakang Mommy, ya. Ingat, sebentar lagi kamu bakalan nikah sama Astrid."
Ryan duduk di sofa bersama Mia. "Mommy tenang, ya. Mia bukan anak saya. Eu ... dia ini anak teman lama saya, Mom. Mia manggil saya Ayah karena saya mirip sama Ayahnya yang udah meninggal." Ryan terpaksa berbohong Lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Mia.
Sofia tidak serta merta mempercayai penjelasan Ryan. Ia duduk di sofa yang berbeda dengan mereka seraya menatap wajah Ryan dan Mia secara bergantian. Duduk bersanding seperti itu, kemiripan Ryan dan Mia semakin terlihat mencolok.
"Kamu gak lagi ngebohongi Mommy, 'kan?" tanya Sofia.
"Mana berani saya bohong sama Mommy." Ryan merasa gugup.
Sementara Sofia, pandangan matanya beralih kepada Mia. Rasanya seperti melihat Ryan dalam versi perempuan, anehnya, Sofia merasakan getaran aneh. Ia yang sudah sejak lama menginginkan seorang cucu merasa senang dengan kehadiran Mia.
Ryan yang menyadari ada yang berbeda dengan tatapan mata ibunya segera menggendong Mia. "Saya anterin Mia ke Ibunya dulu ya, Mom. Udah terlalu lama juga Mia di sini."
Sofia menghela napas panjang. "Gak usah, biarkan aja Mia di sini. Biar Mommy yang jagain dia."
Ryan merasa terkejut karena sebelumnya Sofia marah dengan kehadiran Mia. "Mommy pasti bercanda, 'kan? Tadi Mommy marah ngeliat Mia di sini." Ryan kembali duduk bersama Mia.
"Siapa yang marah? Nggak ko."
Ryan terdiam sejenak merasa bingung dengan perubahan sikap ibunya. Sementara Sofia, seketika berdiri tegak Lalu beralih tempat duduk tepat di samping Mia.
"Mia, mau main sama Oma?" tanya Sofia seraya membelai rambut Mia. "Temani Oma jalan-jalan, mau?"
Mia menganggukkan kepala dengan wajah ceria. Sedangkan Ryan dibuat semakin terkejut dengan sikap sang ibu. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap Sofia bisa menerima Mia menjadi cucunya karena Ryan memutuskan untuk kembali mengejar cinta Maya.
"Mommy serius mau ngajakim Mia jalan-jalan?" tanya Ryan seraya tersenyum lebar.
"Tentu saja," jawab Sofia merasa antusias.
"Hmm! Tapi saya harus izin dulu sama Ma-" Ryan menahan ucapannya karena tidak ingin menyebut nama Maya. "Maksud saya, saya harus izin dulu sama Ibunya."
"Gak usah, Ayah. Ibu pasti lagi kerja," ujar Mia tidak ingin menganggu sang ibu.
"Kamu aja yang izinin sama dia, Ryan. Kayaknya, dia juga bakalan kasih izin ko, secara 'kan dia gak perlu nyewa baby sitter buat jagain anaknya," imbuh Sofia.
Ryan terdiam sejenak. Apa Maya tidak keberatan ibunya membawa Mia keluar tanpa seizinnya? Pria itu memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan mencoba untuk berfikir.
"Udah, gak usah banyak mikir. Mommy bawa Mia jalan-jalan sekarang," tegur Sofia seraya berdiri tegak.
"Tapi, Mom." Ryan melakukan hal yang sama.
"Gak usah tapi-tapi segala. Mommy yakin Ibunya Mia gak akan marah," kata Sofia lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Mia. "Mia, kita jalan-jalan sekarang. Kita makan di restoran enak, mau?"
"Mau, Oma. Mau," jawab Sofia dengan wajah ceria lalu berdiri tegak di samping Sofia.
Ryan menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Ya sudah, Mommy hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa telpon saya."
Sofia menganggukkan kepala seraya menggenggam telapak tangan Mia.
"O iya, Mommy harus kembali sebelum jam empat sore, oke?"
"Iya-iya, astaga!" decak Sofia seraya memutar bola matanya kesal.
***
Sofia berjalan di lobi kantor seraya menggenggam telapak tangan Mia. Wajahnya terlihat ceria, kehadiran Mia membuatnya merasa senang entah mengapa. Padahal, ini adalah perjumpaan pertama mereka. Hal yang sama pun dirasakan oleh Mia. Maya sang ibu jarang sekali mengajaknya jalan-jalan keluar apa lagi membawanya makan di restoran enak. Gadis kecil itu terlihat begitu bahagia juga merasa dekat dengan orang yang sebenarnya baru pertama ia jumpai.
Maya yang tengah mengelap kaca jendela berukuran besar seketika membulatkan bola matanya saat melihat Mia berjalan bersama Sofia. Telapak tangannya terhenti, jantungnya berdetak sangat kencang. Waktu seakan berhenti bergulir. Melihat wajah Sofia membuat ingatan tujuh tahun silam kembali singgah di otaknya. Terlebih, Sofia tengah menggandeng telapak tangan Mia terlihat akrab.
"Ya Tuhan, apa aku gak salah liat? Mia sama Tante Sofia?" gumam Maya menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya sendiri. "Sebenarnya apa yang terjadi? Aku harus tanya sama Ryan. Kenapa dia biarin Mia pergi tanpa seizin aku."
Maya mengakhiri pekerjaannya lalu berjalan menuju ruangan Direktur dengan tergesa-gesa.
***
Sesampainya di depan ruangan Direktur, Maya membuka pintu kasar tanpa mengetuknya terlebih dahulu membuat Ryan yang tengah menyelesaikan pekerjaannya seketika terkejut seraya menoleh ke arah pintu.
"Maya," gumamnya berdiri tegak.
Maya melangkah mendekat meja dengan wajah memerah. "Kenapa Anda membiarkan Mia pergi sama Ibu Anda, Pak Ryan? Seharusnya Anda izin dulu sama aku!"
"Maaf, May. Saya udah coba larang, tapi Mia sendiri yang pengen ikut sama Mommy," jawab Ryan berjalan mendekat.
"Seharusnya Anda izin dulu sama aku, Pak. Punya hak apa Anda--"
"Saya minta maaf kalau saya udah lancang ngizinin mereka pergi, Maya. Saya ngaku salah," sela Ryan merasa bersalah.
"Kalau Ibu kamu sampe tau siapa Mia sebenarnya bisa gawat, Pak Ryan. Gawat!" bentak Maya dengan kedua mata berkaca-kaca.
Ryan bergeming seraya menatap lekat wajah Maya.
"Pokoknya, aku gak mau tau, kamu suruh Ibu kamu balik sekarang juga."
"Tunggu, May. Maksud kamu apa? Kenapa kamu takut Mommy tahu siapa Mia sebenarnya? Memangnya Mia siapa?" tanya Ryan membuat Maya seketika bergeming.
Bersambung ....