"Kenapa, Miko? Ada kesulitan?" tanya Emi selaku guru Sosiologi yang sedang mengawasi jalannya tugas di kelas itu.
"Tidak, bu." jawab Miko dengan cengiran lebar. Risa membalik halaman bukunya tanpa repot-repot mengecek keadaan wajah Miko yang semrawut akibat ucapannya barusan. Pikirnya saat ini Miko sedang marah padanya, maka sebagai seorang 'teman' yang baik, Risa berusaha memberikan Miko ruang pribadi dengan tidak mengusik pria tersebut. Sesuatu yang justru membuat Miko makin merasa bersalah karena sudah membuat Risa menjauh.
Mereka tidak lagi membahas kesalahpahaman itu sampai akhir jam pelajaran. Risa telah bersiap untuk meninggalkan kelas ketika Miko menahannya di depan pintu.
"Sa, aku bukan marah. Kau tahu... ini semacam... umh.." Miko tampak kelabakan, bingung memikirkan cara yang mudah untuk menjelaskan keadaan sebenarnya pada Risa.
"Tidak perlu dijelaskan kalau itu terlalu sulit. Jangan memaksakan diri." tutur perempuan itu menarik sudut bibirnya dan membentuk senyuman kecil.
10. Jika temanmu kesulitan, jangan biarkan dia memaksakan diri dan dukung dia dengan kalimat atau tindakan yang menenangkan.
"Aku harus pergi ke toko buku, Eko sudah menunggu."
"Bagaimana dengan nontonnya?" sergah Miko membuat langkah Risa terhenti. Perempuan itu kembali menoleh dan menimbang sesuatu untuk sesaat.
"Kita bisa menontonnya setelah aku menyelesaikan membaca buku itu." jawab Risa kembali akan melangkah.
"Apa sepenting itu?" cegahnya lagi. Membiarkan Risa pergi bersama Eko entah mengapa menghadirkan sensasi aneh dalam dirinya. Dinomorduakan dengan terang-terang seperti ini, siapa yang bisa terima?
"Tentu saja. Kau bilang ingin mengajakku menonton film dokumenter kesukaanmu. Jadi kupikir seharusnya aku bisa memahami lebih jauh tentang film itu supaya bisa merasakan seperti apa film kesukaanmu itu." penjelasan dengan suara datar itu terdengar luar biasa menyentuh bagi Miko. Tidak menyangka bahwa Risa begitu memperhatikannya dengan detail.
Bahkan ketika hari mulai sore, Miko masih belum bisa melepaskan senyum bahagia itu sembari menggiring bola dalam permainan futsal bersama kawan sejawatnya.
"Kenapa tuh sikambing?"
"Entah. Dari pulang sekolah udah kayak begitu modelnya."
Dua pemain yang sedang istirahat itu menatap ngeri pada Miko yang terkikik seorang diri tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Jangan gila di sini, Ko. Kasian anak-anak ga ada yang bisa megangin." sapa suara yang sangat Miko kenali itu sembari melemparkan minuman isotonik.
Miko menangkapnya dengan sigap tanpa mengendurkan senyumannya, masih sangat merasakan sensasi luar biasa senang seperti saat pertama kali mendengar ucapan Risa tadi siang.
"Gimana tadi? Risa beli buku apa?" tanya Miko begitu Eko duduk di hadapannya.
"Buku? Kita gak ke toko buku."
Suara remukan botol plastik yang digenggamannya memecah hening. Setelah mendengar jawaban Eko, tidak ada lagi percakapan. Penjelasan nomor punggung 19 itu pun tidak membantu perasaan Miko membaik justru semakin mendidih.
Eko mengaku bahwa ia meminta bantuan Risa untuk mengajari materi Fisika yang sempat ia lewatkan karena sakit. Pria itu mengajak Risa belajar di sebuah cafe dekat sekolah dengan alasan rumahnya tidak kondusif untuk menerima tamu.
Miko pamit pulang lebih dulu karena berlama-lama di sana hanya akan membuat pria itu menghajar orang tanpa alasan. Deru mesin beroda dua yang melaju di jalanan bagaikan irama, bepadu sempurna dengan rasa menggelegak yang merongrong hatinya tanpa jeda.
"Kenapa harus berbohong? Kau pikir itu lucu? Kalau tidak mau ya tinggal bilang. Apa mempermainkan orang adalah sebuah hobi? Kau pikir kau siapa?!" maki Miko ketika menepikan motor di pinggir jalan dengan sebelah tangannya menggenggam erat ponsel pintar tersebut di telinga.
"Halo?" sapa suara letih di seberang sana. Panggilannya baru saja diangkat setelah deringan kelima. Semua caci maki yang telah Miko siapkan membisu. Dengan tenang, pria itu membuka suara.
"Bagaimana bukunya? Sudah jadi beli?"
"Sudah. Aku sedang membaca halaman dua puluh sekarang." jawab Risa sekenanya. Miko kembali mengeratkan genggaman pada ponselnya, berharap api di dalam dadanya bisa meredup.
"Sayang sekali. Aku tidak lagi tertarik menunjukkan film itu padamu." ucapnya dengan suara serendah mungkin. Ia menutup sambungan telepon itu tanpa menunggu respon dari Risa.
Apapun alasan dibalik kebohongan Risa, seharusnya perempuan itu tahu batasan. Kalau memang dia merasa tidak enak menolak ajakan Miko, bukankah begitu banyak alasan yang lebih sederhana dibandingkan membuat harapan pria itu melambung tinggi dan berakhir terhempas begitu saja tanpa bersiap-siap seperti ini? Miko tidak bisa memikirkan alasan lain untuk memaafkan Risa. Ia terlampau kecewa.
"Kenapa dia mempermainkan orang seperti itu?" Risa berdecak kesal ketika Miko menutup telepon tanpa menjelaskan alasan dibalik pembatalan janji yang mereka buat. Perempuang itu menutup buku dengan judul 'Sight, Sound, Motion: Applied Media Aesthetics' karya Herbert Zettl.
Risa meminta Santi menemaninya pergi ke toko buku setelah belajar bersama Eko, perempuan itu menjelaskan kepada sang bibi tentang hajat atas buku tersebut, bahwa ia ingin mencari buku seputar perfilman guna membantunya berekspresi dengan baik ketika menonton film kesukaan Miko nanti.
"Kalo kau tertarik buat mempelajari teori estetika dan bagaimana biasanya penonton memberikan reaksi pada karya visual, coba baca ini deh. Karena buku ini ditulis dengan komprehensif oleh seorang profesor seni komunikasi elektronik dan penyiaran, yang dibahas di buku ini juga sangat lengkap, semua elemen teori estetika ada bahasannya sendiri-sendiri.* Bagaimana?" jelas Santi ketika manawarinya buku tersebut ketika mereka tiba di toko buku. Setelah mencari-cari selama satu jam, Risa memutuskan untuk membeli buku yang saat ini berada di ranjangnya. Tergeletak begitu saja ulah rasa kesal sang tuan.
Hari berganti dengan cepat ketika Risa dan Miko tidak lagi bertukar sapa. Sejak pembatalan janji itu, baik Risa maupun Miko, tidak ada yang berinisiatif untuk meluruskan kesalahpahaman mereka. Bahkan ketika mereka terus dipertemukan dalam lomba ataupun kelas yang sama setelah liburan semester dua berakhir.
"Aku sudah selesai membaca bukunya." ungkap Risa tahu-tahu sudah berdiri di samping meja Miko. Pria itu bersikap abai, seperti yang sudah-sudah.
Risa mengeluarkan buku usang dari dalam tasnya. Suara dentuman buku yang menghantam meja itu sangat kecil, mungkin Miko sendiri tidak akan menyadari keberadaan buku tersebut kalau saja Risa tidak menyodorkan buku itu tepat di hadapannya.
"Aku ingin menonton film itu." jelas Risa ketika Miko menatapnya bergantian dengan buku 464 halaman tersebut. Buku itu tampak usang, bukti bahwa ia sering di'sentuh' oleh empunya.
Karena Miko belum juga membalas satupun ucapannya, Risa memutuskan untuk tidak lagi mengurusi janji film tersebut. Meskipun sudah kadung penasaran dan kian tertarik setelah membaca buku yang kini bertengger manis di meja Miko itu, harapannya tidak melambung begitu saja. Ia masih memegang teguh pedoman yang telah Santi siapkan untuknya jauh-jauh hari sebelum bertemu dengan pria itu.