Bab 13. Naik Jabatan

1128 Kata
"Nggak, aku gak mau. Masa dari OB tiba-tiba jadi sekretaris sih? Apa kata karyawan lain nanti," tolak Maya. "Lagian, kamu udah punya sekretaris, Ryan. Mbak Desi mau di kemanain?" "Urusan si Desi mah gampang, biar nanti saya yang atur. Dia bisa dipindahin ke tempat lain," jawab Ryan. Ia tidak ingin Maya benar-benar resign dari kantornya. Jika wanita itu tidak bekerja lagi sana, maka dirinya tidak dapat bertemu dengannya setiap hari. Menjadikan Maya sekretarisnya adalah keputusan yang paling tepat karena Maya akan berada di sampingnya setiap saat. "Aku tetep gak mau," tegas Maya. "Aku gak mau kalau sampe karyawan lain iri, dengki sama aku, Ryan. Apalagi Mbak Desi, gimana perasaan dia kalau tau posisi dia digantiin sama aku yang cuma seorang OB?" "Ya udah, gini aja. Kamu saya pindahin ke departemen lain, gimana? Hmm! Gimana kalau departemen pemasaran? Kebetulan, departemen pemasaran deket sama ruangan saya." Ryan memberikan alternatif lain. Maya terdiam, bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan memikirkan tawaran Ryan. Jika ia menolak, ke mana lagi dirinya harus mencari pekerjaan sementara tidak mudah mencari pekerjaan di ibu kota mengingat ia hanya lulusan SMA? "Sayang," lemah Ryan, meraih telapak tangan Maya lalu menggenggamnya erat. "Kamu mau 'kan terima tawaran saya? Jujur, saya pengen ketemu sama kamu setiap hari, May. Saya pengen mengobati kerinduan yang udah saya pendam selama tujuh tahun ini." Maya memalingkan wajahnya ke arah lain seraya menahan senyuman di bibirnya. "Dasar gombal," ujarnya. "Saya gak gombal, Sayang. Saya pengen kamu tetap kerja di kantor agar saya bisa ngelihat kamu setiap hari." "Hmm! Aku pikir-pikir dulu deh," jawab Maya, melangkah bersama Ryan menuju apartemen. *** Keesokan harinya, Maya memutuskan menerima tawaran Ryan untuk bergabung dengan departemen pemasaran di perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan miliknya. Penampilannya berubah total. Rok A-line abu yang membalut tubuh langsingnya, dipadukan dengan sepatu high heels serupa, memberikan kesan elegan dan profesional. Sentuhan akhirnya adalah rambut yang diikat rapi, menampilkan wajah cantiknya dengan sempurna. Maya melangkah memasuki kantor dengan penuh rasa percaya diri. Mantan rekan-rekannya di bagian OB nampak menatap Maya dengan tatapannya dengan takjub. Sementara Doni mantan atasan Maya segera berteriak menyerukan nama Maya, baru kemarin ia memecat wanita itu, mengapa Maya kembali dengan penampilan yang berbeda? "Maya?" seru Doni dari kejauhan. Maya menghentikan langkahnya lalu menoleh dan menatap wajah Doni dengan senyuman. "Iya, Pak Doni? Anda memanggilku?" Doni berjalan menghampiri seraya menatap Maya dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Mau ngapain lagi kamu ke sini, hah? Bukannya saya udah pecat kamu?" Maya menghela napas panjang. "Aku berterima kasih karena Anda sudah memecat aku, Pak Doni. Berkat Anda, sekarang aku bekerja di bagian yang lebih baik." "Apa maksud kamu, hah?" bentak Doni penuh emosi. "Mendingan kamu pergi dari sini sebelum saya minta satpam buat ngusir kamu!" Maya menghela napas panjang. "Punya hak apa Anda mengusir aku, Pak Doni? Emangnya perusahaan ini punya Anda apa?" Doni melayangkan telapak tangannya ke udara hendak menampar wajah Maya. "Dasar wanita gak tau di--" "Stooop!" seru Ryan yang baru saja tiba. Pria itu melangkah mendekati mereka. "Apa-apaan ini? Siapa yang mengizinkan kamu boleh bersikap kasar sama karyawan wanita?" Mata Doni membulat terkejut lalu menundukkan kepala. "Ma-maaf, Pak. Dia mantan karyawan di sini, Pak. Saya udah memecat dia kemarin, tapi dia datang lagi." Ryan menepuk pundak Doni keras. "Memecat? Kata siapa kamu boleh memecat karyawan seenak jidatmu, hah? Emangnya kamu pemilik perusahaan ini?" Tubuh Doni seketika gemetar juga berkeringat. "Cuma saya orang yang berhak memecat karyawan di sini!" bentak Ryan membuat Doni semakin ketakutan. "Kamu mau saya pecat?" "Hah?" Doni gelagapan. "Saya mohon jangan pecat saya, Pak. Kalau Anda pecat saya, anak istri saya mau makan apa?" "Pak Doni jangan dipecat, Pak!" pinta Maya. "Eu ... kemarin saya melakukan kesalahan patal, makannya beliau memecat saya." "Benar, Pak. Maya melakukan kesalahan patal, makannya saya pecat dia. Jadi beg--" Doni hendak menjelaskan, tapi Ryan tiba-tiba menyela ucapannya. "Sudah cukup, saya gak butuh penjelasan kamu, Doni," sela Ryan. "Kalau kamu berani bersikap semena-mena lagi, saya gak akan segan memecat kamu, paham?" Ryan menegaskan lalu melangkah meninggalkan Doni yang terlihat ketakutan. "Ba-baik, Pak," jawab Doni tergagap. Ryan menghentikan langkahnya lalu kembali memutar badan dan menatap Maya yang masih bergeming di tempatnya. "Lagi ngapain kamu di situ, Maya? Cepat ikut saya!" Maya tersenyum cengengesan. "Baik, Pak Ryan," jawabnya lalu melangkah mengejar dan berjalan tepat di belakang Ryan. Doni menatap kepergian mereka dengan perasaan bingung. Bagaimana bisa Maya bekerja di departemen yang lebih tinggi dari OB sementara Maya hanya lulusan SMA? Jika ingin berkerja sebagai karyawan di sana, setidaknya Maya harus memiliki gelar D1. Para OB yang semula hanya terdiam menyaksikan seketika berjalan menghampiri Doni. "Pak Doni, ko si Maya bisa naik jabatan? Anda bilang sendiri 'kan kalau dia udah dipecat dari perusahaan ini?" tanya salah petugas OB. "Jangan-jangan gosip yang beredar itu bener lagi," decak OB lainnya. "Gosip apa?" Doni penasaran. "Anda gak tau?" Doni menggelengkan kepalanya. "Aku denger-denger, si Maya sengaja ngerayu Pak Ryan biar bisa naik jabatan. Kayaknya gosip itu bener deh, secara 'kan si Maya itu punya anak di luar nikah. Dasar cewek murahan." Karyawan OB yang semula rekan kerja Maya mencibir dari belakang. Banyak yang iri dengan kehidupan wanita itu, bagaimana tidak, Maya yang semula hanya OB biasa tiba-tiba naik jabatan. Gosip miring tentangnya pun seketika menyebar. *** Sementara itu, Ryan mengantarkan Maya ke departemen pemasaran yang berada tidak jauh dari ruangannya. Meja berikut kursi lengkap dengan satu laptop nampak sudah tersedia khusus untuk Maya. Karyawan di departemen tersebut nampak sudah duduk di tempat masing-masing, menatap kedatangan Maya dengan tatapan tidak suka. "Pagi semuanya," sapa Ryan memasuki ruangan tersebut. "Pagi, Pak," jawab semua yang berada di sana. "Ini rekan baru kalian, namanya Maya. Saya sendiri yang merekomendasikan dia kerja di sini. Jadi, mohon kerja samanya." Ryan memperkenalkan Maya. Karyawan yang berjumlah delapan orang nampak saling berbisik membicarakan. Hampir semuanya mempertanyakan kelayakan Maya yang merupakan mantan OB di perusahaan tersebut. Pandangan mata mereka bahkan terkesan sinis membuat Maya merasa tidak nyaman. "Silahkan duduk, May. Meja kamu ada di sana," pinta Ryan seraya menunjuk meja kosong yang berada di sisi kanan. "Baik, Pak," jawab Maya patuh. Ryan tersenyum ringan lalu melangkah meninggalkan ruangan. Sementara Maya berjalan menuju meja kosong di mana ia akan bekerja. Akan tetapi, salah seorang karyawan perempuan dengan sengaja menjulurkan kakinya membuat Maya tersandung kemudian tersungkur ke lantai. "Argh!" Maya memekik. "Ups! Sorry aku gak sengaja," decak karyawan tersebut seraya tersenyum merasa tidak bersalah. Maya menarik napas dalam-dalam seraya berdiri tegak. Ia sama sekali tidak melakukan perlawanan apapun. Wanita itu melanjutkan langkahnya lalu duduk di tempatnya. "Enak banget, ya. Dari OB jadi karyawan di departemen pemasaran, kamu ngasih apa ke Pak Ryan sampe-sampe OB biasa kayak kamu bisa naik jabatan," celetuk karyawan lainnya. "Palingan juga dia jual diri ke Pak Ryan, apaan lagi coba?" Maya memejamkan kedua matanya. Ia tahu hal seperti ini pasti akan terjadi. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN