Jari telunjuk Aldrick menjentik pelan beriringan dengan kelopak matanya yang terbuka perlahan. Malaikat kecil itu mengerjapkan netra, menajamkan penglihatan. Samar-samar tampak sesosok wanita, berparas ayu yang sedang menatap dirinya lurus. Tiba-tiba, putra biologis Erick dengan Yessinia itu bangkit, dan langsung memeluk tubuh sintal Valeria yang masih berdiri di samping papanya. "Mama Vale, jangan tinggalkan Aldrick! Aldrick janji akan jadi anak baik." Namun, istri sah Erick itu bergeming. Tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya termenung, terhanyut oleh lamunan dalam benaknya. Tangan mungil dan halus itu, mendekap erat tubuh bak gitar spanyol mama keduanya. Seakan ia tak ingin lagi berpisah, padahal tidak ada ikatan darah apapun di antara mereka. Namun, mengapa hati Valeria tersen

