Deg … deg … deg. Begitulah suara detak jantung Satria yang tertangkap oleh indra pendengaran Arin. Layaknya drum yang ditabuh kencang, entah mengapa Satria begitu berdebar saat ini, sama seperti orang yang sedang berpacu, berlari memutari sepuluh keliling lapangan sepak bola. Meski lelah tetapi ada perasaan yang membuncah. Srakk! Arin mendorong Satria, membuat pria itu menjauh dan menjadi salah tingkah. Dia mengipasi wajahnya yang memerah entah mengapa. “Ja-jauh-jauh sana, lo bau matahari! Kaya bocah yang abis ngejar layangan tahu gak?” hardik Arin membuat Satria menciut. Perlahan ia mengendusi kerah bajunya, jika saja benar apa yang di ucapkan Arin maka wajah Satria pasti akan semakin merah seperti tomat sebab ia harus menanggung malu. Untungnya saat itu ponsel Satria bergetar mem

