Stella masih tersenyum lebar, sambil melangkahkan kakinya untuk pulang. Namun, saat ia menuruni tangga, ia dicegat oleh seorang kakak kelas yang lumayan ia kenal. "Kak Anya? Kenapa?" Stella bertanya, karena Anya tidak menyingkir. Seolah-olah memang sudah menunggu Stella dari tadi. "Sebenernya, lo itu menganggap Bram itu apaan, sih?" Mata Stella otomatis melebar. "Maksudnya? Kok Kak Anya nanya gitu? Oh, lagi jadi mata-mata Kak Shera?" "No. Gue lagi nggak jadi mata-mata. Tapi, gue punya mata. Ada yang aneh sama lo dan Bram. Mau disembunyiin, juga tetap keliatan, Stell." Stella mulai tidak nyaman. "Aku sama dia emang lagi deket. So?" "Lo pacarnya Nico, tapi deket-deket sama Bram. Apa Nico ngg

