Bab 4

553 Kata
Aurelia menikmati sore bersama mama Sasi. Setelah menonton tv kegiatan dua wanita beda generasi itu dilanjutkan dengan manicure dan pedicure dengan mengundang staf kecantikan. Aurelia menikmati dimanjakan karena selama masih kecil belum pernah merasakan semacam itu. Mama Sasi yang sedang membaca majalah melirik putrinya "Sayang, kau mau makan apa malam ini biar chef memasak sesuai keinginanmu?" "apapun ma yang penting enak, satu lagi salad ya ma" "Ok sayang" ucap Sasi yang mengkode asistennya agar chef membuat masakan sesuai keinginan putrinya "Ma.." ucapnya yang ragu "Ada apa sayang" ucap mama Sasi "Aku mau quality time bareng mama, bisa kan" Aurelia yang merasa senang memiliki orang tua yang menyayanginya "Tentu, besok kita belanja bareng" mama Sasi yang merasa senang putrinya berinisiatif untuk dekat dengannya "Asyik. Mama is the best" ucapnya penuh semangat "Mama benar-benar tak rela kalau putri kecil mama sudah menjadi milik Arva" ucapnya yang sendu "Mama, jangan khawatir meski sudah menikah tapi tetap mama, papa, kakak tetap yang paling berarti bagiku" ucapnya yang sungguh-sungguh Keduanya pun kembali menghabiskan sore bersama di ruang keluarga. Sambil tertawa menceritakan kisah masa lalu mama Sasi dan papa Alvon. "Aku nggak tau, kalau papa bisa seperti itu" ucap Aurelia yang sulit membayangkan ayahnya dingin punya masa pemberontak dan bahkan melompat pagar demi bisa menemui mamanya Sasi "Iya gitu, papamu sok jual mahal. Mentang-mentang pewaris keluarga Robert, merasa apapun bisa dimiliki dengan egonya yang tinggi dia selalu cuek pada mama. Tapi ketika mengetahui mama akan dijodohkan dengan lain, dia nekat melawan bodyguard dan berusaha untuk menemui serta membujuk mama pada waktu" ucap Sasi yang mengingat tingkah konyol suaminya didepan dingin dan sok nggak peduli eh dibelakang kebakaran jenggot mengetahui dirinya dijodohkan dengan yang lain "Terus" Aurelia yang antusias mendengar kisah cinta mamanya "Terus...." sebelum Sasi melanjutkan terdengar suara langkah kaki Alvon "Sasi sayang, kau ceritakan apa pada putri kita" ucap Alvon menajamkan netra yang membuat Sasi merinding "Nggak kok mas. Aku nggak cerita yang aneh-aneh. Ya kan Aurelia sayang" ucap mama Sasi yang merasa gugup sambil mengkode putrinya "Benar bukan apa-apa pa. Mama hanya bilang besok mau ajak aku belanja" Aurelia paham maksud mamanya "Oh kirain ngomongin papa" ucap Alvon yang setengah percaya "Mas, kamu gr banget jadi orang" ucap Sasi mencebikkan bibirnya "Yaudah kalau gitu. Papa ganti baju dulu, nanti kita makan bareng" Alvon yang berjalan ke arah kamarnya "Ok pa" 'Untung selamat, coba kalau tidak bisa habis aku' gumam Sasi dalam hati "Sayang, lain kali kalau ada papa dibelakang kode ya. Kan bahaya kalau papa tau apa yang kita bicarakan" ucapnya menghela nafas "Iya ma" ucap Aurelia mengiyakan meski bingung apa bahaya yang dimaksud mamanya "Bagus" mama Sasi yang merasa lega Setengah jam berlalu, Aurelia makan dengan lahap makanan yang disajikan. Sementara Alvon dan Sasi saling pandang merasa putri mereka berbeda. Dengan perbedaan membuat keduanya merasa senang putrinya telah dewasa dan kembali akrab sama seperti sebelum menikah. Aurelia menikmati malam ini dengan rasa syukur bisa merasakan kasih sayang orang tua. Senyum indah tercipta dibibir kecilnya yang menampilkan keindahan seperti halnya cahaya bulan menyinari malam bersama bintang. Dengan perasaan bahagia memudahkan Aurelia untuk tidur dan berharap besok menjadi lebih baik dari hari ini. *** Sementara itu di kediamannya, Arva merasakan kesunyian tidak ada lagi wanita yang selama ini menjadi istrinya menyinggungnya. Dengan dinginnya menambah kesuraman Arva. Memilih konsentrasi lagi dengan bekerja dia lakukan agar tak melulu memikirkan Aurelia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN