PROLOG
Awan mendung seketika begitu tebal di Seattle. Selaras dengan rumah panggung itu, guntur yang menggetarkan jendela mengundang hujan, menyisakan nuasa sedih yang tak bertepi. Suasana terasa kelam, pilu, kelabu, dan entah apa lagi kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Dari jendela rumah, kalian bisa melihat Autumn Mills terpaku menerima telepon dari seseorang yang mengatakan kejadian buruk telah terjadi kepada orang tersayangnya. Hari sudah sore menjelang malam, rumah ramai, orang itu berjanji akan datang malam ini merayakan Thanks Giving bersama. Namun, apa daya, janji tinggal janji. Telepon ini membatalkan semua sukacita yang terjadi.
"Halo, Nona Mills?"
Autumn masih berusaha berdiri meski nyaris tak bisa merasakan kakinya. "Y-ya?"
"Pihak yang berwenang sudah di sini. Apa kau mau memeriksa keadaannya?"
"Tentu saja."
"Baiklah, kalau begitu. Jenazah dan bangkai motornya akan diamankan di Kepolisian Barslow, oke?"
"Ya." Autumn sudah tidak sanggup berdiri. Dia terduduk bersandar tembok jendela, air mata dukanya sudah tak terbendung lagi. Hal itu memancing perhatian beberapa kerabatnya. Beth, sahabatnya yang berada dekat dengan posisi Autumn, menyadari ada sesuatu yang tidak beres ketika tangan kanan yang memegang ponsel itu terkulai lemas di atas paha.
"Hei," Beth menghampiri Autumn, "ada apa? Siapa yang menelepon? Carlton?"
Autumn bungkam. Bukan tak mau mengabarkan, suaranya sudah hilang ditelan perasaan sesak.
"Autumn?" Beth semakin khawatir saat menyadari wajah sahabatnya semakin memerah, dan mata coklat itu berkaca-kaca. Beberapa orang lain yang menyadari keadaan Autumn--di antaranya ayah dan ibu Autumn--bergegas menelepon nomor Carlton dan keluarganya.
Suasana rumah berubah kelam seketika saat panggilan Colle, ayahnya, dijawab oleh kepolisian dan panggilan itu di-loudspeaker.
Dalam pelukan Beth, Autumn semakin menangis. Spring, adik Autumn, menghampiri sang kakak dan turut memeluknya erat-erat.
***
"Baik, sekarang, saya panggilkan Autumn Cassandra Mills, belahan jiwa yang Carlton cintai hingga akhir hayat, untuk memberikan sepatah dua patah kata kepada kekasih hatinya."
Pemakaman Carlton Jr. sedang berlangsung, ya. Pemuda yang hari ini sedianya akan menikah dengan Autumn itu genap berusia 29 tahun kemarin. Sayang, kecelakaan maut merenggutnya di usia 28.
Autumn berdiri ke sisi peti Carlton dan menoleh setelah menatap keluarga dan kerabat dengan mata yang masih sangat sembap. Ia coba mengulas senyum, tetapi semua orang tahu usaha tegar itu percuma. Autumn terlihat menyedihkan dan mereka bersimpati untuknya--tentu saja.
"Terima kasih sudah datang ke pemakaman calon suamiku ...." Baru saja mulai, Autumn sudah tak kuasa menahan tangisnya. Ternyata, setelah seminggu persemayaman masih terasa sama. "Ehm, Carlton Jr., bagiku ia adalah seorang pria yang tak bercelah. Dia luar biasa."
Autumn menoleh dan menatap orang tua Carlton yang duduk di sisi Spring. "Wajar saja, Carlton Sr. dan Daisy pun orang tua yang luar biasa. Terima kasih, karena kalianlah aku bisa mengenal Carlton sampai saat ini. Berada di sisinya dan diperhatikan olehnya terasa spesial, kapan pun itu. Itu pasti karena kalian mengajarinya dengan benar. Pasti ...." Orang tua Carlton juga kembali berurai air mata.
"Carlton, seorang kakak pula bagi adik semata wayangku. Walaupun aku tidak terlalu setuju dia sering membantu Spring mengerjakan tugas, tapi ... yah ...." Autumn tertawa, lirih, "setidaknya dia pintar." Dia menoleh pada orang tuanya. "Dad, Mom, bisa dipastikan nilai baik Spring karena Carlton, jadi ...."
Tawa lirih bersamaan pecah di audiens. Autumn kembali melanjutkan ucapan terakhirnya untuk Carlton.
"Kau segalanya, Carl. Kau penting bagi kami, kau harus tahu itu. Kepergianmu memang meninggalkan luka yang teramat dalam bagi kami. Tapi, jangan khawatir, kami akan melanjutkan hidup. Aku ... akan melanjutkan hidup meski bagaimana pun caranya."
Tubuh Autumn memutar menghadap peti. Bibirnya menyentuh kayu dingin itu dan membisikkan sesuatu, "Aku mencintaimu, Carly .... Selamanya akan selalu begitu. Sampai bertemu di keabadian, Sayang."
Seattle sore itu kembali hujan. Gerimis mengiringi langkah Autumn kembali ke rumah. Ke rumah yang ia yakin tak akan pernah sama lagi.
***
Seattle adalah kampung halaman Carl, sementara kampung halaman Autumn di Arkansas, tepi Sungai Kansas. Keluarga Mills bertetangga dengan Yolys Taco, taco legendaris di daerah itu.
Kembali ke Arkansas City tidak akan pernah sama lagi. Di kota inilah sebenarnya ia dan Carlton bertemu dan saling mengenal. Carlton, seorang perantau yang terobsesi dengan daerah tandus dan kaktus, hal yang amat wajar ketika pada masa sekolah menengah atas ia ikut sahabatnya ke Arkansas dan mengenyam pendidikan SMA hingga kuliah di sini. Tadinya, keduanya ingin menempuh pendidikan master di tempat kelahiran Carlton, setelah menikah. Kini, harapan itu putus begitu saja. Wajah Carlton tinggal angan, kebersamaan dengannya tinggal kenangan.
Autumn tak bicara sepanjang jalan. Tiba di bandara pun ia memisahkan diri dari keluarganya dan bilang akan langsung ke markas baseball Cowley College. Mereka memahami ada apa antara Autumn dan tempat itu, jadi ketiganya tak banyak bertanya.
Sementara sendiri di taksi yang mengantarnya ke tempat tujuan, berbagai momen yang Autumn lalui bersama Carl kembali terputar, mengisi tepi jalanan yang sepi dan suasana taksi yang hambar. Perjalanan menuju Ed Hargrove Field, markas tim baseball Cowley College hanya memakan waktu 13 menit, untungnya. Hari baru pukul 10 pagi. Ia masih punya banyak waktu untuk menyendiri hingga malam hari.
Autumn tak mengizinkan siapa pun ikut dengannya, ia tak ingin diganggu. Memasang earphone-nya, Autumn memutar lagu favoritnya--dari pria favoritnya.
**
"Hei!" Pemuda berseragam tigers itu berlari ke arah gadis pujaannya, gadis berambut pirang dengan senyum termanis yang pernah ia kenal. Di lehernya tergantung medali juara 1 yang pernah ia janjikan kepada Autumn. "Ms. Mills!"
Masih saja. Autumn menatap kedatangan Carl dengan senyuman senang yang tak bisa dibohongi. Akhirnya, setelah sekian tahun, Cowley menang di markasnya sendiri, menjadi sang jawara. Si sialan Carl yang memanggilnya dengan formal membuat Autumn tak bisa menahan sipu malunya.
"Hentikan itu," ucap Autumn. "Autumn saja, sudah berapa kali kubilang?"
Carl mengangkat bahu. "Aku hanya mau. 'Mills' masih terasa begitu intuitif, kau tahu." Carl menangkis Autumn yang meninju tubuhnya. "Aku serius."
"Alasan itu sudah seribu kali kau gunakan," sergah Beth. "Tapi aku menyukainya. Dia masih saja tersipu."
"Baiklah," Carl terkekeh, "aku akan terus menggunakan nama itu, setidaknya sebelum dia menjadi Mrs. Vaughan."
Sebelum Autumn sempat memprotes atau mempertanyakan maksud ucapan itu, Carl melepas medali di lehernya dan mengalungkan itu ke leher Autumn. Beth memotret mereka beberapa kali, mengarahkan Carl untuk merangkul, lalu memeluk kekasihnya.
"Sebentar." Carl melepaskan pelukannya, pergi agak jauh dari mereka menuju tepi lain lapangan yang terdapat soundsystem dan terlihat bicara pada mahasiswa di sana. Tiba-tiba musik berganti.
"Autumn Cassandra Mills, lagu kemenangan ini untukmu."
**
Autumn memeluk kenangan. Entah sudah berapa kali lagu yang sama diputar, kini Autumn duduk sendiri di bangku penonton. Suasana stadion ini sepi. Hanya ada beberapa penjaga yang sedang melakukan perawatan bangunan, kata mereka hari ini tidak ada pertandingan.
Dadanya sesak, air mata kembali jatuh membasahi pipi. Autumn tak peduli jika dirinya menjadi pusat perhatian. Kesedihannya lebih butuh untuk diluapkan.
Tiba-tiba lagu terputus sebentar, pertanda ada panggilan tak terjawab. Autumn memeriksa ponselnya--benar saja, sebuah panggilan dari Seb, sahabat Carlton.
Hanya karena tak ingin terlihat payah, ia mengangkat panggilan itu. "Halo?"
"Kau di mana, Mills?"
"Di Tigers."
"Boleh aku temani?"
Isak Autumn kembali pecah. Kata pertamanya tertelan isakan yang begitu jelas. Sebastian selalu saja begitu menghormatinya sebagai wanita Carl. "Jika kau tidak macam-macam, silakan saja."
"Oke, tunggu aku, kita menangis bersama."
Ah, Autumn lupa. Ia terlalu bersedih satu minggu ini sampai tak sadar ada orang lain yang juga terluka karena kehilangan Carlynya.
***
Greendoor LaFamilia, Autumn menatap sekeliling tempat itu dengan sungkan. Ia menghela napas. Jejak tangisnya sudah tak ada, yang tersisa tinggal jejak kesal karena Seb sudah menipunya dan mengajaknya 'melepas' dengan cara paling standar sedunia: makan.
"Aku tahu kau pasti lapar. Perjalanan Seattle-Arkansas sudah pasti memakan waktu."
"Tidak."
Seb melihat perubahan wajah itu. Raut mukanya berubah memelas pula. "Autumn, ayolah."
Autumn mendengkus. "Entahlah, Seb. Aku melihat langsung jasadnya."
"Hidup harus terus berjalan."
"Tapi kau tidak punya hak untuk menyuruhku melakukan itu hanya dalam waktu satu minggu."
Kedua tangan Seb terangkat, ia menyugar rambut hitamnya dengan gusar. "Oke, oke. Tapi, kau tahu, Carl selalu bilang itu semua hanya sugesti."
Beraninya. Autumn menyipit menatap Sebastian, tapi kemudian bahu tegang itu seketika mengendur. Sesaat lalu ia menyadari mereka berada di pojok restoran ini. Mungkin tak ada salahnya berbagi beban dan mencurahkan perasaan, sebab di rumah nanti, ia akan kembali memasang wajah tegar di hadapan ayah ibunya dan Spring. Ciri khas sang sulung.
"Jangan menyimpan semuanya sendiri, Mills."
Satu tarikan napas, Autumn bicara, "Bisakah kau menyimpan rahasia?"
Kedua bola mata biru itu mencerah. "Tentu saja."
"Kalau begitu, aku akan menceritakan sesuatu padamu." Autumn mencondongkan badannya ke arah Seb. "Aku sebenarnya sangat ingin menyusulnya...."
"Hah?" Seb mengangkat wajah, menatap Autumn tak percaya. "Tidak! Tidak boleh!"
"Kenapa?"
Kenapa? Sebastian mengernyit mendengar nada santai itu. "Apa maksudmu dengan nada itu?"
"Tidak ada. Aku hanya serius bertanya tentang alasannya."
"Kau mau mati?"
Autumn menepuk jidat. "Kau bahkan tidak bertanya tentang tempatnya."
Seketika Sebastian menarik napas panjang, lega. "Jadi? Kau mau ke mana?"
"Vanmu sudah terjual?"
***
Sebastian memekik ketika Autumn bersikeras memasuki garasinya dan mengambil kunci van setelah menyerahkan uang yang lebih dari cukup. "Mills! Kau pasti bercanda!"
Autumn tak peduli. "Apa nominal itu terdengar bercanda bagimu?"
"Ayah dan ibumu akan khawatir! Tidak, aku tidak mengizinkan!" Seb ribut mengembalikan uang Autumn yang tak menanggapi sama sekali protesnya. "Tidak, AUTUMN!" Geram, Seb memaksa Autumn berbalik padanya. "Bukan seperti itu caranya!"
"Lantas, seperti apa?!" Tangis Autumn pecah. "Aku tidak tahu lagi, Seb .... Aku tidak tahu harus bagaimana lagi .... Aku ...."
Tangan Autumn terkulai lemah di bahu Seb yang mengekangnya dalam pelukan. Barulah luka itu terlihat. Luka di pergelangan tangan kanan yang baru berusia 6 hari.
"Jangan biarkan aku gila.... Aku mohon."
Sebastian tak tega melihat Autumn yang sesengukan. Pelan dan lembut, ia menghadapkan wajah Autumn padanya, mengusap air matanya. "Jadi, kau ingin pergi membawa semua kesedihan itu dengan van ini? Begitu maksudmu?" Kali ini, nada bertanya itu lebih lembut.
"Ya."
"Ke mana?"
"Ke manapun."
"Berjanji padaku tak akan berpikir untuk bunuh diri?"
Ketika Autumn mengangguk, Seb mengangguk pula dan membulatkan keputusan.
[ ]