Bab 8. Kebenaran

1066 Kata
Maya menatap dalam wajah Ryan. Apakah ini adalah waktu yang tepat untuknya mengatakan siapa Mia sebenarnya? Tatapan mata Maya membuat Ryan semakin merasa yakin bahwa mantan kekasihnya itu tengah menyembunyikan sesuatu. "Jawab pertanyaan saya, Maya?" tanya Ryan, meletakan telapak tangannya di kedua sisi bahu Maya. "Siapa Mia sebenarnya? Apa dia put-ri sa-saya?" Ryan terbata. Maya memejamkan kedua matanya sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ryan menurunkan telapak tangannya merasa terkejut. Tatapan matanya nampak kosong, jantungnya seakan berhenti berdetak setelah mendengar jawaban Maya. Firasatnya selama ini benar ternyata, Mia adalah buah cinta terlarangnya bersama Maya. Satu pertanyaannya, mengapa Maya menyembunyikan kehamilannya dan meninggalkannya tujuh tahun lalu saat dirinya mengalami kecelakaan hebat? Ryan menatap wajah Maya dengan kedua mata berkaca-kaca. "Kenapa kamu gak bilang kalau kamu hamil, May? Kenapa kamu ninggalin saya tujuh tahun lalu?" Maya balas menatap wajah Ryan, buliran bening seketika bergulir dari pelupuk matanya. "Bukan aku yang ninggalin kamu, Ryan, tapi kamu sendiri yang ninggalin aku!" ujarnya penuh emosi. "Apa maksud kamu, May? Saya gak pernah ninggalin kamu. Saya berani bersumpah demi apapun!" Maya membuang muka ke arah samping seraya menyeka air matanya yang terus bergulir. Ryan kembali meletakan telapak tangannya di bahu Maya. "Saya kecelakaan hebat tujuh tahun yang lalu dan saya lumpuh." Maya menggelengkan kepalanya. "Nggak, kamu gak mungkin kecelakaan, Ryan. Tujuh tahun lalu, orang tua kamu dateng dan memberiku undangan." "Maksud kamu undangan siapa?" "Undangan pernikahan kamu!" "Astaga!" Ryan berdecak kesal seraya mengusap wajahnya kasar. "Saya gak pernah menikah sama siapapun, Maya. Gak pernah!" Mereka berdua terdiam, terjebak dalam kenangan masa lalu. Perpisahan yang tidak terduga dan kebohongan yang menyakitkan. Semua itu membuat mereka syok dan tidak menyangka bahwa orang yang telah memisahkan mereka adalah orang tua Ryan sendiri. "Jadi, selama ini saya dibohongi sama orang tua saya sendiri," gumam Ryan merasa tidak percaya dan kecewa. "Meskipun sekarang kita bersama pun percumah, Ryan. Orang tua kamu gak akan setuju dan kamu udah punya Astrid," lemah Maya dengan kepala menunduk. "Jadi, tolong biarkan aku hidup tenang sama Mia." "Tapi Mia putri saya, Maya. Mana mungkin saya membiarkan kalian hidup susah kayak gini," kata Ryan penuh penekanan. "Izinkan saya bertanggung jawab, May. Izinkan saya menikahi kamu." "Terus, gimana sama Astrid, hah? Kalian udah tunangan." "Tapi kami belum menikah, pertunangan bisa dibatalkan kapan aja." Maya terdiam mencoba mempertimbangkan tawaran Ryan. "May," lemah Ryan meraih lalu menggenggam telapak tangan Maya. "Kenapa kamu diem aja?" "Gimana sama Ibu kamu, Ryan? Aku yakin beliau gak akan merestui kita," lemah Maya seraya terisak. "Benteng pemisah kita terlalu tinggi, kita gak mungkin bersatu. Aku harus berperang dengan dua wanita hebat, Ibu kamu dan Astrid. Aku bukan Wonder Wongan, Ryan. Aku gak bisa menghadapi mereka." "Hey, kamu masih punya saya." Ryan menekankan. "Saya akan melindungi kamu, gak akan ada orang yang berani menyakiti kamu, May." Maya menatap Ryan dengan kedua mata berkaca-kaca. "Apa kamu yakin bisa melindungi aku dari ibu kamu dan Astrid? Mereka gak akan menyerah buat misahin kita, Ryan." Ryan mengangguk kuat. "Saya akan melindungi kamu, Maya. Saya gak akan membiarkan siapa pun menyakiti kamu. Kita akan menghadapi semuanya sama-sama." Maya menghela napas dalam-dalam, mempertimbangkan kata-kata Ryan. Dia tahu bahwa perjuangan belum berakhir, tapi dengan Ryan di sisinya, dia merasa lebih kuat. Satu yang membuatnya bahagia, akhirnya dirinya memberikan keluarga yang utuh untuk Mia. Sosok ayah yang selama ini diimpikan oleh putrinya kini benar-benar nyata di depan mata. "Aku percaya sama kamu, Ryan," kata Maya pelan. "Tapi gimana sama Mia? Apa kamu siap jadi ayah sebenarnya buat dia?" Ryan tersenyum lembut. "Saya udah siap, Maya. Saya ingin menjadi ayah yang baik buat Mia dan suami yang setia buat kamu." Maya tersenyum tipis, harapan baru muncul di hatinya. Mereka berdua memeluk erat, siap menghadapi tantangan bersama. Cinta yang dahulu hilang akhirnya kembali pulang, meskipun masih banyak aral melintang yang akan mengiringi perjalanan cinta mereka. Namun, Maya percaya sepenuhnya kepada Ryan dan akan menyerahkan hidupnya kepada pria itu. Maya mengurai pelukan. "Tapi aku mohon jangan terlalu terburu-buru, Ryan. Kita lakukan pelan-pelan aja." Ryan mengerutkan kening merasa tidak mengerti. "Maksud kamu?" "Maksud aku, jangan bilang dulu sama Ibu kamu tentang Mia dan kita," jelas Maya. "Aku gak mau Ibu kamu syok. Biarkan semuanya mengalir seperti air yang mengalir. Kita tunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semua ini sama Tante Sofia." Ryan bergeming seketika mengingat penyakit lemah jantung yang diderita oleh Sofia. Ia memang merasa kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Sofia tujuh tahun silam, tapi mengingat penyakit sang ibu membuatnya tidak memiliki pilihan lain lagi selain memaafkan. Satu harapannya di sini, semoga Tuhan memberi mereka jalan untuk bersama dan mempersatukan cinta yang terpisah tujuh tahun lamanya dengan ikatan pernikahan. "Sekarang Mia, gimana?" tanya Maya. "Hmm! Kayaknya Mommy langsung suka sama dia deh. Jadi, kamu gak usah khawatir. Mia pasti baik-baik aja. Kita gunakan Mia untuk memenangkan hati Mommy," jawab Ryan. "Aku mohon jangan kasih tau Tante Sofia tentang siapa Mia Ryan. Kita tunggu waktu yang tepat, ya." Ryan menganggukkan kepala lalu memeluk tubuh Maya erat. "Aku harus balik kerja lagi, Ryan. Aku gak mau terlalu lama di sini, aku takut di sangka ngegoda kamu," ucap Maya dengan berat hati. Ryan kembali memeluk Maya penuh kerinduan. "Tinggallah lebih lama di sini, May. Saya kangen banget sama kamu." Maya tersenyum kecil seraya melingkarkan kedua tangannya di punggung Ryan. Bukan hanya Ryan saja yang menahan rasa rindu, dirinya pun merasakan hal yang sama. Setelah perpisahan mereka dahulu, hatinya terasa membeku. Kerinduan berbalut rasa kecewa seolah mengurung jiwanya kala itu. Maya bahkan menutup hatinya untuk pria lain dan fokus dalam mengurus buah hatinya tanpa seorang pendamping. "Kita bisa ketemu lagi setelah aku selesai kerja, Ryan. Sekarang aku harus balik sebelum Pak Doni marahin aku lagi," jawab Maya seraya mengurai pelukan. "Si Doni marahin kamu?" Ryan membulatkan bola matanya. "Cuma negur wajar aja sih." "Dasar b******k, berani sekali dia marahin kamu, emangnya dia siapa? Saya pecat dia sekarang juga!" Ryan murka. Maya tersenyum ringan. "Jangan gunakan kekuasaan kamu buat urusan pribadi, Pak Ryan. Jangan mentang-mentang Direktur, kamu seenaknya mecat orang." "Tapi, May!" "Sttt!" Maya meletakan jarinya di antara bibir Ryan. "Gak usah dibahas lagi. Sekarang aku turun dulu, ya. Walau bagaimanapun, aku gak mau karyawan kantor curiga dan tahu tentang kedekatan kita. Aku gak mau dituduh menggoda kamu." Ryan tersenyum ringan lalu menurunkan jari Maya seraya menatapnya sayu. Telapak tangannya perlahan bergerak naik lalu membelai satu sisi wajahnya seraya mendekatkan bibirnya hendak mengecup bibir Maya. Namun, suara ketukan di pintu seketika mengejutkan mereka. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN