Hari ini adalah sebuah hari yang dinantikan Satria. Hari ini adalah hari ia pulang ke Indonesia, hari dimana dia berharap dia bisa memperbaiki hubungan pada semua orang yang pernah dia buat kecewa sebelumnya. Satria mendorong kursi roda mama Mey dengan semangat, bahkan sesekali bersenandung pelan. Mama Mey pun ikut senang sebab dari beberapa waktu lalu baru kali ini putranya kembali tersenyum cerah dengan penuh harap dan bahagia. “Bang Satria?” suara baritone menyapa Satria yang melenggang di area terminal. Satria memelankan langkahnya bersamaan dengan mama Mey yang menoleh ke belakang. Seorang pria dengan pakaian kasual mendekati Satria, wajahnya cerah dan bahagia. “Kang martabrak?” “Juna Bang! Juna!” ujar Juna, tak senang jika Satria masih saja memanggilnya demikian. “Bang Satria ma

