"Aku tau kejadian kayak gini pasti akan terjadi. Mereka gak akan menerimaku di sini karena aku hanya mantan karyawan OB," batin Maya merasa putus asa.
Salah satu karyawan, Aldi, manager pemasaran merasa tidak nyaman dengan olokan yang ditujukan kepada Maya. Ia memukul meja dengan keras, mengejutkan semua yang berada di sana.
"Sudah cukup!" teriaknya kesal. "Kalian kerja di sini buat apa? Kalau kalian mau nyinyir dan ngegosip, sana keluar!"
Aldi menatap satu-persatu anak buahnya termasuk Maya. "Kamu mantan karyawan OB di kantor ini, 'kan?" tanyanya dingin.
Maya mengangguk dan menjawab dengan terbata-bata. "I-iya, Pak."
"Saya gak tau apa alasan Pak Ryan meminta saya buat menerima kamu di sini, tapi kalau kamu bersungguh-sungguh mau kerja bareng kami, kamu tunjukkan kalau kamu layak berada di sini, paham?"
Maya mengangguk penuh semangat. "Siap, Pak. Saya akan tunjukkan kalau saya layak berada di sini."
Aldi mengalihkan pandangan matanya kepada Lea dan Sella, karyawati yang mengolok-olok Maya. "Dan kalian, kalau kalian udah gak sanggup kerja di sini saya akan meminta Pak Ryan buat memindahkan kalian ke bagian lain."
Lea dan Sella terkejut. "Tidak, jangan, Pak Aldi. Kami masih ingin bekerja di departemen ini," jawab Sella.
"Ya udah, minta maaf sama Maya, sekarang."
"Hah? Emangnya harus ya, Pak?" tanya Lea merasa keberatan.
"Sekarang saya mau tanya sama kamu, kalau kamu diperolok kayak tadi, apa kamu akan terima? Terlepas dari benar atau tidaknya yang kalian katakan tadi, apa pantas kalian mengusik kehidupan pribadi orang lain?" Aldi penuh penekanan.
Lea dan Sella seketika menundukkan kepala tanpa menimpali ucapan atasannya.
"Kalian gak mau minta maaf?" bentak Aldi.
Lea dan Sella memandang wajah Maya dengan tatapan tidak suka. "Maafin kami, Maya," ujarnya dingin terdengar tidak tulus.
Sementara Maya hanya menganggukkan kepala dengan senyuman tipis.
"Sekarang kerja!" Aldi kembali membentak dan berjalan menuju meja tempatnya bekerja.
***
Siang hari tepatnya pukul 12.00, waktu istirahat tiba. Karyawan di departemen farmasi meninggalkan ruang kerja untuk istirahat makan siang. Hanya tersisa Maya dan Aldi saja di sana. Meskipun hanya lulusan SMA, Maya memiliki latar belakang pendidikan yang memadai karena pernah mengenyam kuliah dengan jurusan serupa dengan Ryan. Hal ini memudahkannya menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru di departemen pemasaran.
"Kamu gak makan siang?" tanya Aldi menatap Maya yang tengah memainkan ponsel canggih miliknya.
"Aku makan di sini aja, Pak Aldi," jawab Maya datar.
"Mau nemenin saya makan di luar?"
Maya merasa canggung. "Hah? Eu ... maaf, Pak. Saya bawa bekal sendiri."
"Kamu gak usah takut, saya teman dekat Pak Ryan."
Maya terkejut. "Anda teman dekat Ryan? Eu ... maaf maksud saya Pak Ryan." Maya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Gak usah kaget, saya tau apa yang terjadi antara kamu dan Ryan. Dia udah cerita semuanya sama saya."
"Cerita apa?" tanya Ryan tiba-tiba memasuki ruangan yang sama dengan mereka. "Jangan cari kesempatan dalam kesempitan, ya."
Baik Aldi maupun Maya seketika terkejut sontak berdiri tegak.
"Maaf, Pak Ryan. Saya gak bermaksud begitu," jawab Aldi tersenyum cengengesan.
Ryan menepuk pundak Aldi. "Bangga banget ya kamu jadi sahabat saya?"
"Tentu saja, Ryan. Siapa sih yang gak bangga punya Bos sahabat sendiri?"
Ryan memutar bola matanya kesal. "Pak Ryan! Panggil saya dengan sebutan Pak, enak aja. Saya ini atasan kamu, ya."
"Astaga! Baik, Pak Ryan," jawab Aldi, menghela napas dalam-dalam.
"Terus, lagi ngapain kamu di sini? Kamu gak makan siang?"
"Tadinya sih, saya mau ajak Maya makan siang bareng, tapi keburu pawangnya dateng, gak jadi deh," jawab Aldi lalu berlari cepat meninggalkan ruangan karena tidak ingin mendapat pukulan telak dari Ryan.
"Dasar kurang ajar, gue tabok juga lo, ya!" umpat Ryan seraya mengepalkan tinjunya.
Beruntung, Aldi sekejap kilat menghilang dari pandangan Ryan. Jika tidak, tinjunya pasti benar-benar melayang di wajahnya. Maya yang menyaksikan candaan Ryan dan Aldi hanya bisa tersenyum ringan seraya memandang wajah Ryan. Ryan mengalihkan pandangan matanya kepada Maya.
"Gimana hari pertama kamu kerja? Ada yang nyinyirin kamu gak?" tanya Ryan.
"Nggak ada, kamu tenang aja, Pak Ryan. Aku bukan anak kecil ko," jawab Maya santai.
"O iya, hari ini Mia dijemput sama Mommy lagi. Kayaknya Mommy udah sayang banget sama Mia," kata Ryan. "Semoga dengan kehadiran Mia, Mommy mau menerima kamu sebagai menantunya."
Maya menganggukkan kepala. "O iya, ada apa kamu ke sini? Jangan sering-sering nemuin aku di kantor, Ryan. Aku gak mau kalau sampe ada curiga nanti."
"Saya kangen sama kamu, May. Masa gak boleh nemuin pacar saya sendiri?" rengek Ryan merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Maya.
Maya sontak memundurkan langkahnya. "Ish, apaan sih. Nanti ada yang liat, gimana?"
Ryan kembali menurunkan pergelangan tangannya dengan perasaan kecewa. "Kita ke ruangan saya aja, ya."
"Mau ngapain?"
"Saya udah pesenin makanan buat kamu, kita makan di ruangan saya."
Maya terdiam sejenak seraya menatap sekitar. Ia tidak ingin karyawan lain melihat kebersamaan mereka yang akan menimbulkan gosip miring nantinya. Ia sudah cukup dibuat risi dengan perkataan Lea dan Sella. Dirinya tidak ingin menambah kebencian mereka.
"Kamu pergi duluan deh, nanti aku nyusul," jawab Maya.
"Hmm! Baiklah, tapi jangan lama-lama, ya."
Maya menganggukkan kepala.
***
Setelah menunggu selama 10 menit, Maya akhirnya tiba di ruangan Direktur Utama yang memang tidak terlalu jauh dari departemen pemasaran. Ryan segera mendekati Maya yang baru saja masuk dan memeluknya erat bahkan sangat erat.
"Kamu kenapa?" tanya Maya, mengusap punggung Ryan lembut dan penuh kasih sayang.
"Saya gak apa-apa, saya cuma pengen meluk kamu sebentar aja. Saya capek banget, May," jawab Ryan, matanya terpejam, rasanya benar-benar nyaman berada di dalam dekapan Maya.
"Hmm! Baiklah," jawab Maya, menyandarkan kepalanya di pundak Ryan.
Akan tetapi, suara berisik tiba-tiba terdengar dari perut Maya membuat Ryan seketika mengurai pelukan. "Kamu laper?" tanyanya seraya tersenyum cengengesan.
"Sebenarnya si iya, aku laper banget. Pagi tadi aku gak sempat sarapan," jawab Maya, mengusap perutnya sendiri.
"Ya udah, kita makan dulu deh. Saya udah pesenin nasi Padang buat kita makan."
Maya tersenyum lebar, nasi padang adalah makanan favoritnya. Ia merasa senang karena Ryan masih mengingat makanan yang ia sukai. Keduanya pun berjalan menuju sofa di mana dua bungkus nasi Padang tergeletak di atas meja.
"Kamu masih inget makanan favorit aku?" tanya Maya, duduk di sofa dengan senyuman.
"Tentu saja, saya gak pernah melupakan apapun yang berhubungan sama kamu," jawab Ryan melakukan hal yang sama.
Maya membuka makanan favoritnya. Kedua sisi bibirnya tidak henti-hentinya menyinggung senyuman. Hal yang sama pun dilakukan oleh Ryan. Keduanya siap menyantap makan siang. Namun, suara teriakan Desi seketika terdengar mengejutkan.
"Pak Ryan, Nyonya Sofia ada di sini. Beliau mau ketemu sama Anda!" Desi sengaja berteriak memberikan kode kepada Ryan.
Bersambung ....