Bab 3

775 Kata
Setelah 45 menit perjalanan, Aurelia sampai di gerbang halaman rumah keluarga Robert. Dengan menurunkan kaca mobil, Aurelia menyapa petugas keamanan. Kemudian mobil melaju menuju halaman rumah. Setelah itu dengan membawa koper Aurelia berjalan masuk. "Ma, Pa. Ada orang dirumah?" Aurelia yang melihat sekeliling "Eh non Aurelia. Apa kabar non? sudah lama tidak kesini" ucap Nawang. Nawang merupakan salah satu pembantu di kediaman Robert yang terkenal loyal "Baik bi. Mama Papa apa ada dirumah" tanya Aurelia Sebelum bi Nawang menjawab. Sasi Davina ibu Aurelia turun dari tangga. Sasi terkejut melihat perubahan si bungsu. "Sayang itu kamu, mama kangen baget lho" ucapnya yang menghampiri putrinya. Sasi terbiasa dengan si bungsu merasakan sedih saat dia marah karena tak mendapatkan izin untuk menikah dengan Arva. "Iya ma, maaf selama ini kekanak-kanakan. Aku juga rindu mama" ucapnya yang menerima pelukan Sasi. Aurelia merasakan kehangatan ibu membuatnya terasa nyaman. Terbiasa hidup mandiri sejak orang tuanya meninggal membuatnya merindukan kasih sayang, meski paman dan bibinya merawatnya tapi untuk kasih sayang sangatlah kurang. "Begini rasanya pelukan mama, sangat menyenangkan" Tanpa disadari, Aurelia meneteskan air mata "Sayang, kau kenapa menangis. Apa Arva memperlakukan kamu buruk" ucap Sasi yang cemas dan mengelus pundak si bungsu. Sasi kerap merasa sedih dan khawatir karena mengetahui betapa dinginnya sang menantu pada putrinya. "Tidak ma, dia baik" ucapnya yang santai "Baguslah kalau begitu" Sasi merasa curiga saat putrinya. Tapi menyembunyikan hal itu agar tak menggangu suasana "Oh ya, papa mana ma?" ucap Aurelia "Biasa papamu sibuk kerja, mama kesepian disini apalagi semua anak mama pada sibuk dengan urusan masing-masing" Sasi yang menampakkan muka sedih "Maafin Aurelia karena belum sempat kemari" ucap Aurelia yang berkaca-kaca. Aurelia merasa bahagia bisa merasakan kehangatan seorang ibu yang belum pernah dia miliki "Mama tau kok, urusan anak muda. Jadi kapan nih mama nimang cucu" ucapnya dengan nada agak bercanda "Uhkk" Aurelia terbatuk. Aurelia merasa bingung dan cemas bagaimana harus menjelaskan hubungannya dengan Arva. "Kenapa sayang" ucapnya yang cemas melihat muka putrinya "Nggak pa-pa. Cuma untuk saat ini tolong mama jangan bahas hal semacam itu" ucap Aurelia "Mama maklumi kamu, masih muda ingin menikmati berduaan. yak kan" Sasi semakin yakin hubungan pernikahan putrinya tak berjalan dengan baik. "Iya mama benar. Jadi aku boleh menginap disini" ucapnya membenarkan "Boleh dong sayang, mau berapa lama" ucap Sasi yang merasa senang bisa bersama putrinya "Semingguan atau lebih ma, soalnya aku kangen banget sama mama" ucapnya yang memeluk kembali Sasi "Iya deh, anak mama yang manja" memeluk sang putri bungsu. Sasi senang sikap putrinya kembali ceria Setelah berpelukan lama dengan ibu. Aurelia mengikuti Daswin salah satu bodyguard yang dipercayai Robert. Daswin membawa koper Aurelia ke kamarnya. Setelah Daswin pergi, Aurelia masuk ke kamar dan melihat lebih jauh dekorasinya. Terlihat hampir sama seperti di rumah Arva. Tapi rasanya lebih hangat dan nyaman, semua perlengkapan sehari-hari ada mulai pakaian, sepatu, tas, jam, perhiasan. Bahkan bisa dibilang kamar ini dan isinya lebih megah, Aurelia iri kepada pemilik asli yang beruntung memiliki semua yang inginkan dan tak perlu bekerja keras seperti dirinya. Setelah menatap semua yang ada di kamar. Aurelia merebahkan diri dan tertidur. Sudah lama tidak merasakan nyaman, dirumah Arva yang ada was-was. Dirumah keluarga Robert berbeda, suasana membuat orang rileks. Aurelia tidur pulas sampai pukul 3 sore. Aurelia bangun dan merasa tubuh segar, dia bangkit untuk mandi. Dan berganti dengan dress lengan pendek motif bunga-bunga warna merah muda membuat dirinya tampak energik. Setelah memoles bedak dan lip tint Aurelia berjalan menuruni tangga menuju ke ruang keluarga. "Sayang, sini duduk sebelah mama. Mama mau cerita sama kamu" ucap Sasi penuh semangat "Cerita apa ma?" Aurelia semakin tertarik "Bentar lagi sahabat kakakmu datang dari luar negeri" ucapnya yang penuh semangat. Sasi membayangkan kenangan masa lalu putrinya yang selalu dekat dengan sahabat putranya "Terus apa hubungannya denganku?" Aurelia nampak bingung menggaruk kepalanya meski tidak gatal "Kau mungkin lupa tapi mama ingat. Waktu kecil kamu selalu menempel padanya, sulit dipisahkan. Eh sekarang malah jauh-jauh" ucapnya berkaca-kaca "Ohh" Aurelia benar-benar tak paham maksud mama Sasi. "Mungkinkah ada hal semacam itu, terus kenapa berubah. Menarik sekali kisah pemilik asli" gumam dalam hati "Iya begitu cerita kalian masih kecil. Taunya sudah besar dia menikah dengan pacarnya dan kau dengan Arva" ucap Sasi yang sebenarnya berharap Aurelia menikah dengan sahabat kakaknya "Lalu kenapa mama antusias sih menceritakan kisah itu. Semua masa lalu dan tidak bisa diputar kembali" ucapnya sambil meminum teh lemon "Bukan begitu maksud mama. Kau kan tau hanya dia yang tidak bisa ditolak oleh kakakmu. Mama ingin dia menyakinkan kakakmu untuk menikah" ucap Sasi "Mama yakin dia bisa membantu. Kok aku ragu" "Mama yakin 100%" Aurelia hanya pasrah dengan sikap mama Sasi. Dan dia berharap agar mamanya tidak kecewa. Setalah pembicaraan itu keduanya tenggelam dalam tontonan TV
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN