Bab 11. Tidur Bersama

1132 Kata
"Jangan!" seru Ryan dan Maya secara bersamaan. Mia mengerutkan kening. "Kenapa?" Ryan menggaruk kepala seraya tersenyum cengengesan. "Nanti Ayah dimarahi Oma kamu, Mia. Kamu gak mau 'kan Ayah dimarahin?" "Lho, Oma kayaknya baik ko. Gak mungkin Oma marahin Ayah," jawab Mia polos. Maya menarik napas dalam-dalam seraya memperbaiki selimut yang menutup tubuh putrinya. "Udah, kamu cepetan bobo. Kalau Ayah sama Ibu bilang jangan ya jangan. Kalau kamu masih ngeyel, Ibu gak bakalan ngizinin kamu ketemu sama Oma lagi, mau?" "Ya udah ia, dasar bawel," decak Mia seraya memutar badan, meringkuk tepat di depan sang ayah. "Bawel?" Mata Maya membulat. "Iya, Ibu bawel." Mia mengulangi pertanyaannya. "Udah akh, aku ngantuk, Bu. Ibu jangan ngomong aja, ya." Maya tersenyum kesal seraya mencubit gemas punggung putrinya. "Ikh ... dasar anak nakal!" "Haaa! Ampun, Ibu. Ampun ..." Mia tertawa geli seraya menggerakkan tubuhnya sedemikan rupa. Ryan turut tertawa bahagia menyaksikan momen bahagia itu. Di samping wanita yang ia cintai, ia merasakan kehangatan keluarga baru. Satu harapan menghiasi hatinya, semoga cinta mereka bisa melewati badai dan aral melintang. Meskipun perjalanan cinta mereka masih panjang, Ryan yakin bahwa cinta sejati akan mempersatukan mereka. Mereka harus melangkah bersama, melewati kerikil tajam dan mengatasi badai, hingga akhirnya berlabuh di pelaminan cinta abadi. "Semoga Mommy mau membuka hatinya buat kamu, May. Semoga beliau mengerti dan merestui kita," batin Ryan. *** Keesokan harinya tepat pukul 07.00, sinar matahari pagi menembus jendela, membasuh wajah Maya dengan kehangatan. Saat membuka mata, ia menemukan dirinya memeluk sesuatu yang hangat dan nyaman. Aroma maskulin yang khas mengisi hidungnya, membuatnya terjaga secara mendadak. "Huaa! Jam berapa ini?" gumamnya seketika terperanjat. Maya menyadari bahwa yang ia peluk bukanlah bantal, melainkan tubuh Ryan yang masih terlelap. Kehangatan dan aroma maskulinnya membuat hatinya bergetar. Namun, saat Ryan membuka mata, Maya langsung menutup mata dan berpura-pura terlelap, mencoba menyembunyikan kecanggungannya. Mata Ryan membulat saat menyadari bahwa tubuhnya dipeluk erat oleh Maya. Kepala wanita bahkan berada di antara ketiaknya dengan telapak tangan yang melingkar di perutnya. Jantung Ryan berdetak kencang, sesuatu yang aneh terasa mengusik ketenangan jiwanya. Ryan menarik napas dalam-dalam mencoba untuk menekan gairah yang tiba-tiba naik kepermukaan. "Ya Tuhan, gimana ini? Kenapa Maya bisa tidur begini?" gumam Ryan tubuhnya membeku. Pintu kamar tiba-tiba dibuka mengejutkan mereka berdua. "Ayah, Ibu, kalian gak bangun? Aku harus sekolah, Bu," seru Mia melangkah memasuki kamar. Maya dan Ryan terperanjat, keduanya sontak duduk tegak dengan wajah polos seolah baru saja terjaga. "Kamu apaan si, Mia? Ibu masih ngantuk tau," kata Maya seraya membuka mulutnya lebar-lebar. "Emangnya sekarang jam berapa?" "Jam tujuh!" "Hah?" Maya dan Ryan terkejut. "Astaga, kenapa kamu gak bangunin kami?" Keduanya turun dari atas ranjang dengan tergesa-gesa. "Gawat, bisa diomeli aku sama Pak Doni. Aduuuh, gawaaat!" decak Maya segera berlari keluar dari dalam kamar. "Salah kalian sendiri tidurnya nyenyak banget, aku jadi gak tega banguninnya," sahut Mia seraya tersenyum ceria. Melihat Maya dan Ryan tidur bersama benar-benar membuatnya bahagia. Ia merasa memiliki keluarga lengkap, dirinya bahkan mandi dan berpakaian sendiri karena tidak ingin mengganggu kebersamaan orang tuanya. *** Di kantor, Maya berlari menuju dapur OB dengan napas terengah-engah. Rambutnya terikat secara terburu-buru, terlihat sedikit berantakan. Saat memasuki dapur, langkahnya terhenti sejenak ketika menemukan Doni, Koordinator Office Boy, yang sudah menunggu dengan tatapan tajam. "Bagus kamu, ya. Jam berapa sekarang, hah?" bentak Doni seraya menunjuk wajah Maya. "Kamu pikir perusahaan ini punya kamu apa?" Maya membungkuk meminta maaf. "Maafin saya, Pak. Saya kesiangan." "Saya tau kamu kesiangan, Maya. Liat, jam berapa ini, hah? Mau saya pecat kamu!?" Maya kembali membungkuk secara berkali-kali. "Maafin saya, Pak. Saya janji gak akan terlambat lagi, saya mohon jangan pecat saya." "Udah berapa kali kamu kayak gini?" tanya Doni murka. "Kamu pikir perusahaan ini punya nenek moyang kamu, Maya?!" Maya terdiam merasa bersalah. "Mendingan kamu pulang, saya gak butuh karyawan seperti kamu!" Maya terkejut. "Hah? A-Anda memecat saya, Pak?" "Iya, kamu saya pecat! Masih banyak orang lain yang membutuhkan perkejaan, hari ini dan seterusnya kamu gak usah masuk kantor lagi, paham?" Doni menegaskan lalu melangkan meninggalkan ruangan. Maya mengejar. "Aku mohon jangan pecat aku, Pak. Aku janji gak akan terlambat lagi. Aku mohon maaf." Doni mengabaikan permintaan maaf Maya. Ini bukan pertama kalinya Maya melakukan kesalahan. Tempo hari, Maya meninggalkan kantor tanpa seizinnya dan sekarang jam 08.30 Maya baru memasuki kantor sementara jam kerja OB biasanya dinilai jam 07.00. Kesabaran Doni habis terkikis, ia akan segera mencari pengganti Maya. "Pak Doni!" seru Maya seraya menghentikan langkahnya merasa putus asa. "Ya Tuhan, kalau aku dipecat, ke mana lagi aku harus cari pekerjaan?" gumamnya seraya mengusap wajahnya kasar. Suara dering ponsel terdengar mengejutkan. Maya segera merogoh tas miliknya lalu meraih ponsel canggih dari dalam sana. Maya mengangkat sambungan telpon tanpa menatap layarnya terlebih dahulu. "Halo," sapa Maya datar. "Halo, siapa ini?" suara wanita paruh baya terdengar samar-samar. "Anda yang siapa?" tanya Maya merasa bingung. "Di mana Ryan? Kenapa hpnya bisa sama kamu? Kamu siapa?" Maya bergeming dengan kedua mata membulat lalu menatap ponsel yang ia genggam. Ponsel tersebut bukanlah ponsel miliknya melainkan ponsel milik Ryan. Sepertinya, ponsel mereka tertukar di rumah karena terburu-buru. "Hey! Haloo!" teriak wanita di dalam sambungan telpon. Maya terperanjat dan segera menutup sambungan telpon. "Astaga, kenapa hp kami bisa ketuker?" gumamnya seraya menatap layar ponsel. "Aku harus telpon Ryan sekarang juga." Maya menelpon ponsel miliknya yang sekarang berada di tangan Ryan. Tidak perlu menunggu terlalu lama, pria itu pun mengangkat sambungan telpon. "Halo, Ryan. Ini aku," sapa Maya seraya melangkah meninggalkan tempat itu. "Ada apa, May?" Suara Ryan terdengar santai. "Hp kita ketuker, Ryan." "Masa sih? Emangnya hp kita sama?" "Gak sama, aku juga gak tau kenapa bisa ketuker." "Saya di rumah, kamu ke sini aja." "Jangan bercanda, Ryan. Mana mungkin aku ke rumah kamu? Nanti kalau ketemu sama Tante Sofia, gimana?" "Kamu tenang aja, saya tinggal sendiri di apartemen. Nanti saya kirim alamatnya, oke?" Ucapan terakhir Ryan sebelum pria itu menutup sambungan telpon. Maya menghentikan langkahnya seraya membaca pesan berisi alamat apartemen tempat tinggal Ryan. Wanita itu terdiam sejenak. Kenapa Ryan memintanya ke sana? Kenapa tidak dia saja yang datang menemuinya? Maya menarik napas panjang lalu kembali melanjutkan langkahnya. "Hmm! Dasar modus, kamu sengaja 'kan memintaku ambil sendiri ke sana? Dasar!" decak Maya seraya tersenyum ringan. *** Sesampainya di apartemen, Maya berjalan di koridor mencari apartemen nomor 221 yang dihuni oleh Ryan. Maya menatap satu-persatu nomor yang tertulis di pintu yang ia lintasi. Apartemen dengan nomor tersebut berada di lantai lima. Maya menunjuk pintu yang berada tepat di sampingnya. "Yang ini nomor 219, berarti apartemen Ryan ada di depan," gumam Maya lalu melanjutkan langkahnya seraya tersenyum lebar. Akan tetapi, langkah Maya seketika terhenti saat melihat Astrid berdiri tepat di depan pintu kamar 221. "Mbak Astrid!" gumam Maya segera memutar badan. "Lagi ngapain Mbak Astrid di situ? Apa dia sengaja dateng ke apartemen Ryan?" Maya menarik napas dalam-dalam, rasa cemburu tiba-tiba datang mengusik ketenangan jiwanya. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN