2. PERTAMA LAINNYA

1266 Kata
Charlie mengikuti Autumn yang tak sadar diikuti. Ternyata dia parkir di sebuah tempat parkir umum dekat Logovo, tempat cuci mobil yang tak jauh dari kantor, sudah tutup. Ia penasaran, apa seharian tadi van itu dicuci? "Terima kasih, Oto." Autumn tersenyum dan memberikan makan malam dan segelas kopi--yang awalnya Charlie kira untuk Autumn--kepada penjaga. Charlie berani bersangka makanan itu buatan Katrina. Ia sedikit menahan langkahnya supaya tak terlihat Autumn dan Oto. "Selamat beristirahat, Mills. Terima kasih kopinya." Tadinya, Charlie ingin menyapa, tapi dia mengurungkan niat karena tidak ingin dianggap terlalu agresif--padahal niatannya hanya ingin berteman. Charlie memutar langkah dan menuju halte bus untuk pulang. Hari sudah menunjukan pukul 9 malam. Yah, yang penting ia sudah tahu di mana Autumn tinggal. Esok hari Charlie berjanji kepada dirinya sendiri untuk bertanya lebih banyak. Di dalam van, pukul 9 malam Autumn berlangsung sama. Masuk, dia mencuci wajahnya, menyikat gigi, lalu mandi. Setelah mandi, Autumn bersiap tidur. Seperti biasa, ia mengirim pesan kepada adiknya, Spring, sekadar bertanya kabarnya hari ini. Dua tahun tak bertemu secara langsung, sering berkontak membuat Autumn tak terlalu merindukan keluarganya. Merebahkan diri, Autumn mengambil ponsel dan memulai percakapan. Me: Halo, Pi. Bagaimana harimu? Pi Spring: Biasa saja. Kau? Me: Sama. Aku di Vladisvostok sekarang. Bekerja sebagai pelayan kafetaria kantor. Pi Spring: Bruh. Me: Oke, apa itu artinya ayah dan ibu mulai rewel? Pi Spring: Bisakah kita pindah ke telepon? Autumn menghentikan gerakan jemarinya di atas layar. Dia tak melakukan apa pun, bahkan ketika Spring memintanya beralih ke panggilan video. Seperti biasa, Autumn akan menunggu panggilan itu mati dan beralasan jika dia sedang sibuk. Spring kembali mengiriminya pesan singkat: Pi Spring: Masih tidak mau menerima panggilan video? Kak, ayolah .... Mrs. Vaughan menelepon tadi siang, bertanya kau sudah pulang atau belum. Dia merasa bersalah dan berpikir jika kematian anaknya menjauhkanmu dari kami. Sama seperti tahun lalu, dia memintamu pulang, Kak. Sepertinya dia akan melakukan itu sampai kau pulang. Kalimat terakhir Spring pada pesannya membuat Autumn menarik diri dan duduk di tepi kasur. Dia tidak mengetikkan balasan, tetapi mencari kontak 'Ibu' di ponselnya. Namun, Autumn tidak mengetik sesuatu. Sepasang matanya berkaca-kaca menyadari ia bertemu mata itu lagi. Mata biru yang menyejukkan. Ya ... bahkan, hingga tahun kedua, Daisy Vaughan masih memasang fotonya bersama Carlton sebagai foto profil, sama sepertinya yang memasang foto wisuda mereka sebagai profil w******p. Air mata Autumn akhirnya tumpah. Ia kembali merasakan kehilangan itu. Dadanya kembali sakit, Autumn terisak. Cepat, ia mengambil minum di dapur kecilnya dan terduduk di lantai van. Menangis keras. Meluapkan segenap perasaan bencinya terhadap takdir. Maafkan aku .... Ternyata merelakanmu tak semudah yang kukira. *** Karena menangis semalaman, pagi ini Autumn berangkat bekerja mengenakan kacamata agar jika ada yang bertanya, ia dapat menjawab sehabis menangis karena tokoh kesukaannya dimatikan penulis. Tentu saja itu alasan yang wajar dikemukakan oleh setiap orang berkacamata, bukan? Hari selasa, masih hari yang sibuk bagi mereka. Bahkan, lebih dari kemarin karena tim periklanan mengambil gambar di Leksa Dinner. Orion, kepala tim itu memastikan pengambilan gambar akan selesai menjelang jam makan siang. Hari ini pertama kalinya Autumn melayani di depan kamera--Katrina dan Andrei kompak mengatakan jika ia harus terbiasa. Tak hanya iklan, series Vermont Inc. beberapa kali menggunakan Leksa Dinner dalam scene mereka. "Bagus, Autumn." Savin, sutradara iklan ini, mengacungkan dua ibu jarinya dan tersenyum lebar. "Terima kasih." Autumn mengangguk. "Senang bisa membantu." *** Pukul 11 siang. Charlie menarik napas panjang, kapan rapat ini selesai? Tiba-tiba tadi pagi ia ditelepon Dimitri harus datang pukul 7 dan langsung ke ruang rapat. Sudah 4 jam dia di sini, jenuh rasanya mendengarkan betapa ambisius pemilik Vermont itu terhadap beberapa series dan film World War phase 2. Total keseluruhan, phase 2 akan berisi 4 film panjang dan 3 series. Charlie terlibat pada 4 di antaranya, 2 film panjang dan 2 series. Demi Tuhan, bahkan film-film itu belum memiliki tanggal tayang. Untuk kesekian kalinya, Charlie mendengkus. Gabby, salah satu astrada di meeting besar ini menyikutnya. "Kita bisa meminta kopi kalau kau mengantuk," bisiknya. "Aku baik," balas Charlie, mengacungkan ibu jarinya. Namun, kemudian dia terdistraksi. Bukan oleh sesuatu dari dalam, melainkan dari luar ruang rapat ini. Di bawah sana, empat lantai jauhnya, Charlie terpaku melihat Autumn tengah berakting dalam iklan besutan Savin. Iklan resto dan hospitaliti. Meski yang dibuat Savin adalah dummy untuk diajukan kepada klien dan Autumn tidak benar-benar berakting, Charlie menyukai gesturnya. Masih profesional dan penuh perhatian terhadap apa yang ditekuninya. "Mr. Burke, apa yang kau perhatikan di luar sana?" Charlie menoleh kepada Dimitri yang menegurnya. "Kapan kita akan buka casting?" "Whoa, sabar dulu." Dimitri tertawa, tapi kemudian tawa itu lenyap dan wajahnya serius kembali. "Aku serius, perhatikan pertemuan ini." Penjelasan Dimitri dilanjutkan, tapi Charlie tetap berada di ambang memperhatikan dan tidak. Charlie terdiam di kursinya, tetap mengamati Autumn dari jauh. *** Dimitri keterlaluan--untuk yang ke sekian kalinya. Rapat baru selesai jam 3 sore. Tentu saja air putih dan makanan kecil tidak bisa memenuhi perutnya. Alhasil, Charlie cepat menuju Leksa Dinner dan memesan Shchi, sup andalan Katrina. Sudah lama juga dia tak memesan hidangan itu. Kentang dan teh hangat melengkapi makan siang telatnya sore ini. Kira-kira lima belas menit setelah memesan, Autumn membawakan makanannya ke meja outdoor. Ia sedang agak muak berada di dalam ruangan. Charlie menilai situasi di saat Autumn menilai kepentingan pria itu baru datang sekarang untuk makan siang. "Hai," sapa Charlie, berniat untuk meminta Autumn duduk karena dilihat-lihat kafetaria sedang sepi. "Selamat sore, Mr. Burke." Autumn tersenyum. "Shchi, seporsi kentang, dan teh hangat. Apa sudah sesuai pesanannya?" "Sudah," jawab Charlie. "Apa kau tidak mau bertanya alasanku baru makan siang sekarang?" Autumn mengangkat alisnya, tapi kemudian cepat tersenyum sopan kembali. "Kenapa?" "Rapat." "Tentu saja." Autum mengangguk. "Dan tampaknya rapat itu cukup menyebalkan untukmu. Aku harap hidangan ini bisa memperbaiki perasaanmu. Selamat menikmati, Mr. Burke." Autumn beranjak pergi membereskan meja yang lain. Charlie tak mengganggunya meski rencananya gagal. Ia mulai menyantap makanannya sambil memperhatikan Autumn. Senyum tipis terbit di bibirnya. Begitu manis. Gelagat itu terlihat Katrina yang berada di ambang pintu dapur. Rasanya baru kali ini ia melihat senyuman semanis itu dari Charlie. Namun, mengingat cerita Autumn semalam tentang kekasihnya, Katrina merasa harus memperingatkan Charlie untuk jangan terlalu agresif dahulu. Katrina beranjak menghampiri Charlie dan duduk di hadapannya. "Hai, bagaimana supnya?" "Oh, hai." Charlie tersenyum. "Seperti biasa. Masakanmu selalu mantap." Katrina menarik napas, tak terlalu peduli dengan tanggapan itu. Ia memutuskan untuk langsung ke intinya saja. "Aku lihat kau sangat ingin berkenalan dengan pelayanku, ya?" "Ms. Mills? Ya." Charlie menjawab tanpa ragu, tapi lalu senyum ramah yang tadinya terbentuk itu lenyap. Alis Charlie menukik heran. "Sayangnya, kurasa dia tidak menerima 'pria baru'. Apa pasangannya begitu posesif sehingga tidak mengizinkannya memiliki teman pria? Kalau begitu kenapa orang itu mengizinkannya bepergian jauh? Terlepas dari norma profesional, sikapnya tertutup. Kau merasakannya juga, bukan, Kat?" "Tidak kepadaku," jawab Katrina singkat. "Dan satu hal, pasangannya sudah meninggal dunia. Jadi, kusarankan kau tidak terlalu agresif mengajaknya berkenalan." Charlie terdiam, sedikit syok. Ucapan yang tadinya akan terlontar, terperangkap di sela-sela geliginya. Akhirnya, ia melanjutkan makan usai memberi isyarat mempersilakan Katrina menjelaskan lebih lanjut. "Kejadiannya dua tahun lalu, katanya. Kecelakaan motor. Seminggu lagi mereka menikah. Tempat sudah siap, makanan sudah terencana, undangan sudah disebar. Tapi, siapa sangka hari pernikahan berubah menjadi pemakaman?" Katrina menatap Charlie dan meneliti raut wajahnya sekali lagi. Ia menghela napas panjang. "Baiklah, katakan saja kau benar-benar mendekatinya, apa hanya untuk berteman? Aku tidak yakin." "Kenapa kau ... tidak yakin?" Kini, Charlie menatap Katrina bingung. "Kau seperti terobsesi padanya." Charlie tertunduk dan menekuri makanannya. Diam-diam ia menyesali wajahnya yang tiba-tiba memanas. Bukan karena turut bersedih, tapi karena merona. "Aku akan berikan nomor ponselnya. Kau bisa memulai dari sana kalau mau." [ ]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN