Ryan tersenyum lebar saat mendengar suara bel berbunyi. Pria itu segera melangkah ke arah pintu lalu membukanya dengan wajah ceria, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
"Akhirnya kamu datang juga, Ma--" Ucapannya terhenti saat melihat wanita yang berdiri di depan pintu bukanlah Maya melainkan Astrid. Raut wajahnya berbuah, kecewa dan terkejut. "Mau ngapain kamu ke sini, Astrid? Kamu itu Dokter, emangnya kamu gak sibuk?"
Astrid menghela napas dalam-dalam. "Kamu lagi nungguin siapa, Ryan?"
Ryan memalingkan wajahnya ke arah lain. "Saya lagi nunggu pesanan on line," jawabnya datar mencoba untuk bersikap biasa saja.
Astrid melangkah memasuki apartemen bahkan sebelum sang pemilik apartemen mempersilahkannya. "Hari ini kita akan feeting baju pengantin, aku nelpon kamu gak diangkat. Jadi terpaksa deh aku datang ke sini."
Ryan memutar badan lalu melangkah memasuki kediamannya. "Hari ini saya si--"
"Hari ini saya sibuk. Itu 'kan yang mau kamu bilang?" sela Astrid bahkan sebelum Ryan menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan. "Pernikahan kita tinggal dua bulan lagi Ryan, udah gak ada waktu. Kalau kamu kayak gini terus, aku akan meminta Tante Sofia memajukan tanggal pernikahan kita."
Ryan mengusap wajahnya kasar, berdiri tak jauh dari Astrid. Pandangannya terpaku pada wajahnya, pikirannya berkecamuk. Banyak hal yang ingin ia katakan, tapi ia ragu mempertimbangkan dampaknya, terutama pada nasib ibunya, Sofia.
"Kenapa kamu diem aja, Ryan?" tanya Astrid. "Kamu mau membatalkan pernikahan kita?"
Ryan bergeming, ingin rasanya ia mengatakan iya. Namun, dirinya masih terjebak dalam keraguan. Bagaimana kalau Sofia syok hingga terkena serangan jantung? Kemungkinan terburuknya adalah, Sofia bisa saja meninggal saking terkejutnya.
"Kamu pasti mau bilang kalau kamu udah nemuin wanita lain, 'kan? Janda beranak satu, apa serendah itu selera kamu, Ryan?" batin Astrid balas menatap tajam wajah Ryan.
"Lain kali aja kita feeting baju pengantinnya, Astrid. Lagian, masih dua bulan lagi. Kita masih punya banyak waktu, hari ini saya ada urusan penting," jawab Ryan, memutuskan untuk bungkam.
Astrid menghela napas dalam-dalam merasa kecewa. "Hmm! Baiklah, biar aku sendiri yang ke sana, nanti kamu bisa nyusul," jawabnya mencoba untuk bersikap tenang. "Tapi ingat, Ryan. Kamu gak akan bisa membatalkan pernikahan kita. Kalau kamu berani melakukan itu, aku akan menghentikan perawatan Ibu kamu, paham?"
"Aku akan gunakan kartu merah kamu nanti, Ryan. Kalau kamu berani membatalkan pernikahan kita, aku terpaksa membongkar skandal kamu sama di OB rendahan itu," batin Astrid.
"Kayaknya udah gak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya yakin kamu juga sibuk. Kembalilah ke Rumah Sakit, sebagai seorang Dokter kamu punya terlalu banyak waktu luang, Astrid," pinta Ryan mengusir secara halus.
Astrid mendengus kesal lalu melangkah ke arah pintu dengan perasaan kecewa. Dua tahun bertunangan, tidak pernah sekalipun Ryan memperlakukannya dengan layak. Sikap Ryan selalu saja dingin tidak pernah menunjukkan cinta. Istilah cinta datang seiringan dengan berjalannya waktu sama sekali tidak berlaku kepadanya. Kenapa sulit sekali menaklukan hati pria berusia 30 tahun itu.
"Apapun yang terjadi, aku harus menikah sama kamu, Ryan. Cuma kamu satu-satunya laki-laki yang aku inginkan di dunia ini," batin Astrid benar-benar meninggalkan apartemen.
Sepeninggal Astrid, Ryan segera meraih ponsel Maya yang tergeletak di atas meja lalu menghubungi wanita itu.
"Halo," sapa Ryan saat Maya mengangkat sambungan telpon.
"Hmm!" Maya hanya menjawab dengan gumaman bahkan terdengar dingin.
"Kamu di mana, Sayang?"
"Jangan panggil aku sayang."
"Kamu kenapa?" Ryan mengerutkan kening merasa bingung.
"Bukannya sayang kamu baru aja pergi dari apartemen kamu, ya? Enak banget yang punya dua sayang!" Suara Maya masih terdengar dingin.
"Kamu tau dari mana kalau Astrid habis dari apartemen saya? Eu ... jangan-jangan kamu juga ada di sini? Katakan, di mana kamu sekarang?" Ryan melangkah keluar lalu menatap sekeliling, ia yakin Maya masih berada di apartemennya.
