"Baru saja, Mbak. Mereka benar-benar dekat. Bahkan anaknya juga ada," jawab sosok misterius itu.
Suara wanita di seberang telepon terdengar senang. "Bagus, bagus! Kirimkan semua poto yang kamu ambil sama aku."
Sosok itu mengirimkan foto tersebut melalui pesan singkat. "Sudah, Mbak. Tapi, apa yang harus aku lakukin selanjutnya?" tanyanya.
"Kamu cukup awasi mereka, tapi ingat jangan terlalu menonjol, kamu gak mau 'kan kehilangan pekerjaan kamu?"
"Baik, Mbak. Aku akan awasi mereka, tapi Mbak gak lupa 'kan sama janji Mbak?"
"Iya, iya. Saya transfer upah kamu sekarang juga."
Maya, Ryan, dan Mia tidak menyadari bahaya yang mengancam kebahagiaan mereka. Mereka berjalan keluar, tanpa mengetahui konsekuensi dari foto yang baru saja dikirimkan.
***
Di Rumah Sakit tempat di mana Astrid bekerja. Astrid mendengus kesal mata hitamnya berkilau penuh kemarahan. Poto Ryan dan Maya di ponselnya memicu kemarahan yang tidak terbendung. Firasatnya benar ternyata, Ryan memiliki hubungan spesial dengan wanita bernama Maya yang berkerja sebagai OB di perusahaan calon suaminya itu.
"Sial, jadi kecurigaanku benar?" umpat Astrid seraya meletakan ponsel miliknya di atas meja. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakuin sekarang? Aku gak mau kalau sampai pernikahanku sama Ryan gagal lagi. Aku harus menikah sama dia apapun yang terjadi."
Astrid memirkirkan konsekuensi apabila pernikahnnya gagal. Kehilangan status sosial, keuangan keluarga, dan tekanan keluarga. Ia tidak bisa membiarkan Maya menghancurkan rencananya tersebut.
"Aku harus memisahkan Maya dari Ryan, cara satu-satunya dia harus keluar dari perusahaan itu," gumamnya penuh dendam.
***
Maya baru saja tiba dikediamannya bersama Ryan dan Mia. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Wajah Mia terlihat ceria karena akhirnya memiliki seorang ayah yang selama ini ia idam-idamkan kehadirannya. Ketiganya baru saja memasuki rumah.
"Mia, mandi dulu yu," pinta Maya seraya meletakan tas yang ia bawa di atas meja.
"Aku udah mandi sama Oma tadi, Bu," jawab Mia.
"Oma?" Maya mengerutkan kening.
"Iya, sama Oma. Tadi aku main ke rumahnya Oma, Bu. Aku dimandiin deh sama Oma."
Baik Ryan maupun Maya seketika menoleh dan menatap wajah satu sama lain merasa bingung. Sofia dan Mia baru pertama kali berjumpa, tapi mereka sudah sedekat itu? Ryan merasa lega, ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka. Semoga saja Sofia bersedia menerima Maya yang merupakan ibu kandung Mia.
"Ibu sama Ayah ko bengong gitu?" tanya Mia menatap Ryan dan ibunya secara bergantian. "Oma baik banget tau, besok juga kami mau jalan-jalan lagi. Boleh 'kan, Bu?"
Maya bergeming, pikirannya melayang. Ia bahkan tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh putrinya. "Ya Tuhan, apa yang akan terjadi kalau Tante Sofia tahu bahwa Mia cucu kandungnya? Apa dia akan mengambil Mia dari aku?" batinnya mulai ketakutan.
"May," sapa Ryan seraya menyentuh pundak Maya pelan.
"Hah? Eu ... maaf Ibu ngelamun tadi," jawab Maya, matanya terpejam mencoba untuk menyudahi lamunan. "Kamu bilang apa tadi, Sayang?"
"Boleh 'kan besok aku jalan-jalan lagi sama Oma?" Mia mengulangi pertanyaannya.
"Besok 'kan kamu sekolah, Mia."
"Pulang sekolah, Ibu."
"Nggak boleh."
"Ibu." Mia merengek.
Maya mengusap wajahnya kasar seraya menghela napas panjang. Sementara Ryan menatap wajah Maya dengan kening yang dikerutkan.
"Kamu kenapa, May?" tanyanya merasa penasaran.
"Aku gak apa-apa, Ryan. Aku mandi dulu, ya," jawab Maya datar, lalu melangkah menuju kamar dan masuk ke dalam sana dengan perasaan campur aduk.
Maya menutup pintu dengan perasaan berkecamuk, bagaimana jika Sofia tetap tidak menyetujui hubungannya dengan Ryan? Bagaimana jika Sofia mengambil Mia darinya sementara menolaknya menjadi menantu? Maya berdiri di belakang pintu dengan pikiran melayang.
"Ya Tuhan, semoga Tante Sofia mau menerimaku sebagai menantunya," gumam Maya.
Maya tidak menyesali keputusannya untuk memulai kembali hubungannya dengan Ryan, memperbaiki kesalahan, dan meluruskan kesalah pahaman di antara mereka. Setelah mendengar penjelasan Ryan, tidak ada salahnya jika ia kembali menerima ayah dari putrinya itu, toh perasaan mereka masih sama meskipun sudah terpisahkan selama tujuh tahun lamanya. Namun, hatinya mulai diselimuti ketakutan, bagaimana jika Sofia mengetahui siapa Mia sebenarnya dan mengambil Mia darinya? Mengingat Sofia tidak pernah menyukainya dan tidak mungkin menyetujui hubungan mereka.
Maya menarik napas dalam-dalam seraya menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menyingkirkan pikirkan negatif yang membuat dadanya terasa sesak. "Tidak, aku gak akan membiarkan siapapun mengambil Mia dariku, termasuk Tante Sofia," batinnya.
***
Maya keluar dari dalam kamar sudah bergantian pakaian, piyama berwarna abu melingkar di tubuhnya. Rambut panjangnya nampak basah dan sedikit berantakan. Wajahnya terlihat segar tanpa polesan make up sedikit pun. Maya mengedarkan pandangan matanya menatap sekeliling ruangan mencari keberadaan Mia dan Ryan.
"Mia, kamu di mana, Sayang?" tanya Maya melangkah.
"Aku di sini, Bu," teriak Mia dari kamarnya.
Maya melanjutkan langkahnya menuju kamar sang putri lalu membuka pintu. Mia dan Ryan nampak berbaring di atas ranjang. Keduanya sontak menoleh dan menatap wajah Maya seraya tersenyum lebar.
"Aku mau bobok sama Ayah," rengek Mia seraya memeluk tubuh Ryan.
"Ayah kamu harus pulang, Mia. Nanti dicariin sama Oma lho," jawab Maya melangkah memasuki kamar.
"Ibu tenang aja, Oma orangnya baik ko. Gak mungkin Oma marahin Ayah," jawab Mia.
Maya terdiam lalu duduk di tepi ranjang seraya menatap wajah Mia. "Kamu gak tau seperti apa Oma kamu, Mia. Ibu takut Oma kamu gak mau menerima Ibu," batinnya masih diselimuti ketakutan.
"Nah 'kan Ibu ngelamun lagi," decak Mia menatap lekat wajah sang ibu. "Ibu tidur sama kami di sini, ya."
Maya tersenyum hambar. "Gak usah, Ibu tidur di kamar Ibu aja," jawab Maya lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Ryan. "Kamu gak mau pulang, Pak Ryan?"
"Ko 'Pak' sih? Kita 'kan udah sepakat kalau kamu akan manggil saya dengan sebutan 'Mas' di luar kantor," protes Ryan seraya tersenyum cengengesan.
"Iya, Ibu gimana sih? Masa di rumah manggil Ayah 'Pak' juga? Panggil Mas, Ibu. Mas Ryan," tergur Mia dengan begitu polosnya.
"Astaga anak ini," decak Maya seraya mengacak rambut panjang Mia. "Iya deh iya, Ibu panggil Mas Ryan. Puas?"
Mia tersenyum lebar. "Nah gitu dong. Itu baru bagus," ucapnya merasa senang. "Sini deh, Ibu tidur disamping aku. Kita tidur bertiga."
Maya bergeming merasa canggung, bagaimana mungkin mereka tidur bertiga? Meskipun ia dan Ryan sudah memutuskan untuk kembali bersama, tapi hubungan mereka belum sedekat dulu. Maya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Nggak deh, kamu aja yang tidur di situ. Ibu keluar dulu, ya." Maya berdiri tegak.
"Naiklah dan tidur sama kami, May," pinta Ryan. "Saya janji akan pulang setelah Mia tidur."
Maya kembali duduk di tepi ranjang sebelum akhirnya berbaring tepat di samping Mia. Anak itu terlihat begitu bahagia berada di tengah-tengah kedua orang tuannya. Kedua sisi bibirnya nampak menyunggingkan senyuman seraya meraih telapak tangan Maya dan Ryan lalu menyatukan di atas perutnya.
"Aku seneng bengat, Bu, Yah. Aku berharap kita bisa tidur kayak gini setiap hari," kata Mia seraya menatap langit-langit kamar. "Eu ... Ayah tinggal aja di sini sama kami, aku yakin Oma gak bakalan keberatan ko. Biar nanti aku yang bilang sama Oma."
Bersambung ....