Toko bunga Lena terasa berbeda sejak percakapan itu.
Bukan karena ada yang berubah secara drastis. Rey masih datang dengan langkah santainya, membawa pot kecil atau kertas berisi coretan. Lena masih menyusun bunga seperti biasa. Tapi ada sesuatu di udara—seperti jarak di antara mereka yang dulu tak terlihat, kini perlahan memudar.
Hari itu, Rey datang lebih pagi dari biasanya. Ia membawa sekotak kecil berisi biji-biji bunga.
“Hadiah,” katanya sambil menaruh kotak di meja. “Dari Pak Gito. Katanya aku harus belajar menanam, bukan cuma memetik.”
Lena tersenyum. Ia membuka kotak itu. Di dalamnya ada biji bunga matahari, cosmos, dan kenikir. Semuanya ditulis dengan tangan di atas kertas daur ulang.
“Kamu sudah mulai berteman sama orang-orang sini ya,” katanya.
“Sedikit demi sedikit. Ibu warung kopi bahkan sudah berani nyuruh aku antar galon ke rumahnya.”
Mereka tertawa.
Lena merasa anehnya... nyaman. Seolah kehadiran Rey bukan lagi sesuatu yang harus ia ragukan. Tapi bagian dari keseharian yang bisa ia terima perlahan.
Pagi itu mereka duduk di belakang toko, menyiapkan tanah di pot panjang. Rey membuka buku catatannya, mencatat jenis tanah dan posisi matahari. Lena menanam dengan gerakan tenang, tak terburu.
“Kadang aku lupa rasanya melakukan hal seperti ini tanpa alasan,” kata Rey sambil mengaduk tanah.
“Maksudmu?”
“Di kota, setiap hal harus punya tujuan. Tanam karena target panen. Menulis karena tenggat waktu. Jalan kaki karena aplikasi olahraga. Tapi di sini… aku bisa melakukan sesuatu hanya karena aku ingin.”
Lena menoleh. “Dan itu membuatmu merasa... hidup?”
Rey mengangguk. “Lebih dari yang pernah aku rasakan sejak lama.”
Mereka diam sejenak. Hanya terdengar suara burung kecil dari pohon jambu di belakang toko.
“Apa kamu pernah berpikir untuk tinggal di sini lebih lama?” tanya Lena pelan.
Rey tidak langsung menjawab. Ia menatap jemarinya yang penuh tanah.
“Aku memikirkannya,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga tahu... tidak semua yang datang kembali, punya hak untuk menetap.”
Lena mengernyit. “Apa maksudmu?”
Rey menatapnya. “Aku tahu aku pernah pergi. Meninggalkan semuanya. Termasuk kamu. Dan aku tidak ingin kamu menganggap aku datang hanya karena kelelahan dari tempat lain.”
Lena menunduk. Hatinya terasa hangat, sekaligus sedikit perih.
“Aku bukan anak kecil lagi, Rey,” katanya. “Aku tidak menganggap kamu datang karena satu alasan saja. Tapi aku ingin tahu... apa yang kamu cari sekarang?”
Rey terdiam. Ia menggenggam sedikit tanah di tangannya.
“Jawaban,” katanya akhirnya. “Dan tempat yang bisa membuatku ingin tinggal... bukan sekadar berhenti.”
Siang itu, toko ramai. Ada seorang gadis muda yang ingin buket untuk ibunya yang sakit. Seorang pemuda desa memesan bunga untuk tunangannya. Lena sibuk melayani, dan Rey—tanpa diminta—membantu membungkus dan mencatat pesanan.
“Mbak Lena!” seru pemuda desa. “Mas-nya ini cocok banget kerja di sini. Sekalian aja direkrut tetap!”
Lena tertawa. “Dia belum tentu betah tiap hari lihat bunga.”
Rey ikut tertawa. “Kalau yang ngasih bunga kayak kamu, siapa yang bisa bosen?”
Godaannya spontan. Tapi membuat Lena tak bisa menahan senyum.
Dan saat pelanggan terakhir pergi, Lena menoleh ke Rey. “Kamu benar-benar gak keberatan bantu?”
Rey menggeleng. “Hari ini, aku merasa seperti bagian dari sesuatu.”
Menjelang sore, ketika toko mulai sepi, seorang tukang pos datang. Pria tua itu membawa satu amplop cokelat yang sedikit kusut.
“Untuk Mas Rey. Dari Jakarta.”
Rey menerimanya, sedikit bingung. Lena melirik sekilas.
Begitu tukang pos pergi, Rey membuka amplop itu perlahan.
Lena mencoba tidak terlihat terlalu ingin tahu. Tapi dari ekspresi Rey, ia tahu... isinya bukan kabar ringan.
“Apa itu?” tanyanya hati-hati.
Rey menutup kertasnya. “Panggilan kerja. Dari tempat aku resign dulu.”
“Kamu... melamar lagi?”
Rey menggeleng. “Enggak. Mereka hubungi karena salah satu proyek lama butuh aku balik sebagai konsultan. Kontrak tiga bulan.”
Lena menunduk. “Kapan harus jawab?”
“Dalam seminggu.”
Sunyi turun sekali lagi.
Lena mencoba menenangkan dirinya. Ia tidak boleh merasa berhak atas keputusan Rey. Tapi bagian dalam hatinya bergetar. Ia baru saja mulai membuka ruang. Dan sekarang, ruang itu bisa kembali kosong dalam waktu singkat.
“Kamu akan pergi?” suaranya nyaris tak terdengar.
Rey menatapnya. Matanya serius.
“Aku tidak akan memutuskan apa pun hari ini,” katanya pelan. “Tapi aku ingin kamu tahu. Aku bilang aku datang untuk mencari jawaban. Tapi jawaban itu... bisa saja berubah.”
Lena mengangguk. Tapi senyum di wajahnya sudah hilang sejak tadi.
Malam itu Lena menolak tidur. Bukan karena kantuk tak datang, tapi karena pikirannya tidak membiarkannya tenang.
Ia duduk di lantai loteng, memeluk lutut sambil memandangi langit yang kosong. Tak ada bintang malam ini. Hanya langit kelabu dan bayangan ranting pohon yang bergoyang karena angin.
Di sampingnya, buku catatan bunga terbuka di halaman kosong. Tapi Lena tak menulis apa pun.
Sesekali ia melihat pot spearmint dari Rey yang ia bawa ke atas. Daunnya mulai merekah, pertanda tumbuh. Tapi Lena tak yakin apakah dirinya sendiri sedang bertumbuh, atau justru mengerut pelan-pelan karena takut terluka.
Panggilan kerja Rey. Konsultan. Tiga bulan. Jakarta.
Tiga bulan bukan waktu yang lama. Tapi juga cukup untuk mengubah segalanya. Terutama jika orang yang kembali ke kota menemukan alasan untuk tidak pulang lagi.
“Apa gunanya menanam jika akarnya tidak pernah diberi waktu tumbuh?” bisiknya sendiri.
Di halaman lain buku itu, Lena membaca tulisan lama yang pernah ia coret bertahun lalu:
> “Aku tidak takut sendirian. Aku hanya takut mengizinkan seseorang masuk, lalu dia pergi sebelum sempat mengerti ruang yang kuberikan.”
Tulisan itu terasa terlalu tepat malam ini.
Pagi berikutnya, Lena bangun lebih awal dari biasanya. Ia membuat teh hangat, membuka jendela toko, lalu duduk di depan meja kasir sambil memandang halaman kecil di luar.
Udara masih basah. Embun belum sepenuhnya menguap. Tapi di bawah cahaya pagi, kebunnya tampak segar. Bunga-bunga kecil yang ia tanam sendiri mulai menunjukkan kelopaknya. Tak ada yang istimewa, tapi Lena merasa… untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia ingin menanam sesuatu.
Setelah sarapan, ia mengambil satu pot kosong dari gudang belakang. Tanahnya ia isi sendiri, dengan campuran pupuk yang biasa ia simpan diam-diam untuk tanaman favorit.
Biji cosmos dari kotak Rey ia ambil—satu saja. Ia tanam perlahan di tengah pot, lalu menyiramnya dengan air hangat.
Lalu ia menulis label kecil dan menancapkannya ke dalam tanah:
> “Untuk yang tetap tumbuh, meski sendirian.”
