“Dunia ini terlalu kejam untuk peri manis sepertiku, karena itu aku akan menciptakan duniaku sendiri. Kau boleh tinggal bersamaku... dengan membayar cicilan 150% beserta pajaknya. HAHAHA!” satu persatu kenangan tantang keanehan Aksa berlarian di kepalanya, candaan tidak masuk akal itu dulu diabaikannya bak angin lalu tapi kini menjadi begitu menyesakkan. Risa memandangi seisi kamarnya dengan acak. Kemanapun mata itu memandang, akan ada satu tawa Aksa yang menyayat hatinya. Entah darimana datangnya rasa sesak itu, Risa kian kesulitan mengatur napasnya. Tangan itu menggapai meja di sisi kasur kemudian membuka lacinya tergesa. Dengan susah payah Risa meminum obat yang Vanilla berikan. Dalam sunyinya malam yang mulai pagi, Risa terduduk di kasur dengan kedua kaki ditekuk dan dipeluk erat. Saa

