"Rin,kalau Lo lupa gimana rasanya bibir gue. Mau gue ingetin, gak?" Glup! Secara otomatis Arin meneguk ludahnya. Gugup karena Satria menawarkan hal yang seperti itu. Seharusnya Arin bisa langsung menolak atau setidaknya memiting leher Satria seperti biasa. Namun kali ini berbeda, yang bisa dia lakukan hanya diam dengan mulut tertutup rapat. Jantungnya bertasbih layaknya drum yang dipukul kencang. Ingin menghindari tetapi hasrat berkata lain. Satria yang seolah mendapat lampu hijau, menatap Arin dengan lekat. Dia telah memiringkan kepalanya dan mendekati wajah Arin. Semakin berdebar tak karuan jantung hati Arin, secara tak sengaja Arin bahkan mencengkram kaos Satria dengan erat seraya menutup mata. Hembusan napas Satria mulai terasa menyapa wajah Arin, hal ini semakin membuat Arin tak k

