Gairah yang Membludak

1244 Kata
Nathalie menikmati kesenangan yang luar biasa saat tubuhnya berjoged-joged mengikuti irama musik dengan gaya yang menggairahkan, dia melepas jaket yang dipasang Daffin tadi dan melemparkannya tepat di pangkuan Jeffri yang duduk di sebelah mejanya. “Mari berpesta!!” teriaknya sambil melangkah maju ke dalam kerumunan pria dan wanita yang ada di lantai dansa. Musik remix yang dimainkan oleh DJ Kris berhasil membangunkan gairahnya yang membludak. Sedangkan Jeffri hanya terperangah melihat kelakukan Nathalie yang tak tahu malu saat meliuk-liukan tubuh seksinya dipertontonkan dari atas sana. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala sesekali memikirkan moral buruk sahabat sekaligus wanita yang dicintai bosnya itu. Di sisi lain, Daffin terus menghubungi Jeffri untuk memberikan kabar mengenai Nathalie saat ini. Tak banyak yang dilaporkan Jeffri karena saat ini si wanita pecandu ajib-ajib itu sedang heboh di atas panggung sana berjoged-joged ria bersama sahabat-sahabatnya. “Tenang bos, dia sedang berjoged di atas panggung bersama sahabatnya. Ada banyak sahabat Nona Nathalie yang ikut bergabung di sini. Jadi Anda tak usah cemas,” ucap Jeffri melaporkan kepada Daffin yang sedari tadi bertingkah posesif dan heboh sendiri. “Aku mau, setengah jam lagi dia harus pulang. Ini sudah jam 12 malam!” tegas Daffin di seberang telepon. Jeffri paham dan segera mematikan telepon. Dia berjalan ke atas panggung, mencari celah untuk bisa berjalan sampai ke hadapan Nathalie. “Nona, Bos Daffin meminta saya untuk membawa Anda pulang sekarang!” teriak Jeffri karena suara musik yang sangat kencang. “Apa!!!” sahut Nathalie mendekatkan telinganya ke wajah Jeffri karena yang tak mendengar ucapan pria itu. “Ayo kita pulang!” ucap Jeffri sambil menarik tangan Nathalie turun panggung. Nathalie kesulitan menyamai langkahnya dengan Jeffri, dia ditarik paksa dalam kerumunan itu hingga beberapa kali menabrak tamu yang sedang berjoged. “Ckk, kenapa sih tarik-tarik begini. Aku bisa jalan sendiri! kamu tunggu sebentar, aku mau menemui pacarku dulu!” bentak Nathalie melepaskan tangannya dari genggaman Jeffri, Dia sangat kesal karena waktunya selalu dibatasi oleh Daffin. Padahal dirinya masih betah menikmati kegembiraan bersama para sahabatnya, ditambah lagi sambil dilirik ayang tampan yang sedang heboh berdisko. Dia berjalan ke tempat Kris, memberi tahu pacarnya itu kalau dia mau pamit pulang. Kris menawarkan diri untuk mengantarnya, tetapi Nathalie tidak mau lantaran dia dikawal oleh anak buah Daffin. “Bye honey. Besok kabari aku kalau kau tidak jadwal di waktu siang. Aku mau ajak kencan!” ajak Kris yang berusaha mengeraskan suaranya. “Oke,” sahut Nathalie memberikan tanda jempol. Tiba-tiba Hani menghampirinya sambil memberikan satu botol minum. “Nath, ini buat loh. Sayang kan kalau minuman yang kita pesan tersisa. Aku dan anak-anak yang lain udah minum juga,” ujar Hani. Nathalie menerima minuman itu dan meneguknya dengan cepat. Dia pamit kepada semua temannya, lalu berjalan mengikuti Jeffri ke lobi. Dalam perjalanan, dia merasakan tubuhnya agak panas, dan jantungnya berdetak lebih kencang. ‘aduh, kenapa nih? Kok panas begini, apa AC kurang dingin ya, ‘ batinnya bertanya-tanya saat duduk dalam mobil. Dia meminta Jeffri menambah suhu AC mobilnya. Namun itu masih saja tidak berpengaruh, hingga Nathalie pun membuka kaca jendela mobilnya lebar-lebar sambil mengeluarkan kepalanya agar terkena angin. Tubuhnya terasa begitu panas. Dia merasa debaran jantung dan darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya. Kepalanya mulai tidak fokus dan semua pergerakan gelisahnya membuat Jeffri penasaran. Nathalie mengira jika minuman terakhir yang dia dapat dari Hani tadi penyebabnya. Karena pada saat dirinya di atas panggung tadi, dia tidak mabuk sama sekali. Namun sekarang, hatinya menjerit ingin segera berendam dalam air dingin agar hawa panas ini menghilang. "Nona Nathalie, apa Anda baik-baik saja?" tanya Jeffri mencondongkan tubuhnya ke Nathalie yang ada di belakang kemudi. "Ini sangat mengerikan, Jeffri. Tubuhku terasa mau terbakar, panas dan sangat gerah. Aku merasa tidak nyaman sekali, ayo tambah kecepatan mobilnya!" Kata Nathalie yang terengah-engah menahan hasrat aneh dalam dirinya. "Baik, Nona, Saya akan mengantar Anda pulang segera. Mari pasang sabuk pengaman, kita