3.KONFRONTASI

1967 Kata
Satu deret nomor itu terus dipandanginya. Charlie diam di dapurnya sekarang. Hari sudah malam, tapi dia masih memiliki kegiatan yang sama: menatapi nomor Autumn, lalu ke foto profilnya--momen wisuda bersama seorang pria--dan kembali menatapi nomor Autumn. Lama sekali dia menimbang-nimbang, haruskah dia menghubungi nomor ini? "Daddy?" Suara Erik membuat Charlie mengerjap. Putra semata wayangnya itu sudah berdiri di belakangnya, membawa robot yang biasa mereka mainkan bersama sebelum tidur. "Ya?" Charlie menatap benda itu dan putranya sejenak. "Memangnya sudah jam tidurmu?" "Aku rasa sudah." Charlie melirik panel jam di layar ponselnya. Duh, bodohnya dia. Sudah pukul 9 malam. "Daddy sedang apa?" tanya Erik. Hanya karena Erik menunjukan sorot mata penasaran yang begitu besar, Charlie akhirnya menarik putranya duduk dan memperlihatkan foto Autumn. "Bagaimana menurutmu?" tanya Charlie. Erik menampakkan senyum imutnya. "Cantik. Baik hati juga sepertinya." "Teman Daddy." Charlie mengaku-ngaku, bahkan menyeruput kopi hitamnya untuk semakin menunjukan wibawa. "Kenapa tidak pernah dibawa ke rumah?" Senjata makan tuan, Charlie tersedak. "Apa maksudmu? Kau tidak pernah berkata begitu ke teman Daddy yang lain." "Kau tahu, aku selalu ingin mempunyai seorang kakak." Bocah yang belum genap 5 tahun itu menunjukan gigi susunya. Tangan mungilnya terarah pada Autumn. "Dan kupikir dia akan menjadi sosok yang menyenangkan." "Benarkah?" Erik kini menatapnya heran. "Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah dia temanmu?" Argh, bocah pintar ini. Charlie mengacak-acak rambutnya dan mematikan ponsel. Ia memutuskan untuk tidak menghiraukan Autumn dulu dan mengajak putranya tidur. "Ayo, kawan, kita tidur saja. Kau harus berangkat pagi besok. Jadi ikut berjalan-jalan dengan Ms. Murdock, kan?" "Jadi!" Dan, mereka meninggalkan dapur menuju kamar Erik. Meski begitu, Charlie melirik ponselnya tidak rela. Ia membulatkan keputusan untuk mengontak Autumn setelah Erik tidur. *** Hal berbeda terjadi pada Autumn. Di vannya, malam ini dia kedatangan tamu. Oto berkunjung dan menawarkan daftar tontonan yang menggiurkan. Autumn terkekeh mendengar tawaran itu. Yah, apa salahnya? Siapa tahu malam ini ia tak terjebak dalam kesedihan itu lagi. "Ya, aku ada laptop. Masuklah," Autumn mempersilakan dan membuka pintu rolling-nya lebih lebar. "Apa benda itu hanya berisi film atau ada yang lain?" tanyanya iseng. "Hanya film," jawab Oto, nyengir. "Sebenarnya benda itu milik adikku. Tapi, sepertinya dia lupa kalau VCD Playerku tidak bisa memutarnya." Autumn mengangguk paham. "Jangan khawatir, besok akan kubelikan CD dan memindahkan film-filmmu, oke?" "Ah, baiklah. Terima kasih. Semoga tidak merepotkan." Autumn selalu menyukai senyuman itu sejak pertama kali bertemu Oto seminggu lalu. Meski usianya sudah menua, janggut dan rambutnya memutih, dia tidak pernah bersikap sok senior kepada pelanggan lahar parkirnya. Senyum itu selalu tulus dan ramah. Mengingatkannya pada Carly-nya. Mungkin jika menua bersama, Autumn akan melihat senyuman yang serupa dari Carl. "Tidak sama sekali. Ayo, masuk." Gelagat sungkan dan menghormati itu bisa Autumn kenali dari Oto, menunjukan bahwa pria seusia ayahnya ini adalah sosok yang baik dan tak neko-neko. Satu poin plus itu dicatat pada profil Oto di otaknya. Di dalam, Oto pun sigap mengajukan diri untuk menyiapkan camilan menonton. Dia takjub dengan betapa praktisnya menjadi campervan. Dapur mini, kasur mini, bisa bepergian ke banyak tempat bermodalkan bensin. Autumn jadi tertarik bertanya, "Kau tertarik tinggal nomaden, Oto?" Oto tersenyum dan menarik napas dalam seolah hal itu pernah jadi keinginan terbesarnya. "Sebenarnya iya, tapi aku memiliki banyak hal menyenangkan di sini dan belum siap meninggalkannya." "Alasan yang masuk akal." Autumn terkekeh menanggapinya. "Kalau kau, kenapa memutuskan hidup nomaden--kalau aku boleh tahu?" Oto membuka kulkas mini Autumn dan mengambil makanan, dua porsi nasi goreng beku yang siap dipanaskan, yang ditunjuk Autumn. Oto menoleh. "Kau yakin?" "Aku ... belum makan." Autumn nyengir. "Kalau ingin makanan kecil saja, silakan." "Baik. Chiki untukku, nasi untukmu." Autumn tak mengusik Oto untuk beberapa saat kemudian hingga ia selesai mempersiapkan makanan dan minuman mereka, dan laptop Autumn pun selesai booting. Mereka menonton di meja makan. Kebetulan kursi makannya--meski mini--ada dua. Laptop memenuhi atas meja, mereka duduk di atas dua kursi yang berdekatan, nasi goreng di tangan Autumn dan chiki di tangan Otto. Jus jeruk dan air putih di atas kulkas yang persis di dekat pintu dapur. 'Vermont Pictures', begitu tulisan rumah produksi di awal. Autumn diam, bergeming ketika Oto menyebut orang-orang di tempat itu sering makan di Leksa Dinner. Kemudian, muncul judul '1947'. "Film perang?" tebak Autumn. "Tepat." Oto terkekeh di akhir jawabannya. "Vermont seolah terobsesi dengan tema perang di awal kemunculannya. Beberapa pihak bahkan sampai menyebut mereka alat propaganda pemerintah." "Tidak heran," Autumn melebarkan senyumnya, bisa membayangkan betapa kontroversial Vermont Inc. sebelum masa jayanya, "dan pasti yang kau maksud di sini adalah pihak koalisi." "Betul." Oto tersenyum, menoleh kepada Autumn yang tahu bahwa pria itu akan mengajaknya mengobrol selama film belum benar-benar dimulai. “Kau tahu, sebenarnya--aku pernah menonton wawancaranya--bahwa kemungkinan besar tema film awal hingga Vermont bisa menjadi seperti sekarang ini diawali oleh seorang dari bangsamu.” “Orang Amerika.” Autumn mengoreksi Oto bukan karena tidak suka dengan penyebutan itu seolah Amerika adalah negara yang kotor. Ia hanya risi, penyebutan yang bisa sederhana sedikit terdengar bertele-tele. “Memangnya siapa pendiri Vermont? Sepertinya mereka rumah produksi yang cukup baru, bukan? Kurasa berusia kurang dari 10 tahun?” “Taksiranmu tepat.” Oto melipat tangannya di d**a, menoleh dengan serius. “Kau tahu Charlie Burke? Dia dan Dimitri Tsavaneyv adalah pendiri Vermont, delapan tahun lalu. Ini salah satu filmnya. Awal-awal dia menjadi penulis naskah, hingga sekarang ia menjajal menjadi art director--itu dari yang aku dengar. Kemarin aku lihat dia di halte bus dekat sini, sepertinya habis berbelanja. Tapi, yang mengherankan, di dekat sini tidak ada supermarket. Dari mana semua belanjaan itu?” Baiklah, semua keterangan Oto yang diucapkan selama opening title berlangsung menuai pertanyaan dalam kepala Autumn. Apa Mr. Burke membuntutinya? Ah, tidak. Pasti itu karena hanya halte itulah yang ada di jalan ini. Ya. Tapi .... “Apa di jalan dekat Vermont tidak ada halte bus?” tanya Autumn, agak berbisik karena film sudah dimulai. “Ada.” Autumn terdiam sambil menyuap nasi gorengnya yang masih hangat. Fokusnya sedikit terbelah antara memperhatikan film buatan Charlie, dan mengingat apakah ada yang janggal dari tingkah pria itu dua hari belakangan ini. “Selamat menik--" “Siapa namamu? Aku Charlie, Charlie Burke.” Rasa penasaran itu kali ini tidak bisa dibendung. Autumn mengambil ponselnya, mencoba mencaritahu mengenai Charlie di internet. Ia mengetikkan ‘Charlie Burke Vermont Pictures’ di kolom pencarian, ingin tahu ke mana internet akan membawanya. Sambil memperhatikan film, Autumn menunggu dalam kunyahan pertamanya yang pelan. Tak lama kemudian, browser menampilkan tautan. Tautan pertama ternyata adalah biodata Wikipedia atas nama Charlie Emerson Burke. Pria Amerika kelahiran Florida, 35 tahun yang lalu. Dia memiliki putra bernama Erik dari seorang model Rusia bernama Calina Ivanova. Mereka sudah bercerai sejak Calina mengandung Erik. Meski begitu, kini Erik diurus oleh Charlie sementara Calina memilih pergi ke Paris dan melanjutkan karir modelingnya. Alasan perceraian mereka simpang siur. “Autumn,” panggil Oto tiba-tiba. Autumn menoleh. “Putraku menelepon. Maafkan aku, tidak bisa menemanimu menonton sampai selesai. Semoga kau suka filmnya.” Autumn tak bisa berkata-kata. Ia mengiakan saja ucapan Oto dan mempersilakannya keluar van yang memang tidak dikunci. Jujur saja, Autumn berada di ambang rasa penasaran--bukan lagi tentang film, tetapi tentang Charlie--dan lelah setelah beraktivitas seharian. Seolah belum cukup, notifikasi baru muncul. Pesan baru, dari nomor tidak dikenal. Fitur preview pesan yang diaktifkannya membuat Autumn tahu pesan itu dari Charlie. +7(790)870-00-39 10.21 p.m Selamat malam, Ms. Mills Memandang pesan itu dengan enggan, Autumn tidak tertarik membalasnya. Bukan sekali ini dia mendapat pesan sejenis dari pria di tempat-tempat singgahnya sebelum Vladisvostok. Autumn sudah terbiasa mengabaikan mereka. Hal yang sama pun berlaku untuk Charlie, apalagi dengan predikat dia merupakan orang penting di perfilman Rusia. Autumn tidak mau merepotkan hidupnya. Akhirnya, Autumn mematikan ponsel dan laptopnya. Beranjak tidur demi siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan Charlie esok hari--walau sebenarnya dirinyalah yang seharusnya bertanya dari mana Charlie dapat nomornya. *** Benar saja, setibanya dia di Leksa Diner esok pagi, Charlie sudah duduk di pelataran gedung Vermont Inc. Lelaki itu beranjak begitu melihat Autumn yang pagi ini bertugas membuka kafe. Autumn menyiapkan dirinya untuk menolak halus apa pun ucapan bernada ajakan dari lelaki itu. Ia masuk, tapi membiarkan Charlie menyusulnya. Tentu saja, karena secara tidak langsung lelaki itu adalah atasannya. “Ms. Mills,” panggil Charlie. “Selamat pagi.” Ketika Autumn menoleh, Charlie mengulurkan dua tangkai bunga lili putih. Sialnya, dua tangkai bunga itu cukup membawanya kembali ke masa lalu. “Autumn, ini untukmu.” “Ini untukmu. Secara resmi, Vermont belum mengucapkan selamat datang untukmu.” Charlie diam, mengamati reaksi Autumn pada kalimat yang ia latih sepagian tadi dengan Erik sebelum anak itu berangkat rekreasi dengan temannya. Senyuman terulas tipis di bibir Autumn. Ia menerima tangan bunga itu, lalu meletakkannya di dalam vas. “Terima kasih, Mr. Burke.” “Charlie saja.” --Akhirnya, dia berkesempatan mengatakan itu. Sudah sejak awal Charlie risi dengan panggilan yang Autumn sematkan padanya. Autumn mengangkat bahu. “Tapi, bagaimana pun kau adalah bosku.” “Aku hanya seorang art director.” Charlie mengelak. “Lagi pula, tidak ada bedanya.” “Jelas berbeda.” Autumn yang sudah siap dengan argumennya tentang ‘seharusnya mereka menjaga jarak’, melanjutkan, “Charlie Emerson Burke, 35 tahun, seorang duda tampan kaya raya dengan satu anak. Insan perfilman yang pernah menikah dengan model. Aku tidak mau terlibat dalam masalah dan disangka memeras hartamu.” Suasana seketika hening. Autumn melanjutkan pekerjaannya menyemprot meja dan kursi, meninggalkan Charlie yang mematung di tempatnya, tak jauh dari pintu masuk. Tiba-tiba ia mengerjap. “Kau mencari tahu tentangku?” Autumn acuh tak acuh. “Hanya karena kau menguntitku dan bersikap aneh kepada orang baru dua hari ini.” Entah Autumn menyadarinya atau tidak, wajah Charlie sudah memerah seperti kepiting rebus sekarang. Ia menyusul Autumn yang beranjak ke meja selanjutnya. “Kau ini introvert atau apa? Aku hanya ingin berteman. Memangnya itu salah?” “Entahlah,” Autumn mengangkat bahu, tidak berminat menatap mata Charlie sama sekali, “aku hanya ingin mendapatkan beberapa penny di sini dan pergi.” “Kenapa tidak terpikir untuk tinggal?” Ketulusan dan kepedulian yang terpancar dari nada itu menghentikan gerakan Autumn untuk sejenak. “Kenapa harus tinggal kalau bisa lari dan pergi lagi? Menjelajah itu menyenangkan.” Kemudian, ia mengangkat wajahnya. Charlie dan dirinya kini bersitatap. “Maaf, Mr. Burke, aku tidak tertarik berkenalan lebih jauh dengan siapa pun.” “Kenapa?” Charlie masih tak mengerti alasan di balik prinsip Autumn. “Saya rasa itu bukan urusan Anda,” tukas Autumn dingin, dengan senyum tipis yang datar dan menusuk. “Urusan Anda di tempat ini hanya memesan makanan, membayar, dan makan.” Charlie masih belum ingin menyudahi konfrontasinya. Ia membuntuti Autumn. “Aku tidak ingin kau pergi sebelum kita sempat berkenalan. Serius.” “Kita sudah berkenalan, bukan?” Autumn masih memenuhi pandangannya dengan meja. “Apa perlu aku ulang lagi?” “Tapi aku ingin mengenalmu lebih jauh.” Autumn gerah. Keinginan itu konyol dan mengganggunya. Ia balas menatap Charlie ketus. “Untuk apa?” “Menjadi temanmu.” “Lalu?” Charlie terlihat kebingungan menjawabnya. “Itu saja. Apa lagi, memangnya?” Autumn kembali berpindah meja. “Aku tidak percaya.” “Apa yang bisa membuatmu percaya?” tanya Charlie begitu berani. “Apa mungkin ceritanya akan berbeda kalau yang bicara seperti ini adalah Andrei?” “Tidak,” balas Autumn pendek. “Dia sudah punya kekasih. Aku tidak mau mengusiknya. Prasangka bisa terjadi kapan saja.” Charlie mendengkus. “Atau jangan-jangan kau tidak menyukai laki-laki? Ada trauma masa lalu atau--" “Aku hanya ingin bekerja di sini, Mr. Burke. Tidak bisakah kau mengerti itu?” Kali ini, Charlie terdiam. Tiga kali penolakan baginya sudah cukup untuk pagi ini. Pagi ini, ya, karena siang nanti ia akan mencoba lagi. Charlie mengangguk dan pergi. Namun, ternyata sikap diamnya itu meninggalkan satu perasaan aneh pada Autumn yang kalah pada keinginannya untuk tidak memandang kepergian Charlie. Autumn menarik napas panjang. Ada-ada saja ujian kesabarannya pagi ini .... [ ]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN