Dua tahun kemudian ....
Vermont Inc. Jika ada yang menyangka itu rumah produksi Amerika, sangkaan itu salah. Vermont Inc. terletak di Vladisvostok, Rusia. Rumah produksi lokal yang sedang berjaya di sini, berangkat dari membuat film-film pendek dan iklan, kini mereka sudah berhasil merajai pasar perfilman Rusia.
Autumn tiba di sini 4 hari lalu. Melalui rute negara-negara tropis, belajar berbagai hal, dan menekuni berbagai pekerjaan, di Vladisvostok pun ia yakin akan begitu. Autumn akan singgah dan mencari pekerjaan harian untuk mengumpulkan uang, lalu pergi lagi. Entah ke mana tujuannya, ia pun tak tahu. Ia hanya ingin terus berlari dan menghindari kedukaannya.
Ada yang istimewa dari hari ini, hari di mana dia melihat lowongan pekerjaan di Vermont Inc, adalah hari ulang tahun Carlton yang ke 31. Sebelum keluar van untuk wawancara kerja, Autumn menyempatkan diri meniupkan lilin ulang tahun untuk Carl di atas cupcake terakhir dari perbekalannya.
"Selamat ulang tahun, Carly. Semoga di surga sana pesta ulang tahunmu meriah, ya!"
Autumn tersenyum, kali ini jauh lebih tulus dari ulang tahun ke-30. Ya, ia sudah jauh lebih rela dari hari kemarin.
Merapatkan jaketnya, ia keluar van dan masuk ke gedung Vermont Inc. Menuju kafetaria tempat lowongan itu dibuka.
***
Bel kafetaria itu berbunyi ketika pintu dibuka. Seorang wanita paruh baya yang sedang berada di meja kasir teralihkan dari pekerjaannya membersihkan meja. Hari masih pagi, kafetaria baru akan buka jam 9.
"Halo?" sapa Autumn, menatap orang di dalam. "Aku melihat lowongan ini, dan tertarik melamar. Apa masih ada?"
Senyum wanita itu merekah. "Ada, ada! Kau diterima!"
Semudah itu? "Kau yakin?"
"Ya, kenapa tidak?" Wanita itu mengulurkan tangannya. "Aku Katrina. Siapa namamu?"
"Autumn." Autumn mengamati ekspresi Karina--hanya karena di beberapa perjumpaan ia menemukan pemberi kerja yang urung menerimanya karena dia orang Amerika.
"Tak masalah, jangan khawatir." Senyum lebar Katrina tidak lenyap. "Kau tetap diterima."
Uluran tangan Katrina disambut Autumn. "Terima kasih, Kat."
"Langsung bekerja hari ini, ya? Bisa?"
Autumn kian menatap Katrina tak percaya.
***
Sebenarnya salah satu alasan Katrina menerima Autumn pun karena beberapa pekerja Vermont Inc. juga orang asing. Tak masalah dengan bahasa dan budaya asal mereka ramah dan memahami adat yang diterapkan di sini.
Autumn mengisi posisi pelayan, sesuai lowongan. Di kasir ada Katrina, dan di dapur ada satu koki handal bernama Andrei. Jam makan siang tiba, mereka sibuk bersama.
"Pelayan baru?" tanya salah seorang pelanggan kepada Autumn.
"Ya," Autumn mengangguk singkat, hormat karena yang ia layani kali ini adalah pria yang sepertinya usianya sudah lebih dari setengah abad, "selamat menikmati, Pak."
"Terima kasih, cantik."
"Sama-sama, Pak." Autumn mengangguk, tak mau ambil pusing dengan nada yang agak melecehkan itu dan cepat mengambil pesanan berikutnya.
Hal itu tak luput dari perhatian Charlie Burke yang sedang memesan di kasir. Ia kenal orang itu--orang luar--nanti akan dia beri pelajaran.
"Jadi, pesan apa, Mr. Burke?" tanya Katrina.
"Kopi dan beef stroganoff satu."
"Oke." Katrina tersenyum dan mencatat pesanan Charlie. "Aku tambahkan air putih, ya."
"Baik sekali. Kau selalu tahu aku malas minum air putih."
"Sudah kewajibanku mengingatkanmu semenjak Aleks tiada."
Charlie tak bicara lagi dan menepuk pundak Katrina pelan. "Terima kasih, Katy. Malam nanti setahunnya, kan?"
"Ya," Katrina mengangguk, "dan jujur saja, kurasa Tuhan mengirim berkat hari ini dengan mendatangkan Ms. Mills."
"Ya." Charlie tak membahas lebih jauh tentang Aleks, suami Katrina yang meninggal karena tabrak lari. Dia lebih tertarik membahas Ms. Mills. Pelayan baru itu jelas bukan orang Rusia. "Dia ... Amerika? Ms. Mills."
"Ya. Lahir di Arkansas, 30 tahun yang lalu." Katrina memberikan struk pesanan dan Charlie memberi sejumlah uang yang pas. "Selebihnya, dia seorang traveller, mengembara dua tahun belakangan ini, meninggalkan dunianya karena terobsesi dengan Campervan dan hidup nomaden."
"Sebelumnya dia bekerja sebagai apa?"
Charlie tampak begitu penasaran. Sayang sekali, Katrina pun belum tahu banyak, jadi dia hanya bisa mengangkat bahu. Untungnya, antrean yang mengular sudah tak sabar untuk maju, jadi pelanggan di belakang Charlie berdeham.
"Kau tanyakan saja langsung padanya, ya?"
Charlie mendengkus pasrah. "Baiklah ...."
"Semoga beruntung!" Katrina memberi semangat. "Selanjutnya!"
Charlie segera mencari kursi kosong, yang semoga saja pas untuk mengamati Autumn dari jauh. Bukan tanpa alasan ia tertarik pada pelayan Leksa Dinner itu. Dia selalu penasaran dengan campervan, plus, Ms. Mills berasal dari negara yang sama dengannya dan perempuan Amerika pertama di Vermont Inc. Kenapa tidak dia membuka kesempatan berteman?
Selama mengamati, Ms. Mills menurutnya adalah orang yang cekatan dan ramah--profesional. Entah apa pekerjaan Ms. Mills sebelumnya, ia tak seperti seseorang yang baru menjadi pelayan kafetaria. Bahkan pada lelaki yang tadi menggodanya dan kembali melontarkan lirikan dan kata-kata menjijikan, Ms. Mills tak ambil pusing dengan tetap tersenyum.
Hingga tibalah Ms. Mills mengantar pesanannya. Charlie tersenyum, coba menatap Ms. Mills dengan bersahabat.
"Ini pesananmu. Biar aku ulang, ya, kopi, beef stroganoff, dan air putih. Benar?"
Charlie mengangguk. "Ya, benar."
"Selamat menik--"
"Siapa namamu?" tanya Charlie lugas. Ia tak mau membuang waktu dan kesempatan. "Aku Charlie. Charlie Burke."
Autumn tersenyum. "Autumn Mills. Senang berkenalan denganmu, Mr. Burke. Amerika?"
Charlie mengangguk. "Ya. Florida. Kau?"
"Arkansas."
Lagi, Charlie mengangguk. "Cowley atau yang lain?"
"Cowley." Sebenarnya Autumn sedikit heran karena Charlie seolah ingin tahu banyak tentangnya. Apa dia tidak punya istri?
Autumn menghela napas. Dia tak boleh berlama-lama di sini. "Aku ... permisi dulu, Mr. Burke, masih banyak yang harus diantar."
"Ya, ya, tentu saja." Charlie mengangguk mengizinkan.
Autumn cepat ke jendela yang membatasi dapur dengan ruang makan. Dia bertanya pada Andrei, "Charlie Burke, kau kenal?"
"Pegawai Vermont tertampan." Andrei mengangkat bahu ketika melihat kernyitan Autumn. "Aku hanya berusaha menempatkan diri di posisi perempuan."
Autumn mengambil pesanan selanjutnya sementara menunggu Andrei menjelaskan lebih lanjut.
"Dia duda, kalau kau ingin tahu."
Autumn mendengkus. "Kenapa aku harus tahu?"
"Siapa tahu kau tertarik padanya?"
Autumn tertawa hambar. "Ha!" Dia mengabaikan tawa menyebalkan Andrei dan berlalu. Tidak, urusan asmara masih terlalu jauh darinya. Makam Carlton bahkan masih baru. Kehilangan itu pun masih menyisakan sesak. Autumn tak punya waktu untuk itu semua.
***
Karena merupakan kafetaria kantor, Leksa Dinner tutup lebih cepat dari restoran pada umumnya. Kantor sepi, Katrina bersiap menutup kafenya pula.
Autumn yang membantu. Tadi Andrei segera pulang karena harus menemui profesor yang menangani tesisnya di Universitas Vladisvostok. Yah, Autumn kagum untuk yang satu itu. Andrei masih memikirkan pendidikannya meski menurutnya pria itu bisa saja memilih serius di jalur kuliner dan sukses di sana.
"Boleh aku bertanya, Katrina?" Autumn yang sedang mengeringkan gelas dan piring di dapur memecah keheningan. "Tempat ini ada sejak kapan?"
"Lima tahun lalu." Katrina melirik Autumn dan menyukai kegesitan pekerja barunya itu. "Aku membangun tempat ini bersama suamiku."
Diam, Autumn lebih memilih menunggu cerita Katrina.
"Setahun belakangan ini aku mengurusnya sendiri karena Aleks sudah berpulang."
Napas Autumn tertahan. Dia menghentikan sejenak gerakannya yang sedang mengeringkan wajan. "Aku boleh tahu kenapa?"
"Kecelakaan."
Ah, bagus. Autumn tersenyum miris. Ternyata ia menemukan kedukaan yang lebih parah dan lebih baru darinya. Kebetulan lagi, dengan sebab yang sama.
"Tabrak lari."
Ah, berbeda. "Aku turut berduka."
"Tak apa. Aleks meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, di sisiku, dan penabraknya sempat bertanggung jawab dengan membiayai pemakaman meski aku sudah bilang kami tidak memerlukan itu. Aku sudah rela."
Autumn tertegun. Meski dibatasi dinding dan ia tak bisa melihat raut wajah Katrina ketika berkata demikian, Autumn merasakan ketulusan dalam ucapan Katrina. Bagaimana bisa?
"Bagaimana denganmu? Apa kau punya seseorang di Arkansas?"
Pertanyaan itu membuat Autumn gelagapan. Untung saja Katrina tak bisa melihat wajahnya. "Ada."
"Dia laki-laki, kan?"
Autumn tertawa, menyadari maksud pertanyaan itu adalah mempertanyakan orientasi seksualnya. "Tentu saja laki-laki."
"Kekasih? Suami?"
"Kekasih." Autumn menyembunyikan senyum karena diam-diam ia membayangkan Carlton ikut dengannya kemari dan akan menyambutnya sepulang bekerja.
"Apa dia ikut kemari?"
Ini dia. Autumn menghela napas. Rasanya untuk pertanyaan itu dia harus jujur kepada Katrina mengingat wanita itu memiliki kisah yang sama dengannya. "Dia mungkin sedang mengobrol dengan suamimu, Kat."
Seketika hening tercipta. Tak ada suara hingga Autumn menyelesaikan urusannya di dapur. Saat keluar dapur, Katrina dan dua gelas air putih menyambutnya. Senyum keibuan terulas di bibir pucat itu.
"Ayo, kemari, kita berbagi cerita." Katrina menepuk meja di hadapannya dan duduk.
Akhirnya, Autumn berada di sana hingga cukup larut. Saling berbagi cerita dan mempelajari kesedihan satu sama lain. Malam berlalu, Autumn menemukan figur ibu dalam pengembaraannya.
Charlie masih berada di toserba seberang Leksa Dinner ketika Autumn keluar tempat itu. Sebenarnya ia sudah lama kelar berbelanja. Charlie duduk di pelatarannya hanya untuk memperhatikan interaksi yang terjadi antara Autumn dan Katrina. Satu yang dapat ia simpulkan: Autumn baru saja menariknya ke luar dari zona nyaman.
[ ]