Usai perdebatan panjang selama mereka menuju ke rumah. Valeria memilih diam, mengakhiri perbincangan bersama Erick karena kepalanya kini sudah meremang, begidik saking kesalnya. Valeria membuang wajahnya acuh, enggan menatap sosok lelaki di sampingnya. Namun, kenapa perasaan Valeria begitu tenang dan nyaman saat Erick kini menyentuh perut ratanya. Parfum dan juga aroma shampo suaminya semakin membuat darah Valeria berdesir hebat. Kenapa dengan dirinya? Tangan Erick mengelus perut Valeria, mengusapnya perlahan sambil merekahkan senyumnya. Untung saja ada jabang bayi dalam kandungan Valeria hingga perceraian mereka batal oleh hukum. Inikah pertanda bahwa Tuhan akan memberikan Erick satu kali kesempatan untuk membahagiakan Valeria serta keluarganya? "Sayang, Mama jahat sekali ya mau memisa

