“Allahhu akbar! Astagfirullah! Allahu … Allhu … Allahuma bariklana!” Arin tertawa di balik helmnya. Satria tahu itu sebab pundak Arin bergetar. Sedangkan Satria semakin panik setelah komat-kamit tak terkendali sebab syok dan sangat ketakutan ketika Arin memboncengi dia dengan kecepatan tinggi. Satria masih trauma saat dia mengajari Arin mengendarai motor gigi. Saat itu keduanya masih SMP, Arin memang pandai dalam hal teori, tetapi prakteknya nol besar. Arin yang grasak-grusuk langsung nge-gas saat pertama kali dia yang mengendarai. Sialnya saat itu pula Satria langsung ikut duduk di bangku belakang. Hampir nabrak tembok, nabrak gerobak bahkan tak jarang hampir menabrak pejalan kaki. Padahal Satria sudah menyuruh Arin untuk latihan di tanah lapang tempat mereka biasa main bola dan layanga

