Bibir Maya dan Ryan hampir saja bersatu. Maya dengan kedua mata terpejam siap menerima kecupan, tapi suara ketukan di pintu seketika mengejutkan mereka. Baik Ryan maupun Maya segera mengurai jarak dengan perasaan gugup saat Desi membuka pintu.
"Selamat siang, Pak Ry--" Desi menahan ucapannya seraya menatap wajah Maya dan Ryan secara bergantian. "Maaf, Pak. Saya gak bermaksud mengganggu Anda. Eu ... itu--"
Desi tergagap, tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia terkejut melihat Maya dan Ryan begitu dekat.
Ryan mengambil napas dalam-dalam, berusaha tenang. "Tidak apa-apa, Desi. Silakan masuk."
Maya memisahkan diri, berjalan menjauhi Ryan.
Desi memasuki ruangan dengan hati-hati. "Pak Ryan, ada tamu. Ibu Astrid sudah tiba."
Ryan mengernyit, merasa tidak nyaman. "Kenapa Astrid harus dateng sekarang sih?" gumamnya pelan.
Maya menatap Ryan, khawatir. "Apa yang akan kamu katakan pada Astrid?"
Ryan memberikan senyum ringan. "Jangan khawatir, Maya. Astrid biar saya yang urus."
Orang yang baru disebutkan namanya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Astrid dengan mengenakan stelan kasual berwarna biru muda menatap wajah Maya dengan tatapan tidak suka.
"Kamu lagi," decaknya kesal. "Lagi ngapain kamu di sini, Ob? Tempat kamu itu di belakang bukan di ruangan Direktur."
"Maaf, Mbak. Saya permisi." Maya hendak melangkah.
"Tunggu," pinta Astrid membuat Maya sontak menahan langkah kakinya.
"Iya, Mbak," jawab Maya dengan kepala menunduk.
"Bawain aku s**u hangat," perintah Astrid. "Satu lagi, jangan panggil aku Mbak, emangnya aku Mbak-mu apa. Panggil aku Nyonya, paham?"
Maya menganggukkan kepala pelan, sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruangan. Sementara Ryan hanya bisa menatap kepergian Maya penuh rasa iba. Andai saja wanita itu tidak memintanya untuk menyembunyikan hubungan mereka, mungkin sudah ia marahi Astrid habis-habisan.
"Mau ngapain lagi kamu ke sini, Astrid? Saya lagi sibuk," tanya Ryan dingin, berjalan menuju kursi Direktur.
Bukannya menanggapi pertanyaan Ryan, Astrid menatap sinis wajah Desi. "Lagi ngapain kamu di sini? Cepat keluar!"
"Hah? Ba-baik, Mbak," jawab Desi segera berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan.
Ryan menghela napas panjang. "Kamu itu Dokter, Astrid. Apa pantas Dokter bersikap kasar kayak gitu? Pasien kamu bisa kabur nanti."
Lagi-lagi Astrid mengabaikan pertanyaan Rian. Wanita itu meraih beberapa contoh surat undangan yang sengaja ia ambil dari percetakan lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini contoh undangan pernikahan kita, Ryan. Kamu pilih satu, ya," ucapnya seraya tersenyum ringan.
Ryan meraih undangan tersebut lalu menatapnya satu-persatu. "Hmm! Terserah kamu aja," ucapnya dingin lalu kembali meletakannya di atas meja.
"Hmm! Baiklah, aku akan pilih yang ini," jawab Astrid meraih satu undangan berwarna kuning keemasan. "Warnanya bagus, desainnya juga mewah. Kita pake yang ini aja, ya."
Ryan menatap lekat wajah Astrid. "Kamu yakin mau menikah sama saya?"
Astrid mengerutkan kening. "Maksud kamu apa?"
Ryan ingin memutuskan pertunangan mereka, tapi ia belum siap dengan resiko yang harus ditanggung nantinya. Bagaimana jika Sofia syok dan terkena serangan jantung? Nyawa sang ibu bisa saja melayang. Namun, sampai kapan ia harus berpura-pura seperti ini? Ryan mengusap wajahnya kasar benar-benar dihadapkan pada pilihan sulit.
"Kita sudah dua tahun bertunangan, Ryan. Mana mungkin aku gak yakin sama pilihan aku?" tanya Astrid. "Cuma kamu pria sempurna yang pantas mendampingi aku."
"Terserah kamu aja, saya sibuk," kata Ryan dingin.
"Kamu pikir aku gak sibuk, hah? Aku juga sibuk, Ryan."
"Ya udah, kamu balik ke Rumah Sakit sekarang. Saya yakin pasien kamu lagi pada nunggunin."
Astrid memutar bola matanya kesal. Selain bersikap dingin, calon suaminya itu tega mengusirnya secara halus membuatnya semakin merasa kecewa. Namun, hal tersebut tidak membuatnya menyerah, meskipun ia tahu betul bahwa Ryan sama sekali tidak mencintainya. Baginya, suatu kebanggan tersendiri memiliki seorang suami pria matang, kaya raya dan tampan seperti Ryan.
***
Sore hari pukul 16.30, Maya bersiap untuk pulang. Seragam OB yang ia kenakan telah diganti dengan pakaian biasa. T-shirt berwarna hitam dengan celana jeans abu nampak membalut tubuh langsingnya, sementara jaket jeans hanya ia genggam. Maya melangkah meninggalkan mes kantor seraya menarik ikatkan rambutnya yang semula ia gulung di ujung kepala.
"Ibu," seru Mia berjalan dari kejauhan bersama Ryan.
Ryan sontak menahan langkah kakinya, sementara Mia berlari menghampiri Maya. Ryan tersenyum ringan saat melihat Maya menyibakkan rambut panjangnya. Maya masih terlihat sama seperti tujuh tahun lalu. Kecantikannya sama sekali tidak termakan waktu meskipun wanita itu sudah melahirkan seorang putri bahkan banting tulang sendiri untuk menafkahi Mia dan menjadi ibu tunggal. Ryan benar-benar terpesona dengan kecantikannya, jiwanya seakan kembali muda. Pikirkannya sejenak kembali melayang ke masa lalu ketika ia pertama kali bertemu dengan Maya.
Maya adalah juniornya di kampus, mereka terpaut usia tiga tahun. Ryan lulus terlebih dahulu dari Fakultas Ekonomi dan berniat akan segera melamar Maya kala itu. Namun, karena kecelakaan tragis yang menimpanya, Ryan mengalami kelumpuhan dan harus menjalani perawatan di luar negeri selama tujuh tahun lamanya. Maya dan Mia berjalan menghampiri Ryan seraya tersenyum lebar.
"Ayah, ko bengong gitu?" tanya Mia membuyarkan lamunan panjang seorang Ryan.
"Kamu ngelamunin apaan sih, Pak Ryan?" tanya Maya berhenti tepat di depan Ryan.
"Jangan panggil saya Pak dong, May. Di sini 'kan gak ada siapa-siapa," pinta Ryan.
"Tapi kita 'kan masih di kantor, Pak Ryan. Anda atasanku dan aku bawahan Anda. Aku takut ada yang denger nanti," jawab Maya.
"Hmm! Baiklah, kamu boleh memanggil saya 'Pak' di kantor, tapi kamu harus memanggil Mas saat kita sedang di luar, gimana?"
Maya memutar bola matanya seraya menahan senyuman. "Hmm ... baiklah, aku akan tetap manggil Anda 'Pak' di kantor, tapi apa aku harus manggil Anda Mas di luar kantor?"
"Ya kalau kamu gak mau manggil Mas, gimana kamu manggilnya ayang?"
"Hah?" Mata Maya membulat.
"Ya udah, Ibu manggil Ayah ayang aja. Lebih romantis," celetuk Mia tersenyum menggoda.
"Astaga, masih kecil udah genit ya kamu," decak Ryan seraya menggendong tubuh Mia.
"Hehehe!" Mia tertawa senang.
"Kita pulang sekarang?" tanya Maya dan segera dijawab dengan anggukan ceria oleh Ryan dan putrinya.
Tanpa mereka sadari, ada sosok lain yang tengah memperhatikan mereka dari balik pilar besar. Sosok itu pun segera mengabadikan kebersamaan Maya dan Ryan menggunakan ponsel canggih miliknya lalu mengirimkan kepada orang lain.
"Yes, akhirnya gue bakalan dapet duit gede," gumamnya segera mengangkat sambungan telpon saat ponselnya berdering.
"Halo, Mbak," sapanya seraya meletakan ponsel canggihnya di telinga.
"Kapan kamu ngambil poto ini, hah?" samar-samar terdengar suara seorang wanita di dalam sambungan telpon.
Bersambung ....