Benar saja, wanita itu berada di ujung lorong, berdiri memunggunginya seraya meletakan ponsel canggih ditelinga. Ryan tersenyum ringan lalu melangkah menghampiri.
"Apa kamu cemburu?" tanya Ryan, keduanya masih berbicara di dalam sambungan telpon, padahal jarak mereka tidak lebih dari lima meter.
"Siapa yang cemburu?" tanya Maya, masih belum menyadari bahwa Ryan tengah berjalan di belakangnya. "Aku udah ada di perjalanan mau balik ke rumah, mendingan kamu kejar aja tuh sayang kamu yang baru saja pergi."
Maya terkejut saat Ryan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Matanya membulat, tubuhnya sontak berbalik. Wajahnya pun nampak masam dan berusaha untuk mengurai pelukan.
"Sejak kapan kamu di sini, Ryan? Lepasin, nanti sayang kamu yang satunya lagi ngeliat kita lho," decak Maya, sinis dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.
Ryan tersenyum ringan dengan perasaan bahagia. "Sayang saya cuma satu yaitu, kamu," jawabnya mendekap erat tubuh Maya.
Maya menahan senyuman di bibirnya. "Dasar gombal. Terus yang tadi keluar dari apartemen kamu, siapa?"
"Dia bukan siapa-siapa, sekarang kita ke apartemen saya," pinta Ryan.
"Terus, aku cuma dijadiin yang kedua, begitu?" Maya mengurai pelukan.
"Kasih saya waktu buat membatalkan pernikahan saya sama Astrid, May."
Maya membeku.
"Kamu marah sama saya?" Ryan menatap wajah Maya dalam-dalam.
"Aku ngerasa jadi orang ketiga dalam hubungan kamu, Ryan. Kamu udah tunangan dan sebentar lagi akan menikah, terus aku tiba-tiba dateng dan menghancurkan hubungan kalian. Sebagai sesama wanita, aku tau bagaimana perasaan Mbak Astrid," lemah Maya dengan kepala menunduk.
"Saya gak pernah mencintai Astrid, May."
"Terus, kenapa kamu mau bertunangan sama dia?"
"Karena Astrid itu Dokter pribadi Mommy, May. Mommy punya penyakit lemah jantung. Saya terpaksa menerima perjodohan itu karena Mommy yang maksa saya. Sumpah demi apapun, saya gak pernah cinta sama dia," jelas Ryan penuh penekanan.
Maya bergeming.
"Waktu saya kecelakaan tujuh tahun lalu, Astrid juga yang ngerawat saya di luar negeri."
Maya semakin merasa bersalah, jika pengorbanan Astrid sampai sebesar itu, apa pantas Ryan membalasnya dengan kekecewaan? Maya seketika dilanda rasa dilema. Dirinya tidak ingin menyandang gelar pelakor mengingat hubungan Ryan dengan Astrid sudah terjalin begitu lama bahkan tinggal selangkah lagi melenggang ke pernikahan.
"Sayang," lemah Ryan seraya meletakan kedua telapak tangannya di kedua sisi bahu Maya. "Saya mohon kasih saya waktu buat membatalkan pernikahan saya sama Arsid, saya butuh waktu, May. Saya udah janji sama kamu kalau saya akan menjadi Ayah yang baik buat Mia. Cuma kamu satu-satunya wanita yang saya inginkan."
Maya memejamkan kedua matanya, apa ia akan percaya begitu saja dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Ryan? Janjinya terdengar meyakinkan, ucapannya penuh keyakinan. Tapi ia tidak yakin apakah Astrid akan menerima begitu saja keputusan Ryan.
"May," lemah Ryan, menatap sayu wajah Maya.
"Aku akan percaya sama kamu, Ryan, tapi kalau kamu mengingkari janji kamu ini, aku akan bawa Mia pergi dari sini dan kamu gak akan pernah ngeliat dia lagi," ancam Maya.
Ryan tersenyum ringan seraya menghela napas lega. "Saya janji gak akan mengingkari janji saja, Maya. Sekarang kita masuk yu. Saya udah nungguin kamu dari tadi lho."
Maya menganggukkan kepala lalu melangkah bersama Ryan. "Sebenarnya aku baru aja dipecat."
Ryan menghentikan langkahnya dengan terkejut. "Apa? Kamu dipecat?"
"Gara-gara kamu."
"Ko gara-gara saya?"
"Ya gara-gara kita bangunnya kesiangan, aku jadi telat masuk kantor."
Ryan terdiam mencoba untuk berfikir. Sebagai Direktur Utama di perusahaan Farmasi yang ia pimpin, ia mampu melakukan apapun agar Maya dapat bekerja kembali di perusahaannya. Ryan tiba-tiba tersenyum lebar lalu menoleh dan menatap wajah Maya.
"Besok, datenglah ke kantor," ucapnya santai.
"Buat apa lagi aku dateng ke kantor? Orang aku udah dipecat."
"Kamu lupa saya ini siapa?"
Maya bergeming dengan wajah datar.
"Kali ini, saya akan menggunakan kekuasaan saya untuk urusan pribadi. Saya akan menjadikan kamu sekretaris saya di kantor. Jadi, besok pagi kamu dateng ke kantor dengan pakaian rapi, oke?"
Bersambung ....