Lena tahu, pot itu bukan untuk Rey. Bukan juga untuk kenangan. Tapi untuk dirinya sendiri.
Ia tahu ia tak bisa menahan Rey jika nanti pergi. Tapi ia juga tahu: hidupnya tak bisa menunggu seseorang yang belum memutuskan akan tinggal.
Siangnya, Lena berjalan ke toko kelontong di ujung desa. Butuh pita baru untuk buket pesanan pelanggan. Saat kembali, ia melihat Rey duduk di bangku depan toko, memeluk buku catatannya.
“Kamu gak di rumah?” tanya Lena, mencoba terdengar biasa.
Rey menoleh. “Aku nyari kamu.”
“Ada perlu?”
“Enggak. Cuma... ingin ada di dekat tempat yang bikin aku tenang.”
Lena tidak menjawab. Ia masuk ke toko, meletakkan belanjaannya, lalu duduk di belakang meja.
Rey menyusul masuk.
“Lena,” katanya pelan. “Aku mau cerita.”
Lena mengangguk pelan.
“Aku tidak tahu kenapa mereka hubungi aku sekarang. Dulu, saat aku resign, aku pikir aku sudah selesai dengan dunia itu. Tapi ternyata, masih ada sisa-sisa yang belum benar-benar kubereskan.”
“Kamu mau kembali?” tanya Lena, tak bisa menyembunyikan nada resah di suaranya.
Rey menunduk. “Itu masalahnya. Aku gak yakin. Ada bagian dari diriku yang merasa aku harus menyelesaikan itu. Tapi bagian lain… sudah mulai tumbuh akar di sini.”
Lena terdiam.
“Aku gak minta kamu menunggu,” lanjut Rey. “Tapi aku ingin jujur.”
Ia menyodorkan buku catatannya pada Lena.
Di halaman pertama, ada tulisan tangan Rey:
> “Jika aku harus pergi, semoga bukan untuk menghindari, tapi untuk berani menghadapi.”
> “Dan jika aku kembali, semoga karena aku memilih tempat ini. Bukan karena tak ada tempat lain yang tersisa.”
Lena membacanya lama. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia tutup buku itu perlahan.
“Kamu tahu?” katanya pelan. “Aku bukan takut kamu pergi. Tapi aku takut… kamu kembali sebagai orang yang berbeda.”
Rey menatapnya.
Lena melanjutkan, “Kalau kamu kembali, aku ingin kamu datang bukan karena lelah, tapi karena kamu benar-benar memilih. Aku... tidak ingin jadi tempat pelarian.”
Rey mengangguk. “Dan kamu bukan itu. Kamu rumah. Tapi rumah juga harus didekati dengan kesadaran, bukan pelarian.”
Lena menatap mata Rey. “Jadi... apa pun keputusanmu nanti, katakan padaku dengan jujur. Jangan biarkan aku bertanya-tanya lagi.”
Rey mengangguk. “Aku janji.”
Dan untuk pertama kalinya dalam percakapan mereka, Lena merasa tenang bukan karena kata-katanya manis. Tapi karena kalimat itu sederhana—dan tulus.
Rey tak langsung memberi keputusan. Ia datang ke toko setiap pagi, membantu seperti biasa, mencatat seperti biasa, tapi Lena tahu hatinya sedang bertarung dalam diam.
Dan Lena tidak bertanya. Tidak mendorong. Tidak menuntut. Tapi diam-diam, ia menyiapkan dirinya untuk kemungkinan apa pun.
Suatu pagi, saat matahari belum tinggi, Lena sedang menyiram tanaman di rak depan. Rey belum datang. Jalanan desa masih sepi.
Tiba-tiba, motor tua berhenti di depan tokonya.
Seorang wanita turun. Rambutnya dikepang sederhana, dan ia membawa tas selempang anyaman dari rotan. Lena tak mengenal wajahnya, tapi senyumnya ramah.
“Permisi,” sapa wanita itu.
“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”
Wanita itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih bersih. “Ini dari rumah sakit di kota. Untuk Mbak Lena.”
Lena mengerutkan alis. “Saya? Tapi saya gak pernah—”
“Dokter Rudi, teman lama keluarga saya, nitip. Katanya ini penting. Tentang... Pak Adi?”
Nama itu menghantam d**a Lena seperti petir diam-diam.
Ayahnya.
Setelah wanita itu pergi, Lena berdiri lama di depan pintu. Amplop itu terasa berat di tangannya, meskipun hanya berisi selembar kertas.
Ia membuka pelan.
Di dalamnya: satu surat resmi dari rumah sakit dan satu kartu nama dari bagian administrasi.
Isi suratnya sederhana: Rumah sakit tempat ayahnya dirawat dulu mengabarkan bahwa ada peninggalan milik Pak Adi yang belum diambil—sebuah kotak kecil, disimpan di ruang penyimpanan barang pribadi. Mereka baru menemukan data lengkap karena revisi sistem arsip.
Air mata Lena jatuh tanpa suara.
Ia pikir, semua urusan tentang almarhum ayahnya sudah selesai. Tapi nyatanya, ada hal yang tertinggal. Entah apa isinya, tapi rasanya seperti ada pintu lama yang tiba-tiba terbuka kembali.
Rey datang siang itu. Melihat wajah Lena yang masih sembab, ia tak banyak bertanya. Hanya duduk di dekat rak bunga kering dan menunggu.
Lena akhirnya menyerahkan surat itu.
“Aku harus ke kota,” katanya.
Rey membaca isi surat pelan. “Kapan kamu mau berangkat?”
“Besok pagi.”
Rey mengangguk. “Aku antar.”
Lena menatapnya. “Bukankah kamu juga harus mikir soal kerjaanmu?”
Rey menunduk. “Justru karena itu. Mungkin ini jalannya. Kita ke kota bareng. Aku antar kamu ke rumah sakit, dan aku ke kantor. Lihat tempat itu sekali lagi. Dengar tawaran mereka.”
Lena terdiam.
“Kita pulang bareng,” lanjut Rey. “Kalau kamu siap, dan kalau aku yakin... mungkin aku bisa bilang tidak dengan tenang.”
Lena ingin percaya.
Tapi bagian dalam dirinya berkata: Bagaimana kalau Rey malah menemukan alasan untuk tinggal di kota lagi?
Meski begitu, ia mengangguk. “Baiklah. Besok kita berangkat.”
Malam itu Lena duduk di lantai kamarnya. Ia menatap pot kecil cosmos yang mulai menunjukkan tunas pertama. Kecil. Lembut. Tapi tumbuh.
Di sampingnya, ia meletakkan satu kertas kosong.
Lalu mulai menulis:
> “Mungkin aku tak bisa menahan siapa pun untuk tetap tinggal. Tapi aku bisa memilih untuk tumbuh—bahkan jika seseorang tidak kembali.”
> “Karena bunga pun tetap mekar meski tak ada yang memetiknya.”
Keesokan harinya, pukul enam pagi, mobil Rey sudah terparkir di depan toko. Udara masih dingin. Lena keluar membawa tas kecil dan bekal sederhana dalam kotak makan.
“Siap?” tanya Rey.
Lena mengangguk.
Mereka menyusuri jalan desa yang perlahan terbangun. Toko-toko baru membuka tirai. Warung kopi mulai mengepul. Dan langit mulai berubah warna dari biru kelabu menjadi jingga hangat.
Di dalam mobil, mereka tidak banyak bicara. Tapi keheningan itu bukan jarak—melainkan ruang yang saling mereka berikan untuk memikirkan apa yang akan datang.
Ketika mereka tiba di pertigaan jalan besar yang memisahkan jalur ke rumah sakit dan ke pusat kota, Rey memperlambat laju mobil.
Ia menoleh ke Lena.
“Kita bertemu lagi di sini jam dua?” tanyanya.
Lena mengangguk. “Aku akan menunggu.”
Dan saat Rey pergi, Lena berdiri di pinggir jalan dengan amplop putih di tangan.
Ia tak tahu apa yang akan ia temukan dalam kotak peninggalan ayahnya.
Dan ia juga tak tahu apakah Rey akan kembali ke jalan yang sama nanti.
Tapi yang ia tahu:
Ia siap untuk membuka pintu lama.
Dan siap untuk melepaskan—jika harus.
Atau menyambut kembali—jika memang ditakdirkan.
Karena hati yang sudah belajar tumbuh,
tak akan takut pada musim yang berubah.