berangkat sekarang," sahut pria itu. Nathalie mengumpulkan kekuatannya lalu membuka sepatunya. Dia mengambil sebuah kertas yang ada di saku jok kursi untuk menjadi kipas sementara. Selama dalam perjalanan ke mansion Daffin, Nathalie terus merasakan tubuhnya mulai panas dan tidak nyaman. Ada perasaan aneh seolah dia 'ingin disentuh'. Dia pun duduk berganti-ganti posisi di dalam mobil Range Rover itu dan memerintahkan Jeffri menaikkan suhu AC bagian tengah mobil untuk meredakan rasa panas di tubuhnya lalu meminum air dalam botol mineral yang diberikan Jeffri hingga tandas. Ketika dia sampai di depan mansion, pengawal Daffin membantunya turun dari mobil lalu mengantarkannya dengan ke pintu masuk. Sedangkan Jeffri yang berada di belakangnya, mengikuti dan menatap wajah Nathalie diam-diam. Dia merasa ada yang tidak beres dengan gerak-gerik gadis cantik itu, wajahnya pun terlihat merah padam tidak seperti biasanya. Apakah tubuh Nathalie tercemari obat perangsang? pikir Jeffri tak enak hati. Namun, siapa yang memberikannya? Dia membantu Nathalie memencet tombol lift untuk diantar ke kamarnya. Namun, Nathalie tidak mau dan meminta Jeffri mengantarnya ke kamar Daffin saja. Dia sangat tersiksa saat ini, siapa tahu Daffin bisa membantunya. Lift itu sampai di lantai dua dan terbuka pintunya. Jeffri mempersilakan Nathalie keluar terlebih dahulu dari lift. Kemudian dia mengetuk pintu kamar Bos nya itu. "TOK... TOK" Dengan segera Daffin membukakan pintu kamarnya dan melihat Nathalie sudah berdiri di depan pintu. "Silakan, Nona Nathalie," ucap Jeffri lalu menganggukkan kepalanya kepada bosnya. Pria berambut cokelat dengan jaket kulit hitam itu pun meninggalkan mereka berdua lalu turun dengan lift ke lantai dasar. Sementara 2 pengawal reguler bawahannya berjaga di depan pintu kamar itu. "Astaga! Nath, kenapa wajahmu memerah begini? Kenapa lama sekali pulangnya?" Reretan pertanyaan Daffin bagaikan kereta api yang sambung menyambung dan tak putus. Sementara kondisi Nathalie sangat tidak tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu lantaran hawa panas menggerogoti tubuhnya sangat menyiksa. Langsung saja, Nathalie mendorong Daffin masuk ke dalam kamar dan menarik ganggang pintu dari dalam. "Ssssht.... diamlah Daffin...," balas Nathalie pelan dan mendesah. Dia menyeka keringatnya yang mengucur deras di sekitar lehernya. Setelah mereka duduk bersebelahan di kursi depan ranjang, Daffin menyeka keringat Nathalie dengan handuk kecil bekas mengeringkan tubuhnya tadi. Sementara Nathalie menatap wajah Daffin dengan b*******h dan menelan salivanya. "Fiin ...," panggilnya serak. "Hmm... ada apa?" Sahut Daffin dengan nada penuh perhatian, sembari mengelap ketingat di kening Nathalie. Tanpa diduga Nathalie melemparkan dirinya ke pangkuan sahabatnya itu lalu melumat bibir Daffin seperti sedang kelaparan. Tangannya mencopoti kancing baju polo Daffin lalu menggesek-gesekkan bagian dadanya ke permukaan bidang berotot yang sangat keras itu. Bibirnya mencupangi leher Daffin berulang kali dengan ganas. Mata Daffin membulat karena terkejut dengan kelakuan binal Nathalie yang muncul tiba-tiba. Napasnya tercekat kala kulit gadis cantik itu terasa panas di bawah telapak tangannya. Kini dia tahu apa yang tengah terjadi. Perasaan Daffin merasa begitu dilema menghadapi situasi ini. Dia mendambakan gadis itu selama ini, malahan dari siang dan malam. Namun, tiga hari yang lalu dia telah berjanji akan menjaga Nathalie dan tidak merusak gadis itu selama masa pendekatannya. "Astaga Nath! Ini tidak benar! Lepaskan aku, ini salah," kata Daffin berusaha menjauhkan wajahnya dari bibir Nathalie yang terus menciuminya dengan agresif. Namun, Nathalie tidak bisa berhenti. Saat dia menempelkan tubuhnya ke kulit badan Daffin, rasa panas dan tidak nyaman tadi sedikit berkurang. Tetapi Nathalie tak mau tahu, dia terus memaksa Daffin menatap dirinya dan menyeimbangi gerakannya yang sensual di atas pangkuannya itu. Di satu sisi Daffin merasa ikut b*******h mendapati sikap Nathalie yang berubah agresif, namun di sisi lain pergerakannya juga terbatas karena sebelah tangan kanannya masih digips. "Jangan begini Nath, sadarlah!" ucap Daffin membentak Nathalie dengan berusaha menahan gejolak dalam dirinya. "Engak Fin, jangan begini. Aku benar-benar tersiksa!" sahut Nathalie putus asa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN